
"Pak Erza tunggu!" panggil seseorang saat Erza hendak keluar dari ruangannya.
"Ada apa, Ko?" Erza menghentikan langkahnya.
"Maaf ... Ada tamu dari luar negeri. Tuan Hong. Dia ingin bertemu dengan Anda," ucap Riko, asisten dari Erza yang mendampinginya beberapa bulan ini.
Erza mengurutkan alisnya sambil sedikit berpikir. "Saya rasa hari ini tidak ada jadwal pertemuan dengannya?" sahut Riko.
"Memang betul, Pak. Hari ini jadwal Anda selesai dari tadi. Tapi rasanya tidak enak sekali jika menolak ajakan Tuan Hong. Pak. Kebetulan beliau ada keperluan di negara ini. Jadi sekalian ingin bertemu dengan Anda. Saya rasa tidak ada salahnya untuk bertemu dengan meski hanya sebentar," desak Riko. Asistennya itu tidak ingin Erza membuat rekan kerjanya merasa kecewa.
Erza membuang napas berat. Niatnya ingin segera menemui orang tuanya yang semalam baru saja tiba dari luar negeri harus tertunda dulu.
"Baiklah, atur lah bagaimana baiknya!Hubungi aku jika semuanya sudah siap," ucap Erza kembali melanjutkan langkahnya.
"Anda mau kemana, Pak?" Tanya Riko dan seketika membuat Erza menoleh kembali.
"Maaf, Pak! Saya banyak bertanya!" Riko sedikit membungkuk di hadapan kerja pria itu merasa tidak enak hati karena terlalu banyak mengatur jadwal kerja Erza.
Padahal tidak masalah bagi Erza, berkat adanya Riko. Kegiatan Erza jadi lebih teratur.
"Saya ada di tempat biasa. Telepon saja jika mereka sudah datang."
"Baik, Pak!" Riko sedikit membungkuk tubuhnya saat Erza berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya. Perlahan sosok pria yang selama ini menjadi bosnya itu menghilang dari pandangan Riko.
"Aneh sekali, Pak Erza. Dia betah sekali berada di sana." Riko menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah dari bosnya itu.
Di sela waktu santainya. Erza lebih memilih berada di rooftop tempat yang paling Erza sukai beberapa bulan ini. Pria itu jadi lebih senang menyendiri daripada berkumpul dengan Beno dan temannya yang lain. Teman berkumpulnya sebelum Erza menjadi seorang pemimpin perusahaan. Erza hanya sesekali saja bersama mereka. selebihnya pria itu lebih senang berada di sana.
Dua batang roko sudah tandas dihisap Erza. Tapi tetap saja tidak bisa membuat pikirannya tenang.
"Kenapa kamu kembali datang dalam benakku! Setelah hati ini sudah mengikhlaskan mu, Ra." Erza tersenyum getir mengingat pertemuan terakhirnya dengan Yara. Lalu kembali menyalakan sebatang roko lagi di tangannya.
Yara meminta Erza untuk menjauhi dan melupakannya. Padahal saat itu Erza belum mengungkapkan secara terbuka soal perasaanya. Mungkin Yara sudah merasakan sikap Erza yang berbeda untuknya. Yara mencegah Erza sebelum pria itu mengutarakannya.
"Sampai kapan Anda menyendiri dan seperti ini terus, Pak?" Tanya sering pria yang tiba-tiba saja datang ke sana.
Erza menoleh, kemudian tersenyum kecut ke arah Riko.
"Kamu bisa telepon kalau Tuan Hong sudah datang. Tidak perlu repot-repot datang gke sini!" Erza kembali menghisap roko.
"Maaf kalau saya terlalu lancang ikut campur urusan Anda, Pak. Selama bersama Anda sedikit banyaknya saya mengetahui apa yang terjadi. Menurut saya, Anda masih belum bisa move on dari masa lalu. Di hati Anda masih belum ada kerelaan untuk melakukan ini demi mama Anda. Percayalah jika Ikhlas dan kembali lah dengan sikap biasanya. Kita tidak ada yang tahu jodoh kita siapa. Karena bakti Anda pada Nyonya, Yang Maha Kuasa pasti akan memberikan balasan untuk Anda, Pak!" Ujar Riko menasehati Erza. Sebab yang Riko tahu soal bosnya itu, dia adalah pria ceria dan banyak berbaur. Entah mengapa sikapnya berubah begitu saja.
Erza termasuk pria yang sulit membuka hati untuk wanita lain.
__ADS_1
Erza terdiam Mendengar ucapan Riko, asistennya.
"Saya akan coba untuk melupakannya. Meski begitu sulit. Tapi demi mama, aku rela menerima wanita manapun."
Riko tersenyum mendengarnya.
"Anda memang harus melakukan itu, sekarang bersiaplah. Kita akan menemui Tuan Hong. Tidak kan lama, beliau hanya ingin berkunjung sebentar," ujar Riko.
Erza pun mengangguk kemudian berdiri dan beranjak dari sana.
...🌱🌱🌱🌱...
Di kediaman Keluarga Rahardian.
Tiga orang wanita terlihat serius saat berbincang.
"Kamu yakin akan maju untuk mengambil hak asuh Dhiya?" Tanya Bu Haryani.
"Yakin, Bu. Sekarang ini, aku sudah memiliki penghasilan sendiri dan itu lebih dari cukup untuk menghidupi Dhiya dan dirimu sendiri," balas Yara.
Saat ini Yara tidak canggung saat menceritakan kisahnya di hadapan Mama Anggi. Sebab beliau mengaku sudah mengetahuinya dari Bu Haryani.
"Saya rasa tidak hanya penghasilan saja yang harus kamu miliki, Ra," sela Mama Anggi.
"Bukanya kita harus mempunyai penghasilan agar Dhiya bisa bersamaku, Bu?"
Mama Anggi mengelengkan kepalanya.
"Tidak ... Penghasilan saja tidak cukup. Harus ada keluarga yang utuh bahagia agar Dhiya bisa terjamin kebahagiaanya.
"Keluarga utuh?" Yara terlihat semakin bingung.
"Ya keluarga utuh. Kamu harus menikah lagi agar mempunyai sebuah keluarga. Dengan itu pihak pengadilan bisa memberikan hak asuh Dhiya padamu. Karena Dhiya bisa berada dalam keluarga yang utuh." Mama Anggi menjelaskan.
"Tapi saya belum menikah lagi. Berarti Dhiya tidak bisa bersama ku untuk selamanya!" Yara terlihat sedih.
"Makanya segera menikah agar kamu bisa mengambil Dhiya dari Afkar." Mama Anggi terdengar mengompori.
Yara tersenyum getir. "Siapa yang mau denganku, Bu."
"Banyak, pasti banyak sekali asal kamu mau membuka diri. Atau kamu saya jodohkan dengan seorang pria, Bagaimana? Dia baik dan bertanggung jawab," Mama Anggi memulai aksinya.
Kebetulan sekali menurutnya. Di saat ia mencari seorang perempuan buat Erza. Ada Yara datang dan memberikannya ide. Mama Anggi merasa cocok dengan Yara. Wanita yang mempunyai sikap santun dan selalu merendah membuat hati Mama Anggi merasa tenang.
__ADS_1
"Apa dia mau dengan janda beranak satu seperti ku, Bu! Aku rasa tidak akan mungkin dia mau." sanggah Naira.
"Saya yakin dia pasti mau. Aku hanya ingin jawabanmu. Terima atau tidak perjodohan ini," Mama Anggi kembali meminta penegasan dari Yara.
"Asal pria itu mau membantuku!" sahut Yara.
"Pasti, dia pasti mau!" sambung Mama Anggi sambil melirik ke arah Bu Haryani. Mereka berdua saling melempar senyum. Rencana Mama Anggi perlahan berhasil.
"Tapi aku belum mengenal pria itu Bu, bagaimana sikap dan perilakunya. aku sama sekali belum kenal dia." Yara sedikit ragu.
"Tidak usah khawatir, Bu Anggi tidak akan membuat kamu kecewa," ucap Bu Haryani.
Yara diam sejenak. Detik berikutnya ia mengangguk pelan. "Baiklah, aku terima perjodohan ini, Bu!"
Mam Anggi merasa senang mendengarnya.
Di luar rumah keluarga Rahardian
Dua orang pria yang selama ini mengikuti kegiatan Yara tanpa ada yang mengetahui kembali melaporkan kegiatan Yara padanya.
Ya, dia adalah Papa Rio. Setelah tahu kalau Yara adalah putri keduanya. Pria berumur itu memerintahkan dua orang pengawal untuk mengawasinya.
Papa Rio sedikit tenang saat mendengar berita dari Syafa kalau Afkar sudah bercerai dengan Yara. Jadi mereka tidak melanggar larangan agama lagi.
Menikahi dia saudara sekandung dilarang oleh agama. kecuali berhubungan di mas lampau.
Papa Rio belum sanggup mengaku kalau dia adalah papa kandung dari Yara. Hanya dia dan Gita yang tahu. Bahkan Syafa saja belum tahu soal ini. Papa Rio masih mencari waktu yang pas untuk mengungkapkan semuanya.
"Ceritakan kepada mereka secepatnya, Wira. Jangan sampai mereka tahu dari orang lain," ucap Gita yang setia bersama Papa Rio beberapa bulan ini.
"Tidak, mereka tidak akan tahu dari orang lain. Aku yang akan memberitahu mereka sendiri." Papa Rio tetap keras kepala. Ia masih kekeh dengan keinginannya.
.
.
TBC
Maaf ... Autor baru sempat Up lagi. Author lagi kurang sehat Jadi bikin bab-nya sedikit mohon maaf ya. Buat kalian pintar-pintar jaga kesehatan.
Sehat itu mahal ternyata ...
Love to kalian semua.
__ADS_1