
"Barusan aku dari kamar Yara. Benar, tidak ada siapapun di sana!" Ujar Bu Haryani. Wanita itu yakin tidak ada siapapun di dalam kamar Yara.
"Terus kemana anak itu? Kenapa jam segini masih belum pulang juga. Dasar anak nakal sudah banget di kasih tahu. Sebentar lagi hari pernikahannya. Masih saja kelayakan," gerutu Mama Anggi.
"Sabar, Nggi!"
"Bukan begitu, Har. Kalau kata orang tua jaman dulu itu pamali jangan suka pergi-pergi dulu pas mendekati pernikahan. Takut terjadi sesuatu, gitu!" Nada bicara Mama Anggi terdengar begitu khawatir.
"Berdoa itu yang baik-baik, Nggi! Nggak baik loh berbicara seperti itu buat Erza. Doakan saja, Erza sehat selamat sampai di rumah."
"Opss .. Iya, Har. Aku maunya begitu. Tapi coba tolong lihat masa sih dia tidak datang ke sana! Aku hafal betul loh sikap Erza. Dia itu nekat kalau udah pengen sesuatu rada nekat sih. Ya meksipun gak berani ke rumah kamu paling tidak saat ini anak itu ada di depan rumahmu, Har! Bisa jadi Erza itu sama kayak papanya, Rangga!" ujar Mama Anggi masih penasaran dengan keberadaan Erza.
"Ya sudah kalau kamu masih penasaran. Aku cek dulu keluar, ya!" Bu Haryani akhirnya keluar kamar. wanita itu hendak menuju keluar rumah. Ia ingin melihat, apakah ada mobil Erza di luar gerbang.
Langkah Bu Haryani terhenti tepat di depan pintu rumahnya. Kemudian menoleh ke samping rumah saat mendengar suara benda jatuh berasal dari arah itu.
"Suara apa itu sepertinya ada yang jatuh dari lantai 2?" Bu Haryani merasa penasaran dengan suara itu.Dia memutar arah ke samping rumah tepatnya ke arah kamar Yara.
"Itu 'kan suara Yara. Kenapa dia menjerit?" Bu Haryani semakin khawatir saat suara Yara yang tertangkap oleh Indera pendengarannya.
Bu Haryani segera berjalan cepat ke arah kamar Yara. Ia takut terjadi sesuatu di sana. Akan tetapi langkahnya kembali terhenti saat Bu Haryani melihat sosok seorang laki-laki baru saja bangkit berdiri seperti baru saja tersungkur di tanah. Manik mata Bu Haryani memicingkan penglihatannya untuk menegaskan siapa sosok pria itu.
Alangkah terkejutnya beliau saat penglihatannya dengan jelas menangkap sosok Erza di sana. Apalagi ia melihat ke arah balkon kamar Yara. Bu Haryani juga melihat Yara sedang berbicara pada Erza.
Secepat mungkin Bu Haryani segera menghubungi Mama Anggi. Sambungan telepon pun tak lama berdiam. Suara Mama Anggi langsung terdengar dari sebrang telepon.
"Gimana, gimana? Ada tuh anak?" desak Mama Anggi.
"Benar kata kamu, Nggi. Anakmu itu harus benar-benar secepatnya mengucap ijab kabul sama Yara!" cetus Bu Haryani kemudian ia melihat Erza melambaikan tangan sambil kiss bay ke arah Yara.
"Dia baru saja pulang dari rumahku! Tidak sopa seharusnya lewat pintu depan saja! Kenapa harus datang seperti maling seperti itu, Nggi!" gerutu Bu Haryani. Wanita itu seakan tidak terima dengan perilaku anak dari sahabatnya itu.
__ADS_1
"Sesampainya di rumah biar aku kasih pelajaran padanya, Har!" seru Mama Anggi.
Sambungan telepon pun terputus. Bu Haryani menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua orang yang sedang merajut cinta itu. wanita itu segera masuk ke dalam rumah. Ia mempunyai ide untuk mengerjai Yara.
"Aduh, Erza bikin malu saja. Kenapa tidak sabar? Padahal sebentar lagi mereka akan menikah. Mau selama apapun mereka berdua, aku tidak akan pernah melarang. Asal jangan malam-malam begini. Ketemu diam-diam lagi!" Mama Anggi terus saja menggerutu.
"Kenapa sih, Mah!" tegur Papa Rangga saat pria berumur itu baru saja masuk ke dalam kamarnya.
Papa Rangga baru saja pulang dari kantornya. Ia harus mewakili Erza yang semakin sibuk dengan dua perusahaannya.
Semenjak Erza berhasil mendirikan perusahaan di luar negeri. Mau tidak mau Papa Rangga ikut turun tangan kembali mengurusi perusahaannya yang akan ditinggal oleh Erza nantinya. Meskipun begitu Erza tetep akan mengawasi dan sesekali kembali ke tanah air untuk melihat keadaan perusahaan yang ditinggalkannya nanti.
"Anakmu itu loh, Pah. Ketahuan ketemu diam-diam sama calon istrinya," ungkap Mama Anggi yang menunjukkan wajah kesalnya. Wanita itu berdiri di depan meja rias sambil mengaplikasikan skincare malam ke wajahnya karena itulah Mama Anggi selalu terlihat cantik sebab perawatan rutin sering ia lakukan dan tak pernah terlewati.
"Ya, anak jaman sekarang itu tidak bisa di atur mah. Biarkan saja, asal mereka masih tahu batasannya," sahut Papa Rangga seraya berjalan mendekat ke arah Mama Anggi.
"Ah, mama rasa tidak hanya anak jaman sekarang. Perasaan, papa dulu juga begitu saat kita lagi pingitan," sindir Mama Anggi tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya. Tak lupa ia menyemprotkan minyak wangi ke sekitar tubuhnya.
Mendapati sikap manja suaminya Mama Anggi mengerti ada niat terselubung di dalamnya.
Papa Rangga sesekali menciumi leher jenjang nan putih Mama Anggi. Dengan cepet pria berumur yang masih terlihat gagah itu membalikkan tubuh istrinya dan mengangkat tubuh Mama Anggi agar duduk di meja rias yang ada di belakangnya.
"Istriku ini sudah cantik dan wangi. Buat dede lagi sebelum keduluan Erza, yuk!" Papa Rangga mengukung tubuh Mama Anggi kemudian langsung menyambar bibir merah merona itu sebelum mengeluarkan kata-kata.
Tanpa bisa menolak Mama Anggi mengikuti kemauan Papa Rangga.
Malam itu pun menjadi malam indah untuk Mama Anggi dan Pak Rangga. Mereka tidak mau kalah dengan putra tunggalnya yang sebentar lagi akan menikah.
Di rumah Bu Haryani. Yara terus mengembangkan senyum sampai mobil yang Erza kendarai menghilang di ujung jalan.
"Terima kasih sudah membantuku lepas dari kesedihan, Za," ucapnya sembari memandang ke arah mobil Erza yang sudah menghilang dalam pandangan.
__ADS_1
Yara berbalik badan masuk ke dalam kamarnya.
"Ibu seneng deh ngeliat senyum itu tidak lepas dari wajahmu, Ra!" Celetuk Bu Haryani sontak membuat Yara terkejut.
"Ibu sejak kapan berada di sini?" Tanya Yara. ia merasa malu dan tidak enak hati pada wanita itu.
"Semenjak kamu membantu Erza turun dari balkon!" Jawab Bu Haryani sedikit berbohong pada Yara sembari melipat tangan di depan dada.
"Bu ... Aku bisa jelaskan!" Rengek Yara. Ia takut kalau Bu Haryani merasa kecewa padanya.
Bu Haryani ingin sekali tertawa kencang tapi ia tahan. Wanita itu sedang mengerjai Yara saat itu. Bu Haryani juga memberi sedikit hukuman pada Yara.
"Coba jelaskan!" tegas Bu Haryani.
Yara bingung untuk menjelaskannya.
"Maaf, Bu!" Hanya kata itu yang terucap dari bibir Yara sambil menundukkan kepalanya.
Bu Haryani menarik sudut bibirnya. Wanita ingin sekali tertawa lepas melihat reaksi Yara yang begitu ketakutan.
.
.
.
.
To be continued.
like dan komen ya....
__ADS_1