Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Mengubur Semua Kenangan Masa Lalu Demi Masa Depan


__ADS_3

"Kenapa semua ini bisa terjadi, Bu! Aku kehilangan semuanya. Kehilangan orang yang sangat aku cintai, kehilangan putriku dan sekarang kehilangan anak yang masih di dalam kandungan Syafa. Dan lebih parahnya lagi, aku memperlakukan Yara dengan begitu buruk selama mengalami hilang ingatan," Ucap Afkar lirih dan sedih. Terdengar ucapan penyesalan yang begitu mendalam darinya.


Mendengar ungkapan hati Afkar, Bu Nuri merasa sedih. Meski begitu wanita berumur itu merasa bersyukur. Ingatan Afkar telah kembali. Pantas saja sedari tadi pria itu selalu diam dan merenung.


"Semuanya sudah berlalu, Nak! Sekarang lebih baik kamu fokus pada Syafa. Kamu tidak perlu khawatir dengan Yara dan Dhiya. Mereka berdua sudah bersama orang yang tepat." Bu Nuri menjeda ucapannya. "Ibu juga ingin sekali bertemu dengan Yara. Ibu ini meminta maaf sama dia, ibu sadar karena ibu juga ikut andil dengan apa yang kamu alami saat ini, Nak! Mungkin benar apa kata Mira, Kamu juga kena karma karena perlakuan ibu pada mantan Istrimu itu. Selama berumah tangga denganmu, ibu sama sekali tidak memperlakukan Yara dengan baik."


Afkar dan Bu Nuri sama-sama menyesali apa yang telah terjadi. Tapi sayang, sesal itu tidak bisa mengembalikan orang yang mereka sayang lagi.


Afkar kehilangan Yara dan Dhiya. sedangkan Bu Nuri kehilangan suami dan Mira, anak perempuan Bu Nuri satu-satunya.


Lampu merah yang berkedip di atas pintu ruangan operasi berhenti. Hal itu menandakan kegiatan di dalam ruangan itu telah selesai.


Dokter yang menangani operasi Syafa keluar dari ruangan bersama seorang suster. Melihat itu, Afkar berusaha bangkit meski dalam keterbatasannya.


Dengan satu kaki yang terluka, pria itu harus berjalan tertatih menghampiri sang dokter. Bu Nuri pun tak kalah diam, wanita berumur itu membantunya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok!" Tanya Afkar.


"Saya mohon maaf, Pak Afkar. Anak dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan. Benturan yang terjadi cukup keras. Sehingga bayinya tidak terselamatkan. Untuk ibunya, masih dalam keadaan kritis. Beliau mengeluarkan banyak darah. Berdoa saja semoga istri Anda baik-baik saja," ucap Dokter tersebut sembari menepuk bahu Afkar kemudian berlalu dari sana.


Afkar termenung mendengar penjelasan sang dokter. Lengkap sudah penderitaannya hari ini.


"Arghh ... Bugh ... Bugh ...." Afkar memukul dinding di sampingnya menumpahkan rasa sesal dengan apa yang terjadi padanya.


"Bodoh ... Bodoh ... Ini semua salahku, Andai saja aku tidak bermain api, Papa Rio tidak mungkin memisahkan kami," ucap Afkar penuh sesal. "Musibah ini tidak akan terjadi!" Runtuh sudah pertahanannya. Pria itu menempelkan kedua lengan di dinding rumah sakit. Menyembunyikan wajah diantara kedua tangannya. Sudah dipastikan Afkar sedang menangis tanpa bersuara sebab terlihat jelas dari bahunya yang bergetar dan naik turun dengan pelan.


Bu Nuri dpat merasakan kesedihan yang sedang dialami putranya saat ini.


"Sabar, Nak! Kita pasrahkan pada Sang Pemberi Kehidupan. Dia yang mengatur semua takdir hidup manusia. Musibah yang terjadi, jadikan pelajaran kedepannya," ujar Bu Nuri sembari mengusap peka bahu putranya.


"Aku hancur, Bu! Aku kehilangan semuanya. Percuma ingatan ini kembali kalau aku kehilangan semuanya, Cintaku, putriku. Mereka pergi meninggalkanku saat ini! Sekarang anak dalam kandungan Syafa, dia belum lahir ke dunia ini. Tapi dia sudah pergi juga meninggalkan ku, Bu!" lirih Afkar sedihnya. Lagi -lagi pria itu memukuli tembok sampai tangannya memar akibat pukulannya sendiri.


Bu Nuri tidak bisa berkata-kata lagi. Hatinya ikut hancur saat melihat keterpurukan yang dirasakan oleh Afkar.


...🌱🌱🌱...


Jauh berbeda dengan kondisi di rumah sakit yang sedang dipenuhi kesedihan dan penyesalan.


Di Panti Asuhan Karya Asih menampilkan kebahagiaan dan keceriaan. Yara dan Erza tiba di tempat itu. Dan paling membuat Yara bahagia adalah keikutsertaan mama mertua yang ikut bersama mereka.


"Ibu senang sekali kamu bisa menyempatkan waktu kemari sebelum kepergian kalian ke Swiss," Sapa Bu Lidia pada Yara. Wanita yang sudah berjasa selama ini dalam membesarkan Yara. Lalu beralih pada wanita cantik dan anggun yang berdiri di samping Yara. "Selamat datang di tempat saya, Bu Anggi. Maaf keadaan dan tempatnya seperti ini!" sapanya pada Mama Anggi.


"Tempatnya nyaman dan bikin tenang ko! Kau suka dengan suasana yang masih asri ini. Udara di sini masih sejuk dan jauh dari kebisingan," sahut Mama Anggi yang tersenyum seraya mengedarkan pandangan.


"Bu Anggi bisa saja. Pak Rangga tidak ikut?" Tanya Bu Lidia.


Mama Anggi menggelengkan kepalanya. "Masih sibuk dengan pekerjaannya."


"Mari saya antar ke kamar," ajak Bu Lidia. "Wen, tolong bawakan tas Bu Anggi. Sekalian suruh Barjo buat membantu." Bu Lidia sedikit berteriak memanggil pekerja yang ada di panti asuhan itu.


"Ra, ajak suamimu istirahat dulu! Kamarmu masih di tempat yang sama seperti dulu. Masih terawat sampai sekarang," ujar Bu Lidia.

__ADS_1


"Iya, Bu." Yara tersenyum senang mendengarnya. Ternyata dia masih mempunyai tempat di sini.


Bu Lidia dan Mama Anggi pun berlalu dari hadapan Yara dan Erza. Mama Anggi yang memang merasa lelah dan ingin segera beristirahat. Jarak tempuh dari kota ke panti asuhan itu memakan waktu yang lama dan jauh. Itu membuat Mama Anggi mabuk perjalanan.


Saat Teh Weni hendak membawakan barang milik Yara, Erza pun mencegahnya.


"Biar saya yang bawa, Bu!" cegah Erza.


"Ngga, pa-pa. Saya saja, Den!"


"Saya seorang lelaki biarkan saya jadi berguna di sini!" lanjut Erza.


Yara tersenyum mendengarnya. "Teh Weni temenin anak-anak aja. Biar suamiku yang membawa tas itu," ujar Yara dan Mendapat anggukan dari Teh Weni.


Setelah Teh Weni pergi. Yara menatap Erza, bibirnya tersenyum tipis pada pria itu.


"Mas ... Mau jadi berguna sebagai laki-laki 'kan di sini?" Tanya Yara.


Erza menganggukkan kepalanya pelan.


"Pak Barjo kan sudah tua. Suamiku 'kan masih gagah dan kuat. Yakin mau bawa tasnya?" Yara kembali bertanya.


"Kamu meragukan keperkasaan ku, Sayang?"


Yara menggeleng pelan. "Tidak. Kalau begitu, Suamiku yang gagah dan perkasa aku tunggu di kamar saja ya, sebelumnya bawa tas itu dulu ke kamar Mama Anggi dan ke Aula. Setelah itu baru 2 tas milik kita. Banyak oleh -oleh yang mama bawa buat anak-anak. Ingat ... Lakuin sendiri ya, Suamiku!" Ucap Yara dengan manja tak lupa Yara mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi Erza.


"Siap, Sayang! Cuman bawa tas doang mah kuat!" celetuk Erza.


"Kalau sudah selesai kasih vitamin lebih ya," pinta Erza saat Yara mulai menjauh darinya.


Hanya acungan jempol yang di berikan Yara pada Erza.


"Asik, jadi makin semangat. Ah cuman tas saja, aku juga bisa. Buat apa minta bantuan Pak Barjo.


Erza berbalik badan hendak mengangkat beberapa tas yang akan dimasukan ke dalam kamar masing-masing. Tapi matanya membulat saat melihat ada banyak tas dan beberapa kardus yang sudah berjejer di teras panti.


"Hah .. sebanyak itu!" Erza terkejut melihatnya. Pria itu pikir hanya ada beberapa tas saja. Ternyata begitu banyak perintilannya.


"Ini mau pindahan apa nginep? Banyak sekali tasnya. Ah .... Bisa patah pinggangku," keluh Erza.


Di saat yang bersamaan siang pria berumur hendak pergi setelah menurunkan barang-barang dan beberapa kardus dari mobil box.


Erza tidak menyangka kalau mobil box yang ada di belakangnya tadi adalah mobil yang disewa Mama Anggi untuk membawa barang bawaannya.


"Pak, mau kemana?" Tanya Erza. "Jangan pergi bantuin saya!" Titah Erza.


"Maaf, Den. Kata Neng Yara bapak disuruh ke belakang saja," sahut Pak Barjo.


Erza baru sadar kalau Yara sedang mengerjainya. "Ah ... Sial, dikerjain sama istri sendiri. Awas, akan aku balas nanti malam. Kamu tidak akan aku kasih ampun!" Ujar Erza. Dan dengan terpaksa Erza segera melakukan pekerjaannya. Pria itu ingin membuktikan kalau dia bisa berguna di sini. Meksipun rasanya berat saat memulai.


"Semangat, Za. Perjuangan ku akan terbayar nanti malam!" Erza menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Satu persatu Erza mengangkat tas dan kardus berisi oleh-oleh dari mama-nya untuk anak-anak panti.


"Mama ... Kenapa harus sebanyak ini bawaannya," keluh Erza saat mengangkat kardus ke aula.


Tenaganya hampir habis tapi masih tersisa tas besar milik Mama Anggi dan juga milik istrinya.


"Papa," panggil Dhiya saat Erza duduk sebentar untuk mengatur napasnya. "Ini minum buat papa!" Dhiya menyodorkan segelas air pada Erza.


"Ah ... terima kasih sayang! rasanya mendapat hadiah di gurun pasir."


"Dhiya ke sana lagi main sama yang lain. Papa semangat!" Dhiya mengangkat tangan yang dikepal untuk menyemangati Erza.


"Semangat!" Erza membalas dengan hal yang sama.


Di sudut ruangan, dua orang wanita sedang terkekeh melihat ke arah Erza.


"Kamu jahil mengerjai suamimu, Ra," tegur Bu Lidia.


"Sedikit, Bu. Tidak apa-apa. Kalau nyuruh Pak Barjo kasihan. Beliau sudah renta. Suamiku masih gagah," Celetuk Yara.


"Terserah kamu, saja." Bu Lidia berlalu dari sisi Yara. Ia hendak menyuruh Weni untuk segera menyiapkan makanan.


Yara tersenyum sambil memandang ke arah Erza. Suami jahilnya itu kini bisa ia jahili.


Yara pun kembali ke kamarnya. Saat memasuki kamarnya. Yara menatap satu pigura kecil di atas nakas. Foto dirinya, Dhiya dan Afkar masih terpanjang di kamar itu.


Yara terdiam sesaat. Ia teringat dengan mantan suaminya itu.


'Perpisahan adalah akhir dari kisah kita Mas Afkar. Apa kabarmu sekarang? Aku harap jika ingatanmu kembali nanti. Kamu bisa merelakan perpisahan kita. Hiduplah bahagia bersama kakakku, Aku rela kamu dengannya, Mas. Aku yakin saat ingatanmu kembali semua sikapmu yang dulu pun ikut kembali. Berbahagialah, karena aku akan mengubur dalam kenangan kita. Aku sangat bahagia dengan kehidupan baruku saat ini. Kamu adalah pria baik yang aku kenal pertama kali, Mas. mungkin kisah kita berakhir nelangsa. Tapi aku harap kamu bisa meraih kebahagiaan setelah ini. Terima kasih sudah pernah hadir dalam hidupku, Mas Afkar.'


Batin Yara. Ia mengumpulkan barang-barang kenangannya bersama Afkar di panti itu. Mengubur semua kenangan bersama mantan suaminya. Sebelum Erza melihat semuanya. Saat ini Yara lebih menjaga perasaan Erza.


Yara pun akan bersiap dengan masa depan baru bersama pria itu setelah ini.


Meninggalkan kenangan manis saat berumah tangga dengan Afkar. Kenangan menyakitkan saat menjadi menantu dari Bu Nuri dan kenangan sedih saat menjadi anak panti yang merindukan ayahnya.


Semua sudah ia lewati. Yara telah melewati semuanya. Wanita itu memilih mengikhlaskan semuanya. Itulah yang membuat perasaan Yara tenang dan bahagia saat ini.


Meskipun Yara belum bisa berkumpul dengan keluarganya. Tapi satu harapan masih terpupuk di hari wanita itu.


Berjalannya waktu luka itu akan sembuh dengan sendirinya, dan saat itu tiba Yara berharap dia sudah siap menerima Pak Rio dan Syafa lagi.


.


.


.


to be continued


Maafkan kemari tidak update

__ADS_1


semoga hari ini bisa double up date ..


__ADS_2