
Yara menutup mulutnya sendiri dengan satu tangannya. Wanita itu membaca isi pesan yang dikirimkan oleh Afkar pada Erza.
"Papa," gumam Yara, matanya sudah memerah dengan segala pemikiran buruk yang melintas dipikirannya.
Di saat yang bersamaan Erza memasuki kamarnya. Pria yang hanya menggunakan celana boxer dan baju bekas pakai di tangannya itu heran melihat tingkah Yara seperti orang yang terkejut. Erza pun segera berjalan mendekat.
"Kenapa, Sayang?" tanya Erza, ia langsung meraih ponsel di tangan Yara kemudian meletakkan di atas nakas.
"Papa, Mas!" jawab Yara.
"Papa siapa?" kembali bertanya.
"Papa Rio, dia masuk rumah sakit," balas Yara.
Erza segera meraih ponsel yang ia letakkan tadi. Wajah Erza mengerut membaca pesan yang dikirimkan Afkar untuknya. Kemudian beralih menatap Yara. Jelas terlihat oleh manik mata Erza bahwa Yara ingin sekali pergi ke rumah sakit saat itu juga.
"Sekarang sudah malam, tidak baik untuk wanita hamil keluar malam -malam. Kita juga baru sampai. Aku tidak mau kamu kelelahan, Sayang," ucap Erza mencoba memberi pengertian pada Yara.
"Aku paham, Mas. Aku bisa menunggu sampai besok pagi," balas Yara dengan wajah seulas senyum.
Erza menarik Yara dalam pelukannya. Memberikan ketenangan pada istri tercintanya. "Kita doakan saja, Papa Rio baik-baik saja," ucap Erza kemudian mengecup pelan kening Yara.
"Iya, Mas, Semoga papa baik-baik saja. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya. Aku ingin berkumpul dengan keluargaku," balas Yara.
"Semoga apa yang kamu impikan bisa terwujud, Sayang."
Keduanya saling berpeluk erat. Berada dalam pelukan Erza membuat perasaan Yara malam ini terasa tenang. Pelukan yang biasanya berlangsung lama hanya berlalu singkat saat itu karena di detik berikutnya Yara menyingkirkan tubuh Erza darinya karena mencium bau sesuatu yang menyengat dari tubuh suaminya.
"Tubuh Mas bau minyak angin," Yara menutup hidung kemudian perlahan menjauh dari Erza.
"Kan baru habis di urut, Sayang!"
"Mandi dulu, deh! Aku gak suka bau minyak urutnya, kayak bau kakek -kakek," protes Yara masih menutup hidungnya kemudian menjauhi Erza.
Suaminya itu mengirup aroma tubuhnya sendiri. "Tapi hangat, Sayang!" elak Erza. "Hm ... Wanita hamil memang aneh, sama bau keringat doyan sama bau minyak angin enek. Oke, aku mandi dulu, Yang!" ucap Erza sambil berlalu menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Mas, water heater nya sudah aku nyalakan. Cek lagi suhu panasnya takut nya terlalu panas," teriak Yara saat Erza tiba di depan pintu kamar mandi.
Erza menarik kedua sudut bibirnya. "Iya, Sayang. Terima kasih sudah mempersiapkan semuanya," sahut Erza kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Yara menghela napas berat sebelum ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Semoga semuanya baik-baik saja,"gumam Yara pelan. Ada sebuah harapan dalam hatinya.
Tok ... tok ... tok ...
Ketukan pintu membuat Yara menoleh ke arah pintu. segera ia berjalan untuk membukanya.
Ceklek ...
"Kak, ini tasnya! Tadi ketinggalan di ruang tamu." Azzam menyodorkan tas yang ia pegang pada Yara.
"Ah, ya, terima kasih, Zam," ucapan Yara kemudian tersenyum pada anak lelaki itu.
"Sama-sama, Kak." Azzam pun berlalu dari kamar Yara.
Yara berjalan menuju tempat tidur, wanita itu duduk di tepi tempat tidurnya.
"Kenapa tidak diangkat?" gumam Yara. Pandangan Yara beralih pada jam dinding yang menempel di tembok kamarnya. "Pantas saja, sudah malam juga. Pastinya Mba Syafa juga sudah tertidur. Lebih baik aku mengikuti ucapan Mas Erza untuk pergi ke rumah sakit besok pagi." Yara segera mematikan sambungan teleponnya pada Syafa. Kemudian membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Wanita itu mencoba memejamkan mata untuk beristirahat. Tapi percuma Yara tidur dengan gelisah.
Erza yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat pergerakan gelisah dari istrinya itu. Ia pun bergegas naik ke atas tempat tidur, kemudian memeluk Yara dari belakang.
"Tidurlah, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Papa akan baik-baik saja! Yakinlah!" bisik Erza di telinga Yara dari belakang.
Yara langsung membalikkan tubuhnya. "Aku kepikiran terus, Mas," balas Yara. Aku takut---” ucapan Yara langsung dipotong oleh Erza.
"Jangan berpikir yang negatif dulu. berpikirlah positif. Besok pagi kamu akan bertemu dengan Papa Rio yang dalam keadaan sehat. Bayangkan kalian akan berkumpul dan bersama, Oke!" Erza merangkup wajah istrinya.
Yara mengangguk pelan. "Iya, Mas. Terima kasih selalu menenangkan ku."
"Iya, Sayang. Aku tidak mau kamu berpikir berat. Pikiran bayi kita kalau perasaan bunda-nya sedang gelisah seperti ini."
__ADS_1
"Maafkan aku, Mas."
Erza mengangguk sambil mengulas senyum. "Sekarang tidurlah! Aku akan selalu ada untukmu." Erza menarik tubuh Yara agar semakin merapat padanya meskipun terhalang oleh perut Yara yang semakin membuncit.
Erza mengulur untuk menyentuh perut Yara. "Anak papa, bantu bunda agar merasa tenang ya" ucap Erza seakan berbicara dengan bayi yang ada dalam kandungan Yara.
Yara tersenyum mendengarnya. Sentuhan Erza pun mampu membuat Yara tenang. Perlahan Yara pun memejamkan matanya tak lama Erza pun ikut tenggelam dalam mimpi bersama Yara.
Di rumah sakit.
Syafa masih menunggu di depan ruang UGD setelah berhasil membujuk Pak Rio untuk mau dipasang berbagai alat kesehatan. Wanita itu baru menyadari kalau Afkar masih berada di sana untuk menemaninya. "Mas, masih di sini? kenapa tidak pulang?" tanya Syafa saat ia baru menyadari Afkar tenaga duduk tak jauh dari tempat Syafa saat ini.
"Aku akan menemanimu, Fa." sahut Afkar.
"Tidak perlu, Mas. Aku bisa sendiri. Lagian sebentar lagi ada Tante Gita yang menemaniku," ujar Syafa. Wanita itu berusaha menolak keberadaan Afkar di sana.
"Fa, aku hanya ingin menemani."
"Tapi itu tidak perlu, Mas." balas Syafa. "Terima kasih sudah membantuku," lanjutnya sambil berdiri dari duduknya. Wanita itu hendak pergi dari ruang UGD menuju ruang tunggu. Sebab keluarga pasien tidak diperbolehkan untuk menunggu di depan ruangan. Ada tempat khusus untuk para pendamping pasien.
"Fa, aku mohon! Apa tidak ada kesempatan untuk kita bersama." Afkar memohon. Pria itu ikut berdiri hendak mencekal Syafa.
"Mas ... tolong hargai keputusan ku. Rasa bersalah ini terlalu besar. Aku memilih mengorbankan perasaanku daripada kembali menyakiti orang yang ku sayang. Aku harap Mas mengerti. Seharusnya, Mas Afkar merasakan perasaan bersalah itu. Aku dan kamu terlalu besar melakukan kesalahan. Karena itu aku ingin memperbaikinya, dengan berpisah dan melanjutkan hidup masing-masing, Mas."
Afkar langsung terdiam mendengarnya. Syafa lekas pergi dari hadapan Afkar. Ia meninggal Afkar seorang diri di depan ruangan UGD.
'Maafkan aku, Mas. Aku harus melakukan ini. Ini sudah jadi keputusanku.'
Batin Syafa sambil berlalu pergi.
.
.
.
__ADS_1
To be continued