
Jangan lupa bintang πππππ untuk karya ini ya.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Erza tangannya menyelinap untuk memeluk tubuh Yara dari belakang. Dikecupnya tengkuk leher istrinya yang putih. Yara menoleh ke sisi kanan. Di mana wajah Erza berada di pundaknya.
Wanita itu hanya menyentuh sekilas pipi Erza kemudian kembali fokus memandangi indahnya pemandangan di kota Zurich. Kota sejuta pesona dan populer di Swiss. Di kota itulah mereka tinggal.
Yara menatap ke arah sebuah taman bernama Lindenhof Park. Taman kecil yang ada di kota Zurich. Dari balkon kamarnya, Yara bisa melihat banyak gerombolan muda-mudi dan penduduk lansia tampak duduk-duduk menghabiskan senja di bangku taman sambil membawa segelas kopi dan makanan ringan. Sekarang ini banyak juga para turis yang ikut melakukan hal yang sama. Apalagi di saat senja seperti sekarang ini.
"Hei, kenapa tidak menjawab pertanyaanku? Ada apa? Ada yang sedang kamu pikirkan?" Erza kembali bertanya pada Yara. Pria itu lekas membalik tubuh istrinya dengan cepat.
Erza menatap Yara penuh curiga. Istrinya itu hanya membalas dengan seulas senyum.
"Jangan suka memendam pikiran sendiri! Ingat wanita hamil tidak boleh stress!" Erza mendekatkan wajahnya pada Yara. Hidung mereka saling beradu. Erza menggesekkan hidung mereka berdua. Kemudian mencium singkat bibir merah muda milik Yara. "Ibu hamil itu hanya boleh senang dan senang saja." Lanjut Erza dengan tatapan penuh kasih sayang pada Yara.
Yara menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak memikirkan apapun, Mas. Aku hanya sedang menikmati indahnya temaram senja di kota ini. Indah sekali ya, Mas!" Ujar Yara mengalihkan pertanyaan Erza sambil melirik pemandangan yang ada di hadapan mereka.
Erza menarik sudut bibirnya mendengar penuturan Yara. Pria itu malah memberikan ciuman berkali-kali di pipi Yara.
"Pintar sekali kamu mengelak. Hem!" Erza kembali menciumi pipi Yara gemas karena istrinya itu pintar menyembunyikan kegundahan hatinya.
Yara sedikit menghindar dari ciuman Erza. Sebab bulu halus dari rahang Erza membuatnya merasa kegelian. Dua bulan menikah dengan Yara, Erza sengaja menumbuhkan bulu-bulu halus itu karena Yara menyukainya apalagi saat menyentuh bagian sensitifnya.
Ada gelenyar nikmat yang mengundang suara indah meluncur dari bibir istrinya. Hal itu yang membuat Erza bersemangat menumbuhkan jenggot tipisnya. Selain membuat penampilannya macho. Erza juga bisa memberikan kepuasan pada Yara.
"Mas, Geli!" Protes Yara.
"Geli tapi kamu suka 'kan?" Goda Erza.
"Apan sih?" Elak Yara.
"Jujur kamu lagi mikirin apa?" desak Erza lagi. Tangan pria itu sudah melingkar di pinggang Yara.
"Beneran aku tidak lagi mikirin apa-apa, Mas!"
Erza masih merasa tidak percaya dengan ucapan Yara. "Dengar, Sayang!Bicarakan apapun yang membuat hatimu gundah. Kita berbagi segala beban bersama. Jangan ada sedikitpun hal yang kamu tutupi dariku!" Ucap Erza lembut. Pria itu mengelus pelan pucuk kepala Yara. Mencurahkan segala kasih sayang pada wanita itu.
Yara bisa merasakan ketulusan yang selalu ia dapatkan dari Erza. Sikap suaminya itu semakin manis dan semakin perhatian apalagi saat mengetahui Yara hamil. Erza semakin protektif pada Yara.
"Iya, Mas. Aku tidak akan menyembunyikan sesuatu sedikitpun darimu!" Ucap Yara. Kedua tangannya menempel di dada bidang suaminya sambil memainkan jemari lentiknya.
"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau kamu sampai menyimpan beban tanpa ingin berbagi denganku!" Erza semakin khawatir pada Yara.
__ADS_1
Terlebih Usia kandungan Yara masih sangat muda dan baru memasuki usia kandungan 2 bulan. Erza harus memberikan banyak perhatian pada Yara.
Yara dan Erza baru mengetahui kalau pembibitan benih itu berhasil saat mereka berada di Swiss. Tepatnya satu minggu mereka tinggal di sana. Dengan kata lain saat berada di Indonesia Yara sudah hamil hanya saja wanita itu belum menyadarinya. Dan sesampainya di Swiss Yara baru mengetahui kehamilannya setelah satu Minggu tinggal di sana.
Berita kehamilan Yara membuat Mama Anggi begitu bahagia. Akhirnya keluarga Rahardian akan memiliki cucu kandung dari Erza. Perhatian dari Mama Anggi pun selalu didapat oleh Yara.
Meskipun akan mendapat keturunan kandung dari Erza. Tak lantas Dhiya terlupakan oleh mereka. Anak bawaan Yara itu selalu mendapatkan perhatian penuh dari Mama Anggi dan juga Papa Rangga.
Kedua orang tua Erza berjanji akan menyusul ke Swiss secepatnya. Mereka ingin merayakan rasa syukur saat usia kandunganYara berusia empat bulan. Hal yang sangat dinanti oleh Yara dan Dhiya. Ingin berkumpul dengan mereka.
"Dhiya mana, Mas?" Tanya Yara yang tidak melihat keberadaan Dhiya dari tadi.
"Di luar bersama teman barunya!"
"Siapa?" Tanya Yara penasaran.
"Windi, tetangga baru satu negara asal dengan kita!" Jawab Erza. Pria itu semakin merapatkan tubuhnya dengan Yara. Memeluk tubuh wanita itu, hal yang paling Erza sukai dengan mencium aroma tubuh istrinya.
Beruntung kehamilan Yara tidak mengalami kesulitan sedikit pun hanya sesekali morning sickness di pagi hari tapi masih bisa diatasi. Merasakan kehangatan pelukan dari suaminya Yara membalas pelukan Erza. keduanya saling memeluk erat.
"Aku ingin melihat keadaan papa!" Celetuk Yara tiba-tiba saat Yara masih dalam pelukan suaminya.
Erza yakin suatu saat Yara pasti akan mengakui rasa rindu itu. Waktu yang yang menjadi pengobat benci dan kecewanya. Waktu yang telah menyembuhkan luka di hati istrinya.
Selama ini Yara sama sekali tidak pernah menyinggung soal Pak Rio. Tapi kali ini berbeda. Istrinya itu sudah dua kali ini menanyakan keadaan pria berumur itu. Mungkin ada sesuatu yang terjadi dengan Syafa ataupun Pak Rio karena ikatan batin tidak bisa dibohongi.
"Kita bisa menghubungi Roni!" Sahut Erza.
Yara segera melepaskan pelukannya. Wanita itu menatap Erza curiga. "Mas Erza sering berkomunikasi dengan papa?" Tanya Yara penasaran.
Erza menggelangkan kepala pelan. "Tidak sering hanya sesekali!" Jawab Erza jujur. "Yang lebih sering berkomunikasi dengan mereka 'kan kamu, bukan aku." Erza membalikkan ucapannya pada Yara.
"Aku juga hanya sesekali berbicara dengan Mba Syafa. Itupun karena Dhiya yang selalu merengkek minta menghubunginya," elak Yara.
Erza menghela napas berat. Kok saatnya Erza memberitahu yang sebenarnya pada Yara. "Kesehatan Pak Rio semakin menurun. Yang aku tahu beberapa kantor cabang sudah gulung tikar. Termasuk perusahaan tekstil yang pernah di pimpin Afkar. Perusahaan itu di akuisisi oleh Pak Waluyo." Erza menjelaskan.
"Apa benar seperti itu, Mas?" Yara nampak tak percaya dengan penuturan yang dilontarkan suaminya.
Erza menganggukkan kepalanya pelan. "Sebenarnya aku ingin memberitahukan kamu soal ini. Tapi aku menunggu kamu siap mendengar kabar tentang mereka." Erza melihat ada raut wajah istrinya berubah sedih.
"Lalu bagaimana keadaannya saat ini? Dimana mereka tinggal? Kenapa Mba Syafa sama sekali tidak menyinggung soal keadaannya saat berbicara denganku?" Berbagai pertanyaan Yara lontarkan.
__ADS_1
Erza paham akan perasaan istrinya. Satu tetes air mata meluncur begitu saja di sudut mata Yara. Rasanya sedih, mendengar kabar menyedihkan itu. Seburuk apapun Pak Rio dan Syafa. mereka adalah satu-satunya keluarga yang Yara miliki. Kilas balik penderitaan di masa lalu pun terlintas dalam benaknya. Menyedihkan dan menyesakkan saat mengingatnya. Tapi Yara telah memaafkan dan Mengikhlaskan semuanya.
Yara mendaratkan pantatnya di sofa yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Erza pun membantunya untuk duduk.
"Aku terlalu naif untuk menunjukkan rasa sayangku kepada mereka, Mas. Pada dasarnya rasa rindu ini masih terus membelenggu. Meksipun aku tahu semua penderitaanku berawal dari perbuatan papa. Tapi aku tidak bisa menghakimi dia seberat ini. Aku merindukan sosok ayah yang selalu ini aku dambakan. Mungkin kekecewaan ini terlalu besar sehingga menutup semua rasa rinduku padanya." Tumpah sudah air mata Yara saat berbicara. Kenangan itu kembali tergali membuat dadanya terasa sesak. "Aku ingin memeluk papa, Mas. Apa bisa?" Yara tertunduk, Erza segera menarik tubuh istrinya dalam pelukan.
"Bisa, kita akan pulang ke Indonesia setelah usia kandunganmu berusia lebih dari tiga bulan. Untuk saat ini belum bisa. Sudah jangan menangis! Kamu bisa melihat keadaannya dengan video call." Erza mengusap pelan pundak istrinya memberikan ketenangan pada wanita itu.
Seburuk-buruknya sikap Pak Rio. Dia adalah orang tua dari Yara. Tanpa Pak Rio Yara tidak akan hadir ke dunia ini.
Pasti ada ikatan batin antara dirinya dan pria berumur itu. Pantas saja selama beberapa hari ini, Yara merasakan kegelisahan yang tidak menentu. Pak Rio selalu membayangi dirinya, serta ucapan dari almarhum Mama Mira yang selalu ia ingat.
'Seburuk apapun papa-mu, bagi mama dia adalah pria baik yang pernah mama kenal.'
Sampai akhir hidupnya pun Mama Mira selalu mencintai Papa Rio. Karma memang telah diterima oleh orang-orang yang telah menyakiti Yara. Namun, mereka berhak mendapatkan maaf dan kesempatan.
Yara telah memilih kehidupan jauh dari orang-orang yang telah menyakitinya tapi ikatan batin mereka masih sama.
Afkar dan Bu Nuri tengah meniti kehidupan barunya tanpa harta dan tahta. Mereka harus merasakan berjuang untuk hidup yang terus berjalan tanpa henti hingga akhir napas yang mereka hirup.
Syafa dan Pak Rio mengalami krisis ekonomi yang membuat kehidupan mereka menurun. Kemewahan dan harta termakan habis oleh pengobatan yang dilakukan Pak Rio. Semua memerlukan uang yang tidak sedikit. Beruntung bagi mereka ada Roni yang masih setia dalam keadaan apapun.
"Aku ingin menemui mereka, Mas!" pinta Yara di sela pelukannya.
"Sabar, Sayang!" sahut Erza. Pria itu masih dengan setia mengusap lembut pundak istrinya.
Erza tersenyum penuh rasa syukur. Semua akan kembali, Erza yakin kebahagiaan sebenarnya yang ingin Yara rasakan adalah berkumpul dengan keluarganya hanya saja belum saatnya. Berbagai lika liku masalah telah terlewatinya. Tak lama lagi kebahagiaan sesungguhnya pasti akan diraih. Kebahagiaan yang akan melengkapi hidup Yara. Kebahagiaan yang menggantikan kesedihan dan derita yang selama ini pernah Yara rasakan.
.
.
.
To be continued....
Alhamdulillah... Akhirnya bisa up, setelah berjuang melawan pusing dan mata yang sedikit kunangΒ². angka dan tulisan itu kaya bergerak-gerak di layar hape. Ada yang mengalami itu gak? Apa karena terlalu sering mantengin hape ya.
Sehat -sehat ya badan.
Sehat juga buat kalian semua. ππ
__ADS_1