Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Karma Dari Perbuatan Ibu


__ADS_3

Satu Minggu telah berlalu. Hari ini, Gita mencoba menghubungi Bu Lidia kembali. Beberapa kali melakukan panggilan tapi tidak dijawab. Di saat hampir menyerah, ponselnya kembali berdering. Bibirnya tersenyum saat melihat siapa yang menghubunginya.


"Selamat sore, Bu Lidia," sapa Gita dari sebrang telepon.


"Selamat sore juga, Bu Gita. Maaf tadi saya sedang dalam perjalanan jadi tidak tahu kalau Anda menghubungi," sahut Bu Lidia.


"Santai saja, Bu Lidia. Saya hanya ingin kembali menanyakan kapan kita bisa bertemu?" Tanya Gita serius.


"Sepertinya minggu ini saya akan kembali ke kota untuk kontrol anak asuhku ke sana. Kita bisa bertemu di tengah-tengah supaya tidak terlalu jauh Bu Gita dan Pak Rio untuk bertemu," usul Bu Lidia.


Gita terlihat diam sambil berpikir kemudian mengangguk untuk menyetujuinya. "Baiklah, saya setuju. Saya benar-benar menunggu kabar pastinya, Bu Lidia."


"Ya, Bu Gita. Saya pasti mengabari Anda kalau sudah berada di sana."


"Terima kasih, sampai bertemu nanti!" Ucap Gita kalau menutup sambungan teleponnya.


"Aku harus memberitahu Rio! Tapi bagaimana keadaan dia sekarang?Kasihan sekali dia, penyesalan terus ia rasakan. Pria itu berusaha bersikap keras dan jahat untuk menutupi sisi kelemahannya." Gita mengelengkan kepala mengigat sikap dari Rio. Suami dari sahabatnya itu.


Di tempat lain. Semenjak kepergian Yara dari rumahnya. Afkar mengalami pusing di kepalanya itu membuat Syafa bergegas pulang ke sana. Padahal wanita itu berencana untuk merawat Papa Rio lebih lama.


"Kamu terlalu banyak berfikir, Mas! Sudahlah istirahat dulu! Aku lihat dari semalam, Mas gelisah terus," ucap Syafa saat memberikan obat dan air minum di gelas pada Afkar.


Suaminya itu beberapa kali merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya.


Afkar hanya bisa diam menanggapi Syafa yang terus berbicara padanya.


"Diamkan, kamu membuatku semakin pusing mendengar ucapanmu!" Bentak Afkar seraya berdiri memasuki kamar mandi. Pria itu merasa pusing sendiri dengan ucapan yang terlanjur ia ucapkan pada Yara.


Meskipun belum mengingat semua Ingatannya tapi semenjak malam itu, malam penyatuannya paksanya dengan Yara. Perasaan Afkar semakin gelisah. Wajah Yara selalu terbayang dalam benaknya. Hal itu semakin membuat Afkar uring-uringan dans serba salah sendiri.


Syafa menoleh sekilas ke arah suaminya. Ia merasa terkejut Afkar berbicara kasar padanya. Selama ini Afkar tidak pernah membentaknya.

__ADS_1


"Kamu berubah, Mas," lirih Syafa. Ia langsung duduk di tepi tempat tidur setelah mendapat bentakan dari Afkar.


Syafa menunggu Afkar keluar dari kamar mandi. Tapi suaminya tak kunjung keluar dari kamar mandi.


Sambil menunggu, Syafa mendengar pintu kamarnya diketuk seseorang.


"Afkar," Panggil Bu Nuri sambil mengetuk pintu kamar itu.


Tak lama pintu kamar dibuka oleh Syafa. "Ada apa, Bu?" Tanya Syafa bersamaan dengan pintu yang terbuka.


"Afkar mana?"


"Mas Afkar di kamar mandi! Kenapa, Bu?"


"Mira telepon. Dia minta di jemput di rumah mertuanya! Kamu tahu dia sampai harus sembunyi-sembunyi saat menghubungi ibu. Afkar harus segera jemput Mira. Ibu tidak mau anak perempuan ibu kenapa-napa!" Ujar Bu Nuri sambil berlinang air mata.


"Memangnya kenapa harus seperti itu, Bu?" Tanya Syafa penasaran.


Syafa menggiring Bu Nuri untuk duduk di tempat tidurnya.


"Ibu tenang ya, Mas Afkar pasti akan berbuat sesuatu. Kita tunggu Mas Afkar, ya!" Ucap Syafa menenangkan Bu Nuri.


Jauh dari tempat tinggal Syafa tepatnya di rumah mertua dari Mira. Anak perempuan Bu Nuri sedang meminta ampun pada mertuanya. Sebab ketahuan menggunakan ponsel untuk menghubungi seseorang.


"Saya sudah bilang jangan menelepon siapapun. Kamu ini bebal sekali!" Sentak Bu Paijah pada Mira.


"Ampun, Mah. Mira hanya menelepon ibu!" Mira mencoba menjelaskan. Tapi percuma mertuanya semakin memarahi wanita itu.


"Kamu ini, kalau dibilangin itu didengar jangan membantah terus." Bu Paijah mendorong tubuh Mira sampai tersungkur ke tanah. "Malam ini kamu tidak dapat jatah makan." lanjut Bu Paijah kemudian meninggalkan Mira yang masih tersungkur di lantai sambil menangis.


'Mas Agung, kenapa kamu tega memperlakukanku seperti ini. Kamu menduakan ku dan meninggalkanku seperti pembantu di rumah orang tuamu. Kamu memilih tinggal dan tak pernah kembali setelah istri kedua mu melahirkan. Kalau aku dianggap tidak berguna, lebih baik kembalikan aku pada orang tuaku, Mas. Bukan malah menyuruh mama untuk menyekap dan mempekerjakan aku seperti pembantu di rumah ini, Mas.'

__ADS_1


Batin Mira sedih. Air matanya terus mengalir membasahi pipi mendapati kenyataan pahit yang terjadi dalam pernikahannya.


Pernikahan yang baru genap satu tahun harus dilanda prahara. Semua juga bermula dari larangan Bu Nuri yang tidak mengijinkan Mira untuk ikut pergi ke kota terpencil tempat dinas Agung, suami Mira saat bertugas. Sudah jadi kewajiban abdi negara pergi dari satu daerah ke daerah lain saat bertugas.


Agung, suami dari Mira mengajak wanita itu untuk ikut kemanapun dia bertugas. Sebab rumah dinas sudah disiapkan oleh negara untuk para abdi negara itu. Hanya saja Agung selalu diposisikan di tempat terpencil. Bu Nuri tidak mau Mira hidup jauh darinya. Jadi wanita itu melarang Mira untuk ikut. Dari sanalah Agung mulai berselingkuh bahkan sampai menikah siri dengan seorang gadis sampai hamil. Dan lebih beruntung bagi Agung, istri sirinya itu bersedia ikut kemanapun Agung bertugas. Itulah yang diharapkan. Sangat berbeda dengan Mira. Mira terlalu menuruti keinginan ibunya.


Agung menyekap dan menyandera Mira karena wanita itu bersikeras ingin melaporkan Agung pada pengadilan atas pelanggaran yang dilakukan abdi negara tersebut. Sebab ada hukuman dan sanksi jika seorang abdi negara melakukan perselingkuhan dan penyiksaan pada istri dan keluarganya.


Maka dari itulah Agung berusaha menutupinya.


Jalan damai pernah Agung tawarkan pada Mira. Dia akan tetap jadi istri sah di mata hukum dan Laila, akan menjadi istri kedua karena tidak mungkin Agung meninggalkan wanita yang telah memberikan keturunan untuknya itu. Berbeda dengan Mira, sampai saat ini pun wanita itu tida menunjukan tanda-tanda kehamilan. Dan Laila, istri siri dari Agung menjadi yang istimewa di sana karena telah memberikan keturunan untuk keluarga Agung yang memang mendambakan kehadiran cucu di tengah-tengah keluarga mereka.


'Aku ingin pulang, Bu! Batinku sangat tersiksa di sini.'


Jerit Mira yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya runtuh begitu saja di lantai dengan kedua kaki yang ditekuk.


Wanita itu kembali menangis di dalam kamarnya sambil memeluk kedua kakinya. Kemudian mengingat soal penolakan jalan damai yang diajukan Agung padanya. Karena penolakan itu, Mira malah mendapat siksaan dari mertuanya. Keberadaannya di sana dimanfaatkan. Menjadi pembantu di rumah mertuanya sendiri.


Sepintas bayangan kakak iparnya, Yara hadir dalam benak Mira. Ingatan soal perlakuan buruk dari ibunya kepada Yara jelas ia ingat. "Ya Tuhan ... Apa ini karma darimu untuk membalas derita yang selama ini Mba Yara rasakan. Semua berbalas padaku, semua yang ibu lakukan pada Mba Yara berimbas pada keutuhan rumah tanggaku. Aku ... aku ... yang mendapat karma dari perbuatan ibu," sesal Mira masih dengan Isak tangisnya yang semakin terisak.


.


.


.


.


To be continued.


maafkan Author yang baru up....

__ADS_1


Doakan author bisa up lagi hari ini. 🥰😘😘


__ADS_2