Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Seperti Squishy


__ADS_3

Harum bunga camomile segar dan menenangkan begitu menyeruak indera penciuman Erza saat pria itu baru saja masuk ke dalam kamarnya. Kedua sudut bibirnya tertarik saat melihat sosok wanita yang begitu ia cintai baru saja keluar dari kamar mandi. Yara tidak menyadari kehadiran Erza saat itu. Yara berjalan santai menuju walk in closed hanya menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya serta di kepalanya. Erza pun mengikuti langkah Yara. Pria itu melempar asal jas kerja ke atas tempat tidurnya. Kemudian berjalan pelan seraya membuka dasi yang dikenakannya.


Di dalam walk in closed Yara masih belum menyadari seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Erza menyandarkan tubuhnya di tembok seraya mendengarkan istrinya bernyanyi. Yara terus melantunkan lagu dengan santai sembari memilih pakaian yang akan dikenakannya sore ini. Lagu kesukaannya yang berjudul teman hidup milik artis Tulus itu terus disenandungkan dengan merdunya.


“Dia indah meretas gundah


Dia yang selama ini ku nanti


Membawa sejuk memanja rasa


Dia yang selalu ada untukku


Di dekatnya aku lebih tenang


Bersamanya jalan lebih terang.”


Yara berjalan pelan ke arah lemari yang khusus diisi pakaian dalam miliknya. Bibirnya tak henti menyanyikan lirik lagu tanpa musik. “Hem ... Hem ... Kali ini hanya deheman saja yang Yara suarakan. Setelah mendapat apa yang di cari yaitu segitiga bermuda dan penutup gunung kembar berwarna senada. Yara tanpa ragu melepas handuk yang melilit tubuhnya. Wanita itu berdiri membelakanginya suaminya.


Erza menelan ludah melihat pemandangan indah di depan matanya. Tubuh putih seputih susu itu terpampang jelas di hadapannya. Semakin seksi saat perut buncit Yara semakin terlihat. Erza tersenyum melihatnya. Mengingat di dalam perut itu adalah buah cintanya dengan Yara yang beberapa bulan lagi akan segera lahir ke dunia.


Kini, tubuh polos Yara telah tertutup di bagian inti dan atasnya saja. Erza sudah membayangkan betapa indahnya saat gunung kembar itu menyembul. Sebab ukuran gunung favoritnya itu semakin membesar sehingga membuat Erza semakin candu. Pria itu akan memuaskan candunya saat ini sebelum bayi mereka lahir. Kalau sudah lahir pastinya sulit bagi Erza untuk berlama-lama mendaki gunung tersebut.


Yara masih saja belum menyadari kehadiran Erza. Wanita itu malah beralih pada lemari yang ada di sampingnya. Lemari berukuran besar yang berisi pakaian Yara khusus hamil. Wanita itu meraih satu set pakaian hamilnya yang berwarna merah dan sedikit seksi bila di pakai. Yara mengurungkan niat untuk memakainya sebab ia ingat kalau suaminya akan pulang malam.


“Mas Erza pasti pulang malam jadi percuma pakai baju ini,” ujar Yara lalu mengantungkan kembali pakaian yang ada di tangannya.


“Kenapa di simpan lagi! Pakai saja itu warnanya membuat aura ibu hamil ini semakin terpancar,” titah Erza sontak membuat Yara terkejut. Tangan kekar Erza pun melingkar di pinggang Yara dari belakang lalu mengusap pelan perut Yara.


“Astaghfirullahaladzim, Mas Erza Kamu mengejutkan ku!” pekik Yara kaget.


“Maaf, Sayang.”


Yara kembali mengambil pakaian tidur khusus ibu hamil. Piyama lengan dan celana panjang.


Di saat bersamaan Erza merasakan gerakan dari perut Yara. “Baby kita bergerak, Sayang,” ucap Erza kemudian beralih posisi menghadap istrinya. Erza sedikit berjongkok menyejajarkan tingginya dengan perut Yara. “Apa dia juga kaget, Sayang?” tanya Erza.

__ADS_1


“Sepertinya begitu, lagian Mas ngagetin aku,” omel Yara.


Erza merasa bersalah. Ia mengusap kembali perut Yara. “Maafkan papa, Sayang. Kamu terkejut ya? Baik-baik di dalam perut bunda, ya. Sehat selalu, papa sudah tidak sabar menanti kehadiranmu di sini,” ucap Erza lembut seakan berbicara dengan bayi yang ada dalam kandungan Yara.


Bukan hanya Yara yang merasakan usapan lembut. Tapi, Erza juga merasakan pucuk kepalanya di usap lembut oleh Yara. Wanita yang tengah berdiri di depannya itu tersenyum melihat tingkah Erza.


“Katanya pulang malam, masih jam 5 sore kok udah pulang? Memangnya sudah beres kerjaannya?” tanya Yara.


Erza lekas berdiri dari jongkoknya. “Sudah, aku menyerahkan pekerjaan itu pada Renold,” ucap Erza.


Alis Yara mengerut mendengarnya. “Kenapa bisa pekerjaan ini dia yang mengerjakan bukannya Pak Dimar ingin kamu yang menjalankan proyek ini, Mas,” tanya Yara.


Tangan Erza mengulur meraih handuk yang melilit rambut panjang Yara. Seketika rambut yang setengah basah itu tergerai indah di depan mata. Masih ada tetesan air di ujung rambut itu.


“Anak dari Pak Dimar berusaha mendekatiku. Andrea sengaja mempersulit pekerjaan ini agar aku dan dia bisa bersama,” ujar Erza jujur. Pria itu bisa menangkap sikap yang di tunjukan oleh Andrea kepadanya. Sikap yang tidak biasa bagi seorang wanita.


“Andrea menyukaimu, Mas?” tanya Yara lagi


Erza hanya mengangkat bahunya pelan. “Entah lah, makanya lebih baik aku mengalihkan pekerjaan ini pada orang lain. Toh masih banyak pekerjaan lain yang lebih penting.” Erza membantu Yara mengeringkan rambut dengan menggosok pelan rambut hitam itu dengan handuk di tangannya. “Hmm, wangi sekali,” ucap Erza seraya mengendus aroma wangi dari rambut istrinya.


Erza menarik satu sudut bibirnya. Lalu melempar asal handuk basah yang ia pegang. Melihat tubuh Yara yang belum tertutup pakaian. Segera Erza mersiah pakaian berwarna merah yang ada di tangan istrinya. Lalu membuka kancing baju satu persatu kemudian memakaikan baju itu pada tubuh istrinya. Begitu juga dengan setelan celananya. Erza sampai harus menunduk saat Yara satu persatu memasukkan kakinya ke dalam lubang celananya. Erza melakukan itu dengan sangat hati-hati pada Yara.


“Terima kasih, Mas,” ucap Yara pelan. Kali ini Yara telah rapi memakai baju tinggal menyisir rambutnya saja.


“Sama-sama, Sayang.”


“Mas,” panggil Yara.


“Hm.”


“Kamu belum jawab pertanyaanku.”


“Pertanyaan yang mana?” Erza malah terlihat bingung.


“Ih, berarti tidak mendengarkanku tadi,” kesal Yara.

__ADS_1


“Ya coba ucapkan lagi, kali ini aku serius mendengarkan,” rayu Erza.


“Mas yakin tidak tergoda sama Andrea. Dia itu cantik, seksi pula. Nggak kayak aku yang penampilannya melar begini,” keluh Yara karena kondisi tubuhnya yang montok berisi tentunya karena hamil.


“Andrea memang cantik, tapi lebih cantik kamu! Di juga seksi tapi jauh, jauh lebih seksi kamu, Sayang,” balas Erza seraya menangkup kedua pipi Yara dengan telapak tangannya. Erza mendekatkan wajahnya pada Yara. Menempelkan kening sampai hidung keduanya juga saling menempel.


“Gombal banget,” sahut Yara.


“Banyak wanita yang cantik di luar sana. Aku sudah melihatnya. Tapi tidak semua wanita itu seperti kamu, Ayara Faeqa. Karena kamu telah memberikan warna dalam hidup ini. Dan ini adalah buah cinta kita.” Erza memundurkan wajahnya. Tangannya beralih memegang perut Yara.


Yara mengulas senyum terbaiknya seraya menatap Erza penuh cinta. Keduanya saling menatap dalam. Perlahan Erza kembali memajukan wajahnya melihat itu Yara memejamkan mata. Erza lekas menyambar bibir manis yang ada di hadapannya itu. Pelan tapi pasti, Erza mulai memainkan bibir ranum merah itu. Menyerap dan menikmati manisnya bibir istrinya. Lidahnya memaksa masuk, saling bermain lidah sehingga terdengar suara dari permainan bibir mereka. Semakin lama permainan bibir itu semakin menuntut. Tangan Erza mengarah ke arah gunung kembar yang kenyal saat dimainkan. Seperti memainkan squishy kesukaan Dhiya.


“Eugh ....” lengkuhan indah mendayu lolos begitu saja dari bibir Yara. Hal itu membuat Erza semakin bersemangat. Pagutan bibir itu perlahan terlepas. Bibir Erza mengecup lembut telinga hingga menyusuri leher jenjang putih milik Yara.


Gelenyar-gelenyar memabukkan semakin terasa. Udara dingin dari AC kalah dengan aura panas dari kegiatan Erza dan Yara. Erza merutuki dirinya sendiri.


“Seharusnya piyama ini tidak aku pakaian dulu padamu, kalau sekarang aku sendiri lagi yang membukanya,” ucap Erza parau. Napasnya sudah menggebu ingin segera bermain di atas puncak kembar yang semakin besar menggemaskan.


Yara hanya bisa tersenyum mendengar ocehan suaminya.


Ceklek ...


Pintu kamar terdengar terbuka.


“Bunda ...”


Yara dan Erza lekas menoleh ke arah pintu kamar yang tidak jauh dari walk in closed itu.


“Dhiya,” ucap keduanya kompak dengan keterkejutan yang luar biasa.


.


.


.

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2