Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Mencari Ketenangan Hati


__ADS_3

“Bunda di mana?” Dhiya kembali berteriak. Putri cantiknya itu berjalan memasuki kamar mencari sosok bundanya. Yara yang ada di ruang walk in closed bersama Erza lekas mendorong tubuh suaminya itu agar sedikit menjauh.


“Kamu belum mandi ‘kan, Mas.”


Erza mengangguk lemas seraya mendaratkan pantatnya di salah satu bangku panjang yang ada di ruangan itu. Lemas karena hasrat yang baru saja memuncak harus runtuh begitu saja. Salahnya sendiri lupa mengunci pintu kamar.


“Mas mandi dulu, ya! Nanti aku siapkan bajunya setelah menemui Dhiya,” ucap Yara seraya berjalan keluar dari ruangan itu. Erza hanya mengangguk pelan kemudian berdiri malas memasuki kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu. Yara mengulas senyum melihat reaksi Erza.


“Bunda,” panggil Dhiya saat Yara baru saja keluar dari ruang walk in closed.


“Kenapa, Sayang?” tanya Yara.


“Aku mau menginap di rumah Windi ya. Boleh ‘kan?” tanya Dhiya.


“Sekarang Windi-nya mana?” Yara balik bertanya.


“Di kamar aku.”


“Ya sudah, boleh. Tapi, jangan nakal ya di sana. Jangan merepotkan mama-nya Windi,” ucap Yara.


“Iya, Bunda. Terima kasih bundaku sayang.” Dhiya lekas berjinjit dan mencium pipi Yara.


“Wah, kakak sudah tinggi ya ternyata,” ucap Yara.


“Dih, bunda baru sadar.”


Yara tersenyum hangat pada Dhiya. “Nggak kerasa putri bunda sudah mau remaja,” lanjutnya seraya mengacak pelan rambut Dhiya.


“Ah, Bunda jadi berantakan nantinya. Papa mana?” tanya Dhiya.


“Lagi mandi.”


“Yah, lama dong.”


Yara mengangkat bahunya pelan.


“Bunda tolong ijinin sama Papa ya!” pinta Dhiya.


Yara menganggukkan kepalanya pelan.

__ADS_1


“Sekali lagi terima kasih, Bunda. Aku pergi ya!” Dhiya keluar dari kamar itu seraya melambaikan tangan ke arah Yara.


“Ingat pesan bunda, jangan nakal,” teriak Yara.


Dhiya mengacungkan jempolnya tanpa menoleh lagi. Yara hanya menggelengkan kepala menanggapinya. Yara berjalan mendekati pintu kamarnya kemudian mengunci pintu tersebut. Dan akhirnya Yara kembali ke ruang walk in closed. Menyiapkan pakaian ganti untuk Erza.


Harum segar dari shampo bermerek keluaran Paris yang belum lama Yara beli itu baru saja dipakai oleh suaminya. Aroma mint segar begitu menyejukkan saat tercium oleh hidung. Yara dapat menghirup aroma kesegaran itu saat dirinya baru saja masuk ke dalam ruangan.


Tanpa Yara sadari, dirinya berjalan mendekat ke arah Erza yang tengah menggosok rambut dengan handuk di tangannya. Senu mengembang pun terbesit di wajah Yara.


Setengah tubuh bagian bawah Erza tertutup oleh handuk sehingga tubuh bagian atas terlihat jelas oleh pandang mata Yara. Perut sispex berbentuk roti sobek itu begitu menggoda. Yara pun sering memainkan jemari lentiknya di atas perut itu.


Erza balik tersenyum melihat sang istri yang berjalan mendekatinya. “Sayang, shampo yang di sini baru ya? Wanginya enak sekali,” ujar Erza saat Yara tiba di hadapannya.


“Iya, Mas. Harum ya,” sambung Yara. Kemudian meraih handuk yang dipegang suaminya. “Sini aku bantu keringkan!” ucap Yara. Erza sedikit menunduk agar istrinya bisa menggapai pucuk kepalanya. Bukannya menggosoknya dengan handuk. Yara malah menciumi pucuk kepala Erza seraya menghirup aroma segar dari shampo yang dipakai suaminya.


“Aku suka wanginya, Mas,” ucap Yara. Seketika Erza kembali menegakkan kepalanya.


“Eh, aku belum mengeringkannya Mas,” protes Yara saat Erza menegakkan kepalanya.


“Daripada menciumi kepalaku mending ciumnya di sini, Sayang!” Erza memonyongkan bibirnya. Seketika Yara membungkam mulut Erza.


“Apaan sih, Mas,” elak Yara. Tapi manik matanya tertuju pada buliran air yang menetes dari ujung rambut Erza yang masih basah. Buliran itu mengalir hingga perut suaminya.


Erza mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Yara. “Kamu harus tanggung jawab karena telah mengganggu dia yang susah payah aku ajak tidur tadi. Dia bangun lagi minta ketemu sama dedek bayi,” bisik Erza.


Yara tertunduk malu mendengarnya. Bibirnya mengulas senyum saat melihat tonjolan di balik handuk yang menutupi tubuh bawah Erza.


Perlahan tapi pasti Erza berhasil meloloskan pakaian yang dipakai Yara. Kegiatan indah itu pun entah sejak kapan sudah berlangsung begitu saja seperti air mengalir. “Akhh ... Mas Erza,” lolos sudah suara berat dari bibir Yara. Suara yang terdengar parau karena merasakan kenikmatan lembut yang Erza lakukan padanya.


Erza memanjakan Yara dalam posisi yang nyaman dan aman bagi ibu hamil. Yara dalam posisi merangkak seperti bayi itulah posisinya saat ini. Bangku panjang yang ada di depan menjadi tumpuannya. Posisi ini yang sering dilakukan oleh keduanya. Karena gaya bercinta seperti ini adalah salah satu posisi paling aman untuk Yara. Meskipun banyak gaya lain yang mereka jelajahi untuk mencari posisi terbaik.


Yara berada dalam posisi merangkak sedangkan Erza berlutut di belakangnya dan melalukan pertemuan dengan Vivi dari sisi belakang. Meskipun demikian, Erza tidak tergesa. Pria itu bisa mengendalikan nafsunya. Erza menggoyangkan pinggulnya dengan lembut. Tangannya mengulur memegangi perut Yara yang buncit agar bayi yang ada di dalam kandungan istrinya itu tidak berguncang akibat kegiatan orang tuanya. Suara indah Yara yang memanggil nama Erza jadi penyemangat buat pria yang sedang bermanja nikmat di belakang tubuh Yara.


“Bunda, aku pamit ya!” teriak Dhiya dari luar kamar.


Yara menutup mulutnya yang sedang bersenandung nikmat. Erza pun seketika menghentikan kegiatannya.


Teriakan itu perlahan menghilang sebab Dhiya pastinya tidak bisa masuk ke dalam kamar. “Sayang, kamarnya dikunci ‘kan?” tanya Erza.

__ADS_1


Yara hanya bisa mengangguk pelan. Erza lekas melepas pelan pusakanya kemudian beralih posisi. Berganti Erza yang duduk di sana. Yara merasa malu saat melihat si pusaka itu masih berdiri tegak.


“Sini, Sayang!” titah Erza.


“Tapi, Mas.” Yara merasa takut pusaka panjang dan besar itu melukai bayinya. Erza pun memahaminya.


“Pelan-pelan," ucap Erza pelan dengan suara berat


Akhirnya dibantu pelan oleh Erza. Yara pun melakukan apa yang suaminya minta. Sebisa mungkin Yara akan memberikan pelayanan terbaiknya. “Akhhh ....” Sore itu pun menjadi sore panas bergelora bagi pasangan suami istri itu.


Sama bergeloranya dengan sikap Andrea yang merasa marah dan kesal atas keputusan yang Erza untuk kerja samanya.


“Ah, sial kenapa jadi begini!” omel Andrea saat wanita itu tiba di rumahnya. File yang ia pegang dilempar begitu saja ke sembarang arah.


“Kamu bisa menghindar dariku saat ini Pak Erza. Tapi aku yakin aku akan mendapatkanmu, aku yakin itu.” Andrea menyeringai licik seraya mengepalkan tangannya. Hatinya masih merasa kesal karena perjanjian kerja sama itu tiba-tiba saja berubah begitu saja. Dan Andrea tidak bisa berkutik. Dia terlalu ceroboh tidak membaca sampai akhir perjanjian kerja sama itu.


“Heh, kita lihat saja Pak Erza. Apa kamu bisa menghindariku lagi nanti. Kita memang tidak anak sering bertemu tapi aku punya banyak cara agar kita lebih sering bertemu.” Andrea menyeringai, sebuah ide muncul di pikirannya.


Dari Swiss, beralih ke Indonesia.


Seorang wanita berjalan pelan menuruni anak tangga. Penampilan yang berbeda dari biasanya jelas terlihat saat ini. Pakaian yang senada dengan hijab instan yang dipakainya semakin menambah aura cantiknya semakin terpancar.


“Bik,” panggil Syafa.


Bi Tum menoleh ke arah sumber suara. Bibirnya mengembangkan senyum saat melihat penampilan Syafa yang sangat berbeda dari biasanya.


“MasyaAllah, cantik sekali, Non. Sudah siap ikut pengajian?” tanya Bi Tum.


“Sudah, Bik. Ayo!” ajak Syafa.


Bi Tum menganggukkan kepalanya pelan. Keduanya pun berjalan keluar dari ruang mewah Wirawan.


Langkah Syafa sejenak terhenti dengan mata yang terpenjam sesaat. “Bismillahirrahmanirrahim, ya Allah ridhoi niatku untuk mencari ketenangan hati ini.” ucap Syafa pelan kemudian kembali membuka mata.


“Aamiin,” sahut Bi Tum. Orang pertama yang Syafa lihat. “Mari, Non,” ajak Bi Tum.


Syafa mengangguk pelan kemudian melanjutkan langkahnya bersama Bi Tum untuk mencari ketenangan dalam hatinya. Berharap dengan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, Syafa lebih tenang dan perlahan mampu memperbaiki hidupnya.


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2