Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Muhasabah Diri


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat. Syafa semakin amanah dengan penampilan barunya. Keputusan memakai hijab menjadi pilihan wanita itu. Kegiatan sehari-hari nya pun berjalan dengan baik. Muhasabah diri yang ia lakukan perlahan membuat Syafa lebih menjaga sikapnya terutama kepada lawan jenis.


Banyak yang mendekati janda muda itu. Tapi, Syafa memilih untuk menutup diri. Syafa masih mengalami trauma dalam pernikahan. Ia takut salah lagi melangkah. Hati dan jiwanya mulai tenang usai perceraiannya empat bulan lalu dengan Afkar. Syafa berusaha bangkit dari masa lalunya.


Sore itu Syafa baru saja selesai mengikuti pengajian rutin yang ada di sekitar kompleks perumahannya.


“Nak, Syafa,” panggil Ustadjah Wati usai Syafa bubar dari pengajian rutin yang jadi kegiatan rutinnya saat ini.


“Ya, Bu Ustadjah,” sahut Syafa yang menghentikan langkahnya bersama Bi Tum. Wanita tua yang setia menemani Syafa.


“Apa kalian mau langsung pukang?” tanya Ustadjah Wati.


Syafa menoleh sekilas pada Bi Tum kemudian kembali menatap Ustadjah Wati. “Sepertinya begitu, Ustadjah. Kenapa?” Syafa balik bertanya.


“Ah, tidak kenapa-napa tadinya saya ingin banyak mengobrol dengan kamu, Nak.”


“Apa ada hal penting yang ingin dibicarakan Ustadjah?” tanya Syafa penasaran.


Ustadjah Wati mengulas senyum kemudian mengusap pelan bahu Syafa yang berdiri di dekatnya. “Tidak ada, Nak. Ibu hanya ingin mengobrol biasa saja. Ibu senang melihat perkembangan kamu yang sudah banyak perubahan baik,” ucapnya.


“Alhamdulillah, semua berkat bimbingan dan nasehat dari Ustadjah Wati serta Bi Tum yang tak pernah bosan membimbing saya.”


“Semoga ke depannya akan lebih baik. Ibu do’akan kamu mendapatkan suami yang mampu membimbingmu lebih baik dari saat ini,” lanjut Ustadjah Wati.


“Aamiin,” jawab Syafa dan Bi Tuk kompak.


“Terima kasih atas do’anya Ustadjah,” sambung Syafa. “Mohon maaf sekali, Saya dan Bi Tum harus segera pulang ke rumah. Bi Tum bilang kepalanya sedikit pusing. Jadi kami harus segera pulang ke rumah.”


“Bi Tum sakit?” tanya Ustadjah Wati pada wanita tua yang berdiri di sampingnya. Syafa lekas merangkul lengan Bi Tum. Ia merasa khawatir dengan keadaan wanita tua itu.


“Sedikit, Ustadjah. Biasa faktor usia jadi sering sakit-sakitan begini,” ujar Bi Tum.


“Apa masih kuat berjalan ke rumah?” tanya Ustadjah.


“InsyaAllah masih kuat,” sahut Bi Tum. “Kami permisi Ustadjah, Assalamualaikum,” ucap Bi Tum. Syafa pun ikut salam sembari menunduk sopan pada Ustadjah Wati.


“Hati-hati, Syafa.”


“Iya, Ustadjah.”


Mereka pun berpisah. Ustadjah wati menatap kepergian Syafa dan Bi Tum dengan sedikit penyesalan. Ia tidak tahu harus berbicara dari mana soal permintaan suaminya, Ustad Ammar. Suaminya adalah guru pengajar di sebuah pesantren yang ada di luar kota. Beliau sering pulang pergi ke Jakarta demi syiar agamanya. Ustad Ammar sedang mencari seorang wanita yang bersedia berta’aruf dengan temannya. Dan persyaratan yang di minta adalah ingin langsung menikah saat kata setuju dari kedua belah pihak menyetujuinya meskipun belum bertemu. Sebab niat baik untuk ibadah panjang tidak boleh di tunda.

__ADS_1


“Aduh, bagaimana aku bicara dengan Syafa ya? Apa dia mau kalau aku menawarkan perjodohan dengan teman Abi? Permintaan temannya Abi lagian aneh sih, ta’aruf juga harus dipertemukan dulu baru memberi keputusan. Tapi ini malah tidak mau bertemu. Takutnya akan ada penyesalan setelah menikah nanti. Mungkin besok aku akan berkunjung ke rumahnya agar lebih nyaman berbicara ta’aruf ini,” ujar Ustadjah Wati kemudian berlalu dari Masjid ta’lim itu.


Berbeda dengan kegiatan Syafa di Indonesia. Kegiatan Yara yang berada jauh di luar negeri sedang seru-serunya. Kehamilan Yara semakin membesar dan saat ini usia kandungan sudah melewati delapan bulan. Bergerak pun semakin sukit. Yara dan Dhiya sedang asik membuka baju-baju bayi yang baru saja mereka beli di pusat perbelanjaan di kota Zurich. Jenis kelamin dari janinnya yang Yara kandung pun sudah terlihat.


“Bunda, Kenapa baju-baju adek harus langsung di cuci?” tanya Dhiya saat ia membantu Yara memasukkan baju-baju yang baru saja dibeli ke dalam keranjang.


“Supaya pas adek bayi lahir pakaiannya sudah bersih. Bisa tinggal langsung pakai,” ujar Yara.


“Bukannya dari toko juga sudah bersih ya, Bun,” lanjut Dhiya.


“Kotor, tapi tak terlihat. Baju ini di simpan di gudang terus di pak. Di buka lagi buat dipajang di toko kayak tadi. Jadi itu kotor, Sayang. Bisa membuat adek bayi gatal nantinya.


Dhiya hanya mengangguk mendengarkan penjelasan dari Yara.


“Oh, begitu ya,” sahut Dhiya kemudian kembali fokus membantu Yara.


“Sayang, Kenapa selimut bayinya warna biru dan merah semua?” tanya Yara pada Dhiya.


“Adikku ‘kan cowok, Bunda. Warna itu ya pantas buat Dede bayi nanti,” ujar Dhiya.


Yara hanya bisa menggelengkan kepala menanggapinya. Kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya memasukkan baju-baju yang mereka beli ke dalam keranjang baju kotor. Yara sengaja ingin mencuci pakaian dan perlengkapan bayi itu terlebih dulu. Agar aman untuk bayinya nanti.


Ceklek ....


Erza yang baru saja datang langsung berjalan menghampiri dua wanita yang disayanginya itu.


“Siang, Sayang. Sedang apa, seru sekali sepertinya?” tanya Erza seraya mencium pucuk kepala Yara dengan lembut.


“Pakaian sama perlengkapan baby boy harus dicuci dulu, Mas. Jadi saat dia lahir nanti. Pakaian yang dia pakai itu bersih,” ujar Yara. Wanita itu menghentikan aktivitas kemudian bangkit berdiri dari duduknya. Ingin melayani Erza yang diketahui hanya pulang ke rumah untuk beristirahat saja.


“Aku siapkan makan siang untukmu ya,” ucap Yara dan dicegah oleh Erza.


“Tidak perlu, Sayang. Aku sudah makan sebelum pulang ke rumah tadi,” cegah Erza.


“Maaf, ya, Mas. Aku jarang masak akhir -akhir ini,” ucap Yara.


“Nanti aku yang masak, Pah,” sambung Dhiya.


“Memangnya putri papa yang satu ini sudah bisa masak?” tanya Erza.


“Sudah, masak telur dan air panas aja sih,” sahut dhuya.

__ADS_1


Erza dan Yara terkekeh menganggapinya. Erza duduk tepat di samping Yara. Pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu ingin berbicara dengan Yara tapi ia ragu. Keraguan Erza bisa dibaca oleh Yara.


Seketika Yara menghentikan gerakannya. “Kenapa, Mas?” tanya Yara. “Ada yang mau dibicarakan?” lanjut Yara.


Erza mengangguk pelan kemudian beralih menatap Dhiya yang masih setia membantu . Melihat itu Yara paham dan mengerti kalau Erza baru mau bicara kalau Dhiya sudah pergi dari hadapan mereka.


“Kak, bunda bisa minta tolong, Nak,” pinta Yara.


“Apa Bun?” tanya Dhiya.


“Tolong ambilkan minum! Tenggorokan ibu rasanya kering,” ujar Yara.


“Siap, Bunda. Papa mau Dhiya ambilkan minuman?” tanya Dhiya.


“Minta buatkan kopi saja, Nak. Tapi suruh si bibi untuk membuatnya. Jangan kamu, ingat!” Erza memberi ultimatum.


“Siap deh.” Dia pun berlalu dari hadapan Yara dan Erza.


“Ada apa?” tanya basa basi, Yara langsung angkat bicara.


Erza menghela napas berat. “Aku haris ikut pergi saat peresmian swalayan yang belum lama dibuka.”


“Ya tinggal pergi saja, Mas,” sahut Yara.


“Aku malas bertemu dengan Andrea, Sayang. Kamu tahu sendiri meskipun selama ini aku tidak turun tangan langsung tapi wanita itu selalu berusaha mendekatiku,” ucap Erza malas.


"Pergi saja, Mas. setelah ini kami dan wanita itu otomatis tidak akan bertemu lagi 'kan. Toh proyek kalian sudah selesai," sambung Yara.


"Iya juga sih, tapi rasanya malas pergi. Apalagi kamu tidak ikut."


"Apa mau aku temani?" tanya Yara.


"Tidak .. Tidak, kamu sedang hamil besar seperti ini. Aku tidak mau kamu kelelahan. Oke aku akan pergi tapi setelah peresmian selesai. Aku langsung pulang." Akhirnya Erza mengambil keputusan.


Yara tersenyum menanggapinya.


Pasangan suami-isteri itu tidak tahu seseorang tengah merencanakan hal buruk untuk mereka berdua.


.


.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2