
Yara dan Dhiya bersiap untuk pergi. Tak lupa, mereka berpamitan dengan para tetangga di sekitar rumahnya. Yara meminta agar para tetangga mendoakan Afkar supaya segera ditemukan. Yara juga menitipkan rumah yang akan ditinggalkan kepada Bude Minah, tetangga yang rumahnya tepat bersebelahan dengan tempat tinggal Yara.
“Aku pamit ya, Bude?” Ucap Yara sambil mengulurkan tangan kemudian menyalaminya.
Tubuh ramping Yara dipeluk oleh Bude Minah seakan memberi kekuatan kepada Yara.
“Hati-hati ya, Ra! Yang sabar dengan musibah ini. Semoga Afkar bisa segera ketemu!” Bu Minah mengusap pundak Yara pelan. Kemudian sedikit membungkuk untuk mencium pipi Dhiya yang berdiri di sebelah Yara. "Duh... Bakalan kangen nih, Bude sama kamu!” Dhiya diciumi gemas oleh wanita tua itu.
"Bude, geli!" Ucap Dhiya sambil sedikit menghindar.
“Terima kasih, Bude! Kami pergi dulu!.” Yara mengangkat tubuh Dhiya kemudian mendudukannya di bangku yang terbuat dari rotan
Yara menggunakan motor matic miliknya menuju rumah mertuanya.
Nanti di sana barulah Yara dijemput mobil travel yang akan mengantarkannya sampai ke kota.
“Aku berangkat, Bude! Assalamu'alaikum," pamit Yara.
“Waalaikumsalam, hati-hati ... Alon-alon wae, Ra! Kabarin Bude kalau ada perkembangan tentang Afkar," Ucap Bude Minah melepas kepergian Yara.
“Iya, Bude!”
Sebelum Yara pergi meninggalkan rumah putih bergaya klasik miliknya. Yara menatap sedih bangunan itu, banyak kenangan bersama anak dan suaminya di sana. Yara berharap keluarga kecilnya bisa berkumpul kembali.
__ADS_1
“Da.. dah.. Bude." Dhiya melambaikan tangannya ke arah Bude Minah. Teriakan kecil anak itu membuyarkan lamunan Yara. Perlahan motor matic itu melaju meninggalkan Bude Minah yang masih melambaikan tangan kepada mereka berdua.
“Hati-hati ya, Dhiya!” teriak Bude Minah. “Kasian sekali mereka, semoga ada petunjuk untuk keberadaan Afkar agar mereka bisa bersama lagi.” Bude Minah menatap kepergian Yara dan Dhiya, kemudian berbalik masuk ke dalam rumahnya.
Sesampainya di rumah
mertuanya. Bukannya disambut baik. Yara malah menerima omelan dan makian dari Bu Nuri. Bu Nuri mengetahui kabar jika dirinya akan pergi ke kota dari Mira.
Saat masuk ke dalam rumah dan akan menyalami Bu Nuri pun, Yara mendapat sindiran pedas dengan sikap ketus dari Bu Nuri.
“Ini semua salah kamu! Jadi istri ko nggak bisa bujuk suami. Coba kalau Afkar nerusin usaha bapaknya di sini, nggak bakal kejadian seperti ini menimpanya?" ketus Bu Nuri yang terus menyalahkan Yara akan musibah yang menimpa Afkar anak lelakinya. Rumah kokoh tempat suaminya dibesarkan itu menjadi ramai oleh omelan Beliau.
"Maaf, Bu! Yara 'kan tidak tahu akan seperti ini jadinya. Yara juga tidak bisa membantah Mas Afkar. Ibu tahu sendiri,
"Ah, kamu malah membantah, sekali-kali tuh bantah, jangan terus mengiyakan saja!" Bu Nuri kembali ngomel kemudian melangkah ke arah kamar, menutup pintu agar Pak Setyo tidak mendengar kegaduhan yang terjadi akibat dirinya yang sedang mengomel. Bisa jadi pikiran suaminya nanti.
Sebelum kedatangan Yara, Mira adik iparnya sudah memberitahukan kepada Bu Nuri akan rencana kepergian Yara ke kota untuk mencari kakaknya. Dan meminta tolong untuk menitipkan Dhiya pada Mira. Kepergiannya nanti tak bisa ditentukan berapa lama Yara berada di Kota. Mira dan Yara hanya bisa berharap agar Afkar segera di temukan.
Yara hanya bisa diam menerima semua kemarahan ibu mertuanya. Pak Setyo yang berada di kamarpun tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun pintu tertutup tapi pria paruh baya itu hanya bisa menangis, saat mendengarkan omelan istrinya kepada Yara. Dia tidak bisa membela dan menghadang lagi karena kondisi stroke yang dialaminya.
“Sudah, Bu, Cukup! Kasian Mba Yara, di salahkan terus sama ibu.Ini semua sudah kehendak Allah. Siapa sih Bu, yang mau dapat musibah? Kita harus bisa ikhlas, cukup doakan Mas Afkar. Mudah mudahan dia dalam keadaan sehat dimanapun Mas Afkar berada, Bu?” Mira melerai Bu Nuri yang hendak mengomel lagi. "Sudah, jangan kebanyakan ngomel nanti tekanan darah tingginya, naik lagi!" Ucap Mira.
Yara tidak bisa melawan. Sebab dirinya memang merasa tidak berguna. Selama ini Yara hidup dibawah perlindungan Afkar. Suaminya selalu membela dan mengatur hidup Yara.Tapi Yara menerima semua itu, meskipun diatur tapi kasih sayang dan cinta yang Afkar berikan padanya sangatlah besar dan mampu membuat Yara merasa tenang dan bahagia.
__ADS_1
“Sabar ya, Mba! Maklumi Ibu, musibah yang terjadi sekarang ini menimpa kita semua. Jadi kita harus sabar dan ikhlas!” Mira mengelus pundak Yara yang masih duduk di ruang keluarga.
Beruntung Dira tidak ada di sana. Jadi bocah kecil itu tidak melihat Yara sedang dimarahi oleh Bu Nuri.
“Terima kasih, Mir. Kamu udah ngertiin mba. Maafin mba ya, kalau semua jadi begini. Mba ngga tau lagi harus berbuat apa? Titip Dhiya, tolong jaga dia! Cuma kalian yang begitu dekat dengan Dhiya selama ini. Jadi mba lebih tenang, jika Dhiya bersama kalian,” ucap Yara penuh keharuan. Rasanya begitu sulit namun Yara harus mengambil keputusan itu, demi mencari Afkar.
“Memang, mau sama siapa, selain kami keluarga nya? Mau kamu titip Dhiya di panti asuhan, tempat tinggalmu dulu? Kamu mau buat keluarga ibu malu dengan menitipkan Dhiya ke sana?" Bu Nuri kembali menyerobot ucapan Yara. Beliau masih saja nyerosos dengan nada emosi seakan tak puas sudah memarahi Yara.
“Bu... Cukup! Nanti darah tinggi nya kumat loh, marah-marah terus dari tadi!” ucap Mira kemudian berganti menatap Yara. "Sekarang Mba Yara istirahat aja dulu! Jam berapa mobil travelnya jemput kesini?” tanya Mira.
Bu Nuri menunjukkan wajah marah dan jutek sambil melipat tangan di depan dada. Suasana di rumah itu pun sudah sedikit mencair, karena Bu Nuri memilih pergi dari ruangan itu.
Yara hanya bisa menunduk saat Bu Nuri melewatinya dengan tatapan yang kesal dan benci. Entah mengapa meskipun pernikahan Yara dan Afkar sudah berjalann selama hampir empat tahun, Bu Nuri masih tetap belum bersikap baik pada Yara.
“Nanti sekitar jam 10 an, Mir! Mba mau ke bapak dulu ya, sekalian mau pamit sama beliau!” Yara pamit kepada Mira.
“Oh.. berarti masih satu jam lagi waktunya.” Mira melihat jam di dinding yang berada tepat di hadapannya. "Silahkan, Mba! Bapak ada di kamar baru Mira pindahkan, tadi pagi habis di ajak berjemur juga sama Ibu!” jelas Mira.
Yara berdiri, pamit pada Mira untuk menemui Pak Setyo. Ia ingin mencurahkan kegundahan dan kegelisahan di hatinya. Sebab hanya beliau yang paham dan mengerti posisi Yara.
.
.
__ADS_1
.