
Mendapati Yara yang begitu khawatir dengannya, Erza semakin tak kuasa menahan rindu. Padahal Mama Anggi sudah mewanti-wanti pada Ezar mereka tidak boleh sering bertemu dulu. Sebab pasti saja akan ada perdebatan pada kedua calon pengantin jika sering bertemu.
"Ah, nggak pa-pa kali ketemu sebentar doang," pikir Erza. Pria itu langsung memutar mobilnya menuju rumah Bu Haryani.
Ya, sampai sekarang Yara tinggal bersama Bu Haryani. Wanita yang sudah berjasa pada Yara itu tidak mengijinkan Yara tinggal sendiri.
Sebelum mencapai tempat tujuan, Erza menghentikan kendaraannya ketika pria itu melihat toko bunga di pinggir jalan. Tidak lupa satu buket bunga cantik dibelinya.
"Bunga cantik untuk wanita cantik pujaan hati," ucap Erza sambil mencium sebuket bunga mawar merah di tangannya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu kamarnya membuat lamunan Yara buyar. Wanita yang sedang tersenyum sendiri itu segera meletakkan gaun pengantin miliknya.
"Sedang apa?" Tanya Bu Haryani saat dirinya masuk ke dalam kamar Yara. Pandangan Bu Haryani mengarah pada gaun pengantin pemberian Mama Anggi calon mertua Yara yang ada di atas tempat tidur.
"Ah, sedang santai saja, Bu! Barusan habis nyobain baju pengantin ini," sahut Yara sembari merapikan baju itu.
Bu Haryani ikut duduk di tepi tempat tidur Yara.
"Bagaimana ukurannya? Pas tidak?"
"Pas banget, Bu! Gaunnya juga cantik. Aku suka! Sederhana tapi terkesan mewah," ujar Yara.
"Gaun ini belum lama selesai. Mama Anggi meminta rancangan baju untuk calon menantunya waktu itu, padahal dia belum punya kandidat wanitanya sama sekali. Hanya persiapan saja, menurutnya. Eh, ternyata malah kamu calon menantu dari Anggi," seru Bu Haryani dengan senangnya. "Gak nyangka saja bisa kebetulan begitu. Pada saat Anggi sedang menanyakan ukuran yang pas buat gaun yang akan dibuat. Ibu kira-kira saja ukuran badan kamu yang ibu diberikan. Lah ternyata baju pengantin ini memang untuk kamu. Kebetulan sekali bukan?" Bu Haryani tampak tidak percaya.
Yara ikut duduk di samping Bu Haryani. Kedua wanita itu saling bertukar pikiran dan bercerita berdua malam itu.
"Rasanya ibu tidak percaya kamu akan segera pergi dari rumah ini, Ra. Rasanya baru kemarin kamu tinggal di sini! Ibu baru merasakan seperti mempunyai seorang anak gadis. Bahkan ibu belum sempat kenal dekat dengan Dhiya anakmu. Kalau kamu pergi pasti rumah ini sepi lagi!" Ucap Bu Haryani sedih. Wanita itu telah menganggap Yara seperti anaknya sendiri.
"Aku akan selalu menghubungi ibu kalau aku ikut dengan Erza." Yara berusaha menenangkan Bu Haryani.
"Harus, kamu harus mengabari ibu."
Keduanya tersenyum kemudian saling memeluk untuk mencurahkan rasa sayang satu sama lain.
"Ra," panggil Bu Haryani ragu. Wanita itu ingin menanyakan sesuatu kepada Yara. Tapi takut membuat Yara sedih lagi.
__ADS_1
"Apa, Bu?" Sahut Yara.
"Kalau kamu menikah dengan Erza berarti wali nikah kamu tetap ayah kandungmu, 'kan?" Tanya Bu Haryani tampak ragu saat berucap.
Yara tersenyum miring kemudian mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, Bu. Kalau bisa sih, aku minta di wakilkan saja oleh orang lain. Anggap saja dia sudah meninggal," jawab Yara terdengar tidak respek membahas ayah kandungnya.
"Tidak bisa seperti itu. Dulu saat kamu menikah dengan Afkar mungkin bisa diwakilkan karena papa-mu tidak di ketahui keberadaanya. Tapi sekarang ini, beliau ada. Syarat sah menikah itu adalah wali dari pihak perempuan yang satu nasab denganmu. Kecuali jika papa-mu sudah meninggal. Kamu bisa meminta diwalikan oleh wali hakim atau saudara laki-laki dari papa-mu, Ra." Bu Haryani menjelaskan.
"Lalu aku harus bagaimana, Bu?"
"Temui, beliau! Meskipun saat ini kebencian itu masih ada di hatimu, kamu tetap membutuhkan ijin darinya. Dia yang lebih berhak menikahkan kamu dengan Erza."
"Kita lihat saja nanti, Bu. Aku sedang tidak ingin memikirkan papa. Pasti ada solusi tentang ini." Yara berdiri dan melangkah menuju jendela kamarnya. Ia berusaha menghindari pembahasan soal wali untuk pernikahannya nanti.
Yara menatap kosong ke luar jendela.
'Siapa yang tidak ingin menikah dengan wali orang tua kandungnya sendiri. Tapi hati ini masih sakit, papa terlalu banyak membuat aku kecewa. Andai saja papa tidak egois menyembunyikan identitas Mas Afkar dan membantu dia dengan tulus. Semua tidak akan terjadi seperti ini!'
Batin Yara sedih. Tapi dengan cepat ia menampik semua yang telah berlalu. Yara tidak mau tengelam lagi dalam kesedihan. Ia tidak mau membuat Erza kecewa. Pria yang sudah banyak membantunya. Pria yang akan mendampinginya menggapai kebahagiaan.
Bu Haryani ikut berdiri dan berjalan mendekati Yara. "Ya sudah kalau begitu, jangan terlalu dipikirkan. Istirahat lah!" Titah Bu Haryani sambil menepuk pundak Yara pelan.
Bu Haryani mengangguk pelan kemudian keluar dari kamar Yara. Sebelum benar-benar keluar dari kamar itu. Bu Haryani menghentikan langkahnya. "Jangan terlalu lelah, ingat besok kita ada acara," Bu Haryani mengingatkan.
"Iya, Bu," sahut Yara.
Sepertinya Bu Haryani dari kamarnya. Yara membuka pintu yang mengarah ke balkon kamar. Kemudian berjalan keluar kamar. Yara berdiri sambil memandangi langit malam yang indah. Ia tersenyum saat kepalanya mendongak ke arah langit. Malam ini bulan dan bintang saling berlomba memancarkan sinarnya. Semilir angin malam juga semakin menambah sejuknya malam ini.
"Langit malam ini indah sekali! Bulan sabitnya juga cantik," ucap Yara sambil memejamkan matanya.
"Lebih cantik kamu di banding bulan itu!" Celetuk seorang pria yang tiba-tiba ada di samping Yara.
Mendengar suara yang sangat ia kenal Yara segera menoleh.
"Erza!" Pekik Yara sambil membelalakkan mata mengarah pada pria yang ada di sampingnya.
Erza hanya menanggapi dengan senyuman.
__ADS_1
Sebuket bunga ia keluarkan dari balik tubuhnya. Yara yang tadinya hendak mencecar Erza dengan berbagai ocehannya terpesona melihat indahnya sebuket bunga yang ada di tangan Erza.
"Cantik sekali bunganya!" seru Yara sambil menatap bunga mawar itu. "Untukku?" Yara menunjuk dirinya sendiri.
"Hmmm" Erza lekas memberikan bunga itu pada Yara.
"Terima kasih!"
"Semua kalah cantik dibanding dengan mu, Ra!"
"Dih, gombal!" Kemudian Yara menghirup aroma wangi dan menenangkan yang berasal dari bunga itu. Senyum manis lepas dari bibirnya. Hal itu yang membuat Yara semakin cantik malam ini.
"Nah, lihatlah bahkan senyummu mengalahkan kecantikan bunga ini." Erza kembali menggoda Yara.
Yara seakan tidak peduli. Wanita itu terus saja mengangumi keindahan bunga mawar merah di tangannya.
"Kenapa kamu ada di sini! Kalau Mama Anggi tahu bisa habis kamu, Za!" Ucap Yara beralih menatap Erza. Pria yang saat ini ada di sampingnya itu sama sekali tidak mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Tidak masalah dengan mama. Yang lebih bermasalah itu saat menahan sesuatu!"
Yara mengerutkan alis mendengar penuturan Erza. "Menahan apa?" Tanya Yara penasaran.
"Menahan rindu!" cetus Erza sontak membuat Yara tersenyum simpul membalasnya.
Perlahan Erza meraih tangan Yara yang menganggur. Sebab satu tangannya memegangi buket bunga pemberian darinya.
Manik mata mereka saling menatap. Jelas terlihat rasa rindu itu dalam tatapan Erza. Pria itu perlahan mendekati Yara. Yara pun merasakan gugup yang luar biasa saat itu. Yara adalah wanita berpengalaman ia berpikir akan terjadi sesuatu pada mereka berdua kalau jarak mereka terlalu dekat.
.
.
.
To be continued.
Senin Vote.... kirim ke karya ini ya bagi yang punya stok Vote banyak.
__ADS_1
Like dan Komen jangan lupa 🥰🥰😍😍