Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Ceraikan Mas Afkar


__ADS_3

Yara berjalan mendekati Syafa. Ia menatap tajam pada wanita itu.


"Apa Mba Syafa yakin mau melakukan apa pun demi maaf dariku?" Tanya Yara tegas dan penuh penekanan.


"Asal kamu mau memaafkan aku dan papa, Ra!" Syafa mencoba menenangkan Yara. Wanita itu tahu kalau perasaan Yara saat ini begitu terkejut mengetahui keadaan yang sebenarnya.


"Apa mba bisa mengembalikan Mas Afkar padaku?" Celetuk Yara membuat Syafa dengan cepat menatap Yara.


"Maksud kamu?" Syafa memicingkan mata. Ia terlihat bingung dan tidak mengerti maksud dari Yara.


"Kembalikan Mas Afkar padaku!" Yara menegaskan." Kembalikan Mas Afkar yang dulu! Bukankah mba yang sudah menabrak suamiku?" Ucap Yara menekan Syafa agar mau mengungkapkan kembali kisah yang telah lalu. "Kenapa sebelum mba menikah dengan Mas Afkar, mba tidak mencari tahu dulu statusnya. Bukankah itu hal mudah bagi kamu mba. Apalagi Anda." Yara menatap tajam Pak Rio. Ia menumpahkan rasa kesalnya saat itu.


Syafa menggelengkan kepala membalasnya. "Aku benar-benar tidak tahu, Ra. Papa bilang dia sama sekali tidak menemukan identitas Mas Afkar." Syafa berusaha menjelaskan.


Yara menyeringai mendengarnya. "Dan mba percaya? Seseorang yang punya kekuasaan tidak bisa mencari tahu hal sekecil itu?" Yara beralih menatap Pak Rio. Pria itu terlihat menunduk saat Yara berbicara. Ada perasaan bersalah dalam hati pria itu.


"Maafkan papa! Papa yang menyembunyikan semuanya dari kakakmu, Nak! Saat itu, papa begitu senang kala melihat Syafa sangat bahagia bersama Afkar jadi papa menyembunyikan identitas suamimu!"


"Heh ... Dengan mengorbankan kebahagiaan ku, putri yang kamu buang bersama istrimu!"


"Papa tidak membuang kamu, Nak. Percayalah! Banyak yang ingin Papa ungkapkan makanya kita harus berbicara agar kamu mengerti dan mengetahui masa lalu yang terjadi pada mama-mu."


Yara menunduk, rongga dadanya seakan tak bercela, napasnya begitu sesak menerima kenyataan yang terjadi padanya.

__ADS_1


"Apa Anda tahu rasanya kehilangan orang yang paling kita sayang?" Yara kembali mendongak menatap Pak Rio.


"Ya, aku pernah merasakannya dan itu membuat luka itu masih terasa hingga saat ini. Aku kehilangan wanita yang aku cintai yang pergi meninggalkanku dengan kondisi hamil. Dan saat ini aku dihadapkan dengan kamu, putri kandungku yang sudah lama aku cari!" Ungkap Pak Rio.


"Bukan mama yang pergi tapi Anda mengusirnya!" Hardik Yara dengan suara tinggi. "Jangan Anda kira saya tidak tahu kilas balik masa lalu mama! Aku tidak pernah membenarkan semua ucapan mama kalau Anda adalah papa yang baik. Bagiku, Anda adalah pria yang tidak punya hati." Yara berbicara tegas dengan tatapan penuh benci pada Pak Rio.


Tubuh pria itu ambruk saat mendengar ucapan Yara yang penuh kebencian kepadanya. "Maafkan papa, Nak! Papa tahu kesalahan ini terlalu berat. Papa juga tidak menginginkan ini semua. Kamu tahu, berpuluh tahun rasa bersalah ini terus hadir dalam hidup papa." Pak Rio menangis sambil menundukkan kepalanya. Rasa bersalah itu bagaikan bongkahan batu besar yang membebani batin dan pikirannya selama ini.


Syafa yang melihat papa nya bertekuk lutut di hadapan Yara merasa kasihan.


Beberapa orang yang ada di sana. melihat kejadian itu. Bu Haryani meminta security untuk mencegah mereka mendekat. Dan ternyata berhasil setidaknya perdebatan itu tidak menjadi tontonan oleh semua orang.


Syafa membantu Pak Rio untuk bangkit. "Papa jangan seperti ini! Bangunlah!" Syafa membantu Pak Rio berdiri. Sebenarnya Yara tidak tega berkata kasar dan bersikap kejam seperti itu. Tapi pengalaman pahit yang membuat wanita itu mampu melakukannya.


"Sangat ... Aku sangat menginginkan itu, tapi itu dulu. Sekarang tidak! Aku terbiasa sendiri." Yara hendak beranjak dari hadapan Syafa dan Pak Rio. Tapi dengan cepat Syafa mencegah dengan menarik tangannya.


"Aku mohon, Ra." pinta Syafa. "Apa yang harus mba lakukan supaya kamu dapat memaafkan kami, Ra?" lirih Syafa dengan wajah yang begitu sedih sambil menatap Yara.


"Ceraikan Mas Afkar!" Cetus Yara sontak membuat Syafa mengelengkan kepalanya lemah.


"Mba sedang hamil, Ra! Bagaimana dengan anak ini kalau mba harus bercerai dengan Mas Afkar?" Syafa seakan tidak rela dengan permintaan Yara.


"Heh ... Aku sudah menduganya, mba pasti tidak akan rela kan berpisah dengan Mas Afkar?" Yara tersenyum miris. "Lagian aku tidak butuh untuk bersama pria itu sekarang ini, Mba. Aku tidak butuh Mas Afkar yang sifatnya semakin egois dan tidak mau kalah," ungkapnya. "Dalam agama Islam juga diharamkan seorang pria beristrikan dua orang wanita yang sedarah. Tapi apa mba mau menyerahkan semua hartamu untukku!" tegas Yara.

__ADS_1


Pak Rio berganti menatap Yara. "Kalau itu bisa membuat kamu bisa memaafkan papa, akan papa lakukan. Bahkan semua harta yang papa miliki saat ini, rela papa berikan untukmu, Nak!"


"Harta dan semua yang Anda miliki tidak bisa mengembalikan kebahagiaan dalam kehidupanku. Mengembalikan suamiku dan mengembalikan mama, wanita yang begitu setia bahkan masih memuja Anda sampai akhir hidupnya. Anda tahu, saat ini putri Anda ini telah kehilangan semuanya. Kehilangan sosok mama dari kecil dan kehilangan sosok suami yang jadi harapannya. Harapan yang berubah menjadi kebencian yang sakit." Lirih Yara. Wanita itu tidak sanggup lagi berkata-kata. Semakin lama berhadapan dengan Syafa dan Pak Rio semakin membuat batinnya sakit.


Pertemuan yang ia harapkan saat bertemu dengan kakak dan papa nya bisa membuatnya bahagia tapi tidak untuk Yara saat ini


Kekecewaan besar, Yara rasakan. Padahal dalam lubuk hatinya. Yara ingin sekali ia memeluk keduanya. Puluhan tahun berharap bertemu tapi pertemuan itu tidak tepat saat ini dan tidak seperti ini.


Yara terbalik badan dan dengan cepat meninggalkan Syafa dan Pak Rio.


"Jangan pergi, Nak! Papa harus menjelaskan semuanya padamu!" seru Pak Rio tapi diacuhkan oleh Yara.


Bu Haryani yang ada di sana mencoba menenangkannya.


"Saya rasa, Yara butuh waktu, Pak! dia pasti terkejut dengan kebenaran yang terungkap secara mendadak saat ini. Saya yakin kalau Yara sudah tenang baru bapak bisa berkomunikasi dengannya baik-baik. Tapi tidak saat ini." ujar Bu Haryani.


"Pah," Panggil Syafa. "Benar kata ibu, ini. kita berikan ruang untuk Yara berpikir jernih. Aku juga salah di sini!Aku dan papa harus menemuinya nanti!" Syafa merangkul Pak Rio dan menggandengnya untuk berjalan menuju mobil yang sudah siap menunggu mereka.


Melihat perdebatan itu selesai. Seorang pria segera berlari menyusul Yara. Sedari tadi ia menyaksikan dan mendengar semua yang dibicarakan oleh mereka.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2