Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Dhiya, Siapa Dia?


__ADS_3

Yara tidak sadarkan diri karena pukulan itu. Seorang pria pun datang menghampiri mereka berdua.


"Cepet bro ke sini!" titah penumpang yang ada di belakang Yara.


Pria yang berjalan menghampiri itu dengan cepat merangkul tubuh Yara yang sudah tidak sadarkan diri.


"Wah, ajib bener. Tukang ojeknya cantik begini," ucap pria itu sambil menyeringai licik. "Kenapa tidak kita cicipi dulu, sebentar. Sepertinya masih gadis?" lanjutnya.


"Woii .... lepasin dia!" teriak Erza dari yang tiba-tiba datang dengan mengendarai sepeda motor.


Selagi dalam perjalanan tadi. Erza tidak sabar untuk mengejar Yara. Erza mempunyai firasat tidak baik pada wanita itu karena itulah Erza turun dari mobil kemudian menyewa motor yang terparkir di pinggir jalan, tepat di saat Erza mengehentikan mobilnya karena terkena macet. Sempat kehilangan jejak Yara, Erza terus berputar di daerah yang sama hanya beda jalur. Dari kejauhan Erza melihat Yara dirangkul oleh seorang pria ke pinggir jalan. Tempat itu sangat sepi. Tidak ada orang yang melalui tempat itu, karena di sana adalah bangunan tua yang terbengkalai pengerjaannya.


"Kabur, cepet naik!" titah si pria yang ada di atas motor saat ia mendengar suara orang berteriak.


"Ah ... Sial banget, belum juga icip-icip tuh cewek, udah ada gangguan aja."


"Yang penting udah dapet motornya, Bro!" ucap pria yang sedang fokus membawa motor Yara.


Kedua orang itu melaju dengan kecepatan penuh. Si pencuri motor yang berkedok menjadi penumpang itu berhasil membawa pergi motor WCX milik Yara. Padahal itu adalah satu -satunya kendaraan yang bisa di pakai untuk mencari uang oleh Yara. Kini wanita itu harus kehilangannya.


Erza segera mengehentikan motornya tepar di dekat Yara. Pria itu langsung merangkul tubuh Yara yang tidak berdaya.


"Hei, bangun!" Erza menepuk pelan pipi Yara. Kemudian melirik ke arah dua orang yang tadi membawa motor Yara.


"Sial, mereka berhasil kabur!" gumam Erza ketika melihat dua orang tadi telah hilang dari pandangannya.


Pria itu kembali fokus pada Yara saat ia merasakan ada pergerakan dari wanita yang saat ini berada dalam rangkulannya itu.


"Syukurlah lu udah sadar, lu gak pa-pa 'kan?" Tanya Erza kemudian membantu Yara untuk duduk.


Yara belum menyadari kejadian yang baru saja ia alami. Wanita itu hanya memegangi kepala bagian belakang yang terasa sakit. Kemudian menoleh ke arah Erza. Yara sampai menyipitkan mata melihatnya.


"Kamu kenapa ada di sini?" Tanya Yara heran masih sambil memegangi kepalanya.


Yara langsung membulatkan mata saat teringat sesuatu. Dengan gerakan cepat Yara berdiri.


"Di mana motorku? Penumpang tadi juga tidak ada?" Yara celingak-celinguk mencari motornya yang tidak ada di hadapannya saat ini.


"Maaf gue gak sempat menyelamatkan motor lu! Mereka langsung pergi saat gue berteriak," ucap Erza.


Mendengar itu tubuh Yara langsung lemas. Sumber penghasilannya saat ini hilang dicuri.


"Bagaimana aku bisa mencari uang kalau motorku hilang," gumam Yara. Tubuhnya melorot begitu saja.


Erza tidak tega melihatnya. pria itu tidak tahu bagaimana kehidupan Yara selama ini.


Sejenak Yara terdiam. Erza tidak mau mengganggunya. Sambil menemani Yara yang duduk terdiam, Erza menghubungi Beno, teman yang ia tinggalkan. Sebuah pesan ia kirimkan pada Beno.


📩 [Ben, tolong lu urusin pemilik motor yang gue sewa ini! Tanya alamat rumahnya, biar nanti motornya di antar langsung ke rumah dia. Gue kirim duit buat memperpanjang uang sewa motornya. 5 juta buat 5 hari kedepan. Kalau dia ragu ku bilang aja siapa gue sama dia. Sekalian lu anterin mobil gue ke rumah. Thanks Bro.]


Pesan itu telah terkirim. Beno hanya bisa menggelengkan kepala membaca pesan dari Erza. "Emang orang berduit mah bebas nyuruh apa aja, apalagi sama gue yang butuh banget sama dia. Ah, kenapa nggak pake motor gue aja. Mayan banget 5 hari 5 juta. gaji gue sebulan jaga di bengkel. Sue njirr ...." gerutu Beno dan langsung membalas pesan dari temanya itu.


📩 [Siap, Bro.]


Erza merasa lega membacanya. Ia tidak mau si pemilik motor yang ia sewa, menunggunya terlalu lama.


"Kamu bisa antar aku pulang?" Tanya Yara.


"Bisa ... Bisa ...," balas Erza cepat.


Tingkah Erza mampu mengukir sedikit senyum di wajah Yara.


"Gue seneng lihat lu senyum gini. Meskipun hanya secuil. Lu udah iklhas dengan apa yang terjadi hari ini?"


Yara sontak menatap Erza. " Maksudnya?" Tanya Yara tidak kengerti.


"Yang hilang tidak akan pernah kembali. Meskipun nanti kembali pasti ada yang berbeda atau rusak. Jadi lebih baik kalau lu ada rejeki lu bisa membeli motor baru buat gantiin motor lu yang ilang itu,' ucap Erza berkata dengan santai.


"Andai bisa semudah itu. Aku tidak akan bingung seperti sekarang ini," ujar Yara.


"Dari tadi gue ngomong lu, gue. terus lu Aku, kamu terus. Kita belum kenalan!" Erza mengulurkan tangannya ke hadapan Yara.


"Gue Erza, sekarang gantian giliran gue nganterin ku pergi ke tempat tujuan lu sekarang. Nama lu siapa?" Tanya Erza masih dengan tangan yang menggantung karena belum ada sambutan dari Yara.

__ADS_1


"Aku, Yara," jawab Yara pelan. "Bisa kah kamu antar aku pulang sekarang?"


Erza mengangguk pelan tanpa melepas jabatan tangan Yara. Dalam hatinya Erza merasa senang kali ini ia sudah tahu nama wanita yang beberapa hari ini membuatnya sibuk mencari.


"Lepaskan, bagaimana mau mengantarku pulang? Kalau tangan kita masih berjabat seperti ini!" Yara menyadarkan Erza karena tingkahnya.


"Oh, ya, Maaf!" Erza segera melepas jabatan tangannya. Pria itu menggaruk lehernya yang tidak gatal. Merasa malu dengan tingkah konyolnya. Kemudian Erza berjalan ke arah motor sewaannya.


"Ayo!" Ajak Erza.


Yara segera naik membonceng di belakangnya.


"Jangan ngebut!" pinta Yara sebelum Erza melajukan motornya. Ia merasa trauma karena saat itu Erza mengendarai motor dengan kecepatan tinggi.


Erza tersenyum mendengarnya.


"Kamu dengar tidak?" Yara kembali memastikannya.


"Iya dengar. Makanya pegangan!" Titahnya.


Yara merasa canggung saat itu. Ia lekas mengelengkan kepalanya pelan. "Begini saja, asalkan kamu tidak ngebut. Aku aman kok," ujar Yara.


Meski bagaimanapun, Yara berstatus istri dari Afkar. Ia tahu diri dan masih memberi batasan kepada pria lain.


Erza paham jika Yara merasa canggung tapi ia tidak tahu kalau Yara sudah menikah.


Motor sewaan Erza pun melesat pergi meninggalkan tempat itu.


"Belok kiri." Yara memberi petunjuk pada Erza.


Sesuai arahan Erza membelokkan motor yang ia kendarai.


"Sampai sini saja!" Ucap Yara.


Erza pun mengehentikan motornya. Pria itu mengedarkan pandangan ke sekitar lingkungan itu.


'Dia ngontrak?'


Batin Erza. Sebab yang pria itu lihat hanya ada lingkungan rumah kontrakan dan kos- kosan di sana.


Ucapan Yara membuyarkan lamunan Erza.


"Eh, iya sama-sama." balas pria itu.


Yara masih berdiri di samping motor Erza. Ia menawarkan untuk mampir dulu ke rumah kontrakannya.


"Kamu mau mampir dulu ke kontrakan?" "Apa boleh?"


Yara mengulas sedikit senyum pada Erza.


"Yara," Panggil Kak Ima membuat keduanya menoleh ke sumber suara.


Saat ini Erza duduk lesehan bersama Kak Ima. Usai menyuguhi Erza minum. Yara menjelaskan yang terjadi hari ini kepada Kak Ima.


Jelas terlihat raut wajah sedih pada Yara.


"Ya Allah, Ra. Kasihan sekali kamu, harus mengalami berbagai masalah saat ini!" Kak Ima tidak tega mendengarnya.


"Ya mau giman lagi kak, Kalaupun harus mengurus ke kantor polisi pasti akan ribet. Aku 'kan ngojek pakai akun Kak Ima nanti malah tambah masalah di kantor polisi kalau aku melapor," sambung Yara.


"Iya, juga sih!" Kak Ima nampak sedang berpikir.


"Dhiya kemana, Kak?" Tanya Yara.


"Dhiya ikut sama Bang Boy ke bengkel!"


"Apa tidak merepotkan kalau Dhiya ikut?" Yara terlihat cemas.


"Tidak, Dhiya bisa di dalam nemenin Mimi. Kerjaannya dia 'kan cuma kasir doang."


"Aku hanya takut kalau Dhiya nakal di sana," lanjut Yara.


Erza hanya mendengarkan obrolan dua orang wanita di hadapannya itu.

__ADS_1


'Dhiya, siapa dia? Mereka sedang ngomongin siapa ya?'


Pikir Erza dan di saat yang bersamaan ponselnya berdering. Erza membulatkan matanya saat melihat nama yang tertera di ponsel miliknya itu.


'Baginda Ratu' Itulah tulisan yang ada di layar ponsel Erza.


"Mama ngapain sih telepon," oceh Erza. Ia lekas mengangkat telepon dari Mama Anggi.


"Ada apa, Mah?" Sapa Erza sambil berbisik pada seseorang di seberang telepon. Ia tidak mau menganggu Yara dan Kak Ima yang sedang berbicara.


"Kamu tidak sopan, salam dulu saat menerima telepon!" Omel Mama Anggi.


"Iya ... Assalamualaikum, ada apa?"


"Waalaikumussalam, nah gitu. Kamu ada di mana sih, ko kedengarannya kaya ngomong bisik - bisik gitu?" Mam Anggi terdengar penasaran dari seberang telepon.


"Ada deh, mama mau ngapain sih?" desak Erza.


"Kata papa kamu sudah punya calon istri, mana kenalkan sama mama!" Mama Anggi balik mendesak Erza.


Erza memutar bola mata malas mendengar itu. Erza merasa bingung harus berbuat apa. Orang tuanya benar -benar kembali mendesaknya untuk segera menikah. Erza mantap Yara yang sedang serius berbicara dengan Kak Ima. Erza lekas tersenyum saat sebuah ide muncul di pikirannya.


"Iya ada, nanti Erza kenalkan sama mama. Saat ini aku lagi berjuang untuk mendapatkannya, Mah! Udah ya, jangan di ganggu! Nanti mama batal punya calon mantu, aku tutup teleponnya. Assalamualaikum," ucap Erza dan langsung menutup sambungan teleponnya.


"Waalaikumussalam," jawab Mama Anggi. "Dasar anak itu, pengen sekali aku jewer kupingnya kalau ketemu!" omel Mama Anggi saat mendapat perlakuan seenaknya dari Erza.


"Kenapa sih, Mah? ngomel-ngomel gitu?" Tanya Papa Rangga yang baru saja berganti pakaian. Siang ini adalah hari libur jadi Papa Rangga terlihat santai saja di rumah bersama istri tercinta. Secara Erza tinggal di rumahnya sendiri. Sedangkan Nazwa, berada di Inggris, asik dari Erza itu sedang menempuh pendidikan di sana.


"Erza, kata papa sudah punya calon istri, ternyata belom dia masih pedekate," balas Mam Anggi sambil melipat tangannya di depan dada. "Mama pengen Erza cepet nikah biar cepet dapet cucu juga. Rumah ini sepi banget, udah lama gak ada tangis bayi di sini" keluhnya. Wanita berumur yang masih terlihat cantik itu sangat mengharapkan kehadiran seorang cucu di tengah keluarganya.


Tiba-tiba saja Papa Rangga melingkarkan tangannya di pinggang Mama Anggi membuat wanita itu tersentak kaget.


"Papa, ngagetin aja!" protes Mama Anggi.


"Biar rame kita bikin adek yuk buat Nazwa, biar mama gak kesepian lagi di rumah," bisik Papa Rangga dengan suara seraknya seakan menahan sesuatu yang menguasai tubuhnya.


Mama Anggi terkekeh kecil menaggapinya. "Mama itu sudah tua, Pah. Masa iya, punya anak lagi." Mama Anggi hendak melepaskan tangan Papa Rangga dari pinggangnya.


Saat ini mereka berdiri tak jauh dari tempat tidur king size empuk tempat peraduan hangat milik mereka berdua.


Bukannya terlepas, Papa Rangga malah membalikkan tubuh Mama Anggi agar menghadapnya.


"Siapa bilang mama sudah tua? Orang masih cantik dan segar begini," godanya sambil menyelipkan rambut Mama Anggi ke belakang telinganya.


Brush...


Wajah Mama Anggi langsung bersemu merah mendapat godaan manis dari suaminya.


"Gombal banget sih!" decak Mama Anggi. Mama dari Erza itu kembali melepaskan rangkulan tangan suaminya tapi sayang keduanya malah jatuh terpental ke atas kasur. Membaut Papa Rangga berada di atas tubuh istirnya.


Senyum jahil pun tersirat di wajah Papa Rangga. "Kalau sudah rejeki memang tidak akan ke mana!"


Mama Anggi tidak bisa berkutik lagi. Tatapan mendamba dari Papa Rengga membuat wanita itu luluh.


"Pah ... Akh ...!" Suara indah itu menggema di kamar pasutri yang umurnya sudah tidak muda lagi itu.


Papa Rangga tersenyum bahagia, Wanita di hadapannya itu selalu membuat kehidupannya itu penuh dengan warna.


.


.


.


Wah... bisa jadi Erza itu menurunkan sifat pandai merayu seperti papanya.


Bagaimana jika Erza tahu kalau Yara sudah menikah? Apa dia akan terus berjuang atau mundur?


.


.


Jangan lupa, like, komen, bintang 5, vote , kopi juga boleh... 😁😁😁

__ADS_1


Boleh dong, Hari ini aku ketik panjang beudddd.... otak lagi encer ...😄


__ADS_2