
"Kamu senang?" Tanya Yara.
"Senang sekali, Nda!" jawab Dhiya dengan wajah ceria.
"Minuman datang!" Erza datang dengan membawa ice cup di tangannya.
"Ini rasa stoberi untuk Dhiya, rasa red velvet untuk Yara, dan capuchino untukku." Erza memberikan sesuai permintaan masing-masing.
Mereka bertiga kembali bermain bola guling. Salah satu permainan seru di pasar malam itu. Hanya dengan uang 5 ribu dapat 4 bola. Bola tersebut di gulingkan di atas papan yang dipasang miring. Di atas papa tersebut tertusuk paku-paku kecil untuk menjaga Bola agar tidak terperangkap di tempat berhadiah.
"Yeayy ... Aku menang lagi!" teriak Dhiya.
Yara ikut bersorai saat Dhiya mendapat 3 kali hadiah dari permainan itu. Hadiah sederhana hanya sebotol minuman dan dua box makanan ringan. Tapi bisa membuat Dhiya bahagia tidak terkira.
"Ini buat Om!" seru Dhiya sambil menyodorkan air minum itu kepada Erza.
"Terima kasih."
Kemudian ketiganya menikmati hadiah makanan dan minuman yang didapat dari permainan itu sambil berjalan mengelilingi area tersebut.
Masih di area yang sama, tanpa mereka sadari. Pria bertubuh tinggi dan tegap itu terus memperhatikan ketiganya. Kesabaran sudah tidak bisa ia bendung lagi. Apalagi melihat Yara tertawa ceria bersama Erza. Afkar semakin emosi. Awalnya ia akan berusaha bersabar untuk menunggu saat yang tepat untuk menarik Yara. Tapi rasa cemburu semakin memuncak di dada. Pria itu pun keluar dari mobil untuk mendekati Yara dan Erza.
Suasana sore perlahan hendak berganti malam. Yara pun segera beranjak dari pasar malam itu.
"Hari mulai gelap, sebaiknya kita segera pulang. Takutnya kemalaman," ujar Yara.
"Yah, Bunda. Aku masih mau di sini!" sahut Dhiya degan wajah sedih. Gadis kecil itu masih ingin berlama-lama di sana.
Yara menggelangkan kepalanya pelan.
"Nanti, kita ke sini lagi! Oma janji," seru Erza.
"Benar ya, Om?" Dhiya menegaskan.
Erza mengangguk pelan membalasnya.
"Boleh ya, Bunda?" Tanya Dhiya pada Yara.
wanita yang dipanggil bunda itu ikut mengangguk pelan.
Mendengar ucapan Dhiya, Erza kembali menegaskan pendengarannya.
"Ra, aku mau tanya sesuatu sama kamu," ucap Erza.
"Apa?"
"Kenapa Dhiya memanggilmu Bunda?" Tanya Erza. Pria itu sangat penasaran. Dari tadi semenjak masuk ke dalam area pasar malam itu. Erza sering mendengar Dhiya memanggil Yara dengan sebutan Bunda.
Erza ingin sekali menanyakan hal itu tadi tapi ia merasa tidak tepat waktu.
"Karena Yara memang bundanya. Dan aku adalah suaminya." Afkar berbicara tegas dengan rahang yang mengeras. Pria itu menahan emosi dari tadi.
Mendengar suara yang begitu ia kenal Yara langsung berbalik badan.
"Mas Afkar," ucap Yara tidak percaya.
"Ayah ...." Dhiya ikut menimpali.
Erza pun ikut berbalik badan. Pria itu merasa terkejut dengan ucapan pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Anda jangan mengada-ada," elak Erza merasa tidak terima dengan apa yang diucapkan Afkar.
"Kenapa? Apa wanita ini mengaku single atau masih gadis padamu?" Afkar menatap Yara dengan tatapan sinis.
"Maksud kamu, Apa Mas? Kamu menuduhku?" Yara tidak terima.
Dhiya merasa takut dengan perdebatan itu. Gadis kecil itu memilih bersembunyi di belakang tubuh Yara.
__ADS_1
"Aku tidak menuduh, buktinya lelaki ini tidak tahu status kamu yang sudah mempunyai suami!" Hardik Afkar.
Yara menarik sudut bibirnya sedikit. Menertawakan apa yang diucapkan Afkar.
"Suami, saat seperti ini kamu baru mengaku kalau kamu suamiku, Mas. Kemana saja dirimu, selama ini. Bukankah aku dan Dhiya sudah terabaikan? Hah!" Yara mulai berani pada Afkar.
"Kamu mulai berani, ya. Ternyata, benar kata ibu. Kamu sengaja pergi dari rumah agar kamu bebas. Bebas bersama pria lain. Tapi aku tidak terima jika kamu membawa-bawa Dhiya dalam hubungan terlarang kalian!" Bentak Afkar. "Kamu tidak sadar kamu adalah seorang istri, tidak pantas pergi bersama pria lain. Dasar ****** ....!"
Plak ....
Tamparan keras mendarat di pipi Afkar.
Yara sungguh tidak menyangka Afkar dengan mudah melontarkan kata kotor yang begitu menyakitkan hati Yara.
"Kamu tega berbicara seperti itu padaku, Mas," balas Yara. Manik matanya menatap tajam ke arah Afkar suaminya. "Apa yang sudah ibu ucapkan padamu. Semuanya tidak benar! Dari dulu ibumu itu memang tidak pernah suka padaku. Dia tega memfitnahku dan kamu percaya itu?" Yara menegaskan. "Lagipula berada di rumah itupun tidak ada artinya buatku 'kan. Kamu lebih mementingkan perasaan Syafa, istri mudanya dibanding aku dan Dhiya," keluh Yara dengan nada sedih.
"Seorang ibu tidak akan pernah mau melihat anaknya terluka. Mungkin itu yang dilakukan ibu padaku saat ini. Dan kamu jangan pernah menuduh ibu sembarangan." Afkar tidak terima Yara berkata jelek soal Bu Nuri. "Untuk saat ini tolong kamu mengerti, Syafa sedang hamil muda. Dia tidak boleh stress dan banyak pikiran," lanjut Afkar.
Yara mengelengkan kepala sambil tersenyum miris mendengarnya.
"Kamu egois, kamu benar-benar sudah berubah Mas!" Yara kemudian mengajak Dhiya untuk pulang. "Dhiya, kita lebih baik pulang. Lain kali saja bermain sama eyang kung nya," ujar Yara.
Erza masih diam tak bersuara. Ia hanya mendengarkan apa yang sedang di bicarakan oleh Yara dan pria yang baru ia lihat itu. Pria yang mengaku sebagai suami Yara.
Erza masih tidak percaya dengan apa yang di dengar dan dilihatnya di hadapannya ini. Terlalu mengejutkan untuknya. Wanita yang jadi incaran hatinya ternyata berstatus sebagai seorang istri. Anak gadis cantik dan lucu yang membuatnya gemas itu ternyata anak dari wanita yang telah mencuri hatinya.
Erza tidak tahu harus berbuat apa saat ini.
"Kamu pulang bersamaku!" Afkar segera merangkul Dhiya dan menggendongnya.
"Bunda," rengek Dhiya. Anak gadis itu menolak saat digendong oleh Afkar.
"Turunkan Dhiya, Mas! Dia ketakutan!" pinta Yara.
"Kalian ikuti pulang bersamaku!" Afkar juga meraih tangan Yara dengan kasar kemudian sedikit menyeret untuk mengikuti langkahnya menuju mobil miliknya.
"Lepaskan Yara!" Erza mencegah langkah Afkar.
Afkar terlihat sangat emosi saat itu. Dhiya yang ada dalam gendongannya pun terlihat sangat ketakutan. Keceriaan yang tadi terpancar seakan lenyap begitu saja di wajah Dhiya.
"Bunda ... Dhiya takut!" Dhiya mengulurkan tangannya pada Yara. Yara yang ada di sampingnya segera meraih Dhiya dari Afkar.
Bocah kecil itu memeluk erat tubuh Yara. "Dhiya takut ... Ayah jahat, Nda!" bisik Dhiya disela pelukannya pada Yara.
"Dhiya tidak usah takut, kamu sudah sama bunda sekarang!" Yara mengelus pelan pundak Dhiya untuk menenangkannya.
"Kamu tidak pantas disebut suami, jika kelakuanmu kasar seperti itu kepadanya." Erza berjalan mendekati Afkar.
Saat ini mereka saling berhadapan. Keduanya saling menatap tajam satu sama lain.
"Jangan pernah ikut campur urusanku!" bentak Afkar sambil mengepalkan tangannya menghadapi Erza.
"Aku aka ikut campur jika itu menyangkut Yara," balas Erza.
"Heh .. Ternyata kamu sudah bermain api di belakangku, Ra!" Afkar melirik Yara sesaat sambil menuduhnya.
Yara mengelengkan kepala kemudian mendekati Afkar untuk menjelaskan kebenarannya.
"Aku bisa jelaskan, Mas! Itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Erza tidak ada hubungan apapun. Kami bisa bersama di sini karena tadi Erza akan mengantarku ke rumah Syafa.
Dhiya ingin bertemu dengan eyangnya, Mas!" Yara berusaha memberi penjelasan pada Afkar.
"Minggir," Afkar menyingkirkan Yara agar menjauh darinya.
"Ya sudah, aku minta maaf, Mas. sekarang kita pulang. Kita jadi tontonan di sini, Mas!" Yara menarik tangan Afkar. Ia takut Afkar akan membuat keributan di sana.
"Aku sudah bilang minggir!" Afkar mendorong Yara lagi.
__ADS_1
"Aww ...."
"Bunda ...."
Jerit Yara dan Dhiya bersamaan. Mereka berdua hampir saja terjatuh ke tanah karena dorongan keras dari Afkar. Beruntung Erza segera menolongnya.
"Kamu tidak apa-apa, Ra!" Ucap Erza.
"Terima kasih"
"Jangan sentuh istriku!" Afkar menarik baju Erza dengan cepat.
Bughh ....
Pukulan keras tepat mendarat di rahang pipi Erza. Tubuhnya pun tersungkur ke tanah.
Erza ingin melawan Afkar tapi ia tidak mau menambah panjang perdebatan yang ada. Erza tidak mau Yara kembali diperlakukan kasar oleh suaminya. Di sini Erza juga merasa bersalah sudah bersama wanita yang sudah bersuami.
"Mas ... Hentikan!" Yara menjerit melihat Erza yang terkena pukulan oleh Afkar. Yara juga menurunkan Dhiya. "Dhiya tunggu sebentar, bunda mau melerai perbedaan ayah sama Om Erza ya!" ucap Yara dan mendapat anggukan dari Dhiya. "Anak pintar!" Yara mengacak rambut putrinya.
"Bangun, Za." Yara membantu Erza berdiri.
"Untuk apa kamu membantunya, Apa yang aku ucapkan memang benar? Kalian memang bermain api di belakangku!" Lagi-lagi tuduhan berselingkuh Afkar ucapkan untuk Yara.
Erza tidak tahan mendengar tuduhan demi tuduhan yang Afkar lontarkan untuk Yara. Ia masih kuat untuk membela diri. Erza kembali mendekati Afkar. Dengan gerakan cepat pula Erza membalas Afkar.
Bughh...
Erza membalas dengan mengarahkan pukulan pada perut Afkar. Membuat Pria itu semakin emosi dan tidak terima.
"Itu untuk kamu yang tega menuduh Istrimu sendiri!" Erza tidak mau kalah saat ini.
Yara kembali berteriak saat Afkar berusaha membalas lagi pukulan dari Erza.
"Tolong, Pak! Pisahkan mereka." Yara meminta tolong pada orang sekitarnya. Sambil berusaha menarik Afkar dan mencoba menenangkannya. Yara sangat hapal dengan sikap Afkar yang tidak mau kalah bersaing.
Dua orang pria datang menghampiri. Mereka hendak memisahkan Erza dan Afkar.
"Mas, hentikan. Aku mohon!" Yara melepaskan tangannya dari Afkar. Afkar sangat sulit meredam emosinya.
Yara beralih pada Erza. "Za tolong hentikan! Aku mohon," pinta Yara pada Erza. Dan berhasil Erza mampu meredam emosinya. Ia menoleh ke arah Yara yang tengah menangis. Ia juga melirik ke arah Dhiya yang terlihat ketakutan.
"Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan mu, Ra. Setelah aku tahu, suamimu kejam seperti ini!" ucap Erza pelan. Tapi masih terdengar oleh Afkar.
"Shitt ... Kamu benar-benar harus diberi pelajaran, jika kamu masih mau mendekati istriku!" Ucap Afkar.
Yara melihat Afkar hendak melayangkan pukulan ke arah Erza. Tapi Yara menghalanginya.
Bughh ...
Satu pukulan keras mendarat di pipi seseorang. Yang pastinya bukan di pipi Erza melainkan di pipi Yara. Sudut bibir Yara sobek akibat pukulan itu. Darah segar pun mengalir di sana.
"Yara." Erza dengan cepat membantu Yara yang tersungkur ke tanah.
"Bunda ...." Dhiya berteriak saat melihat bundanya terkena pukulan oleh ayahnya sendiri. "Ayah, jahat!" Dhiya memukul Afkar kemudian berlari mendekati Yara.
Afkar diam membeku setelah melakukan hal yang tidak ia sengaja pada Yara.
"Ra ... Maaf, aku tidak sengaja!" lirih Afkar.
.
.
.
Hai . maafkan kemari tidak sempat up...
__ADS_1