
Syafa menghentikan kendaraan roda empatnya di persimpangan jalan menuju rumahnya. Rasa sesesak kian mengimpit di hati. Ingin rasanya menumpahkan rasa sedih yang kini menguasai hati.
“Ini yang kamu inginkan, Fa. Ini yang kamu inginkan bukan?” tanyanya pada diri sendiri. Kemudian menumpahkan tangis yang sedari tadi tertahan.
Sendiri tak ada teman berbagi, tak ada tempat mengadu, tak ada tempat berkeluh kesah. Tangis itu semakin deras saat Syafa baru menyadari dirinya dalam kesendirian saat ini.
‘Mengadulah pada Sang Pencipta, berpasrah ‘lah padanya. Yakinlah bahwa Dia tidak akan memberikan ujian dibatas kemampuan hamba-Nya.’
Kata itulah yang terngiang di telinga Syafa. Sebelum kepergiannya, banyak yang Roni sampaikan pada Syafa termasuk berpasrah diri. Pria yang paling dekat dengannya dari dulu, dia pun pergi meninggalkan Syafa. Bukan sengaja tapi Roni lebih menjaga diri. Mereka berdua bukan saudara, ataupun kerabat. Roni hanya sedang menjaga hati, di saat hatinya tengah mendesak ingin kembali menemani Syafa tapi jiwanya memperingati. Kalau mereka bukanlah mahram.
“Pah, ternyata aku tidak sekuat dirimu. Yang mampu melewati hidup dalam kesendirian tanpa mama. Aku sendiri saat ini, aku tidak tahu ke mana harus mengadu,” lirih Syafa masih dengan Isak tangis yang menyerang diri.
Mencoba ikhlas itulah yang kini Syafa coba. Hampir dua jam sudah Syafa berada di dalam mobil, mencoba berdamai dengan keadaan. Setelah merasa sedikit tenang, Syafa kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Ya ke sanalah tempat ia berpulang.
Baru saja menurunkan kaki dari mobil. Wanita paruh baya yang selalu setia menemani Syafa sudah siap menunggunya. Bi Tum menyambut kepulangan Syafa.
“Bagaimana persidangannya, Non?” tanya Bi Tum sopan.
Syafa membalas dengan senyuman miris. “Aku dan Mas Afkar bukanlah suami istri lagi, Bi,” lirih Syafa.
Bi Tum berjalan mendekat pada Syafa kemudian menarik tubuh wanita yang sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri itu. “Sabar ya, Non. Mungkin jodoh kalian hanya sampai di sini. Bibi do’akan ke depannya Non Syafa selalu bahagia,” ucap Bi Tum di sela pelukannya.
“Terima kasih, Bi,” balas Syafa.
Beruntung bagi Syafa masih ada Bi Tum yang selalu ada untuknya.
****
Di Swiss, Erza tengah bersiap untuk bertemu seseorang di sebuah cafe. Erza masih bersabar dengan permintaan Andrea. Anak dari rekan bisnisnya itu banyak sekali permintaan revisi pada file pekerjaan yang Erza kerjakan.
“Kamu yakin semuanya sudah diperbaiki sesuai dengan keinginan wanita itu, Leon?” tanya Erza saat keduanya sedang dalam perjalanan menuju cafe.
“Sudah, Pak. Apa yang Pak Erza perintahkan juga sudah saya perbaiki. Saya seimbangkan dengan keinginan Bu Andrea,” jawab Leon.
“Bagus kalau begitu, kalau masih banyak kesalahan. Saya akan cabut kerjasama dengan perusahaan itu,” geram Erza. Sebab beberapa kali saat berada di Indonesia Andrea meminta perbaikan atas beberapa file yang Erza perlihatkan padanya.
Sesampainya di cafe terlihat seorang wanita cantik telah menunggu kedatangan Erza. Wanita itu langsung berdiri menyambut Erza yang melangkah mendekatinya.
__ADS_1
“Selamat sore, Pak Erza. Apa kabar?” sapa Andrea seraya mengulurkan tangannya pada Erza. Tak lupa suara lembut dan senyuman manis ia berikan pada priabyang yang jadi incarannya itu.
Erza pun membalasnya. “Selamat sore juga Bu Andrea,” jawab Erza dingin tanpa senyum lalu duduk tanpa dipersilakan oleh Andrea.
Erza lekas menoleh pada Leon yang berdiri di sampingnya. Hanya dengan tatapan saja Leon dapat mengartikan perintah dari bosnya itu. Leon langsung menyerahkan file yang dibawanya pada Erza.
“Silakan Tuan!” ucap Leon.
Erza lekas membuka halaman pertama pada file yang baru saja ia terima. “Saya sudah merevisi semuanya sesuai keinginan Anda. Tolong di baca dengan baik.” Erza menyerahkan file yang ia bawa ke hadapan Andrea.
Wanita yang ada di hadapan Erza itu menarik kedua sudut bibirnya saat mendapati sikap dingin dari Erza. Sikap Erza semakin menantang menurutnya. Andrea pun segera meraih file ada di hadapannya. Membaca dengan pelan dan hati-hati, setiap lembar yang ada. Bibirnya mengembangkan senyum saat melihat perubahan yang ada.
“Jika masih tidak sesuai dengan keinginan Anda. Mohon maaf saya mundur dari kerja sama ini,” ucap Erza tegas. Hal itu sontak membuat Andrea menghentikan gerakannya. Kemudian menutup file yang sedang ia baca.
“Saya bahkan belum selesai membacanya Pak Erza. Bagaimana bisa saya tahu sistem kerja yang akan Anda lakukan.” Andrea tersenyum manis pada Erza. “Anda bisa tunggu sebentar ‘kan?” pinta Andrea yang kembali kegiatannya tadi. Tanpa peduli tatapan dingin yang Erza berikan padanya.
Gelengan kepala Erza berikan saat menanggapi ucapan Andrea. Erza masih bersabar menunggu. Ia ingin melihat apa yang terjadi usai wanita itu menyelesaikan bacaannya.
“Sistem kerja yang bagus. Saya setuju dengan semua yang tertulis di berkas ini. Kita bisa segera melanjutkan kerja sama ini,” ucap Andrea dengan senyum manisnya.
Di saat bersamaan seorang pria datang dan menghampiri Erza. Senyum berkembang pun Erza berikan pada pria yang baru saja datang itu seraya berdiri untuk menyambutnya.
“Sama sekali tidak terlambat. Anda datang tepat waktu, Pak Renold,” sahut Erza seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan pria itu. “Silakan duduk!”
“Terima kasih, Pak Erza.” Renold duduk di samping Erza. Kemudian tersenyum pada wanita yang ada di sisi kanannya.
“Oh ya, perkenalkan ini Ibu Andrea. Pihak yang akan menerima jasa pekerjaan dari perusahaan kita.” Erza mengenalkan Renold pada Andrea.
“Renold,” ucap Renold seraya mengulurkan tangannya pada Andrea.
“Andrea Wilson,” sahur Andrea.
“Mohon maaf Bu Andrea untuk kerjasama selanjutnya Anda akan berhubungan langsung dengan Renold pengelolanya. Jadi kedepannya Anda bisa menghubungi beliau,” ucap Erza.
Andrea merasa terkejut mendengarnya. “Kenapa begitu? Bukankah ini tanggung jawab dari Anda Pak Erza. Untuk apa menghinggapi dia kalau Anda sendiri yang menyetujuinya.
“Tidak, Bu Andrea. Anda salah! Semua pekerjaan yang akan dilaksanakan akan ada yang mengelolanya, bukan saya. Apa Anda membaca dengan jelas apa yang ada di berkas itu.” Erza menunjuk berkas yang ada di depan Andrea.
__ADS_1
Erza langsung berdiri lalu mengulurkan tangan pada Renold. “Pak Renold, Anda bisa melanjutkan obrolan santai dengan Bu Andrea. Saya yakin Anda pasti sudah menguasai sistem kerja yang biasa saya lakukan,” ujar Erza pada Renold.
“Iya, Pak Erza. Bahkan hampir di luar nalar saya,” sahut Renold dengan sendikit tawa yang terdengar.
Erza beralih menatap Andrea yang terlihat kesal atas perubahan dadakan yang Erza lakukan. “Terima kasih atas kerja samanya Bu Andrea. Saya harap Anda akan puas dengan sistem kerja yang akan dilakukan oleh perusahaan kami,” ucap Erza penuh kemenangan. Ia mematahkan semangat Andrea begitu saja.
Wajah Andrea terlihat merah menahan kesal. Ia tidak bisa berbuat banyak. Hal ini di luar prediksinya. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Andrea.
Erza beraksi dari hadapan Renold dan juga Andrea. Tubuhnya berbalik kemudian melangkah meninggalkan dua orang yang masih berada dalam satu meja itu. Bibir Erza tertarik saat melihat reaksi dari Andrea.
‘Saya tidak akan pernah masuk dalam perangkat mu, Andrea. Saya bukan pria bodoh dalam hal ini.’
Batin Erza sembari melangkahkan kakinya.
Melihat Erza yang pergi meninggalkannya. Andrea mengepalkan tangan menahan kesal.
‘Aku tidak akan menyerah begitu saja Pak Erza. Lihat saja nanti! Kamu akan aku dapatkan.’
Batin Andrea yang semakin penasaran pada Erza.
Leon, sekretaris Erza merasa terkejut dengan apa yang bosnya lakukan. Leon sungguh tidak menyangka Erza bisa berpikir cepat dalam waktu yang singkat. Bisanya itu benar-benar menjaga jarak jika berurusan dengan klien wanita.
“Saya tidak menyangka dengan keputusan Pak Erza yang mendadak tadi,” ujar Leon saat mengemudikan mobil. Mereka berdua tengah dalam perjalanan saat ini. Leon hendak mengantarkan bosnya itu pulang ke rumah.
“Saya sudah paham dengan gerak gerik wanita itu, Leon. Lain kali jika klien kita wanita muda lebih baik kamu yang urus semuanya. Kamu hanya perlu memberikan laporan kepada saya saja,” ucap Erza.
“Baik, Pak. Eum, Apa Anda tidak tertarik pada Bu Andrea, Pak?” tanya Leon. “Saya lihat dia sangat cantik, masih muda lagi,” lanjutnya.
Erza tersenyum miring menanggapinya. “Bagi saya hanya Ayara Faeqa wanita yang paling cantik. Tidak ada yang bisa menggeser atau menggantikan posisinya. Saya akan berusaha untuk selalu menjaga hatinya,” ucap Erza membuat Leon terdiam.
“Anda benar, Pak. Saya mengenal betul Bu Yara. Istri Anda itu sangat baik. Anda sangat beruntung mendapatkan dia. Kalau bisa saya mau satu wanita seperti Bu Yara,” pinta Leon.
Erza tersenyum bahagia mendengarnya. “Banyak wanita di luar sana. Tapi tidak ada yang sama seperti istriku, Leon. Jadi jangan berharap ingin memiliki istri seperti istriku,” balas Erza dengan tatapan tajam pada Leon dari kaca spion dalam mobil itu.
Leon menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. “Maaf! Saya hanya bercanda, Pak,” sabung Leon yang kembali fokus pada kemudinya.
.
__ADS_1
.
To Be continued