
"Aku tidak akan bisa tenang dan tidur nyenyak sebelum melihat kamu, Ra! Kamu tahu melihat senyummu membuat hatiku tenang. Aku akan berusaha membuat senyum itu selalu menghiasi wajah cantikmu mulai hari ini hingga seterusnya." Usai mengungkapkan isi hatinya Erza menarik tangan Yara kemudian mengecup punggung tangan itu dengan lembut.
Yara bisa merasakan ketulusan Erza saat itu. Hatinya menghangat setiap kali Erza bersikap manis padanya. Sampai saat ini, Yara merasa takut untuk membalas perasaan Erza. Tapi pria itu tidak pernah menyerah. Erza hanya ingin Yara merasakan betapa besarnya cinta yang Erza berikan untuknya.
"Terima kasih untuk semuanya ya, Za!"
Erza mengangguk pelan membalasnya.
Suara ketukan pintu membuat kedua orang yang saling berhadapan itu terdiam.
"Za, itu pasti Bu Haryani. Kamu harus bersembunyi!" Yara terlihat panik. Ia tidak mau Bu Haryani tahu kalau Erza bersamanya saat ini.
"Dimana?" Erza ikut panik dibuatnya.
"Kamar mandi!" Yara menarik Erza agar ikut dengannya.
Erza pasrah saat Yara menariknya masuk ke dalam kamar mandi.
"Diam dan jangan mengeluarkan suara!" Yara memperingati Erza sambil melayangkan tatapan tajam padanya.
Erza seperti sapi yang di cocok hidungnya. Pria itu menurut dan mengikuti apa yang dikatakan Yara padanya. Diam dan tidak bersuara sama sekali di dalam kamar mandi.
"Kamu sudah tidur?" Tanya Bu Haryani saat Yara membuka pintu kamar.
"Belum, Bu! Ada apa?" Yara bertanya balik pintu. Wanita itu tidak membuka pintu lebar karena takut ketahuan kalau ada Erza di dalam kamar mandi
"Ibu lupa memberikan ini padamu." Bu Haryani menyodorkan satu kotak dari tangannya kepada Yara.
"Apa ini, Bu!" Yara. Ia merasa heran hari ini banyak sekali pemberian yang ia terima.
"Ini dariku! Ibu ingin kamu memakainya untuk acara besok!"
Yara tersenyum kemudian memeluk Bu Haryani.
"Terima kasih, Bu! Padahal masih banyak gaun yang aku punya. Ibu sudah memberikan aku gaun lagi," ucap Yara senang sambil meregangkan pelukannya.
"Aku ingin besok menjadi hari yang bisa memberikan kenangan manis padamu."
__ADS_1
"Ah, ibu jangan membuat aku sedih. Aku semakin tidak rela jika jauh darimu!" Yara merasa terharu dengan sikap Bu Haryani kepada-nya.
"Kalau begitu tinggal lah di sini setelah menikah nanti!" pinta Bu Haryani.
Yara menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak bisa, Bu! Aku harus ikut sama Erza. Perusahaan yang Erza bangun di Swiss sudah beroperasi. Aku dan Erza sudah merancang kehidupan baru di sana. Aku ingin hidup baru dengan suasana baru bersama Erza, Bu!" Balas Yara. Wanita itu tidak menyadari kalau Erza mendengarkan percakapannya dengan Bu Haryani.
Seulas senyum mengembang di wajah Erza. Bahagianya semakin bertambah saat mendengar penuturan Yara pada Bu Haryani.
'Aku tidak sabar menunggu hari itu tiba, Ra.'
Batin Erza yang sudah tidak sabar ingin segera mengucapkan ijab kabul pada Yara.
Tak lama setelah itu. Yara segera menyuruh Erza keluar dari kamarnya. Yara takut Bu Haryani kembali dan melihat keberadaan Erza di sana. Yara tidak mau membuat wanita itu kecewa padanya.
Yara terus menarik Erza keluar dari kamar mandi menuju balkon kamarnya. Tubuh Erza menabrak Yara saat wanita itu tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Arghh ...," Jerit Yara saat tubuhnya hampir terjatuh karena tertabrak oleh Erza. Beruntung pria itu dengan cepat meraih tubuh ramping Yara dan menariknya ke dalam pelukan. Kejadian itu membuat kedua tubuh itu tak berjarak. Tangan Erza menempel sempurna di pinggang Yara. Kedua manik mata itu pun bertemu.
Kedekatan yang tak berjarak itu membuat Yara merasakan irama detak jantungnya yang tidak beraturan. Debaran itu semakin kencang saat wajah Erza semakin dekat padanya.
Yara mengikuti nalurinya. Matanya terpejam seakan memberi kesempatan pada Erza untuk leluasa memberitakan sentuhan padanya.
Yara merasakan sentuhan itu berhenti tanpa berlanjut. Kehangatan ciuman itu Yara rasakan berpindah pada keningnya. Lama dan dalam hal itu membuat Yara membuka mata setelah Erza melepas ciumannya di keningnya.
Manik mata mereka saling bertemu. Yara lekas menundukkan kepala. Ia merasa malu sudah berpikir jauh atas sentuhan itu. Ada rasa penasaran kenapa Erza menghentikan sentuhan bibirnya pada Yara. Erza pun paham arti tatapan yang langsung tertunduk itu.
"Aku akan menjaganya hingga saat itu tiba. Akan lebih nikmat rasanya saat kamu sudah sah menjadi istriku," ucap Erza sambil menyentuh wajah Yara agar mendongak menatapnya. Kemudian mengusap pelan bibir Yara yang sedikit basah karena sentuhannya tadi.
Wajah Yara merona mendengar ucapan Erza. Tatapan tulus itu selalu terpancar dari manik mata Erza. Sungguh Yara merasa beruntung akan hal itu.
... 🌱🌱🌱...
"Hati-hati, Za!" Ucap Yara saat membantu Erza turun dari lantai dua rumah Bu Haryani.
Brughh ...
Tubuh pria itu terjatuh di atas tanah berumput. Erza memegangi pantatnya yang terasa sakit akibat terjatuh dari pagar yang terhubung ke lantai dua rumah itu.
__ADS_1
"Za, kamu baik-baik saja?" Teriak Yara yang terlihat khawatir dengan keadaan Erza.
Erza membalasnya dengan mengacungkan jari jempolnya saja. Padahal rasa nyeri ia rasakan di pantatnya.
"Masuklah! Sudah malam," titah Erza pada Yara.
"Ya, aku masuk setelah kamu pergi!" sahut Yara dari lantai dua.
Erza terus mendongak menatap Yara yang ada di balkon kamarnya.
"Aku bisa tidur nyenyak malam ini setelah bertemu kamu!" Teriak Erza dari bawah.
"Syuttt ... Za, jangan berisik nanti Bu Haryani dengar!" Yara menoleh kanan dan kirinya takut ada orang lain di sana.
"Ok ... Ok ... Aku pulang ya, Sampai ketemu lagi besok! Aku cinta kamu, Ra!" Ucap Erza lantang dan tegas.
Yara tersenyum dengan ungkapan cinta yang tak pernah bosan diucapkan oleh Erza.
"Ya, sampai bertemu lagi, Za. Hati-hati di jalan. Kabari aku kalau sudah sampai rumah! Ingat jangan bermain ponsel saat berkendara!" Yara kembali mengingatkan.
Lagi-lagi tidak ada balasan dari ungkapan cinta Erza untuk Yara. Wanita itu masih sulit untuk mengungkapkan balasan perasaanya untuk Erza. Bukannya tidak mencintai hanya saja Yara belum berani mengungkapkannya. Tapi Erza tetap tidak menyerah. Dia akan sabar menunggu sampai Yara sendiri yang mengungkapkan cinta itu tanpa dipancing olehnya.
Erza pun melambaikan tangan sebelum memasuki mobilnya. Mobil mewah milik Erza melaju perlahan meninggalkan kawasan elite itu.
Dari kejauhan, seseorang sedang memperhatikan tingkah mereka berdua. Lalu menghubungi seseorang di seberang telepon.
"Dia baru saja pulang!"
.
.
.
.
To Be continued
__ADS_1
2 bab hari ini ..
like dan komen jangan lupa. 😍😍❤️❤️