
"Kamu ... Lepaskan aku!" Afkar hendak melepaskan tangan Yara dari tubuhnya.
"Mas, tolong biarkan seperti ini, sebentar saja!" Pinta Yara dengan suara pelan sambil terus mengeratkan pelukannya.
Afkar akhirnya menerima sentuhan hangat itu. Ia melirik ke belakang tubuhnya. Yara merebahkan kepalanya di pundak kekar Afkar.
"Aku kangen sama kamu, Mas! Selama tiga bulan aku berada di sini sendiri. Aku bahagia bisa melihatmu lagi. Dhiya pasti sangat senang ayahnya sudah ketemu," ucap Yara lembut. Afkar mulai merasa nyaman dengan pelukan itu.
"Apa kamu bisa menghubungi mereka sekarang?" celetuk Afkar, Yara langsung melepas pelan pelukannya dari Afkar.
"Bisa, Mas. Mereka pasti sangat senang bisa melihat wajah mu." Yara terlihat sangat senang, ia tersenyum manis pada Afkar. Dengan segera Yara mengambil ponsel di tas miliknya.
"Tunggu, Mas! Kamu pasti akan senang saat berbicara dengan Dhiya, putri kita. Dhiya sekarang sudah lancar berbicara." Yara terus berbicara dengan senang.
Setelah mendapati ponselnya. Yara langsung mencari nama Mira di dalamnya dan tombol hijau segera ia sentuh. Sambungan telepon pun masih belum tersambung. Yara lupa kalau waktu sudah menunjukkan malam hari.
Di kampung jam tujuh malam sudah sangat sepi. Berbeda dengan di kota.
"Kenapa tidak diangkat?" oceh Yara. Ia melirik jam di dinding kamarnya. Wajahnya langsung tertunduk lesu. "Pasti mereka sudah tidur jam segini, Mas," keluh Yara.
Afkar terlihat mendekati satu kaleng besar. "Celengan impian?" Gumam Afkar sambil meraih benda tersebut.
"Itu kamu yang buat, Mas!" ucap Yara.
"Untuk apa?" Afkar semakin penasaran.
"Untuk mewujudkan impian kita. Rumah kontrakan yang kita tempati di kampung akan dijual oleh pemiliknya. Beliau menunggu kita untuk membelinya. Sebab dia adalah teman baik bapakmu, Mas."
Afkar terdiam. Pria itu mendengarkan semua ucapan Yara.
"Tapi aku minta maaf, padamu. Uang yang selama ini kita kumpulkan sedikit demi sedikit aku serahkan pada ibumu semua," ucap Yara.
Afkar langsung menoleh ke arah Yara. Tatapan mereka saling bertemu. Ada rasa takut yang Yara rasakan. Sebab Afkar pernah berucap uang simpanan itu tidak bisa diganggu gugat apapun yang terjadi. Suaminya itu akan sangat protektif untuk masalah ini.
"Maaf, Mas! Bapak membutuhkan biaya untuk berobat. penggilingan padi sedang sepi saat itu. Semua keadaan di sana kacau semenjak kamu menghilang. Paman Yono yang sekarang membantu ibu di rumah. Oleh karena itu aku nekad pergi ke kota untuk mencari mu, Mas! Aku yakin kamu masih hidup. Tolong ... Pulanglah!" pinta Yara lirih. Yara berharap Afkar percaya dengan ucapannya.
__ADS_1
Tak terlihat keberadaan Syafa di sana. Wanita itu sedang mengambil obat di dalam mobil. Para bodyguard yang biasanya selalu ada di dekat Syafa saat itu berada jauh dari wanita itu. Sebab Syafa tidak ingin membuat suasana tegang di sekitar kontrakan.
Kedatangan mereka tadi saja, membuat orang yang ada di sekitar kontrakan heboh.
"Kenapa tidak memanggil saya, Nona?" Tanya salah satu dari bodyguard-nya.
"Aku bisa sendiri," jawab Syafa meyakinkan.
"Apa kamu perlu mendekat ke sana?" tanya pria itu lagi.
"Tidak perlu, kalian tetap saja di sini. Aku aman bersama Mas Afkar!" Ujar Syafa dan mendapat anggukan dari para bodyguard nya itu.
"Kalau ada apa-apa, tolong segera hubungi salah satu dari kami, Nona. Kami tidak mau tuan marah karena kami lalai menjaga Anda dan Pak Afkar."
"Ya, kalian tenang saja!" balas Syafa sambil tersenyum. Wanita itu selalu bersikap ramah pada siapapun termasuk pada orang yang bekerja pada papa-nya.
Sebisa mungkin Syafa tidak ingin membuat repot pekerjaan mereka.
Syafa kembali ke rumah kontrakan itu. Sesampainya di sana. Syafa tidak mendapati Afkar di ruangan depan. Ia mendengar Yara yang sedang berbicara dengan Afkar di kamar tengah kontrakannya diam seketika.
Tak ada tanggapan dari Afkar. Pria itu asik dalam diamnya. Entah sedang berpikir apa.
"Di hati dan pikiranku saat ini hanya ada Syafa. Dia yang selalu ada dari pertama aku membuka mata. Dia dengan sabar merawat dan menjaga ku tanpa kenal lelah," Ucap Afkar dan hati Yara begitu sakit mendengarnya. Nyeri dan sesak saat mendengar suaminya sendiri menempatkan orang lain dalam hatinya. Bahkan tidak ada namanya di sana.
Syafa yang mendengar ucapan Afkar merasa sedikit lega karena dirinya masih menjadi bagian penting dalam pikiran dan hati Afkar sekarang ini. Tapi Syafa masih belum merasa tenang. Ia takut kalau saja Afkar kembali dalam ingatannya yang dulu. Dirinya akan tersingkir seperti Yara saat ini.
"Mas, jika aku tahu keadaanmu saat itu, aku pun akan melakukan hal yang sama dengan Syafa," sahut Yara.
Yara merasa dirinya tidak ada artinya. Yara paham situasinya, Afkar berbicara seperti itu karena ingatannya sedang terganggu. Tapi tetap saja rasanya sangat sakit. Mendengar suami tercinta mementingkan orang lain bukan dirinya.
"Aku harap jika memang benar hubungan kita dulu baik. Kamu bisa menerima Syafa dengan baik dan ikhlas sebagai madumu." Afkar menatap Yara dengan tatapan memerintah. Seperti tidak mau dibantah. Itu memang sudah sifat suaminya. Hanya sifat yang masih menempel dalam dirinya. Tidak mau dibantah dalam hal apapun. "Aku tidak tahu perasaan ku terhadapmu seperti apa saat ini. Tapi aku merasa harus bertanggungjawab juga atas dirimu dan keluargaku. Perlahan mungkin ingatan ini akan kembali. Tapi di masa nanti pun aku tidak akan pernah melepaskan Syafa. Aku berhutang nyawa padanya." Usai berbicara, Afkar langsung beranjak dari ruangan itu.
Tubuh Yara lemas seketika saat itu. Ia mendaratkan pantatnya di tepi tempat tidur. Betapa berat cobaan yang akan ia lewati kedepannya.
Afkar berjalan menuju pintu keluar. Langkahnya terhenti saat mendengar Syafa memanggilnya.
__ADS_1
"Mas ...," panggil Syafa seketika membuat Afkar menoleh kepadanya.
"Sayang ... Sejak kapan kamu di sini?" Afkar terlihat khawatir kalau Syafa mendengar semua ucapannya dengan Yara.
"Aku mendengar semuanya," ujar Syafa.
"Sayang, aku---," Syafa langsung menempelkan telunjuknya di bibir Afkar.
"Kamu tidak perlu menjelaskan apapun, Mas! Apapun yang menurutmu benar aku akan mengikutinya. Aku teriak jika memang aku adalah yang kedua dalam hidupmu karena memang kenyataannya seperti itu. Aku akan berusaha mengimbanginya. Kamu ingin bertemu keluargamu dan anakmu 'kan?" Tanya Syafa memastikan.
"Entahlah ... Aku masih bingung."
"Tapi aku menangkap jelas rasa rindu itu di wajahmu, Mas! saat kamu melihat foto mereka. Meskipun kamu tidak ingat tapi tatapan mata tidak bisa berbohong. Aku memperhatikan itu!" Ujar Syafa.
"Kamu tidak keberatan jika aku bertemu mereka?" Tanya Afkar dan mendapat gelengan dari Syafa.
"Sama sekali tidak. Aku juga ingin bertemu dengan keluargamu," balas Syafa sambil tersenyum hangat pada Afkar.
Tanpa banyak bicara lagi Afkar langsung menarik Syafa dalam pelukan.
"Aku beruntung bisa bertemu denganmu," bisik Afkar disela pelukannya pada Syafa.
Yara yang berada di ruang tengah hanya bisa menangis tanpa suara.
Akankah perih yang saat ini Yara rasakan bisa terobati. Hanya satu harapan Yara. Afkar bisa segera mengingatnya, sebab ia tidak tahu sampai kapan ia mampu menyaksikan suaminya bermesraan dan bermanja dengan wanita lain di hadapannya.
Yara bisa saja memberontak jika Afkar tidak hilang ingatan. Tapi berbeda dengan keadaannya saat ini. Yara harus mengahadapi jiwa baru dalam sosok lama suaminya.
.
.
.
Like komen dan Vote buat karya ini...
__ADS_1
Jangan lupa bintang 5 juga ya ...