
"Kamu bohong padaku! Kartu kredit ini tidak bisa dipakai! Kartu ini terblokir! Kamu sudah membuat aku malu!" Sarkas Alecia sembari menempelkan kartu kredit tanpa batas milik Afkar ke dada Afkar dengan kesal.
Alecia terlihat begitu marah pada Afkar. Pasalnya, wanita itu sudah banyak berbelanja barang-barang mewah di pusat perbelanjaan. Ia harus menahan malu karena kartu yang diberikan Afkar tidak bisa dipakai untuk membayar semua belanjaannya.
Afkar mengerutkan keningnya merasa tidak percaya dengan ucapan Alecia.
"Kamu bercanda! Kartu ini aktif dan masih bisa digunakan! Mungkin kamu salah saat menggunakannya!" Elak Afkar tidak percaya. Ia langsung meneliti kartu yang Alecia berikan padanya.
Seulas senyum smirk terpancar dari bibir Afkar. "Pantas saja tidak bisa dipakai. Ini kartu lamaku! Aku sudah berganti kartu saat ini!" Afkar segera mengeluarkan dompetnya di kantung celana. Pria itu segera mengambil kartu kreditnya yang lain.
"Ini yang baru! Kamu bisa kembali ke pusat perbelanjaan itu besok!" Afkar memberikannya pada Alecia. Setelah itu, Afkar berjalan mendekati meja kerjanya. Pria itu langsung duduk di kursi kebesarannya sambil memijat keningnya yang terasa pusing. Afkar merasa kesal karena perusahaannya tidak diterima ikut bergabung dengan perusahaan yang sudah mempunyai nama di luar negeri itu.
Beda halnya dengan Afkar yang pusing dan kesal. Senyum mengembang lebar terpancar dari wajah Alecia. Kekesalan dan amarah yang tadi memuncak seketika mencari begitu saja.
Usai mendapatkan kartu kredit yang ia inginkan. Alecia berjalan mendekati Afkar. Wanita itu duduk di atas pangkuan Afkar, tangannya melingkar di leher pria itu. wanita itu terus menggoda Afkar.
"Kamu kenapa, Sayang? Pusing?" Tanya Alecia. Sikapnya kembali berubah setelah wanita itu mendapatkan apa yang dia mau. "Apa kamu mau servis hebat dariku? Supaya beban di pikiranmu sedikit berkurang." Alecia baru saja hendak membuka kemeja yang Afkar pakai.
Brakkk...
Sebuah gebrakan di pintu membuat dua orang di dalam ruangan itu terkejut tanpa merubah posisi mereka.
"Maaf, Pak Afkar saya tidak bisa mencegah tuan besar masuk ke dalam ruangan ini," Ucap Miko sambil tertunduk karena merasa bersalah.
"Siapa kamu berani menghadang ku. Dia hanya menantu tidak tahu diri! Aku pemilik perusahaan ini!" Bentak Pak Rio pada Miko.
Keduanya melihat ke arah pintu. Hal itu sontak membuat Afkar langsung berdiri dan menjatuhkan Alecia yang berada di pangkuannya.
"Awww ... Sayang, Sakit!" Jerit Alecia kesakitan saat pantat semoknya mencium lantai marmer.
"Papa!"
"Begini kelakuan kamu di belakang Syafa? Kurang ajar! Menantu sampah! Tidak tahu diri!" teriak Pak Rio sambil berjalan mendekati Afkar dengan amarah yang membara.
"Ini ... ini ... Tidak seperti yang papa pikirkan. Aku bisa jelaskan semuanya!" Elak Afkar. Ia sedikit menjauh dari Alecia.
Bughhh ...
Pukulan keras mendarat tepat di perut Afkar. Saat Pak Rio berada di hadapan menantunya itu
"Kamu tahu, putriku sedang berjuang membela keluargamu. Kamu di sini asik-asik dengan ******!" Bentak Pak Rio dengan suara keras sambil menunjuk ke arah wanita yang berada tepat di belakang Afkar." Pak Rio menatap tajam pada Afkar kemudian beralih pada Alecia.
"Apa yang terjadi dengan keluargaku, Pah?" Tanya Afkar penasaran dengan mimik wajah yang langsung berubah cemas.
Alecia yang berdiri di belakang Afkar hanya diam saja sambil berusaha menutupi pakaian bagian depan yang terbuka.
"Kamu tanya papa?" Hardik Pak Rio dengan suara tinggi.
__ADS_1
"Aktifkan ponselmu! Hubungi Syafa!" Titah Pak Rio dan langsung di turuti oleh Afkar.
Afkar terkejut saat melihat puluhan panggilan dari istrinya itu. Dari malam sampai siang ini. Afkar segera menghubungi balik Syafa tapi sayangnya kali ini gantian Afkar yang sulit menghubungi wanita itu.
Pak Rio tidak ingin Syafa semakin khawatir. Pria itu kemudian beralih pada Alecia.
"Kamu wanita ****** pergi dari sini!" Teriak Pak Rio lalu mendapatkan gelengan dari wanita itu.
"Sayang ... Aku bagaimana?" Alecia mendekati Afkar sambil merengkek. Afkar menepis tangan Alecia yang hendak menyentuhnya.
"Pergilah!" ucap Afkar pada Alecia tanpa menoleh ke arah wanita itu. Afkar tengah sibuk dengan ponselnya.
Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan kemudian kembali mendekati Afkar.
"Hidupmu akan hancur jika kamu berani melanjutkan hubunganmu dengan dia!" ancam Pak Rio pada Afkar.
"Bawa dia keluar, Ko!" Titah Afkar pada asistennya.
"Siap, Pak!" Miko segera menarik tangan Alecia.
"Sayang, kamu tidak bisa mengabaikan aku!" rengek Alecia saat tubuhnya terseret paksa oleh Miko. Wanita itu terlihat memberontak saat diseret ke luar ruangan.
Tak ada sedikitpun tanggapan dari Afkar. Setelah Miko keluar dari ruangan. Roni, asisten Pak Rio juga ikut keluar dari ruangan itu.
Kini hanya ada Afkar dan Pak Rio berdua di dalam sana.
"Cukup, Pah! Cukup menghinaku seperti itu. Papa ingat kalau bukan karena aku, perusahaan ini tidak sukses seperti sekarang ini!" sahut Afkar yang merasa geram sebab dari tadi terus direndahkan oleh Pak Rio.
"Saya tidak butuh kerja keras dari pengkhianat sepertimu!" Hardik Pak Rio. "Kamu telah membuat kedua putriku sedih dan sakit hati. Apa ini balasan kamu kepada Syafa yang sudah mengangkat derajat mu dan keluargamu, hah!" geram Pak Rio sambil menarik kerah baju Afkar.
Afkar tersenyum miring. "Papa lupa siapa yang sudah menyembunyikan identitas dan menyuruhku menikahi Syafa? Papa sendiri yang memintanya." Afkar menekan Pak Rio. Ia tidak aku disalahkan sendiri dalam hal ini.
Pak Rio melepas cengkraman nya dengan kasar usai mendengar perkataan Afkar.
"Semua berawal dari papa. Kalau saja papa menyerahkan ku pada keluargaku mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Aku akan bahagia bersama Yara sampai hari ini. Secara tidak langsung papa 'lah yang menyebabkan kesengsaraan untuk Yara, putri papa sendiri." Afkar mencondongkan tubuhnya ke hadapan Pak Rio. Pria keras kepala dan egois itu tidak mau kalah dengan mertuanya.
"Tapi kamu memperkeruh keadaan dengan mengkhianati Syafa. Saya sangat tidak suka dengan pengkhianatan, kamu paham itu." Pak Rio balik menatap tajam pada Afkar.
Afkar tersenyum miring menanggapinya. "Aku manusia biasa yang tak luput dari dosa, sama seperti papa 'kan?" Sindir Afkar dengan seringai liciknya.
"Ingat Afkar! Semua fasilitas dan jabatan yang kamu nikmati saat ini adalah milik Syafa. Dan papa akan menariknya kembali," ancam Pak Rio.
"Sayangnya, Syafa sudah menyerahkan kekuasaan perusahaan ini padaku, Pah! Papa tidak bisa merebutnya. Sebab namaku sudah sah dalam kepemilikan perusahaan ini," balas Afkar dengan penuh kemenangan.
"Kamu benar-benar pria licik. Saya salah sudah memercayai semuanya padamu!" Pak Rio tidak percaya. Afkar berubah menjadi pria licik. Dia sudah merencanakan dan memindahkan kepemilikan perusahaan atas namanya sendiri!"
"Aku bukan pria bodoh, Pak Rio Wirawan." Afkar berbicara tegas seakan merendahkan pria yang ada di hadapannya ini.
__ADS_1
Bughh ...
Pukulan keras kembali dilayangkan Pak Rio untuk Afkar dan tepat mengenai perutnya.
"Itu untuk putriku Yara."
Afkar berusaha berdiri tegak. Naasnya saat dia bangkit berdiri.
Pukulan kembali di dapat di wajahnya.
Bughhh ...
"Dan itu untuk Syafa yang begitu bodoh mau diperalat oleh pria bajingan seperti kamu!"
Usai melampiaskan kemarahannya, Pak Rio berbalik badan dan melangkah keluar ruangan. Meninggalkan Afkar yang kesakitan akibat pukulan darinya.
"Roni, siapkan pencabutan sahamku dari perusahaan Syafa. Aku lebih rela kehilangan satu perusahaan yang susah payah kubangun daripada harus jatuh ke tangan menantu biadab itu. Buat dia hancur- sehancurnya. Siapkan satu tempat untuk Syafa. Aku tidak ingin putriku itu terus bersama Afkar," titah Pak Rio.
"Siap, Pak!"
Pak Rio pun melangkah cepat menuju mobilnya. Pria itu tidak mau ketinggalan acara yang penting hari ini. Bisa bertemu dengan Yara, anak kandungnya yang lain.
Pak Rio ingin menyaksikan kesuksesan yang diraih Yara. Meskipun dirinya hanya bisa melihat dari jauh.
Afkar tersenyum miring sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah, setelah kepergian papa mertuanya.
"Saya masih punya sopan santun untuk tidak membalas kamu, pak tua!" ucap Afkar.
Setelah itu Afkar pun bergegas meraih kunci mobilnya.
"Ko, tunda semua pertemuan ku hari ini!" Ucap Afkar pada Miko yang berada di luar ruangannya.
"Tapi jam dua siang nanti ada pertemuan penting, Pak!"
Afkar tidak menyahuti. Pria itu terus saja berjalan cepat tanpa membalas ucapan Miko.
"Ah ... Sial. Nasib bawahan memang seperti ini. Mana rekan bisnis Pak Afkar siang nanti orangnya rewel. Pusing deh gue!" Miko menepuk keningnya sendiri. Merasa bingung, alasan apa yang harus dia berikan pada rekan bisnis bosnya itu.
.
.
.
.
To Be continued
__ADS_1