Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Andrea Wilson


__ADS_3

Cukup sehari Yara dan keluarganya tinggal di panti asuhan tempat tinggal Yara dulu.


Bu Lidia dan Mama Anggi semakin akrab semenjak mama mertuanya pernah ikut ke tempat itu tempo hari.


“Bu, maaf. Yara tidak bisa tinggal lebih lama. Tapi tolong adakan acara tahlilan sampai tujuh hari di sini! Untuk biayanya akan Yara kirimkan ke ibu seperti biasa,” ucap Yara pada Bu Lidia.


“Iya, Nak. Ibu akan lakukan apa yang kamu pinta,” sahut Bu Lidia. Kemudian wanita itu beralih pada Mama Anggi. “Apa Anda yakin akan pulang sekarang? Kenapa tidak tinggal lebih lama di sini?” tanya Bu Lidia.


Mama Anggi tersenyum. “Maaf, Bu Lidia. Lain kali saja, lagi pula ayahnya Erza sedang banyak pekerjaan. Jadi saya tidak mungkin meninggalkan beliau,” jawab Mama Anggi kemudian beralih pada Yara. “Bukankah di Jakarta juga akan diadakan tahlilan?” tanyanya.


“InsyaAllah iya, Mah,” jawab Yara.


Kedua keluarga itu berpamitan untuk kembali ke Jakarta. Masih jelas kesedihan yang terlihat setelah kehilangan orang tercintanya itu. Roni, mantan asisten Papa Rio itu juga pamit pada semuanya. Jarak tempat tinggalnya saat ini tidak begitu jauh dari sana.


“Fa, Maaf aku tidak bisa ikut ke Jakarta lagi. Apa yang kamu minta sudah terselesaikan dengan baik. Tinggal menunggu proses saja. Kalau ada apa-apa bisa menghubungiku lagi, nanti,” ucap Roni saat mengantarkan Syafa dan yang lain ke Bandara.


“Terima kasih atas bantuannya, Mas Roni. Maaf aku selalu merepotkanmu,” sahut Syafa sembari menundukkan kepala pada Roni.


Roni hanya bisa tersenyum membalas ucapan Syafa. Ada rasa berat hati saat berpisah dengan wanita itu. Roni sadar dirinya masih belum bisa masuk ke dalam kehidupan Syafa. Apalagi saat ini, Syafa seakan menutup diri dari siapapun. Kejadian demi kejadian yang Syafa alami sedikit banyak membuat sikap Syafa berubah. Tak ada lagi sifat manja Syafa padanya. Roni hanya bisa mengantarkan sampai di bandara saja. Lambaian tangan menjadi saksi perpisahan Roni dengan wanita yang namanya masih ada di hatinya itu.


‘Semoga kamu bahagia, Fa. Aku doakan yang terbaik untukmu.’


Batin Roni yang memandang Syafa dari kejauhan hingga wanita itu menghilang dari pandangannya memasuki area boarding pass.


Perjalanan dari Mojokerto - Jakarta tak terasa sudah dilalui. Dua mobil telah menunggu di luar bandara. Mama Anggi dan Papa Rangga pamit pulang ke rumah mereka dengan mobil yang berbeda. Sedangkan Erza, Yara, Syafa, dan Dhiya berada dalam mobil yang sama. Dua mobil itu berpisah arah saat dalam perjalanan.


Mobil yang ditumpanginya Yara dan yang lainnya tiba di depan kompleks perumahan keluarga Wirawan. Rumah mewah milik almarhum papa-nya itu berbeda dari biasanya. Papan bunga bertuliskan turut berdukacita banyak terpampang di sepanjang jalan menuju rumah tersebut. Rasa kehilangan kembali terasa.


Yara menghela napas berat saat melihat banyak sekali papan ucapan itu. Satu persatu penumpang dalam mobil keluar saat mereka tiba di teras rumah. Mereka langsung masuk ke dalam rumah.


Seorang wanita tua langsung berjalan mendekat saat mengetahui kedatangan majikannya itu. Ia menunduk sopan menyambut mereka.


“Selamat malam, Nona,” ucap Bi Tum yang menyambut kedatangan mereka.


“Malam, Bi,” sahut Yara dan Syafa bersamaan.


“Bibi belum tidur?” tanya Syafa.


Wanita itu hanya menggelengkan kepala membalasnya. “Bibi menunggu kepulangan kalian. Bibi juga sudah menyiapkan makan malam,” ujar Bi Tum.


“Terima kasih, Bi. Sebaiknya bibi sekarang beristirahat. Nanti kami makan ko,” lanjut Yara.


“Tapi ---,” ucapan Bi Tum terpotong cepat oleh Syafa.


“Benar kata Yara, sebaiknya bibi beristirahat!” timpal Syafa.


Akhirnya Bi Tum mengikuti ucapan Syafa. Wanita tua itu berlalu dari hadapan semuanya.


“Ayo, Kak! Istirahat dulu! Kamu pasti lelah,” ajak Yara pada Dhiya. Anak kecil itu juga mengangguk mengikuti perintah bundanya.


“Loh, Dhiya nggak ikut tidur sama mamih?” tanya Syafa.


Dhiya menggelengkan kepalanya pelan. “Mau sama bunda,” jawab Dhiya.


“Ya sudah kalau begitu, mamih juga mau bersih-bersih dulu.” Syafa mengacak pelan rambut Dhiya kemudian beralih pada Yara. “Kamu juga, Ra. Habis bersih-bersih, lebih baik kita makan dulu. Ingat kamu sedang hamil harus banyak makan agar nutrisi keponakanku tercukupi,” ujar Syafa sembari mengusap pelan perut buncit Yara.


Seulas senyum terukir di bibir ibu hamil itu. “Kita makan sama-sama nanti, itu lebih baik. Mba Syafa juga belum makan bukan?”

__ADS_1


Syafa mengangguk pelan. “Ya, kita makan sama-sama setelah membersihkan diri,” balas Syafa sembari mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suami dari adiknya itu. “Erza, Mana?” Syafa lanjut bertanya.


“Mas Erza pamit angkat telepon dulu.”


“Kalai begitu aku duluan ya,” pamitnya pada Yara kemudian beralih pada Dhiya. “Mamih duluan ya,” ucap Syafa pada Dhiya.


Anak gadis itu mengangguk menjawabnya. Yara dan Dhiya pun melangkah menuju kamar nya. Sambil menunggu Erza kembali ke kamar. Yara menunggu Dhiya membersihkan diri di kamar mandi. Wanita hamil itu juga tak lupa menyiapkan pakaian ganti untuk Erza, suaminya.


“Kenapa Mas Erza lama sekali ya? Apa ada hal penting yang dia bicarakan?” gumam Yara seorang diri. Sebab Erza lumayan lama belum kembali semenjak pamit padanya untuk menerima telepon.


“Bunda, tolong bantu keringkan rambutku,” pinta Dhiya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


“Ah, iya. Sayang. Sebentar, bunda ambil dulu hairdryer dulu,” Yara berjalan menuju meja riasnya kemudian mengambil barang yang dibutuhkan. Dengan perlahan dan lembut, Yara mengeringkan rambut basah Dhiya dengan hairdryer di tangan Yara. Rambut hitam legam panjang itu dengan cepat mengering. Tak lama Erza pun masuk ke dalam kamar.


Pria itu tersenyum saat melihat Yara dan Dhiya berada di kamar itu. Erza pun berjalan mendekati mereka.


“Eum, wangi sekali putri papa.” Erza mencium pucuk kepala Dhiya.


“Iya, dong ‘kan habis mandi,” ujar Dhiya dengan bangga.


Erza beralih pada Yara. “Bunda juga wangi.” Erza lanjut mencium pucuk kepala Yara.


“Apaan orang bunda belum mandi, Pah!” serobot Dhiya memberitahu.


“Benarkah? Ko wangi juga ya?” canda Erza sambil merangkul tubuh Yara yang berdiri di belakang tubuh Dhiya.


“Itu mah papa saja yang bucin sama bunda,” celetuk Dhiya dan mendapatkan kekehan dari Erza.


“Gimana gak bucin coba. Gak mandi saja bunda kamu sudah wangi dan cantik begini. Apalagi kalau mandi,” goda Erza sambil mencium pipi Yara di depan Dhiya. Anak perempuan itu memutar bola matanya. Merasa sebal dengan ucapan Erza. Meskipun begitu, ada rasa senang di hati Dhiya melihat kebahagiaan dari bundanya.


“Kalian kapan mau makan?” tanya Syafa yang terlihat sudah segar habis membersihkan diri. “Loh, belum pada mandi?” Syafa menatap heran pada Yara.


“Tadi Dhiya duluan yang mandi jadi sekarang gantian aku yang mandi, Mba. Kalau Mba Syafa mau makan duluan aja, nggak papa ko,” ujar Yara.


Syafa hanya mengangguk-angguk menjawabnya.


“Sama aku saja, Mih. Aku ikut mamih. Di sini denger papa bucin sama bunda, bosen,” ledek Dhiya sambil mendelik ke arah Erza. Anak itu berjalan mendekati Syafa yang ada di ambang pintu.


Pria yang sedang diledek oleh Dhiya hanya bisa menyengir saja.


“Ya sudah kalau begitu. Aku dan Dhiya duluan, ya,” ucap Syafa.


“Ya, nanti kami menyusul,” sambung Yara.


Pintu ruangan pun ditutup Syafa dan Dhiya pergi lebih dulu ke rumah makan. Sedangkan Yara dan Erza bergantian untuk mandi. Selesai mandi pasangan suami lekas menyusul Syafa dan Dhiya yang memang sedang menunggu mereka untuk makan malam bersama. Akhirnya satu keluarga itu makan malam dengan khusuk. Selama makan keempatnya tak banyak bicara sehingga kegiatan makan berlangsung dengan cepat.


Syafa yang menyelesaikan makannya lebih dulu pamit pada Erza dan Yara untuk segera beristirahat. Karena Syafa merasa lelah karena perjalanan jauh yang mereka lalui tadi. Begitu juga dengan Dhiya. Anak perempuan itu juga baru saja menyelesaikan makannya. Dan Dhiya pun kembali memilih tidur bersama Syafa.


“Bunda, aku sudah selesai makan. Aku mau tidur sama Mamih lagi, ya?” ucap Dhiya.


“Loh, katanya mau sama bunda,” balas Yara.


Dhiya menggelengkan kepala membalasnya. “Nggak ah, sama Mamih aja, kasihan Mamih sendiri,” Ujar Dhiya membuat Syafa yang hendak pergi meninggalkan meja makan langsung berjalan mendekati anak itu.


“Ah, kamu tahu saja. Mamih tidak bisa tidur sendiri,” ucap Syafa sembari merangkul Dhiya kemudian menyatukan kepalanya dengan Dhiya.


“Kalian tidak apa aku tinggal? Kami berdua duluan ke kamar,” ujar Syafa.

__ADS_1


“Ya silakan, Mba. Kamu dan Dhiya pasti cape. Aku sama Mas Erza juga selesai makan mau langsung istirahat,” sahut Yara.


“Ya sudah kalau begitu. Kami duluan ya,” ucap Syafa kemudian beralih pada Dhiya. “Ayo, Sayang!” ajaknya pada Dhiya. Anak perempuan itu menganggukkan kepalanya. Kemudian beralih pamit pada Yara dan Erza.


“Dhiya istirahat duluan ya, Mah, Pah,” ucap Dhiya sembari berdiri dan berjalan mendekat pada Yara. Tak lupa mencium singkat pipi bundanya itu. Begitu juga dengan Erza.


Suasana terasa sepi di meja makan itu. Kegiatan makan malam pun telah selesai. Tinggal Erza dan Yara berdua di sana. Yara merasa ada yang Erza sembunyikan darinya. Tidak biasanya suaminya itu diam setelah menerima telepon tadi. Erza yang biasanya langsung bercerita dengan siapa dia berbicara dan apa yang mereka bicarakan. Kini hanya diam tak bercerita pada Yara.


Yara melihat raut wajah bingung pada suaminya itu. Tidak mau mempunyai pemikiran buruk. Akhirnya Yara memilih menanyakan sendiri apa yang terjadi.


“Mas, kenapa?” tanya Yara pada Erza.


“Kenapa apanya, Sayang? Mas tidak kenapa -napa ko,” sahut Erza.


Yara mengulas senyum. Wanita itu lekas berdiri mendekati suaminya. “Jangan pernah menutupi sesuatu dari aku, Mas!”


“Huh,” Erza membuang napas berat. Sebisa mungkin menutupinya dari Yara tapi tetap saja feeling seorang istri pasti tepat.


“Aku harus segera kembali ke Swiss. Salah satu rekan bisnisku tidak terima kalau proyek yang sedang berlangsung di wakilkan oleh sekretaris ku,” seru Erza. Pria itu akhirnya mengungkapkan apa yang ia bicarakan dengan sekretaris nya di telepon tadi.


“Proyek yang mana, Mas?” tanya Yara.


“Proyek yang mas ceritakan sama kamu itu. Proyek yang dilimpahkan Pak Dimar pada putrinya.”


“Oh, ya aku ingat itu, Mas. Itu ‘kan proyek penting.”


“Makanya aku bingung harus bagaimana?” Erza terlihat memijit keningnya pelan.


“Kenapa bingung? Kita akan kembali ke Swiss,” ucap Yara dan langsung membuat Erza mendongak menatapnya. Pria itu lekas berdiri dari duduknya.


“Kamu yakin akan ikut kembali denganku ke Swiss, Sayang?” tanya Erza. Saat ini pasangan suami istri itu saling berhadapan.


“Yakin, Mas. Aku akan ikut kemanapun kamu pergi. Aku tidak akan meninggalkan kamu sendiri di sana.”


“Bagaimana dengan Dhiya dan Kandunganmu? Aku takut kalian lelah dan kecewa berada di Indonesia hanya sebentar.”


“Aku malah lebih sedih dan tidak bisa tenang berpisah denganmu, Mas.”


Ucapan Yara membuat mimik wajah Erza berubah seketika. Seulas senyum pun terpancar dari wajah pria itu.


“Aku juga tidak bisa berpisah denganmu, Sayang. Makanya aku merasa bingung kalau kembali ke Swiss dan tidak ada kamu di sisiku nanti.” Erza menatap Yara dengan senyum. Kemudian merentangkan tangannya agar Yara memeluknya.


Tanpa banyak bicara lagi, Yara menghamburkan diri dalam pelukan Erza. “Ajak aku dan Dhiya kemanapun kamu pergi, Mas,” ucap Yara di sela pelukannya dengan Erza.


“Pasti, Sayang,” sahut Erza yang langsung mencium pucuk kepala istrinya.


Di negara lain tepatnya di Swiss. Seorang wanita tersenyum senang saat komunikasi dengan lawan bisnisnya berakhir. Sedikit gertakan membuat lawan bisnisnya itu bimbang.


“Aku akan bertemu dengan pria itu lagi. Padahal, pekerjaan ini tidak ada masalah sama sekali. Aku hanya ingin melakukannya bersama dia. Ketegasan dan caranya bekerja membuatku ingin selalu bersama dia. Pak Erza kita akan bertemu kembali,” ucap Andrea dengan seulas senyum licik di wajahnya. Wanita itu tidak peduli dengan status Erza yang sudah beristri. Andrea Wilson yang tidak akan pernah menyerah jika menginginkan sesuatu.


.


.


.


To Be continued

__ADS_1


__ADS_2