Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Mengikhlaskan Dan Memaafkan Memang Sulit


__ADS_3

Yara berusaha menguatkan hatinya meskipun saat ini keadaan tidak sesuai harapan. Meskipun dari luar terlihat acuh dan benci. Jauh di lubuk hati Yara. dia merindukan kasih sayang papa dan kakak yang selama ini ia dambakan.


Seorang wanita yang selama ini tahu perjalanan hidup semasa kecil Yara masuk ke dalam kamar pengantin. Bu Lidia, seorang wanita pengganti yang sudah seperti mama bagi Yara saat di panti asuhan. Wanita itu datang ke acara pernikahan Yara. Sungguh sebuah kekuatan buat Yara. Dan siapa lagi yang berhasil membuat hati Yara jatuh hati kalau bukan Erza. Karena pria itu berhasil mempertemukan Yara dan Bu Lidia. Bahkan Erza rela memerintahkan anak buahnya untuk menjemput Bu Lidia di kampung.


Bu Lidia mendengar ucapan Yara. Ucapan yang bertolak belakang dengan keinginan.


"Jangan berucap buruk pada siapapun. Bagiamana jika apa yang kamu ucapkan benar kejadian," ucap Bu Lidia saat dirinya masuk ke dalam kamar Yara. "Jangan bohongi hatimu, Ra. Ibu yakin kalau bukan wanita pendendam." Bu Lidia mendekat Yara menatap manik mata wanita muda itu. Pancaran kekecewaan memang terlihat jelas di sana. "Ibu tidak pernah mendidik kamu seperti itu, Nak! Jauhkan rasa dendam dan benci dalam hati kamu. Ikhlaskan peristiwa yang sudah terjadi. Jangan pernah mendahului kejadian Sang Pencipta. Sekarang waktunya kamu bahagia." Bu Lidia mengingatkan Yara.


Wanita yang cantik dengan riasan pengantin itu menunduk saat mendengar nasehat dari Bu Lidia..


Di luar ruangan tepatnya di meja akad. Pria yang ditunggu kehadirannya itu telah duduk di kursi wali mempelai wanita. Beliau datang bersama seorang wanita hamil dan pria yang setia menemani Pak Rio selama ini, Roni dialah orangnya.


Roni mendekat pada Pak Rio dan sedikit membungkukkan badan pada pria tua itu.


"Anda yakin bisa melakukannya, Pak? Anda bisa minta wali hakim untuk mewakili," ucap Roni kembali mengingatkan Pak Rio akan kesehatannya yang sedang kurang sehat itu.


Syafa yang melihat itupun ikut mendekati. "Benar kata Mas Roni, Pah. Kalau papa tidak kuat, biar di wakili saja."


Erza mendengar percakapan mereka. Pengantin pria itu pun ikut menimpali. "Apa Anda baik-baik saja, Pak?" Tanya Erza.


"Aku baik-baik saja, kalian tidak perlu khawatir," seru Pak Rio.


Erza mengangguk pelan menangapinya.


Melihat syarat wajib jika sudah lengkap Pak Penghulu segera memulai acar ajib kabul. Dan meminta pengantin wanita segera hadir di tengah-tengah mereka.


Dengan langkah pelan dan hati-hati Yara tiba di meja akad. Wanita itu terkejut saat mendapati Pak Rio sudah berada di sana.


'Papa ... Ternyata dia datang!'


Batin Yara.Yara menoleh ke sisi Pak Rio. Ia juga terkejut saat mendapati Syafa yang sedang berbicara dengan Dhiya. Seketika Yara terlihat panik. Matanya kembali berkeliling mencari sesuatu. Yara takut ada Afkar di tempat itu.


"Afkar tidak ada di sini! Papa-mu hanya datang bertiga bersama Syafa dan juga asistennya saja," bisik Erza yang paham dengan sikap Yara.


Setelah semuanya siap, acara akad nikah pun segera di mulai. Tapi sebelumnya pak penghulu memberikan sedikit wejangan kepada kedua pengantin sebelum menikah. Kemudian Yara selaku pengantin wanita dipersilahkan meminta ijin pada wali nikahnya. Saat permohonan ijin berlangsung suasana sebegitu menyayat hati. Siapapun yang melihatnya pasti ikut bersedih dan meneteskan air mata.


Yara di bantu oleh penghulu dalam setiap kata yang ia ucapkan pada papa-nya.


"Saudari Ayara ikuti ucapan saya," ucap Pak penghulu pada Yara. "Tolong pegang tangan papa-nya!"


Yara duduk berhadapan dengan Pak Rio. Hanya bersekat meja diantara mereka.


Yara mengangguk kemudian mengikuti setiap kata yang diucapkan pak penghulu.


"Papa ... Hari ini, saya Ayara Faeqa meminta ijin pada papa untuk dinikahkan dengan orang yang saya cintai." Yara berbicara dengan nada gemetar. air mata mulai menetes. Wanita itu sempat menghentikan ucapannya. Bu Haryani berjalan mendekat pada Yara dan memberikan tissue untuk mengusap air matanya.


"Kamu bisa, Ra. Kamu kuat," bisik Bu Haryani.

__ADS_1


Yara mengangguk pelan dan di rasa sudah tenang Pak penghulu kembali melanjutkan ucapannya dan kembali di ikuti oleh Yara.


"Papa ... Yara berharap dengan ijin dari papa, rumah tangga Yara ini diberikan kebahagiaan."


Isak tangis mengiringi kata demi kata yang Yara ucapkan kepada Pak Rio. Di hadiri oleh papa-nya lebih menyakitkan dibanding tak di hadiri di pernikahan terdahulunya. Dalam hati Yara terselip satu harapan. Semuanya akan membaik. Meskipun ia tidak tahu kapan itu akan terjadi.


Erza, pria yang ada di sampingnya memberikan kekuatan pada Yara. Ia menggenggam tangan Yara yang satunya. "Kamu kuat, Sayang,x ucap Erza tanpa suara.


Tak jauh beda dengan Yara. Pak Rio juga ikut terisak. Deru napasnya tersengal saat mendengar permintaan ijin Yara padanya. Putri yang selama ini tidak bersamanya. Putri yang telah ia sakiti perasaanya. Andai saja ia tidak egois waktu itu. semua tidak akan pernah terjadi. Tapi sekuat tenaga Pak Rio menahannya agar mampu melewati Sampai pernikahan ini selesai. Sampai akhirnya acara yang paling ditunggu pun tiba.


Erza mampu mengucap ijab kabul dengan lancar. Kata sah dari para saksi membuktikan kalau saat ini Yara dan Erza resmi menjadi pasangan suami istri. Setelahnya ijab kabul selesai, pak penghulu membacakan doa terlebih dulu untuk kedua mempelai.


Orang yang pertama memberikan selamat adalah Pak Rio. Dibantu Roni untuk berdiri pria tua itu berhadapan dengan Yara.


Satu persatu sanak saudara dari pihak Erza memberi selamat kepada kedua pengantin. Begitu juga dengan Syafa. Ia memberi ingin memberi selamat pada Yara, adiknya.


"Selamat atas pernikahan kamu dengan Erza," ucap Syafa sambil menggandeng Dhiya ke hadapan Erza dan Yara.


Dhiya terlihat begitu dekat dengan Syafa. Bagaimanapun selama dalam a


"Terima kasih," Jawab Erza. Pria itu lekas pamit sebentar untuk menemui sahabatnya Beno yang hadir dalam pernikahannya itu. Padahal itu hanya alasan Erza saja. Agar Syafa bisa leluasa berbicara dengan Yara.


Usai Erza beranjak dari sisinya. Yara dengan cepat mengambil alih Dhiya dari tangan Syafa. Yara takut kalau Syafa anak membawa Dhiya pergi. Syafa memahami sikap Yara.


"Aku tidak akan mengambil dan memberi tahu Afkar soal Dhiya. Meski aku tidak tahu bagaimana caranya anak ini ada bersama kamu tapi aku mendukungnya. Mas Afkar tidak berhak memisahkan anak dari ibunya," ucap Syafa.


"Terima kasih, Mba. Sudah mengerti aku." Yara, wanita itu mulai berdamai dengan keadaan. Bersama Erza tidak ada yang Yara takutkan lagi.


"Sekarang semua sudah tidak ada artinya buat aku, mba. Suamiku sekarang Erza. Dan maaf, aku akan segera mengambil alih hak asuh Dhiya dari tangan kalian." Yara menegaskan.


"Ya, silahkan. Lakukan apa yang menurutmu benar, Ra. Aku pasrah dengan keadaan rumah tanggaku saat ini. Kalau memang kehadiran ku selama ini berarti dalam hidupnya, Mas Afkar akan mencari aku."


Yara mengerutkan alis mendengarnya. Ia tidak tahu kalau keadaannya akan jadi seperti ini. Yara juga tidak menyangka semua menjadi berantakan begini.


"Maaf, aku tidak hadir saat bapak meninggal. Aku tidak mau, ada perdebatan saat itu," tutur Yara.


"Aku mengerti, Ra. Tapi Mira ingin sekali bertemu dengan kamu. Kalau sempat temui dia. Ibu juga menanyakan kamu."


Yara tersenyum miring mendengar nama Bu Nuri.


"Untuk apa ibu bertemu denganku, aku hanya menurut tidak berguna untuknya."


"Percaya ataupun tidak, semenjak Mira sembuh dari depresinya, perlahan sikap Bu Nuri berubah, Ra. Dia ingin sekali bertemu kamu untuk meminta maaf."


"Akan aku usahakan, Mba."


Dhiya yang berada di antara mereka tidak banyak bicara. Meski diam tapi anak kecil itu paham dengan apa yang dibicarakan oleh bunda dan mamihnya itu.

__ADS_1


Roni asisten Pak Rio menyusul Syafa ke dalam ruangan. Pria itu membisikkan sesuatu pada Syafa.


Syafa lekas menoleh dengan tatapan tidak percaya. "Baik aku segera menyusul."


"Aku memang tidak berarti bagi papa," ujar Yara saat melihat kepergian Roni usai membisikkan sesuatu pada Syafa.


"Jangan selalu berpikiran buruk tentang papa, Ra. Pria keras kepala itu kejam di luar. Tapi hatinya rapuh." Syafa menjeda ucapannya. ia berusaha menyembunyikan kekhawatiran. " Aku dan papa pamit, kami tidak akan berlama-lama di sini. Kami senang melihat kebahagiaan kamu, Ra. Maaf papa harus pulang lebih dulu. Dia tidak mau karena keberadaannya di sini membuat kamu semakin membencinya. Aku tahu kesalahan papa begitu besar. Andai saja dia tidak menyembunyikan identitas Mas Afkar semua tidak akan seperti ini. Aku dan kamu tidak akan terbelit hubungan yang rumit. Sikap Mas Afkar tidak akan berubah seperti sekarang ini." Syafa lekas menundukkan kepala.


"Pada dasarnya, Mas Afkar mempunyai sikap yang baik, mba. Saat ini hanya Mba Syafa yang bisa membantunya mengingat semuanya."


Syafa hanya bisa tersenyum menanggapinya. "Aku tidak yakin, Ra." Syafa membuang napas berat. wanita itu segera pamit pada Yara.


"Aku pamit, sekali lagi selamat atas pernikahan kalian." Usai berbicara Syafa berjongkok meskipun sedikit kesulitan Karena perutnya yang sedikit membesar.


"Dhiya, maafin Mamih. Mamih yakin kamu bahagia sama bunda." Syafa lekas memeluk Dhiya sesaat kemudian berdiri kembali.


Manik mata Syafa dan Yara saling bertemu. keduanya saling memancarkan rasa kerinduan yang amat dalam. luruh sudah rasa benci dan kecewa untuk Syafa.


Syafa langsung memeluk Yara. "Maafkan semua kesalahan Mbak, Ra! Maaf karena membuat hidupmu hancur dan rumah tanggamu bersama Mas Afkar berantakan. Semua yang mba alami saat ini adalah buah dari keegoisan mba dan papa. Mba harap dengan berjalannya waktu luka di hatimu bisa sembuh dan bisa memaafkan kami. Yang harus kamu ketahui. Mba dan papa sangat sayang sama kamu," Syafa melepaskan pelukannya. Lalu menepuk pipi Dhiya dengan lembut. "Sampai jumpa lagi, Sayang!"


Syafa pun berlalu dari hadapan Yara.


Tes ...


Setetes air mata jatuh dari sudut mata Yara. Perih dan sedih mendengar ucapan Syafa. Menatap nanar ke arah Syafa yang perlahan menghilang dari pandangannya.


"Sayang," panggil Erza.


"Za," Yara langsung memeluk suaminya. Kesedihan begitu berat ia rasa.


"Ikhlaskan! Hanya itu yang akan membuat perasaan kamu lega sekarang ini. Susah memang, tapi kamu harus berusaha, Sayang!" Erza merangkul Yara dan mencium keningnya.


Mengikhlaskan dan memaafkan adalah sesuatu yang sangat sulit. Apalagi saat ada luka yang tertoreh di hatim Waktu adalah obat terbaik yang akan menyembuhkan semuanya. Rasa benci dan dendam akan terus berakar jika dalam jiwa kita tidak bisa melepaskannya. Hal buruk itu pun akan membuat kehancuran perlahan -lahan.


Jadilah manusia bijak yang mampu memaafkan. Sehingga kemudahan setelahnya akan kita raih.


.


.


.


To be continued


Marhaban Ya Ramadhan... Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin.


Besok kita mulai puasa. Maafin kalau Author ada salah kata ya.. Pastinya banyak karena typo 😁😁...

__ADS_1


Semangat ya puasanya...


Maafkan kemarin tidak sempat update. Author mabok daging sapi 😂 bagikan paket daging jadi kbelenger...


__ADS_2