
Yara menangis dalam pelukan Erza saat mereka bertemu. Erza menyambutnya dengan hangat. Calon suaminya itu memberi waktu Yara untuk menumpahkan tangisnya. Tidak bertanya juga apa yang terjadi, sebab Erza mengetahui semuanya.Ia membuntuti Yara yang saat itu memberi pertolongan pertama pada Pak Rio.
Setelah di rasa cukup tenang, Erza baru angkat bicara. "Sudahlah, lebih baik kita, pulang! Bu Haryani sudah menunggu di depan," ujar Erza sambil menepuk pelan pundak Yara.
Yara menganggukkan kepala sembari melepaskan pelukannya. Mereka pun segera keluar dari gedung itu.
"Bu," panggil Yara pada Bu Haryani yang baru saja selesai menerima telepon. Bu Haryani menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya.
"Ra, ibu kira kau sudah pulang!" sahut Bu Haryani.
"Kami ada keperluan dulu. Jadi baru keluar," Erza yang menjawab.
"Oh, Ya sudah kita pulang sekarang! mama-mu baru saja telepon, dia baru saja sampai. Beliau terjebak macet!" ujar Bu Haryani. Beliau melihat raut wajah Yara yang sembab. wanita itu paham kalau Yara habis menangis. Ia mengurungkan niatnya untuk memberikan pemberian dari Pak Rio untuknya.
Ketiganya pun keluar gedung bersamaan. Bertepatan dengan sebuah mobil yang berhenti tepat di hadapan mereka.
Seorang wanita cantik keluar dari sana sambil membawa dua buket bunga cantik di tangannya.
Bu Haryani tersenyum melihat kedatangan sahabatnya itu.
"Selamat atas pembukaan butik barunya," ucap Mama Anggi sambil memberikan satu buket untuk Bu Haryani sambil memeluk singkat wanita itu.
"Terima kasih, Nggi!" balas Bu Haryani usai mereka berpelukan.
Mama Anggi beralih pada Yara. "Calon mantuku!" Mama Anggi merentangan tangannya untuk memeluk Yara. "Selamat untukmu, Sayang! Semoga sukses dalam berkarya!" Ucap Mama Anggi disela pelukannya.
"Terima kasih, Mah!" Sahut Yara.
Perlahan Mam Anggi meregangkan pelukannya. "Ini untukmu! Maaf aku datang terlambat! Ada sebuah insiden kecil di jalan tadi. Di tambah perjalanan menuju ke tempat ini macet. Ah ... Kapan ibukota ini terhindar dari kata macet!" Tutur Mama Anggi dan mendapat senyuman dari ketiga orang di hadapannya.
"Papa, mana, Mah?" Tanya Erza karena tidak melihat keberadaan Papa Rangga.
"Papa mu ada di dalam mobil!"
"Kenapa tidak keluar?"
"Tadi di jalan, mama ketemu sama anak kecil di taman. Dia sedang menangis sendirian. Pas mama mau bawa di kantor polisi, anak itu menolak malah menangis kencang. Ya akhirnya mama ajak aja ke sini sambil di gendong papa kamu."
"Anak kecil?" Tanya Yara.
"Hmm ... lucu dan cantik sekali! Sekarang masih nemplok di pangkuan papa kamu sampai tertidur. Mau di bangunin, kasihan."
"Bunda ..."
Terdengar suara anak kecil menangis dari dalam mobil.
Yara melirik sambil mengerucutkan alis.
'Kenapa aku merasa kenal dengan suara anak itu'
Batin Yara penasaran.
"Nah, anak itu pasti bangun. Dari tadi yang dia panggil Mamih dan bunda," ujar Mama Anggi.
Mendengar itu, Yara semakin penasaran. Papa Rangga keluar dari dalam mobil, dan anak itu masih tak lepas dari gendongannya.
"Dhiya mau pulang!" Tangisan itu terdengar sendu dan pilu.
"Cup ... cup ... Sayang, Iya kita pulang ke rumah kamu, ya!" ucap Papa Rangga sambil menenangkan anak itu. Kemudian berjalan ke arah empat orang yang sedang bersama, Erza, Yara, Bu Haryani dan Mama Anggi.
Anak kecil itu di gendong menghadap Papa Rangga sehingga sulit bagi Yara melihat wajah anak kecil yang bersembunyi di tengkuk leher calon papa mertuanya itu.
"Mah, sebaiknya kita ke kantor polisi saja. Kasihan anak ini, orang tuanya juga pasti sedang mencarinya," usul Papa Rangga.
"Ya, sebaiknya seperti itu." Mama Anggi mengusap pelan rambut anak kecil itu.
__ADS_1
Yara terdiam menelisik anak kecil yang memunggungi nya. Perasaan seorang ibu itu tidak pernah salah. Yara merasa yakin kalau anak kecil di hadapannya itu adalah putrinya.
"Dhiya!" Celetuk Yara.
Erza, Bu Haryani, Mama Anggi dan Papa Rangga berbarengan menatap Yara. Begitu juga Dhiya yang sedang menyembunyikan wajahnya dalam tangis. anak kecil itu melepaskan tangannya dari leher Papa Rangga, menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.
Wajah Yara langsung berbinar bahagia saat melihat anak kecil yang ada dalam gendongan Papa Rangga.
"Dhiya ... Anak Bunda!" Ucap Yara di sertai Isak tangis bahagia saat melihat anak itu.
"Bunda!" teriak Dhiya seraya mengulurkan kedua tangannya minta di gendong oleh wanita itu.
Papa Rangga menurunkan Dhiya. Anak Kecil itu langsung berlari ke arah Yara. Dan dengan sigap Yara meraih tubuh anak itu. Memeluknya erat, saling menumpahkan rasa rindu.
"Dhiya, putriku!" Yara mengusap lembut pucuk kepala Dhiya.
"Bunda, Aku takut! Mamih gak datang jemput! Aku takut ada orang gila yang lempar batu!" Dhiya kembali menumpahkan tangisnya. Anak itu sesegukan di pelukan Yara.
Yara memberikan sentuhan lembut yang menenangkan pada Dhiya. "Jangan takut lagi, Sayang! Sekarang ada Bunda. Kamu tidak usah takut, ya!" Yara meregangkan pelukannya. Dan mengusap air mata Dhiya yang membasahi pipi anak itu.
Mama Anggi dan Papa Rangga tidak menyangka kalau anak kecil yang mereka tolong adalah anak dari Yara.
"Sebaiknya kita ajak Dhiya pulang ke rumah, Ra! Kasihan dia!" Ajak Bu Haryani.
Yara mengangguk pelan.
"Ya sebaiknya ajak anakmu beristirahat, Ra. Sepertinya dia sangat ketakutan. Mama tidak menyangka kalau anak itu adalah anakmu, anak cantik yang akan menjadi cucu kita!" Mama Anggi mengusap pelan pucuk kepala Dhiya.
Mereka pun beranjak dari tempat itu. Erza mengantarkan Yara dan Dhiya beserta Bu Haryani pulang ke rumah. Sedangkan Mama Anggi dan Pak Rangga tidak ikut dengan mereka sebab ada keduanya ada acara di tempat lain.
Sepanjang perjalanan Yara berusaha mengajak Dhiya berbicara. Anak kecil itu sempat terdiam. Tapi berkat bujukan Yara, Dhiya mau buka suara.
Yara menyayangkan keteledoran dari Syafa dan Afkar. Erza pun yang mendengar itu menggelengkan kepalanya.
"Ini bisa jadi salah satu alasan saat kamu ajukan banding pada pengadilan, Sayang! Kamu tenang saja. Aku sudah siapkan semuanya," ujar Erza. Yara menoleh pada calon suaminya itu.
Dhiya menoleh pada Erza. "Sama Papa Erza juga?" Celetuk Dhiya.
Yara mengerutkan alis mendengar ucapan Dhiya. "Papa?" Tanya Yara penasaran pada Dhiya kemudian beralih pada Erza.
Calon suaminya itu hanya bisa menyengir kecil membalasnya. Yara kembali fokus pada Dhiya, ia ingin mengorek informasi kepada Dhiya bisa memanggil Erza dengan sebutan ayah.
"Bunda boleh tanya sesuatu sama kakak?"
Dhiya menggangguk. "Boleh"
"Kenapa Dhiya memanggil dia dengan sebutan Papa?" Tanya Yara sambil melirik ke arah Erza. Pria itu hanya membalas dengan senyuman saja.
"Soalnya Papa Erza sering ke sekolahku! Dhiya senang kalau lihat bunda sama dia!" Dhiya melirik Erza.
"Kenapa seperti itu?" Tanya Yara semakin penasaran. Begitu juga dengan Bu Haryani yang mendengarkan semua percakapan ibu dan anak itu.
"Bunda selalu tersenyum dan tertawa lebar kalau sama Papa Erza. Beda kalau sama ayah. Bunda selalu sedih dan menangis. Dhiya nggak mau lihat bunda terus sedih!" Tutur Dhiya pilu.
Yara yang mendengar penuturan Dhiya merasa terharu. Anak kecil itu memerhatikan sikap Yara selama ini.
"Papa Erza juga pernah ijin sama Dhiya!" lanjut Dhiya.
"Ijin apa?" Yara semakin penasaran. Kemudian beralih menatap Erza. "Kamu tidak pernah menceritakan ini padaku, Za! Kamu harus menjelaskannya nanti!" Desak Yara pada Erza.
Pria yang saat ini sedang fokus berkendara itu hanya menganggukkan kepala dengan seulas senyum.
"Siap"
"Ckk .. Jahat tidak jujur sama aku selama ini!" Ucap Yara sebal.
__ADS_1
"Ini itu sebuah usaha, Sayang! Usaha Pedekate sama gadis kecil cantik ini," Erza menyolek pipi Dhiya. Setelah berbicara Erza kembali fokus dengan kemudinya. Yara pun kembali menatap Dhiya melanjutkan pertanyaannya tadi.
Bu Haryani hanya bisa tersenyum dengan tingkah kedua calon pengantin itu. Wanita itu bisa melihat kesedihan di wajah Yara beralih bahagia saat bertemu dengan Dhiya. Diselingi dengan sikap Erza yang mampu menghibur Yara. Meskipun belum lama mengenal Yara, Tapi Bu Haryani selalu mendoakan kebahagiaan selalu menyertai kehidupan Yara.
"Kakak, boleh bunda tahu, Papa Erza ijin apa sama kamu?" Yara tidak berhenti mengorek apa yang telah dilakukan Erza pada Dhiya.
"Kata Papa Erza, boleh gak bahagiain bunda. Buat bunda senyum sama tidak sedih lagi! Kata Dhiya, boleh! Tapi Papa Erza juga minta Dhiya panggil dia, Papa. Katanya biar tambah semangat," ujar Dhiya jujur.
Anak kecil itu juga menceritakan hal lain yang dilakukan oleh Erza. Dhiya menceritakan kalau Erza sering menemuinya saat padi hari. Sebelum Dhiya masuk sekolah, sebab jika pas pulang sekola. Sebelum bell, sudah ada Syafa atau orang lain yang menjemput. Jadi Dhiya dan Erza bisa berkomunikasi sebelum anak kecil itu mulai belajar.
Banyak yang mengira kalau Erza adalah papa dari Dhiya sebab pria itu sering membawa makanan banyak. Dhiya sering membagikan pada teman-teman yang lain. Dan dari sanalah Dhiya memanggil Erza dengan sebutan Papa. Posisi Afkar seakan tergantikan oleh pria itu. Ayah kandung Dhiya belum pernah muncul sama sekali di sekolah. Jika Dhiya bertanya, Alasan Afkar hanya satu. Sibuk dengan urusan kantor, Dhiya menjadi malas pada ayah kandungnya itu.
Usai mendengarkan Dhiya bercerita. Yara menarik kedua sudut bibirnya merasa senang jika Dhiya bisa menerima Erza tanpa dia beritahu. Padahal hal itu sempat terpikir oleh Yara. Apakah Dhiya bisa menerima Erza nantinya. Ternyata Erza susah bertindak lebih dulu.
"Wah, Erza gercep banget ya! Usahanya pedekate dan ijin sama anak kamu ibu acungi jempol deh!" Ujar Bu Haryani yang mendengarkan cerita Dhiya.
"Karena aku akan hidup tidak hanya dengan Yara, Bu. Aku akan melalui kehidupan nanti bersama anaknya juga. aku mau jadi papa sambung yang baik buat Dhiya. Setidaknya perlahan Dhiya
sambil melirik ke arah Erza yang tiba-tiba sama-sama menatap dirinya. Erza menaikan kedua alisnya. "Bagaimana pedekate ku? Berhasil bukan?" goda Erza.
"Cih, gitu aja bangga!" celetuk Yara. Wajahnya merona mendapat godaan dari Erza. Semua tak lepas dari pandangan Dhiya meskipun masih kecil tapi anak itu mengerti bahwa sang bunda tengah merasa berbunga hatinya.
Lantas Dhiya dan Bu Haryani saling melepas senyum. Dhiya beralih menatap Erza. Anak itu juga melempar senyum pada calon papa-nya. Dan di balas dengan senyuman oleh Erza. Saat melihat ke arah Yara. Bundanya itu memberikan kecupan di pipi Dhiya. Dia dapat melihat raut kebahagiaan dari mimik wajah bundanya.
Merasa senang karena bundanya tidak mengalami sedih dan tangis lagi, Dhiya memeluk erat Yara. Jika bisa mengungkapkan perasaan seperti orang dewasa mungkin Dhiya akan bilang kalau dia bahagia melihat kebahagiaan dan senyum di wajah bundanya itu.
Merasakan pelukan erat dari Dhiya lantas membuat Yara bahagian ibu dan anak itu saling memeluk. Erza juga merasa senang melihat keduanya bisa bersama dan saling memeluk lama seperti itu.
'Aku janji akan membuat kalian bersatu dan tidak akan terpisahkan lagi!'
🌱🌱🌱
Di Rumah Syafa, suasana duka begitu terasa. Para pelayat hilir mudik bergantian ke rumah duka.
Kesedihan dan kecemasan begitu terasa di sana. Keluarga itu kehilangan orang yang selama ini berjuang untuk keluarga saat masih di kampung.
Dan saatnya tiba ketika saat jenazah Pak Setyo akan dikebumikan. Tangis haru semakin terdengar dari wanita yang baru saja sembuh dari masa depresinya. Dia adalah Mira, adik dari Afkar. Mira adalah orang terakhir yang selalu menemani keseharian Pak Setyo.
Wanita itu juga yang menerima amanat terakhir dari almarhum bapaknya untuk menyerahkan sebuah surat pada seseorang.
Seminggu sebelum wafat Pak Setyo meminta Mira untuk menulis apa yang ia ucapkan. Surat yang dibuat untuk Yara. Dan Mira masih menyimpannya dengan baik sampai beliau wafat. Sebab sampai sisa umurnya Pak Setyo belum pernah bertemu lagi dengan Yara. Mira akan akan menyerahkannya sendiri pada sang penerima amanah.
Harum dari berbagai jenis bunga di atas tanah merah yang masih basah tercium oleh indera penciuman.
Seorang pria hanya bisa terdiam tanpa sedikitpun berbicara. Satu persatu tetangga dan pelayat yang mengantarkan ke pemakaman mulai beranjak dari sana.
"Kita pulang, Mba!" Ajak Mira yang sudah menerima kepergian bapaknya dengan ikhlas pada Syafa.
Wanita yang sedang hamil itu mengangguk pelan. Kemudian Mira beralih pada Afkar. "Mas, kita pulang, yuk! Hari sudah mulai gelap,' ajak Mira pada kakaknya.
"Kalian duluan saja, nanti Mas menyusul," sahut Afkar.
Mira menghela napas pelan. Wanita itu akhirnya beranjak dari pemakaman bersama Bu Nuri dan Syafa. Meninggalkan Afkar yang berjongkok sendiri di pemakaman itu.
Satu tangannya menyentuh kayu nisan yang belum lama tertancap di atas gundukan tanah merah itu. "Kenapa aku merasa sendiri, Pak! Kenapa hati ini terasa terombang-ambing. Hatiku gelisah dan tak menentu setelah kehilangan Yara. Apa yang aku lakukan selama ini salah? Aku ingat, bapak salah seorang ayah yang selalu bijak dengan nasehat. Aku butuh nasehatmu, Pak! Kapan ingatan ini kembali seutuhnya?" Gumam Afkar lirih. Kepalanya menunduk menyembunyikan kesedihan dan tangisnya saat kehilangan sosok Pak Setyo.
Akhir -akhir ini perlahan ingatan Afkar berangsur membaik. Satu persatu bayangan kenangan masa lalu terlintas dalam benaknya. Hal itulah yang membuat Afkar merasa hilang arah.
to be continued
.
.
Selamat Sore ..
__ADS_1
Waktunya beristirahat setelah berliburan.
Maaf kalau bab nya terlalu bertele-tele. Setelah bab ini, aku buat part hari bahagia Ya. Sabar ... oke!