
"Sampai jumpa besok, Nggi!" Bu Haryani melambaikan tangan pada Mama Anggi yang sudah berada di dalam mobil bersama Erza.
"Ya ...." Balas Mama Anggi dengan lambaian tangan juga.
Bu Haryani pun bersiap meninggalkan area cafe untuk pulang ke rumah. Baru saja masuk ke dalam mobilnya. Nada dering dari ponsel miliknya berdering.
'My home' namanya yang muncul di ponselnya.
"Dari rumah? Ada apa ya? Tumben sekali si bibi telepon," tebak Bu Haryani. Wanita itu segera menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Assalamualaikum, Bu," sapa Yara dari seberang telepon.
"Waalaikumussalam, Ibu kira, bibi yang telepon. Ternyata kamu! Ada apa, Ra?" Tanya Bu Haryani.
"Bu, Yara mau ijin keluar rumah. Yara mau pulang ke kontrakan. Kak Ima telepon, Dhiya ada di sana bersama Syafa," ujar Yara yang terdengar berantusias.
"Mau diantar? Tapi kamu harus menunggu sebentar. Ibu baru saja keluar dari cafe," Ujar Bu Haryani.
"Tidak perlu, Bu! Aku bisa pesan ojek dari sini."
"Kamu yakin Syafa sendiri di sana? Tidak bersama mantan suamimu? Ibu khawatir saja dia ada di sana." Bu Haryani terdengar mengkhawatirkan Yara.
"Ada atau tidak ada dia, sama saja bagiku saat ini, Bu. Mas Afkar sudah bukan suamiku lagi," cetus Yara.
"Iya juga sih. Ya sudah kamu hati-hati. Kabari ibu kalau kamu hendak pulang lagi ke sini. Biar supir yang nanti menjemput mu!"
"Terima kasih, Bu."
"Sama-sama, Ra." Sambungan telepon pun terputus. "Pak mampir ke toko bahan dulu!" Titahnya ada supir pribadinya.
"Siap, Bu!"
Mobil Bu Haryani melesat meninggalkan parkiran cafe.
"Anggi ... Anggi, calon menantu belum ada, tapi sudah mempersiapkan gaun untuk calon menantunya, ada-ada saja!" Bu Haryani menggelangkan kepalanya pelan. "Bagaimana nanti kalau calon menantunya itu gendut, bisa gagal deh gaunnya." Bu Haryani terkekeh pelan saat membayangkannya.
Bu Haryani dan Mama Anggi adalah dua wanita yang sering sekali berkomunikasi. Apalagi, kalau bukan soal pekerjaan.
Mama Anggi adalah pemilik WO terkenal, WO yang banyak digunakan jasanya oleh orang-orang ternama.
Ang's Wedding adalah nama Wedding organizer milik Mama Anggi. Wanita cantik itu sering memakai rancangan dari Bu Haryani untuk setiap baju pengantinnya dan juga gaun-gaun yang sering ia pakai untuk beberapa acara. Selain untuk meminta dibuatkan gaun untuk calon menantu yang belum kelihatan wujudnya. Bu Haryani dan Mama Anggi akan berkerja sama untuk membuka butik bersama. Lagi-lagi, karya dari Bu Haryani akan lebih banyak mendominasi di butik tersebut.
__ADS_1
Saat pertemuannya tadi. Bu Haryani menawarkan beberapa gambar rancangan milik Yara pada Mama Anggi. Dan ternyata selera mereka cocok. Mama Anggi tertarik untuk membiayai proses pembuatan dari rancangan yang Yara buat. Karena itulah, Mama Anggi ingin sekali bertemu dengan wanita yang sudah menggambar rancangan itu. Ia tertarik dengan coretan pensil yang dibuatnya. Sederhana tapi terkesan mewah. Itu sangat cocok dengan kepribadian Mama Anggi.
"Mama kenapa sih senyum sendiri gitu!" Tanya Erza sambil terus mengendalikan kendaraan yang ia kendarai.
"Mama lagi senang."
"Kenapa?"
"Akhirnya mama dapat seseorang yang satu selera dengan mama. Gambar dari seseorang yang di bawa Bu Haryani tadi satu selera dengan keinginan mama, Sederhana tapi elegan. Rancangan orang itu terkesan mewah juga! Mama sudah tidak sabar melihat hasilnya seperti apa. Kalau memang sesuai, Mama akan membuat kontak kerja dengannya." Mama Anggi terlihat begitu bersemangat. Kemudian menoleh ke arah Erza yang sedang fokus mengemudi.
"Mana janjimu? Ini tepat satu bulan loh. Kamu belum juga mengenalkan wanita pilihanmu!"
Tidak ada jawaban dari Erza. Pria itu hanya diam saat Mama Anggi berbicara dengan nada memohon padanya.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini, Za. Mama rasa cukup, kamu harus sadar kalau wanita yang sedang kamu cari itu bukan jodohmu. Tolong kamu pikirkan mama dan papa. Kami sudah tua. Mama ingin melihat kamu menikah, mama juga ingin merasakan. menggendong cucu seperti teman mama yang lain. Jika kamu masih tetap dengan keinginanmu untuk mencari jodohmu sendiri, artinya kamu tidak sayang sama mama," ucap Mama Anggi.
Tak terasa mereka sampai di rumah mewah milik keluarga Rahardian. Erza segera turun dari mobilnya. Ia tidak merespon ucapan Mama Anggi di mobil tadi. Erza masih bersikeras dengan pendiriannya. Erza tidak mau dijodohkan. Apalagi saat tahu kalau Yara sudah berpisah dengan suaminya. Erza semakin penasaran dibuatnya. Tapi sayangnya sampai saat ini, Erza belum bisa bertemu dengan Yara.
Mama Anggi keluar dari dalam mobil dengan lesu.
"Za, kamu dengar ucapan mama!" Mama Anggi berbicara dengan suara tinggi. Langkahnya terhenti, tiba-tiba saja wanita itu merasakan kepalanya serasa berputar. "Kepalaku, pusing sekali!" ucapnya kemudian. Tubuh wanita itu pun ambruk seketika.
"Mama ..." Erza dengan sigap merangkul tubuh Mama Anggi saat melihat mamanya pingsan.
"Bangun, Mah!" lirih Erza. Pria itu merasa bersalah pada wanita yang ada di hadapannya itu. "Maaf, kalau aku membuat mama terlalu banyak berpikir selama ini. Setelah ini, aku janji akan mengikuti keinginan mama." Erza mengecup punggung tangan Mama Anggi.
Keegoisan Erza runtuh seketika saat melihat sendiri mama-nya yang tidak sadarkan diri dengan wajah pucat pasi. Apalagi saat mendengar penuturan Dokter Hilman, dokter keluarga yang mengetahui semua kondisi dari anggota keluarga Rahardian.
Dokter Hilman menyarankan agar Bu Anggi tidak terlalu banyak berpikir. Kesehatan mama-nya semakin menurun saat ini. Hal yang paling Erza sesali adalah saat ia mengetahui kemungkinan sakit yang diderita oleh mama-nya. Mama Anggi diduga menderita meningitis awal, gejala nya sudah di rasakan beberapa bulan ini. Tapi wanita itu terus menolak saat Papa Rangga membujuknya untuk diperiksa lebih lanjut.
Ceklek....
Pintu kamar terbuka. Sosok pria lembut dan penyanyang berjalan tergesa mendekat pada Erza dan Mama Anggi.
"Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Papa Rangga. Suami dari Mama Anggi itu langsung pulang dari proyek yang sedang ia kerjakan saat ini.
Setelah menyerahkan perusahaan pada Erza. Papa Rangga kembali meneruskan pekerjaan yang sempat tertunda olehnya.
"Papa kenapa tidak bilang kalau kondisi mama akhir -akhir ini menurun. Dan kenapa papa masih membiarkan mama untuk bekerja. Bahkan mengijinkan mama membuka butik! Apa tidak semakin membuat mama banyak berpikir, Pah?" Erza lekas berdiri saat melihat kedatangan papanya. Dan saat ini mereka saling bertukar posisi.
Papa Rangga hanya menoleh sebentar rek arah Erza tanpa membalas ucapannya.
__ADS_1
"Pah ...." Panggil Mama Anggi dengan suara lemahnya.
"Iya, Mah. Papa ada di sini." Papa Rangga segera meraih tangan Istinya.
"Tidurlah, jangan terlalu banyak berpikir. Papa yakin setelah ini, anakmu ini akan mengikuti semua keinginan kamu, Mah. Jika dia memang sayang pada kita," sindir Papa Rangga untuk Erza.
Mama Anggi tertidur kembali setelah tahu kalau Papa Rangga ada di dekatnya.
Erza merasa tersindir, tanpa banyak berbicara lagi. Erza pamit keluar dari kamar itu.
"Tunggu, Za!" Papa Rangga mencegahnya dengan suara pelan. Ia berjalan mendekati Erza. Menarik anaknya itu keluar dari kamar. Mereka berbicara tak jauh dari kamar.
"Tolong ikuti kemauan mama-mu sekarang ini. Dia hanya ingin melihat kamu menikah. Setelah itu dia baru mau diajak ke luar negeri untuk memeriksakan dirinya. Kali ini papa mohon padamu!" Papa Rangga berbicara dengan wajah yang sedih.
"Maafkan Erza, Pah. Erza tidak tahu kalau mama sakit seperti ini!" Balas Erza sambil menunduk sedih. Ia merasa menjadi anak yang tidak berguna. "Erza akan menuruti keinginan mama kali ini. Erza akan menerima wanita yang akan dijodohkan dengan Erza. Kalau itu bisa membuat mama mau untuk memeriksakan sakitnya," ucap Erza yakin.
"Terima kasih, Nak. Papa doakan kebahagiaan untukmu."
Hanya senyuman balasan dari Erza pada Papa Rangga.
...🌱🌱🌱🌱...
Di dalam sebuah ruangan berukuran 3x3 meter itu. Yara menumpahkan rasa rindunya pada Dhiya. Dua minggu sudah mereka tidak bertemu.
"Bunda, kangen sekali sama Dhiya." Yara terus memeluk erat raga putrinya.
"Dhiya juga kangen sama, Bunda."
Usai melepas rasa rindu. Syafa menceritakan apa yang terjadi di rumahnya. Bahkan wanita yang saat ini menjadi istri satu -satunya istri dari Afkar juga sempat meminta Yara untuk kembali pada Afkar. Sebab Syafa tahu meksipun Afkar hilang ingatan tapi perasaanya tidak bisa lepas dari Yara.
"Kembalilah, Aku rela menjadi yang kedua, Ra. Kita akan berada di tempat yang berbeda. Aku tidak akan mencegah Mas Afkar untuk menemui kamu lagi," pinta Syafa.
Yara mengelengkan kepala mendengarnya.
Kak Ima pamit keluar ruangan dan membawa Dhiya untuk bermain. Ia paham sepertinya obrolan dua wanita itu berarah serius.
"Kakak, main sama ibu, ya?" Ajak Kak Ima. "Ibu sudah beli banyak baju dan pernak-pernik buat dede bagi loh, mau lihat?" Rayu Kak Ima agar Dhiya mau ikut dengannya.
"Mau, Bu!" Dhiya bangkit berdiri dari pangkuan Yara.
.
__ADS_1
.
.