
Hari ini Afkar pulang cepat dari biasanya. Syafa yang sedang bersantai di kamar pun terkejut karena kedatangan suaminya yang secara tiba-tiba itu.
"Mas, sudah pulang!" Syafa lekas berdiri dari kursi pijatnya dengan pelan dan hati-hati. Kehamilan yang sudah terlihat membuncit itu semakin membuat pergerakannya sedikit kesulitan.
"Ya, hari ini aku lelah sekali!" sahut Afkar. Pria itu berjalan menaruh jas dan tas kerjanya di atas tempat tidur kemudian berbalik melangkah mendekati Syafa yang menunduk karena mencoba bangkit dari duduk santainya. Afkar mencium kening istrinya itu dengan cepat. Ia ingin menghindar dari tatapan Syafa.
Afkar bergegas berjalan menuju kamar mandi.
"Apa kamu mau makan dulu, Mas?" Tanya Syafa yang berjalan mengikuti langkah Afkar. Wanita itu merasa ada yang aneh dari gelagat suaminya.
"Tidak perlu. Aku sedang tidak napsu makan hari ini." Afkar melepas dasi yang masih menempel di tubuhnya. Pria itu hendak membersihkan tubuhnya lebih dulu.
"Mas, yakin?"
Afkar mengangguk pelan lalu melangkah masuk ke kamar mandi, meninggalkan Syafa yang berdiri mematung sambil menatap tubuh yang menghilang masuk ke dalam kamar mandi.
Syafa membuang napas panjang melihat sikap suaminya. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan dia? Kenapa berbeda sekali hari ini?" Syafa terlihat bingung. Wanita itu memilih tetap menyiapkan makanan untuk Afkar.
Di dalam kamar mandi Afkar masih merasa kesal dengan seseorang.
"Arghhh ...." Afkar memukul dinding kamar mandi dengan kepalan tangannya. Pria itu merasa kesal dengan kejadian tadi siang.
Afkar sungguh tidak menyangka akan bertemu dengan pria yang pernah bersama Yara tempo hari di sebuah tempat hiburan.
"Aku harus segera menemukan Yara. Dia harus kembali padaku," gumam Afkar sambil memegangi sudut bibirnya yang sedikit sobek akibat serangan pukulan dari Erza.
Ya, Erza adalah orang yang berjumpa dengan Afkar tadi. Ternyata mereka mempunyai rekan bisnis yang sama. Tuan Hong mengundang kedua pria itu untuk makan siang bersama dengannya di sebuah cafe.
Flashback On
Dalam perbincangan hangat dengan Tuang Hong. Afkar dan Erza nampak biasa saja. Bahkan mereka seakan baru pertama kali bertemu.
"Kalian para pengusaha muda. Pastinya ada seseorang yang istimewa di balik suksesnya bisnis kalian sekarang ini," ucap Tuan Hong sambil menyeruput secangkir kopi di tangannya.
"Ya, Betul sekali, Tuan Hong. Memang ada sosok wanita wanita kuat di belakangku," ujar Afkar sambil melirik ke arah Erza.
Erza balas menatap Afkar. Ia mengira maksud dari wanita-wanita yang di sebut Afkar adalah Yara dan Syafa.
'Apa Yara kembali pada suaminya?'
pikir Erza. Sikapnya berubah lebih diam. Erza hanya sesekali menyahut saat Tuan Hong bertanya padanya.
"Jadi, Pak Erza masih bujangan?" Tanya Tuan Hong. "Maaf saya jadi bertanya masalah pribadi pada Anda."
Erza hanya membalas dengan senyuman. "Tidak masalah, Tuan Hong! Pertanyaan Anda sama sekali tidak merugikan saya, mungkin sekarang saya masih sendiri. Tapi sebentar lagi saya juga akan merubah statusku!" balas Erza.
Tuhan Hong balik tersenyum balik mendengar ucapan Erza untuknya.
"Anda akan menikah?" Tuan Hong kembali bertanya.
Erza tersenyum dan mengangguk. "Doakan saja semuanya lancar, Tuan Hong."
Mendengar ucapan Erza. Afkar sontak menatap pria itu. Kini mereka saling bertatapan. Jika Erza mengira Yara telah kembali dengan Afkar. Lain hal dengan Afkar. Pria itu berpikir Yara adalah wanita yang akan menikah dengan Erza. Kedua pria itu berada dalam pemikirannya masing-masing.
Salam perpisahan terucap dari Tuan Hong setelah pertemuan itu usai. Kini tinggal Erza dan Afkar yang berdiri di depan Cafe. Mereka saling diam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Padahal dalam duit mereka masing-masing ingin menyampaikan sebuah pertanyaan.
"Jangan pernah kamu menyakiti Yara lagi!" Akhirnya sebuah kalimat terlontar dari.
"Kamu tidak berhak melarangku! Lagi pula, siapa yang menyakiti Yara. sepertinya saat ini Yara sedang bahagia, kamu pasti tahu itu 'kan!" sahut Afkar.
Kedua pria itu masih dalam situasi salah paham.
Erza memilih untuk mengalah pergi dari hadapan Afkar. Ia tidak mau berdebat di depan umum.
__ADS_1
"Ya, aku tahu kalau Yara sedang bahagia. Aku hanya memperingkatkan, jangan pernah menyakitinya lagi" Erza langsung berbalik badan dan meninggalkan Afkar.
"Kamu tidak pantas mendapatkan perasaan dari Yara. Kami dengar itu, dia adalah wanitaku, sampai kapanpun itu tetap sama. Jadi apapun yang akan terjadi nanti dia tetap milikku." Afkar berbicara lantang. Pria itu sengaja mengeraskan suaranya agar Erza dapat mendengarnya.
Merasa tidak terima Erza berbalik badan dan melangkah cepat ke arah Afkar.
Bughh....
Pukulan keras mendarat tepat di wajah Afkar. Menyebabkan sudut bibir pria itu sedikit sobek dan mengeluarkan darah.
"Kurang ajar!" Afkar hendak membalas pukulan Erza. Tapi sayang security yang berdiri tak jauh dari mereka segera menahan Afkar.
"Tolong jangan membuat keributan di sini. Atau saya akan melaporkan kalian ke polisi!" Bentak satpam itu kepada Erza dan Afkar.
"Lepaskan saya!" Akbar memberontak.
"Saya akan lepaskan Anda. Asalkan jangan meneruskan pertengkaran di sini!"
"Hei, berani kamu kepada saya! Kamu tidak tahu siapa saya. Saya bisa membuat kamu kehilangan pekerjaan. Kamu tahu itu," ucap Afkar.
Erza hanya menggelengkan kepala mendengar angkuhnya sikap Afkar.
"Sombong sekali, dia," ucap Afkar pelan.
Kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
Melihat Erza pergi tanpa sedikitpun membalas perkataan Afkar. semakin membuat suami dari Syafa itu semakin marah. Pria itu menepis tangan security yang masih memegang tangannya.
"Minggir!" Sentak Afkar kemudian mengibaskan jas yang sedikit berantakan akibat dirinya yang memberontak tadi dengan tangannya.
Afkar pun berlalu dari cafe itu dengan perasaan marah dan kecewa. Pria itu tidak berniat lagi kembali ke kantor. Afkar memilih untuk pulang ke rumah.
Flashback Off
"Mamih ...." panggil Dhiya saat Syafa keluar dari kamarnya.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Syafa sambil memeluk tubuh gadis kecil itu sambil berdiri.
"Aku mau ketemu sama bunda!" Dhiya merengkek pada Syafa sambil menarik pelan baju wanita itu.
Mendengar itu Syafa sedikit membungkuk.
"Sabar ya, Sayang! Nanti Mamih hubungi bunda kamu dulu. Ok!" Ucap Syafa menenangkan Dhiya.
Bocah perempuan itu mengangguk dan menarik Syafa agar ikut dengannya.
"Masih ikut aku! Tolong ambilkan kotak musik punya bunda di atas lemari," Dhiya kembali menarik Syafa agar mengikutinya.
"Kotak musik?" Tanya Syafa penasaran.
"Heueum ... " Dhiya mengangguk. "Itu di sana, itu 'kan punya bunda," cetusnya.
Tanpa Syafa sadari obrolannya bersama Dhiya di depan kamarnya di dengarkan oleh Afkar.
"Jadi selama ini kamu menutupi nya dari ku, Syafa. Kamu tahu keberadaan Yara tapi kamu tidak bicara padaku!" Geram Afkar. Pria itu tidak percaya. Selama ini ia berusaha menjaga perasaan Syafa karena tidak ingin keadaan kandungannya bermasalah karena banyak pikiran.
"Syafa ...." Panggil Afkar saat Syafa baru saja akan memasuki kamar yang pernah di tempati oleh Yara dan sempat dipakai oleh Mira.
Tak terlihat Bu Nuri di rumah itu sore ini. Beliau sendang berada di rumah sakit jiwa. Setiap tiga hari sekali wanita berumur itu mengunjungi Mira. Ia tidak ingin melewati perkembangan putrinya yang mengalami depresi karena rumah tangganya. Padahal berulang kali Mira membentaknya. Mira selalu berteriak dan berbicara seakan terus menyalahkan Bu Nuri.
"Aku benci ibu, rumah tanggaku hancur gara- gara ibu," teriak Mira dan selalu itu yang diucapkannya.
Entah bagaimana sikap Bu Nuri saat ini. Sudah sadarkah dia setelah melihat anak perempuannya diperlakukan tidak baik oleh keluarga mantan suaminya.
__ADS_1
Air mata terus mengalir di pipi wanita tua itu. Ia merasakan kesedihan yang perih oleh Mira.
"Apa benar ini semua karma dari tuhan atas semua sikap buruk ku terhadap Yara mantan menantuku wanita itu?
...🌱🌱🌱...
"Terima kasih sudah menyempatkan waktu mengunjungi!" Ucap Mama Anggi pada Yara dan Bu Haryani. setalah mereka menikmati makan bersama di sana.
"Sama- sama, Nggi. Sekarang kamu jangan terlalu banyak pikiran. Rileks saja, bukankah kamu sudah menemukan seseorang yang cocok untuk Erza Putramu!" Tutur Bu Haryani.
Mama Anggi mengangguk pelan membalasnya.
"Ya, Tante harap Yara tidak merubah keputusan, ya, Ra. Tante yakinkan, anak Tante itu pria baik. Dan pastinya tidak akan keberatan untuk perjodohan ini." Mama Anggi sangat berharap pada Yara.
"Sebelumnya apa boleh Yara bertemu dengan anak Tante. Kami belum saling mengenal," balas Yara.
"Boleh sekali, apa kamu mau menyimpan nomer ponselnya sekalian?"
Yara menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu Tan, biar nanti kita saling bertukar nomer setelah bertemu."
"Ah, benar sekali. Biar lebih akrab."
Cukup lama Yara dan Bu Haryani berada di rumah Mama Anggi. Keduanya pamit saat hari mulai gelap.
Lambaian tangan dari Mama Anggi menandakan bahwa kedua wanita yang tadi bersama nya bercanda dan berbincang itu telah pergi di bawa mobil mewah hitam yang semakin menjauh dari pandangan Mama Anggi.
Dan selanjutnya, mobil mewah milik putranya, Erza telah datang dari arah berlawanan.
"Aduh ... benar -benar bukan rejeki kamu bertemu calon istrimu, Za!" celetuk Mama Anggi pada Erza.
Tiba-tiba saja sebuah ide hadir dalam benak Mama Anggi. Beliau membeli beberapa buah tangan dari negara Singapura. Ia lupa mau memberikannya pada Yara dan Bu Haryani.
"Baru pulang, Za?" tanya Mama Anggi.
"Iya, Mah!" balas Erza sibuk berpeluk dengan mama-nya.
"Sayang sekali calon menantuku baru saja pergi dari sini. Dia setuju untuk dijodohkan denganmu! Kamu tidak akan merubah keputusan 'kan, Za?" desak Mama Anggi. ia takut kalau Erza merubah keputusannya.
"Tidak, Mah. Tenang saja, aku pria yang selalu menepati janji."
"Syukurlah. Kalau begitu nanti tolong antarkan oleh-oleh ke sana ya, tadi mama lupa ngasihin sama mereka."
"Kenapa tidak sekalian saja tadi, Mah?" keluh Erza.
"Mama sudah bilang lupa, Za."
Erza menggelengkan kepala mendengar pengakuan Mama Anggi. Kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.
"Kamu mau ya, mengantarkannya ke rumah Bu Haryani?"
"Iya, Mah! Aku istirahat terus mandi dulu sebentar."
"Mama tunggu ya, Za!"
"Iya, mamah!"
Erza kembali menghela napas berat. Sebentar lagi dia akan benar-benar mencoba move on dari Yara.
Erza sudah bertekad ingin membuka lembaran baru dengan wanita yang telah dijodohkan oleh mama-nya.
Dia tidak tahu saja siapa wanita itu. Kalau tahu, Pria itu pasti sangat kegirangan.
.
__ADS_1
.
.