Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Kenapa Takdirku Seperti Ini


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana Yara dan Afkar akan bertemu di persidangan.


Yara telah memasukkan kasus perceraiannya talak kepada pengadilan agama.


Perceraian Yara dan Afkar hanya berupa talak atau lisan. Secara agama mereka sudah bercerai. Tapi secara hukum status mereka masih suami istri. Yara mengajukan gugatan cerai karena ia ingin mendapatkan status yang jelas dari Afkar.


Bu Haryani yang menemani dan memberikan support kepada wanita muda itu.


"Tenang ‘lah! Kamu pasti bisa melewati semua ini!" Bu Haryani menyemangati Yara.


Hanya anggukan yang Yara berikan.


"Jujur aku takut Mas Afkar mempersulit semuanya, Bu!"


"Kamu harus melawan, jika dia melakukan itu! Ingat Yara yang sekarang bukanlah Yara yang dulu. Wanita lemah yang hanya bisa mengharapkan perlindungan darinya. Kamu bisa berdiri sendiri tanpa dia?" Bu Haryani meyakinkan Yara.


Yara membuang nafas panjang. Ia meyakinkan diri jika semua ucapan Bu Haryani itu benar adanya.


Yara menoleh ke sisi kanan. Ia melihat seorang pria gagah dan tampan yang dulu pernah menjadi pemilik hatinya. Meskipun tidak bisa dipungkiri kalau saat ini Yara masih menyimpan sedikit rasa pada pria itu. Tapi rasanya cinta yang pernah ia punya untuk Afkar berselimut kebencian saat ini. Kekecewaan Yara terlalu besar kepadanya.


Afkar duduk di bangku, tepatnya berada di sisi kanan Yara. Pria itu sama sekali tidak menoleh sedikitpun ke arah Yara yang duduk di sampingnya.


Yara tersenyum miris. Sikap egois dan angkuhnya semakin terlihat jelas. Wanita itu memilih diam. Ia tidak mau banyak berucap di hadapan Afkar.


“Kamu merasa sudah berhasil sampai menggugat cerai aku ke persidangan,” ucap Afkar setengah berbisik tanpa menatap lawan bicaranya.


Yara hanya menanggapi dengan sedikit senyuman. Persidangan pun di mulai. Ketua hakim mulai berbicara panjang lebar persoalan gugatan cerai yang dilayangkan oleh Yara. Alasan dan bukti yang kuat pun telah dilampirkan. Hakim ketua tinggal menunggu penjelasan dan pembelaan dari Afkar.


Pria yang saat ini berdiri di hadapan Yara berbicara dengan tegas dan lantang. Yara begitu terkejut saat mendengar tuduhan Afkar kepadanya.


“Saya rasa saya meminta mediasi untuk masalah rumah tangga saya ketua hakim. Mungkin ada sedikit salah paham di antara kami!” ucap agar tegas sambil melirik ke arah Yara sambil tersenyum.


Pria itu tidak rela jika harus berpisah dengan Yara sekarang ini. Beberapa bulan ini Yara telah mengusik pikirannya. Hingga perlahan, satu persatu bayangan Yara muncul di dalam ingatannya meskipun masih samar.

__ADS_1


Yara menggelengkan kepala mendengar semua ucapan Afkar. Kemudian wanita itu mengacungkan tangannya, memprotes permintaan Afkar. Yara tidak terima kalau disalahkan dalam masalah ini. Dituduh bermain dengan pria lain. Mungkin orang yang dimaksud Afkar adalah Erza.


“Saya keberatan ketua hakim. Semua ucapan dia tidak benar karena saya merasakan sakit hati yang dalam karena penghinaannya terhadap saya.” Tiara menatap akar dengan tatapan sinis dan benci.


Yara benar-benar tidak menyangka sikap Afkar bisa berubah sedrastis ini. Egois, keras kepala dan ingin menang sendiri.


“Keberatan diterima,” jawab ketua hakim.


Persidangan itu pun semakin alot. Berbagai alasan, tuduhan Afkar dan penyanggahan dari Yara semakin memperumit suasana di dalam ruangan itu.


Pada akhirnya ketua hakim mengambil keputusan. Afkar dan Yara harus melakukan mediasi sekarang juga. Mereka berdua diberi waktu 1 jam untuk menyelesaikan perdebatan yang terjadi di ruang persidangan. Satu ruangan untuk mediasi telah disediakan. Afkar dan Yara memasuki ruangan itu.


Bu Haryani menunggu di luar ruangan wanita itu berharap yang terbaik untuk Yara.


Di tempat lain.


Syafa merasa resah dan gelisah. Wanita itu tahu kalau hari ini adalah persidangan Afkar dan Yara. Saat sedang merenung di dalam kamar, Syafa teringat permintaan Dhiya tempo hari. Anak tirinya itu meminta diambilkan kotak musik berwarna merah di atas lemari. Menurut penuturan Dhiya. Alat musik itu adalah milik bundanya.


Langkah kaki Syafa terhenti sesaat ketika melewati kamar Pak Setyo. Ia masuk ke dalam kamar papa mertuanya sebentar. Memastikan kalau keadaan pria paruh baya itu baik-baik saja.


Syafa berjalan mendekati Pak Setyo. Wanita itu membenarkan selimut yang menutupi sebagian tubuh papa mertuanya.


“Selamat beristirahat, Pak!” ucap Syafa meskipun Pak Setyo sedang terlelap. Wanita itu kemudian melanjutkan niatnya. Syafa memasuki kamar yang ada di sebelah kamar Pak Setyo. Kamar yang dulu ditempati oleh Yara.


“Di mana kotak musik itu?” Syafa mengedarkan pandangannya mencari kotak musik yang disebut Dhiya. “Itu dia!” Celetuk Syafa.


Wajahnya sumringah saat melihat benda yang ia cari telah ia dapatkan. Kotak musik itu sudah berpindah tempat dari atas lemari ke atas nakas yang tak jauh dari tempat tidur.


Kening Syafa mengerut saat melihat kotak musik itu. “Kenapa mirip sekali dengan punyaku?” gumam Syafa.


Merasa penasaran, Syafa membawa kotak musik itu ke dalam kamarnya. Ia ingin memastikan sesuatu.


Sesampainya di kamar, Syafa meneliti kotak musik yang ada di tangannya dengan kotak musik milikinya. Barang yang selama ini ia jaga.

__ADS_1


"Benar ... Mirip sekali dengan punyaku? Hanya saja kotak musik ini seperti sebuah kepingan"


Syafa kemudian membalikkan posisi kotak musik itu. Kotak musik milik Syafa mempunyai ciri tersendiri. Ada nama dia yang sengaja dibuat oleh mamanya. Dengan kode inisial huruf A yang artinya Aileen, panggilan sayang dari mamanya untuk Syafa.


Bola mata Syafa membulat saat melihat kode inisial yang ada di bawah kotak musik milik Yara. Huruf F ada di sana.


"Huruf F, kenapa ada kode di bawah kotak musik ini. Kode yang sama sepertiku punyaku. Apa ini milik Faeqa?" Berbagai pertanyaan memenuhi pikiran Syafa.


Wanita itu berusaha mengingat kenangan soal kotak musik yang dimilikinya. Syafa ingat betul saat ia mendapat kotak musik itu di hari ulang tahunnya yang ke-8 di mana pada hari ulang tahunnya itu adalah kado Terakhir yang ia dapat dari Puspa, mama-nya.


"Aku harus mencari surat terakhir dari mama!" Syafa lekas berjalan mendekati sebuah lemari kemudian membukanya.


Satu kotak berukuran sedang diraihnya dan dikeluarkan dari dalam lemari itu.


Satu persatu amplop berisi surat dikeluarkan dari dalam kotak itu. Setiap surat terdapat inisial angka dari umur Syafa waktu itu.


Syafa segera meraih surat yang berinisial angka 8. Ia tidak sabar ingin segera membukanya.


Perlahan surat yang telah usang itu kembali ia baca. Kata demi kata yang terangkai dalam surat itu membuat hatinya sedih. Ternyata kotak musik itu memang benar satu pasang dengan kotak musik miliknya. Jika disatukan, kotak musik itu berbentuk love. kotak musik milik Yara merupakan kepingan love sebelah kanan. Sedangkan milik siapa adalah kepingan sebelah kiri. Satu hal yang dia ketahui saat ini dan hal itu pula yang membuat Syafa meneteskan air mata.


"Kenapa takdir ku seperti ini? Kenapa aku harus menikah dengan suami dari adikku sendiri?" Syafa kembali meneteskan air mata. Hatinya hancur saat mendapati kenyataan yang ada.


.


.


.


.


To Be continued


jangan lupa like comment dan hadiah untuk karya ini.

__ADS_1


__ADS_2