
Penerbangan Jakarta-Swiss mengalami sedikit kendala saat transit terakhir di Bandara Milan. Cuaca yang kurang mendukung membuat penerbangan harus ditunda beberapa jam. Hal itu menyebabkan Erza sedikit uring-uringan. Yara yang melihat sikap suaminya itu tidak bisa berkata apa-apa karena takut membuat sang suami semakin kacau.
Erza memilih menunggu di restoran yang masih berada di sekitar bandara. Sampai ada kejelasan pesawat akan terbang kembali. Yara dan Dhiya baru saja menyelesaikan makannya pesanannya. Tapi tidak dengan Erza. Pria itu masih serius menatap ponselnya. Jelas terlihat oleh Yara, Erza sedang mengetik pesan untuk seseorang.
“Mas, habiskan dulu makannya!” tegur Yara.
“Sebentar, Sayang. Aku kirim pesan untuk Leon dulu,” balas Erza. Yara hanya bisa menggelengkan kepala membalasnya.
Leon adalah sekretarisnya di Swiss. Sudah dua hari ini Leon terus menghubungi Erza, karena pekerjaan yang dikerjakan olehnya ditolak oleh rekan bisnisnya. Andrea Wilson menolak keras jika pekerjaan itu dilimpahkan pada Leon. Andrea ingin Erza sendiri yang melakukannya. Padahal apa yang dikerjakan oleh Leon sesuai dengan perintah Erza.
Tak lama Erza meletakkan benda pipih di tangannya. Kemudian mulai menikmati makanan yang sudah dipesankan Yara untuknya.
“Apa wanita itu mempersulit pekerjaanmu, Mas?” tanya Yara saat Erza mulai menikmati makanannya.
Erza mengangguk pelan. “Ya, dia tidak ingin Leon yang menjabarkan detail pekerjaan yang sudah aku susun. Menurut Andrea, Leon kurang pas memberikan penjelasan padanya. Dia ingin aku sendiri yang menjelaskan pada dia,” jawab Erza. Kemudian kembali menyuapkan makanan yang tersisa sedikit di piringnya.
Baru saja selesai menghabiskan makanan. Ponsel Erza kembali berdering. Yara menghela napas berat melihatnya.
“Bunda aku ngantuk,” ucap Dhiya. Anak perempuan itu sesekali melebarkan mulutnya karena tak kuasa menahan kantuk.
“Tidur di sini, Nak. Masih ada waktu satu jam setengah lagi untuk kembali ke Bandara.” Yara menunjuk pahanya untuk Dhiya bersandar. Sofa yang mereka duduki saat ini setidaknya sedikit membuat Dhiya nyaman untuk tidur.
Pelayanan restoran mengangkat piring kotor yang ada di meja itu. Yara tersenyum setelah pelayan itu pergi dari hadapannya. Lima belas menit menunggu, Erza tak kunjung usai dengan sambungan teleponnya. Yara merasakan tenggorokannya kering. Wanita hamil itu merasa kehausan tapi sayangnya air minum miliknya kosong tak tersisa.
“Mas tolong ambilkan air minum,” pinta Yara. Bukanya mengambilkan makanan, Erza malah mengangkat tangannya pertanda agar Yara tidak mengganggunya.
Yara menghela napas berat. Tapi ia mencoba untuk memahami situasinya. Wanita itu memilih memesan minuman kembali. Sayangnya para pelayan sedang sibuk melayani para pengunjung. Jadi Yara harus berjalan sendiri untuk memesan minuman di sana. Melihat Dhiya lelap tertidur, Yara dengan pelan memindahkan Kepala Dhiya yang ada di atas pahanya. Agar putrinya itu tidak terbangun.
Yara berdiri perlahan, kemudian melangkah menuju loket pemesanan makanan dan minuman. Dua gelas minuman sudah ia pesan. Yara memilih menunggu dan tak lama pesanan minumannya jadi.
__ADS_1
Hal yang tidak diinginkan terjadi. Saat Yara berbalik badan sambil memegangi secangkir kopi yang ia pesankan untuk Erza dan dua botol air mineral untuknya dan Dhiya. Karena kesulitan membawa minuman itu, Yara sedikit menumpahkan kopi yang ia pegang. Mengenai seorang pria yang tengah menunggu pesanannya.
“Eh, Maaf. Aku tidak sengaja,” ujar Yara saat kopi yang ia bawa tumpah sedikit mengenai baju pria itu.
“Tidak apa, hanya sedikit ko,” balas pria itu. Yara segera meletakkan minuman yang ia bawa kemudian merogoh sesuatu dari dalam tas selempangnya. Yara meraih tisu kering untuk membersihkan noda kopi di baju pria yang ada di hadapannya.
“Anda bisa bersihkan noda itu dengan tisu ini!” Mata Yara mengarah pada noda di baju bagian lengan si pria. Kemudian Yara menyerahkan tisu tersebut.
“Terima kasih.” Pria itu menerima tissue kemudian membersihkan noda kopi yang ada di bajunya.
“Yah, masih tidak bisa hilang ya, nodanya?”
“Tak apa, Saya bisa berganti baju nanti.” Pria itu kembali membersihkan noda di bajunya. Saat itu Yara menelisik wajah pria itu. Ia seakan tidak asing dengan wajahnya.
“Maaf, apa Anda penumpang dengan tujuan Swiss dari Indonesia?” tanya Yara menegaskan.
Si pria mengangguk pelan. “Iya, benar.”
“Oh, ya. Kenapa aku tidak menyadarinya.”
“Kita sempat berpapasan di dua tempat yang sama saat transit tadi,” ucap Yara. Pria itu hanya mengangguk pelan sambil mengingat-ingat.
“Buna tazza di caffè nero, l’ordine del signor Andrew,” ucap salah seorang pelayan yang mengeluarkan pesanan milik Andrew. (Satu cangkir kopi hitam pesanan Tuan Andrew)
“Sì, questo è il mio ounya,” jawab Andrew. (Ya, itu pesanan punyaku)
Pria itu lekas mengambil kopi hitam yang sudah ia pesan. Kemudian beralih lagi pada Yara.
“Apa tujuan kita juga sama? Aku hendak ke kota Zurich, kamu?” tanya pria itu. Dan si pria ingat kali dirinya belum tahu nama Yara. “Oh, ya. Kenalkan dulu, namaku Andrew.” Pria itu mengulurkan tangan sambil menyebut namanya.
__ADS_1
Yara membalas dengan menangkupkan tangan di depan dada. “Yara,” balas Yara sambil menunduk sedikit.
Melihat tanggapan dari Yara yang menolak berjabat tangan dengannya. Andrew paham kalau Yara wanita yang sopan.
“Tujuan kita sama. Dan sekali lagi maaf atas kecerobohan saya. Kalau begitu saya pamit undur diri.” Yara kembali tertunduk sopan. Ia merasa tidak pantas berlama-lama berbicara dengan pria yang baru saja dikenalnya sehingga Yara memutuskan untuk undur diri dari hadapan pria itu. Yara tidak mau obrolan semakin panjang.
Diraihnya kembali kopi dan dua botol minuman yang diletakkannya di meja. Yara terlihat kesulitan saat meraih dua benda tersebut.
“Biar ku bantu,” ucap Andrew.
“Saya bisa sendiri.” Yara pun mencoba melakukannya sendiri. Kemudian berlalu dari hadapan Andrew.
Melihat Yara pergi membuat Andrew menerik kedua sudut bibirnya. “Wanita yang sopan. Sayang sekali dia sudah menikah, andai saja dia masih sendiri. Aku tertarik pada wanita itu,” ucap Andrew sambil terus menatap kepergian Yara dari hadapannya.
Dari kejauhan sepasang mata memperhatikan mereka. Ada rasa kesal dalam hatinya. Tapi pria itu kembali melanjutkan sambungan teleponnya dengan orang lain di seberang telepon.
Saking sibuknya menerima telepon dari sekretaris nya. Erza sampai tidak menyadari kalau Yara sudah tidak ada di sampingnya. Dan saat menoleh ke sisi lain, Erza malah melihat Yara sedang berbicara dan tersenyum pada pria lain. Yang paling membuat Erza kesal karena di pria yang sedang berbicara dengan Yara menatap wanitanya itu dengan tatapan tak biasa. Erza dapat mengartikan tatapan itu.
“Sedang apa istriku di sana?” ucap Erza. Ah,Sial. Kenapa jadi rumit sekali semenjak Pak Dimar melimpahkan kerja sama ini pada putrinya,” gerutu Erza seraya menutup sambungan teleponnya. Erza mendekati Yara.
“Darimana kamu? Dan siapa dia?” tanya Erza kesal pada Yara. Erza merasa cemburu melihat wanitanya bersama pria lain. Pria itu tanpa sadar sudah berbicara dengan nada tinggi pada Yara.
Yara mengerutkan alis mendapat cecar pertanyaan dari suaminya. Bahkan Yara langsung menghentikan langkah dan menatap Erza heran. Ia merasa terkejut mendengar suaminya itu berbicara dengan suara tinggi bahkan dengan tatapan kesal karena cemburu. Hal yang tidak pernah Yara alami selama ini.
.
.
.
__ADS_1
To be continued