
"Apa kamu mau bawa buah manggis, Ra? Kebetulan lagi berbuah banyak," ujar Bu Lidya sambil mendongak ke atas pohon.
"Wah, banyak sekali buahnya Bu! Apa boleh Yara membawanya?" Tanya Yara.
"Kenapa tidak? Pohon ini 'kan aku yang tanam. Ibu sering sering menjualnya pada tengkulak."
"Memangnya anak-anak tidak ada yang suka, Bu?"
"Suka, hanya saja kalau kebanyakan juga mereka bosan. Setelah memisahkan untuk anak-anak dan membagikan pada tetangga, sisanya baru ibu jual. Lumayan buat tambahan uang dapur," tutur Bu Lidia.
Yara merasa sedih mendengarnya. Sebab ia merasa belum bisa membantu balik pada Bu Lidia.
"Maafkan Yara, belum bisa membantu meringankan kebutuhan buat di panti ini, Bu!" Ucap Yara lesu.
"Melihat kamu dan keluargamu bisa berkumpul lagi saja sudah membuat ibu merasa senang, Ra. Kamu tidak usah pikirkan kami. Doakan saja agar semuanya dipermudah dan diberi rejeki untuk kedepannya." Bu Lidia menepuk pelan bahu Yara.
"Terima kasih sudah mengerti aku, Bu!"
Obrolan Bu Lidia dan Yara pun terus berlanjut. Banyak yang Bu Lidia ceritakan soal masa lalu nya bersama Mama Mira. Tapi tak banyak yang ia ketahui soal masalah yang menimpa mama kandungnya itu. Kira hanya mengungkapkan kesalahpahaman saja. Dan selama itu pula Mama Mira tidak lagi membahas keluarga yang ditinggalkannya. Sebab setiap tahunnya ia selalu pergi ke kota untuk menemui seseorang tanpa mengajak Yara yang saat itu masih kecil. Dan sayangnya Mira harus pergi meninggalkan Yara saat usia gadis itu berumur 7 tahun. Mama Mira meninggal dalam kecelakaan kereta api jalur Jakarta-Mojokerto.
Cukup lama Yara dan Dhiya berada di panti asuhan. Dhiya terlihat begitu senang bisa bermain dengan anak-anak panti.
Usai menceritakan semua yang Bu Lidia ketahui. Beliau hanya memberi satu nasehat pada Yara.
"Jadilah wanita yang kuat dan jangan pernah menyerah. Kalau kamu ingin mengetahui kebenarannya, carilah sahabat ibumu, di Jakarta. Nama dan alamatnya ada di buku harian mama-mu," ujar Bu Lidia.
"Apa ibu tidak membaca keseluruhan isi tulisan ini?" Tanya Yara. Dan mendapatkan gelengan kepala dari Bu Lidia.
"Tidak, Nak! Kamu lebih berhak atas itu semua." Kemudian Yara menyimpan buku harian almarhum mama-nya ke dalam tas, ia berencana akan membacanya nanti.
Yara dan Bu Lidia pun ikut bergabung dengan yang lain di aula. Setelah itu banyak lagi yang Yara kerjakan di sana. Berkeliling halaman panti dan menelusuri beberapa tempat yang menjadi kenangannya bersama sang mama yang telah tiada.
Cukup lama Yara berada di panti asuhan. Hingga menjelang sore Yara dan Dhiya baru pamit pada Bu Lidia dan yang lainnya.
"Kami pamit dulu, aku tidak enak kalau kelamaan sama ibu mertuaku, Bu!" Ucap Yara sambil menyalami tangan Bu Lidia.
"Lama atau tidak, ibu mertuamu memang tak pernah bersikap baik padaku, Ra! Kapan dia akan merubah sikapnya. Ibu mertuamu itu tidak sadar kalau dia punya anak perempuan, bagaimana perasaannya kalau anak perempuannya diperlakukan tidak Abik oleh keluarga suaminya," Celetuk Bu Lidia.
"Hus ... Bu, ucapan itu doa. Aku tidak mau hal itu terjadi kepada adik ipar ku, Bu." protes Yara.
"Habisnya ibu mertuamu kadang tidak bisa berpikir ke arah sana."
"Doakan saja agar beliau bisa berubah.Dan doakan agar Yara bisa sukses dengan hasil kerja Yara sendiri. Jadi bisa buat bangga ibu dan siga bisa membuat mertuaku sedikit bangga padaku, Bu."
"Aamiin, ibu akan doakan kamu selalu."
__ADS_1
"Satu lagi," sela Yara.
"Apa, Ra. kamu ini banyak sekali titipan doa pada ibu."
"Karena doa ibu dan anak-anak panti akan terkabul oleh Sang Pencipta. Yara minta didoakan agar Mas Afkar segera sembuh dan mengingat masa lalunya."
"Aamiin ... Ibu juga akan selalu mendoakan itu. Ingat, Ra. Kamu pasti kuat untuk berjuang. Tapi ... Jika batin mu mulai lelah, jangan memaksakan diri. Mengalah bukan berarti kamu kalah. Tapi kamu adalah pemenang yang sebenarnya karena lebih memiliki hati yang lapang dalam mengikhlaskan." Ucap Bu Lidia sambil mengelus pelan pundak Yara.
"Doakan yang terbaik untuk Yara, Bu!"
Bu Lidia mengangguk pelan kemudian beralih kepada Dhiya yang dari tadi hanya diam sambil sesekali menguap.
Gadis kecil itu mengantuk karena seharian bermain. Lambaikan tangan dari Bu Lidia menjadi perpisahan mereka.
Tepat sebelum azan maghrib berkumandang di desa itu. Yara dan Dhiya sampai di rumah Bu Nuri. Dhiya terlelap dalam gendongan Yara.
Salam dari Yara pun membuat semua orang yang ada di ruang tamu langsung menoleh kepadanya.
Yara tidak menyangka akan ada kedatangan tamu di rumah itu. Suami dari Mira baru saja pulang dari tugasnya di luar pulau. Yara langsung mendekat ke ruang tamu.
"Mas, Maaf aku kesorean. Dhiya merajuk masih mau bermain, tadi!" Yara lebih dulu mendekati Afkar kemudian menyalaminya.
"Sebaiknya baringkan Dhiya dulu di kamar, kasihan dia." Ujar Afkar.
Yara mengangguk pelan kemudian mengikuti perintah suaminya.
"Apa kabar, Gung?" Sapa Yara pada Agung, suami Mira.
"Baik, Mba," jawabnya singkat.
"Dari tadi?" Tanya Yara.
"Ya lumayan sih, dari jam 2 tadi!" ujarnya.
"Mas, mau jama'ah di masjid depan rumah apa mau di rumah saja?" Tanya Mira yang baru saja datang dari arah dapur. Sebab azan magrib sudah terdengar berkumandang.
"Kita jama'ah di masjid saja, Dek," jawab Agung dan melirik ke arah Afkar untuk mengajaknya.
Afkar yang mendapat lirikan itu mengerti maksud dari Agung. Ia mengangguk pelan untuk menyetujuinya.
Mereka berpisah untuk menjalani kewajiban sebagai seorang muslim yang taat pada agamanya.
Yara mendekati Pak Setyo yang melambaikan tangan kepada-nya.
"Bapak, maaf Yara baru pulang." Sapa Yara pada pria paruh baya yang duduk di kursi roda itu.
__ADS_1
"Bapak ikut sama Yara dan yang lain saja ya, solatnya," ajak Yara. Pak Setyo hanya mengangguk pelan.
Setelah semuanya pulang dari masjid. Mereka kembali berkumpul, lagi- lagi rencana membahas kepulangan ke Jakarta masih berlanjut. Yara sedikit bingung karena tidak mengetahuinya dari awal.
"Mba maaf tadi ibu sudah memutuskan ikut ke Jakarta bersama Mas Afkar dan Mba Syafa. Di sana banyak rumah sakit bagus untuk menyembuhkan bapak, Mba Syafa juga akan membawa bapak ke tempat terapi yang bagus di sana," ujar Mira memberi penjelasan pada Yara yang terlihat bingung.
"Ke Jakarta?" Tanya Yara heran.
"Iya, ke Jakarta! Kenapa heran dan terkejut kami akan pergi ke sana? Apa kamu tidak senang melihat bapak sehat lagi." serobot Bu Nuri.
"Tidak begitu, Bu. aku senang kalau bapak sehat lagi. Lalu rumah ini siapa yang menempati?" Tanya Yara.
"Ada Bi Darmi sama Paman Yono, Mba" sahut Mira.
"Yara hanya bisa mendoakan agar bapa cepat sehat lagi!" Ujar Yara.
"Doa saja tidak cukup untuk kesembuhan bapak, harus ada uang yang melibatkan semua itu," ketus Bu Nuri pada Yara.
"Aku baru bisa membantu dengan doa, Bu," sahut Yara.
"Ah, apa sih yang kamu bisa bantu buat keluarga ini!" Lagi-lagi ucapan Bu Nuri membuat Yara semakin terpojokkan.
"Sudah, Bu," tegur Mira. "Mba Yara mau ikut ke Jakarta 'kan, tinggal bersama dengan Mas Afkar?" Tanya Mira.
Yara sedikit bingung dengan pertanyaan Mira.
"Maaf tadi kami sudah membahas untuk rencana kedepannya tanpa ada kamu. Ibu dan bapak akan tinggal bersamaku di rumah. Agar bapak bisa berobat jalan di sana. Kamu juga bisa tinggal bersamaku dan juga Mas Afkar. Benar 'kan, Mas?"
Afkar menganggukkan kepala. "Ya, kita akan tinggal bersama dalam satu atap dulu. Nanti setelah aku mempunyai penghasilan. Aku akan mencari rumah lain untuk kamu. Jika tidak ingin satu atap dengan Syafa."
Yara terdiam mendengar semua penuturan itu. Mereka tidak bertanya lebih dulu pada Yara.
"Kamu tidak keberatan 'kan, Ra?" Tanya Afkar.
Yara menggelengkan kepalanya pelan. Bukankah saat ini dia juga tidak bisa menolak. Yara sudah mengambil keputusan untuk selalu bersama Afkar untuk membantunya mengingat kembali kenangan masa lalu. Sebab ada Dhiya saat ini yang menemaninya. Yara seakan punya kekuatan untuk bertahan di sisi Afkar meski harus tinggal bersama madu-nya.
.
.
.
.
__ADS_1
Hai.... like, komen dan bintang 5 jangan lupa ya.. kalau ada kritik dan saran silahkan tulis di komentar ya...