
Sesuai rencana. Hari ini Erza berencana pergi menemui Yara. Lagi-lagi, Beno harus dibuat repot oleh pria itu. Sebab motor matic yang dibelikan Erza untuk menggantikan motor yang hilang itu kembali dipinjam olehnya.
"Za, kalau misalkan motor gue ini hilang lagi, gue boleh pesen gantiin motor matic aja ga, ya minimal WCX lah!" Beno memberi penawaran.
"Kalau motor lu kali ini ilang, gue gak bakal mau ganti!" tegas Erza sambil menatap tajam ke arah Beno.
Ucapan Erza membuat Beno bergidik ngeri. Ia tahu kalau saat ini, temannya itu sedang dalam mode mumet.
"Iya, kagak, deh!" seru Beno.
Erza lekas melemparkan kunci mobil pada Beno.
Hap ....
Beno dengan sigap menangkap kunci mobil Erza.
"Seperti biasa motor lu gue pake kita barter!"
"Gak sekalian uang jajan gue, Za," celetuk Beno sambil nyengir kuda. "Lagi kanker banget gue!" lanjutnya.
"Kapan sih lu, gak kanker? Perasaan tidak ketemu gue lu kanker terus!" Erza merogoh dompet di saku celananya.
"Sekalian lu isi bensin deh mobil gue! Kebiasaan tiap tuh mobil ada sama lu, bensinnya cepet banget abis, lu sedot apa?" ledek Erza.
"Gile aja, Za. Masih normal gue, aji mumpung pake mobil keren, jalan-jalan sama gebetan!" Beno akhirnya mengaku juga.
Erza hanya mengelengkan kepalanya pelan.
"Lagian ku, cewek tuh pasti banyak yang nempel kalau lu pake mobil keren begini. Lah lu malah milih pinjem motor gue, aneh!" gerutu Beno.
"Gue pengen cewek yang deket sama gue bukan karena harta tapi ketulusan," sahut Erza kemudian kerja itu tancap gas meninggalkan Beno.
"Tuh anak ada-ada aja, kalau bisa gue gantiin deh jadi anak orkay. Gue bebas pilih cewek yang gue mau." Beno cekikikan membayangkan dirinya menjadi orang kaya. Disaat yang bersamaan Erza telah menghilang dalam pandangannya.
"Za ... Za ... Kapan lu ungkapin jati diri lu sebagai anak orang berada." Beno menggelangkan kepala dengan kelakuan Erza sambil menatap kepergian temanya itu.
Erza memang tidak pernah mengungkapkan jati dirinya kepada teman satu tongkrongan dengan Beno. Erza mengaku sebagai supir karena sesekali membawa mobil mewah, itu pun jarang. Erza lebih sering memakai motor gedenya saat ia pergi nongkrong bareng Beno. Hanya Beno yang tahu kalau Erza adalah anak orang kaya.
...🌱🌱🌱...
Siang ini, Afkar dan Syafa berada di dalam mobil yang sama. Saat jam istirahat Syafa meminta Afkar pulang ke rumah. Afkar terlihat tergesa-gesa saat memasuki rumahnya.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Afkar saat Syafa menyambutnya di pintu utama rumah itu.
__ADS_1
"Papa sakit, Mas! Aku mau ke sana!" rengek Syafa dengan raut wajah begitu khawatir.
"Kamu mau ke sana?" Tanya Afkar
Syafa menganggukkan kepalanya pelan. "Aku juga mau menginap di sana, Mas! Boleh?" Syafa terlihat sedikit ragu saat berucap.
"Boleh lah, kenapa tidak. Kasihan papa di sana sendiri." Afkar merangkul tubuh Syafa kemudian mendaratkan kecupan di kening wanita itu.
"Kita berangkat sekarang? Ada yang perlu di bawa?" Afkar memastikan.
"Tidak ada! Di rumah papa juga ada pakaianku," ujar Syafa.
"Baiklah, kita pamit dulu sama ibu dan bapak," ucap Afkar kemudian mengajak Syafa masuk terlebih dahulu ke dalam rumah untuk berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Mas, aku ambil tasku dulu!" balas Syafa kemudian berjalan pelan menaiki anak tangga.
"Hati-hati, Sayang!" Ucap Afkar dan Syafa membalas dengan senyuman.
"Bu ...." panggil Afkar.
Tak lama Bu Nuri keluar dari kamar bersama Pak Setyo.
"Ada apa, Kar?" Tanya Bu Nuri sambil mendorong kursi roda keluar dari kamarnya. Wanita perih baya itu melihat Syafa berjalan sendiri naik ke lantai dua rumah mewah itu. "Apa tidak lebih baik kamu pindah kamar saja di bawah. Sangat rentan bagi Syafa naik turun tangga," usul Bu Nuri pada Afkar yang berjalan mendekatinya.
"Kamu mau ke rumah mertuamu?" Tanya Bu Nuri. Afkar mengangguk, mengiyakan.
"Iya, Bu. Beliau sedang sakit dan Syafa akan menginap beberapa hari di sana," ucap Afkar sambil berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Pak Setyo. "Bagaimana terapinya, Bu? Apa ada perubahan?" Tanya Afkar sambil mengusap pelan tangan Pak Setyo dengan lembut. Meskipun tidak ingat dengan kenangannya bersama orang tuanya. Afkar lebih memakai perasaan.
Hatinya miris melihat kondisi bapaknya yang semakin kurus. Pak Setyo sulit untuk makan.
Pak Setyo menatap Afkar dalam seakan ingin berbicara sesuatu. Pria paruh baya yang sudah tidak bisa berbicara lagi itu hanya bisa membuka mulut tanpa ada suara. Satu kata yang bisa ditangkap Afkar dari gerakan bibir Pak Setyo.
Sebuah nama dari orang yang beberapa hari ini ia rindukan. Yara, nama itu yang terucap dari bibir Pak Setyo.
Di saat bersamaan Syafa terlihat berjalan menuruni anak tangga. Bu Nuri lekas menghampiri menantu kesayangannya itu.
"Aduh ... Hati-hati, menantuku!" Ucap Bu Nuri dan mendapatkan senyuman hangat dari Syafa. Bu Nuri menyambutnya di ujung anak tangga. Keduanya terlihat sedang berbicara serius di sana.
"Bapak mau ketemu sama Yara?" Tanya Afkar dengan suara pelan.
Pak Setyo membalas dengan anggukan. Wajahnya terlihat sedih, matanya sudah berkaca-kaca. Jelas terlihat kerinduan dari tatapan matanya.
"Aku akan membawanya ke sini, nanti," balas Afkar Mash dengan suara pelan. Afkar langsung menghentikan ucapanya saat melihat Syafa dan Bu Nuri berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, Ibu akan pantau terus Afkar." Bu Nuri terdengar berbisik saat berbicara dengan Syafa.
"Apa aku egois, Bu. Menahan Mas Afkar untuk bertemu dengan Yara. Aku takut, dia melupakan aku saat Ingatannya kembali," keluh Syafa.
"Tidak, kamu sudah benar. Lagian ibu tidak suka dengan Yara. Buktinya dia tidak kembali ke rumah ini, menemui Afkar. Seharusnya seorang istri itu mengikuti suaminya dimanapun berada. Yara malah lebih senang tinggal tanpa Afkar. Merasa bebas dia, tidak ada yang melarangnya untuk pergi. "Bu Nuri sengaja meninggikan suaranya agar Afkar mendengar. "Yara itu kan sebenarnya anak bebas." Pasti kayak burung yang lepas dari sangkar tuh, anak." Lanjut Bu Nuri, ia sengaja memanasi Afkar agar anaknya itu emosi dan benci sama Yara.
Mendengar ucapan istrinya, Pak Setyo menggelengkan kepala. Afkar pun melihat itu.
'Ibu kenapa tega sekali memfitnah Yara. Padahal dia menantu yang sangat baik dan berbakti pada suami, bahkan padamu, Bu. Tuhan sembuhkan Afkar agar Yara bisa kembali.'
Batin Pak Setyo. Kalau saja bibirnya dapat berbicara. Pak Setyo ingin sekali mengungkapkan bahwa ucapan istrinya itu tidak benar.
"Mas ...." Panggil Syafa.
Afkar lekas berdiri dari jongkoknya.
"Sudah siap?" Tanya Afkar.
Syafa pun mengangguk pelan.
"Kalau begitu kita berangkat sekarang!" Ucap Afkar kemudian pamit pada kedua orang tuanya untuk pergi ke rumah papa Rio.
Sesampainya di rumah Papa Rio. Syafa langsung menemui beliau di kamarnya. Putri pertama dari Papa Rio terlihat begitu khawatir. Syafa takut kalau papa-nya kenapa-napa.
"Papa ...." Panggil Syafa saat pintu kamar itu terbuka. Syafa juga berjalan cepat menuju tempat tidur, di mana seorang pria berumur tengah berbaring usai diperiksa oleh dokter.
Papa Rio lekas bangkit setelah melihat kedatangan Syafa. Seorang wanita yang ada di samping Papa Rio turut membantunya.
Tatapan Syafa mengarah pada wanita itu. "Anda siapa?" Tanya Syafa dengan tatapan penuh selidik pada wanita itu.
.
.
.
To Be continued...
Hai ... Maafkan Author kemarin off. Semoga kalian tidak bosan menunggu. Meskipun author tahu menunggu itu tempe 😉😉😁😁😁
Masih tetap semangat 'kan. Jangan lupa like, dan komennya ya...
love u to kalian....
__ADS_1