Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Celakai Ketiganya


__ADS_3

Berbincang dan bergurau bersama pagi itu membuat hubungan Yara, Syafa dan Pak Rio semakin dekat. Apalagi dengan adanya kehadiran Dhiya di sana membuat pak Rio semakin bersemangat untuk sembuh. Dhiya banyak berbicara dan membuat Pak Rio tersenyum. Bahkan sesekali tertawa mendengar cerita Dhiya.


Gadis itu bercerita tentang Azzam dengan serius pada Pak Rio.


"Itu artinya cucu kakek cemburu kalau Azzam dengan anak perempuan lain," ujar Pak Rio sambil terkekeh pelan menangapi ocehan Dhiya.


"Bukan cemburu tapi gak suka, Kek," Dhiya menekankan ucapannya.


Pak Rio kembali terkekeh. Pria tua itu sampai tersedak karena mendengar ucapan Dhiya. "Uhuk ... Uhuk." Pak Rio tersedak saat ia terkekeh pelan.


Yara dengan cepat meraih secangkir air putih dan mengarahkannya pada bibir Pak Rio. Beruntung di dalam secangkir air itu terdapat sedotan, sehingga mempermudah pria tua itu untuk meminumnya.


"Kakak, jangan diajak berbicara terus kakeknya! Lihat, jadi tersedak 'kan si kakek!" tegur Yara.


"Maaf, bunda," ucap Yara kemudian beralih pada Pak Rio. "Maaf ya, Kek."


Pak Rio hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.


"Aku pijat kakinya ya, Kek?" Dhiya menawarkan diri. Tanpa menunggu jawaban dari kakeknya, Dhiya dengan pelan memijat kaki Pak Rio.


"Baik sekali cucuku ini. Kalau kakek sembuh kita main sama-sama ya!" ucap Pak Rio.


"Siap, Kek," sahut Dhiya. Yara tersenyum mendengar ucapan keduanya.


"Papa makan ya, aku suapi!" ucap Yara saat melihat makanan yang ada di atas troli pasien masih tak tersentuh.


Pak Rio menganggukkan kepalanya pelan.


Yara pun menyuapi pria tua itu sedikit demi sedikit.


"Aku ambilkan minum untuk papa," Syafa ikut serta. Wanita itu mengambil air dari dispenser yang ada di ruangan itu.


Suapan demi suapan Yara berikan pada Pak Rio. Akhirnya Yara dapat merasakan kebersamaan dengan kakak dan papanya. Benar apa Erza suaminya, berlapang dada untuk memaafkan bisa membunuh rasa keras di hati.


"Ini minumnya." Syafa meletakkan air putih diatas nakas. Kemudian melangkahkan kakinya menuju sofa. Wanita itu hendak merapikan bekas makannya dengan Tante Gita tadi. Makanan yang tersentuh sedikit perlu mereka berdua pagi tadi.


Usai disuapi makan oleh Yara. Pak Rio meminum obat yang sudah disediakan oleh suster jaga. Lagi-lagi Yara yang membantu pria tua itu. Sebuah keajaiban yang sangat mengejutkan. Keadaaan Pak Rio berangsur membaik dengan cepat.


Alat bantu napas pun tak lagi dipakainya. Kini Pak Rio tengah berbaring mengistirahatkan tubuh karena obat yang sudah ia minum. pria tua itu lebih cepat memejamkan mata. Yara tersenyum melihat pria yang selama ini ia dambakan keberadaannya tertidur lelap di depan matanya.


Berbeda dengan Yara. Syafa terlihat berdiam diri. Wanita itu sangat menyayangkan kepergian Tante Gita tanpa pamit padanya. Padahal wanita itu sudah memiliki tempat penting di hati Syafa semenjak kebersamaan mereka.


"Kakak belum sarapan, mau makan?" tanya Yara pada Dhiya dengan suara pelan. Anak kecil itu masih setia duduk di kursi yang ada di sisi tempat tidur Pak Rio.


Dhiya menganggukkan kepalanya pelan. "Kakak mau bubur, Bun!" sahut Dhiya.


"Bunda telepon papa dulu, ya! Kita makan sama-sama. Sekarang biarkan kakek tidur dulu," ucap Yara sembari mengulurkan tangannya untuk mengajak Dhiya beranjak dari sisi Pak Rio.


Dhiya kembali mengangguk membalasnya. Bocah kecil itu lekas turun dan meraih tangan Yara kemudian mengikuti langkah bundanya itu untuk mendekati Syafa.


"Tunggu sama Mamih, bunda mau telepon papa dulu!" ucap Yara. Dhiya kembali menyurut dan mengikuti ucapan bundanya.


"Anak pintar." Yara mengusap pelan rambut Dhiya kemudian beralih menatap Syafa. Dahinya mengerut saat melihat kakaknya itu berdiam diri. Ingin menegur Syafa tapi Yara memilih menghubungi Erza lebih dulu.


Diraihnya ponsel yang ada di dalam tasnya. Wanita itu segera menghubungi Erza. tak lama sambungan telepon pun tersambung.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Mas dimana?" tanya Yara tanpa basa basi.


"Di restoran di depan rumah sakit, Sayang. Eum, kebetulan seorang Mas lagi sana Afkar," jawab Erza pelan. Suami dari Yara itu tidak mau menutupi sedikitpun dari istrinya. Beruntung Erza sedikit menjauh dari Afkar. Sehingga obrolannya dengan Yara di telepon tidak terdengar oleh pria itu.


"Mas Afkar, ko bisa?" tanya Yara heran. Yara sedikit menjauh dari Syafa dan Dhiya.


"Mas tadi bertemu dengan dia di depan kamar papa, karena tidak mau menganggu kalian. Akhirnya kami memutuskan mengobrol di restoran." Erza menjelaskan.


"Sayang," panggil Erza.


"Hem,"


"Afkar ingin bertemu sama kamu dan juga Dhiya," ujar Afkar. Pria itu menunggu tanggapan dari Yara. "Sayang ... Kamu dengar aku?"


"Aku dengar, Mas." Yara menghela napas berat. Mungkin sudah saatnya ia bertatap muka dengan Afkar kali ini.


"Lalu?" lanjut Erza.


"Seperti yang Mas bilang, aku harus menghadapinya bukan?" sahut Yara.


"Mas akan selalu menemani kamu, Sayang. Merelakan dan Ikhlas adalah jalan terbaik."


"Terima kasih, Mas. Kamu selalu ada untukku."


"Itu sudah jadi tugasku sebagai suami, Sayang. Lalu bagaimana? Mau mas jemput ke sini, sekalian sarapan? Kamu dan Dhiya belum makan loh!"


Yara diam sesaat. "Sebaiknya kita berbicara sama Mba Syafa juga, Mas," lanjut Yara.


"Begitu lebih baik. Tunggu di sana! Aku akan menjemput kalian!" ucap Erza dari seberang telepon. Pria itu hendak menutup teleponnya tapi dengan cepat Yara mencegah.


"Tunggu, Mas!" cegah Yara saat Erza akan menutup teleponnya.


"Mas tidak usah ke sini, biar aku sama Dhiya ke sana. Tapi aku bingung siapa yang menjaga papa," jawab Yara masih dengan suara pelan sembari melirik ke arah Pak Rio.


Syafa terlihat sedang berbicara dengan Dhiya tapi dari raut wajahnya, Yara dapat melihat sesuatu yang berbeda.


"Biar saya yang menjaga papa kalian," ucap seorang wanita yang tiba-tiba saja datang tanpa Yara sadari.


"Tante Gita!" pekik Yara saat melihat wanita itu. Yara masih sadar kalau sambungan teleponnya masih tersambung dengan Erza. Yara pun mengakhiri sambungan telepon itu lebih dulu dan mengabarkan kalau dirinya akan menyusul tanpa dijemput oleh suaminya. Usai menutup sambungan teleponnya, Yara berhadapan dengan Tante Gita.


"Maaf kalau aku akan merepotkan tante lagi," ucap Yara.


"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Keluarlah selagi papa kalian masih tertidur," titah Tante Gita.


Yara mengangukkan kepalanya pelan. Ia lekas mendekati Syafa dan Dhiya.


"Seru banget lagi cerita apa?" tegur Yara, ucapannya itu membuat Dhiya dan Syafa menghentikan obrolan mereka.


Dhiya tersenyum membalas Yara. Sedangkan Syafa merasa lega setelah melihat Tante Gita kembali. Wanita itu segera berdiri kemudian berjalan mendekati Tante Gita.


"Aku cerita kalau di Swiss punya dua kelinci yang lucu, Bun. Aku mau Mamih ikut ke sana, nanti," ujar Dhiya yang berjalan pelan mendekati Yara. Bunda-nya itu lekas mengusap pucuk kepala Dhiya.


"Kita susul papa, yuk!" ajak Yara lembut pada Dhiya.


"Emang papa di mana, Bun?" tanya Dhiya.

__ADS_1


"Papa lagi ada di depan rumah sakit ini," jawab Yara. Wanita itu beralih menatap Syafa. "Mbak Syafa juga ikut," ajak Yara pada Syafa.


Wanita yang sedang berhadapan dengan Tante gIta segera menoleh pada Yara.


"Aku sudah sarapan, Ra." Syafa menolak ajakan adiknya.


"Temani aku saja, Mba," bujuk Yara.


Tidak ingin melihat Yara adiknya itu sedih. Akhirnya Syafa menyetujuinya.


Yara dan Syafa begitu juga dengan Dhiya pamit dulu pada Tante Gita.


"Kami pamit sebentar ya, Tan. Kalau ada apa-apa tolong beritahu kam!" ujar Yara.


Tante Gita mengangguk pelan. Sebelum mereka keluar dari ruangan, Syafa sempat mengutarakan kecemasannya pada wanita yang sudah menemani hari-harinya itu.


"Aku kira Tante akan meninggalkan aku seperti mama," ucap Syafa pelan.


Tante Gita mengusap pelan pundak Syafa. "Tidak akan, Sayang. Kamu tenang saja, sekarang lebih baik kamu temani Yara," titah Tante Gita.


Dan akhirnya mereka bertiga keluar dari ruang perawatan Pak Rio.


Ketiganya berjalan santai menuju restoran yang diberitahu oleh Erza.


Pandangan Yara mengarah pada Erza yang tengah melambaikan tangan padanya.


'Itu Mas Erza. Tapi, mana Mas Afkar ko tidak ada?' pikir Yara.


Wanita itu segera memberitahu Syafa dan Dhiya. Kemudian menunjuk ke arah di mana Erza berada. "Kita ke sana, ya!" Yara segera menggandeng Dhiya.


Ketiganya menyeberang dengan hati-hati sambil bergandengan tangan.


"Nah itu dia anaknya Afkar," ucap Jono sambil menunjuk ke Dhiya.


"Terus kita mau bikin celaka yang mana, Jon?" tanya pria yang berada di belakang Jono.


"Ketiganya. Aku ingin ketiga wanita berbeda usia itu celaka!" Jono bersiap menyalakan motor yang mereka tumpangi saat ini. Bibir nya tertarik membentuk senyum licik dan penuh dendam. "Masa bodo dengan siapa anak itu sekarang. Yang pasti gue yakin dua wanita itu pasti berarti buat anak itu," ucap Jono kemudian pria licik itu memakai helm dan mulai menarik pedal gas di tangannya.


"Siap-siap kamu kehilangan anakmu, Afkar. "Jono menarik gas ditangannya. Motor yang ia kendarai mengarah pada Yara, Syafa dan Dhiya yang berjalan menyeberang jalan raya


"YARA ...," teriak seseorang.


.


.


.


to be continued


Maafkan ya. author benar benar minta maaf. up nya tidak bener beberapa Minggu ini. semoga kalian harap maklum. setelah cerita ini usai. author mau buat skuel nya dari tokoh yang ada di judul karya ini.


Kalian mau sad ending atau happy ending nih .. biar lebih seru.....


di tunggu komen Komen kalian ya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2