Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Lembut Dan Lebih Menenangkan


__ADS_3

"Aww ...," ringis Dhiya saat Azzam mengoleskan salep luka pada lutut anak perempuan itu.


"Ayo, kita pulang!" Ajak Azzam sambil berjongkok membelakangi Dhiya. Azzam berniat menggendong Dhiya dibelakang tubuhnya.


"Pulang ke mana? Orang rumahku di sini!Aku juga bisa jalan sendiri!" Ketus Dhiya seakan menolak ajakan Azzam.


Azzam lekas berdiri dari jongkoknya. "Ya sudah kalau kamu bisa jalan sendiri. Aku duluan!" Pamit Azzam.


Dhiya memanyunkan bibirnya melihat Azzam berjalan menjauh. "Kak Azzam jahat! Gak mau nungguin aku!" Teriak Dhiya.


Azzam tersenyum mendengarnya. Anak laki-laki itu berbalik badan kembali pada Dhiya. "Makanya jangan berlaga bisa sendiri." Azzam kembali berjongkok di depan Dhiya. "Ayo, biar ku gendong! bisa bangun 'kan?" Tanya Azzam tanpa melihat lawan bicaranya.


"Bisa, Tapi kalau jalan sakit!" keluh Dhiya.


"Makanya cepat naik!" titah Azzam.


"Sabar, ih!" Meskipun malu, akhirnya Dhiya mau juga naik ke punggung Azzam.


"Pegangan," seru Azzam saat anak lelaki itu berdiri perlahan dengan mengangkat beban dari badan Dhiya.


"Iya," sungut Dhiya kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Azzam.


"Jadi anak cewe jangan terlalu jutek nanti gak ada yang suka loh!" Azzam membuka obrolannya. Ia berjalan pelan menuju rumah Dhiya. Kebetulan halaman rumah Erza di Swiss itu sangat luas sekali seperti lapangan bola.


"Biarin, sengaja biar gak ada yang suka!" sahut Dhiya dengan suara juteknya.


Azzam terkekeh geli mendengarnya. "Tapi tenang aja, kalau kamu gak ada yang suka, cukup Kak Azzam aja yang suka sama Dhiya. Ingat jangan ada yang lain ya!" oceh Azzam membuat Dhiya semakin mengerucutkan bibirnya.


"Ogah, Kak Azzam itu genit sama cewe. suka senyum sama mereka," celetuk Dhiya.


"Itu namanya ramah, bukan genit," sanggah Azzam.


"Enggak tetep aja itu genit!"


"Jadi mau kamu Kak Azzam jutek ke semua orang?"


"Dih, itu terserah kakak, siapa aku? Larang -larang Kak Azzam." sahut Dhiya.


Kedua anak kecil itu mengobrol seperti orang dewasa. Jarak usia Azzam dan Dhiya berjarak sekitar 6 tahun. Entah mengapa obrolan dengan Dhiya meskipun jutek tapi menyenangkan bagi Azzam.


"Kamu calon istriku di masa depan," sahut Azzam sambil terus berjalan pelan seraya mengendong Dhiya.


"Dih, gak mau!"


"Harus mau!"


"Kak Azzam!" gerutu Dhiya sebal sembari memukul bahu Azzam pelan.


"Diam! Nanti kamu jatuh!"


"Abisnya Kak Azzam nyebelin," sungut Dhiya.


Azzam lantas terkekeh mendengar gerutuan Dhiya. Anak lelaki itu senang sekali menggodanya. Tapi ada keseriusan dalam hati Azzam. Ia berharap jika besar nanti Dhiya lah yang menjadi istrinya.

__ADS_1


"Kakak bercanda, Dhiy!" seru Azzam.


"Kak Azzam tuh jangan genit sama cewek, aku tuh gak suka!" celetuk Dhiya pelan tapi bisa didengar oleh Azzam.


Senyum mengembang di wajah anak lelaki itu mendengar penuturan Dhiya tentang dirinya.


"Aku cuma genit sama kamu, Dhiy!"


Tanpa banyak bicara lagi Dhiya semakin mengeratkan tangannya pada leher Azzam. Takut tubuhnya terjatuh.


"Longgarkan sekitar tanganmu dari leherku! Kayak tercekik rasanya," ucap Azzam.


"Kak Azzam banyak protes!" kesal Dhiya. Lagi -lagi Azzam tersenyum dengan juteknya Dhiya padanya.


****


Sesuai keinginan Yara. Mereka akan kembali ke Indonesia setelah rencana Syukuran 4 bulan kehamilan Yara selesai dilaksanakan. Entah mengapa mendengar penuturan dari Mama Anggi soal pertemuannya dengan Pak Rio membuat hati Yara gelisah. Kesehatan dan kondisi Pak Rio yang dibilang semakin memburuk menurut Mama Anggi. Pak Rio yang mempunyai postur tubuh tinggi dan gagah terlihat kurus dan tak berdaya di atas kursi roda.


Dhiya minta diturunkan dari gendongan Azzam saat memasuki rumah. Erza mengerutkan alis saat melihat anak perempuannya berjalan sedikit pincang.


"Kakak kenapa?" Tanya Erza pada Dhiya saat anak gadis itu berjalan ke arahnya.


"Jatuh," sesal Dhiya.


"Udah di obati?"


Dhiya mengangguk pelan. Pandangan anak itu mengarah pada Yara. Manik matanya menelisik dalam raut wajah bundanya. "Bunda kenapa sedih?" Tanya Dhiya. Anak itu langsung tahu kondisi dari Yara. Padahal sebisa mungkin Yara menutupinya dari Dhiya. Tapi anak itu tetap tidak bisa dibohongi.


Erza menghela napas pelan. Ia hendak memberitahukan yang sebenarnya.


Yara sempat mencekal tangan suaminya agar tidak memberitahu apapun pada Dhiya. Tapi Erza paham dengan sikap anak itu. Dhiya tidak akan berhenti bertanya sebelum mendapat jawaban yang tepat.


Erza pun menepuk pelan lengan Yara, memberi ketenangan pada istirnya agar tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Kemudian beralih pada Dhiya yang menunggu jawaban darinya. "Bunda hanya sedih saja mendengar kabar dari kakek Rio, Sayang! Beliau sudah semakin renta dan ingin bertemu dengan bunda dan Dhiya. Makanya setelah acara syukuran empat bulanan dede bayi. Kita kembali ke Indonesia untuk menemukannya," ujar Erza.


Setelah mendengar penuturan dari papa-nya Dhiya beralih menatap Yara.


"Benar bunda?" Dhiya menegaskan. Yara mengangguk pelan membenarkan ucapan Erza.


Ada perasaan senang bercampur sedih dalam hati Dhiya. Anak itu merasa senang akan kembali ke Indonesia, ia bisa bertemu dengan ayah, eyang uti, Mamih Syafa dan juga Kakek Rio. Tapi hatinya sedih karena mendengar kabar kesehatan Kakek Rio semakin kurang baik. Meskipun mereka baru akhir-akhir ini dekat itupun melalui sambungan teleponnya bersama Syafa tapi Dhiya ikut merasakan kesedihan yang Yara rasakan.


Dhiya langsung berjalan mendekati Yara. "Bunda jangan sedih, Dhiya yakin Kakek Rio pasti kuat sama seperti bunda!" ucap Dhiya sambil meraih tangan Yara dan menggenggamnya.


Yara tersenyum dengan tanggapan dari Dhiya. "Iya, Sayang! Kakek pasti kuat sama seperti kamu!" sahut Yara.


Siang itu pun menjadi waktu berkumpul yang haru untuk mereka tapi tidak lama sebab menjelang sore keluarga itu kembali menikmati kebersamaan keluarga dengan kebahagiaan. Bahagia yang menutupi rasa sedih.


Yakinlah hidup pasti selalu berputar tidak selamanya kita selalu dalam kesedihan. Ada saatnya kebahagiaan hadir dalam hidup.


Di tempat lain.


Terakhir kali Syafa bertemu dengan Roni adalah saat pria itu meresmikan hubungannya dengan Melani dalam janji suci pernikahan. Tapi siapa disangka umur pernikahan itu tidak berlangsung lama. Hanya satu bulan saja Roni merajut pernikahan bersama Melani. Syafa sempat bertemu terakhir kalinya dengan pasangan itu. Pada Saat keduanya pamit pindah ke kota Malang. Kota di mana keluarga Roni tinggal.


Tapi sayangnya dalam perjalanan Roni dan Melani mengalami kecelakaan yang menyebabkan Melani meninggal.

__ADS_1


Syafa begitu terkejut mendengarnya langsung dari Roni. Kalau saja tidak ada keperluan soal berkas perusahaan. Syafa tidak akan menghubungi Roni.


"Innalilahi wa innalilahi rodjiun," Ucap Syafa saat ia mendengar berita duka itu dari Roni.


"Kenapa Mas Roni tidak mengabari ku?" Syafa sangat menyayangkan mengetahui kabar duka itu telah berlalu satu bulan yang lalu.


"Aku tidak mau menambah beban pikiranmu, Fa," sahut Roni dari sebrang telepon. "Di sini aku cukup merasa tenang setelah kehilangan Melani. Aku memilih mendekatkan diri pada Sang Pencipta agar hati ini lebih tenang."


"Apa aku ikut dengan Mas Roni agar hariku juga tenang ya, Mas," canda Syafa.


"Apa kamu yakin ingin tinggal di sini bersamaku?"


Syafa tertawa pelan. "Aku tidak mau jadi beban kamu lagi, Mas. Aku hanya bercanda. Selama ini saja aku jadi beban Mas Roni. Kali ini pun aku akan merepotkan Mas lagi," ucap Syafa.


"Jangan bilang seperti itu, Fa! Memangnya apa yang kamu butuhkan sekarang ini?" Tanya Roni.


Syafa menghela napas pelan. "Aku bisa minta tolong sama Mas Roni?" Tanya Syafa.


"InsyaAllah, kalau aku bisa bantu pasti ku lakukan, Fa."


Syafa merasa lega mendengarnya. "Aku minta tolong, Kalau Mas Roni ada waktu untuk ke Jakarta. Aku minta tolong untuk pengurusan penjualan rumahku yang ada di daerah cempaka, Mas!"


Roni mengerutkan alis mendengarnya. "Kenapa dijual?" Tanya Roni.


"Papa butuh biaya untuk pengobatannya. Kali ini lebih besar, aku rela menjual semua yang ku punya untuk papa. Sebab semangat nya begitu besar untuk sembuh. Papa ingin bertemu dengan Yara." lirih Syafa.


Roni diam sesaat. "Aku harus mengatur jadwalku dulu, Fa," sambung Roni.


"Mas Roni kerja ya? Maaf kalau menganggu waktu kamu, Mas."


"Aku tidak bekerja, Fa. Aku hanya melanjutkan amanah dari kakekku saja. Membantu mengajar di pesantren peninggalan beliau, karena sekarang beliau sudah berumur jadi tidak begitu fokus saat mengajar agama," sahut Roni.


"Kalau begitu tidak jadi, Mas. Kau tidak mau menganggu waktu Mas Roni mengajar." Syafa merasa tidak enak hati pada Roni.


"Aku bisa, aku hanya mengatur jadwal dengan guru yang lain saja. Apa sudah ada pembeli yang menawar rumah itu?" Tanya Roni.


"Belum, Mas! Makanya aku mau minta bantuan Mas Roni."


"Baiklah, aku atur jadwalnya dulu. nanti ku kabari."


"Terima kasih sebelumnya."


Sambungan telepon pun terputus. Syafa merasa senang mendengar ucapan Roni yang begitu lembut dan lebih menenangkan.


"Apa berada di pesantren benar bisa membuat hati dan perasaan menjadi tenang?" gumam Syafa.


.


.


.


to be continued

__ADS_1


__ADS_2