Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Memanen Bunga Mawar Putih


__ADS_3

Sedikit keributan terjadi di meja kerja yang biasa Afkar pakai untuk bekerja. Sedangkan dirinya lebih memilih untuk pergi dari sana. Afkar tidak mau mendengar perdebatan antara ayah dan anak itu.


Di tempat lain.


Yara begitu senang saat melihat beberapa bunga mawar putih di taman belakang rumah bermekaran sempurna ada. Ada banyak pula beberapa mawar putih yang masih kuncup. Hanya perlu beberapa hari lagi untuk bunga-bunga itu bisa mekar dengan sempurna. Pohon bunga mawar putih yang tumbuh di tanah yang panjang 1x5 meter itu memberi keindahan tersendiri bagi Yara. Sebab wanita hamil itu memang menyukai bunga mawar putih itu. Bunga mawar putih yang tidak asing baginya.



Dulu, di panti asuhan tempat Yara dan mama-nya tinggal. Almarhumah Mama Mira sengaja menanam beberapa pohon mawar putih di sana. Jadi, Yara pasti hapal kenapa bunga itu berada di rumah ini.


“Itu, tuan Rio yang menanamnya, Non,” ucap Bi Tum saat wanita itu mengantarkan teh hangat untuk Yara. Dan selama tuan tidak tinggal di sini. Bunga mawar putih selalu di rawat dengan baik. Setiap habis panen bunganya, kami akan mengirimkannya ke tempat tinggal Tuan Rio saat itu.


“Untuk apa, Bik?” tanya Mira.


Seulas senyum terukir di wajah Bi Tum. “Tuan Rio selalu memajang bunga mawar putih di setiap sudut ruangan. Kalau Non Yara menyadarinya setiap ruang di dalam ruang ini pasti ada bunga mawar putih. Keberadaan bunga mawar putih itu seakan jadi penyemangat beliau selama ini. Yang bibi pernah dengar dari Tuan Rio. Setiap kali dirinya melihat bunga itu. Bayangan Nyonya Mira selalu datang sambil tersenyum kepadanya.” Bi Tum menjelaskan. Banyak hal lain juga yang wanita tua itu ungkapkan pada Yara.


Kesetiaan, rasa rindu dan penyesalan yang Bi Tum lihat dari hidup Pak Rio selama ini. Tak banyak yang tahu sisi rapuh dari papa-nya itu. Dan kerapuhan Pak Rio terlihat hanya saat berada di kamarnya. Semua kenangan manis itu ada di sana.


Penjelasan dari Bi Tum membuat hati Yara terenyuh.


‘Apa seberat itu kehidupan papa saat tidak bersama dengan Mama. Kenapa mereka sangat mirip. Mama juga tidak pernah menunjukkan sisi sedihnya tapi di saat sendiri. Mama selalu menangis setiap kali memegangi kalung yang aku pakai ini'


Batin Yara sembari memegangi kalung yang sedang ia pakai.


Saat Yara melamun, Bi Tum berlalu dari hadapannya karena Erza datang menghampiri mereka.


“Sayang, kenapa melamun?” tegur Erza. Dan seketika Yara tersadar dari lamunannya.


“Eh, Mas. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Tunggu sebentar ya, Mas.” Yara berlalu dari hadapan Erza. Hal itu membuat Erza curiga. Suami dari Yara itu berjalan mengikuti langkah istrinya yang kembali masuk ke dalam rumah.


Manik mata Yara berkeliling ke sekeliling sudut ruangan. Sesuai apa yang diucapkan Bi Tum padanya. Yara dapat melihat ada beberapa vas bunga berisi mawar putih ada di setiap sudut itu. Bahkan di antaranya ada yang sudah berguguran karena layu.



“Mas, mau bantu aku buat panen bunga mawar yang ada di depan tadi?” pinta Yara pada Erza. Wanita itu tahu kalau Erza sedang mengikutinya.


Erza menarik kedua sudut bibirnya. “Apa sih yang nggak bisa buat bidadariku ini!” Erza balas menggoda.


Yara mencibir. Kalau sedang berdua seperti sekarang ini. Erza senang sekali menggodanya. Yara lekas memanggil Bi Tum untuk meminta gunting dan sarung tangan agar tidak terkena duri saat memanen bunga mawar putih itu.

__ADS_1


“Sekarang, Yang?” tanya Erza pada Yara.


“Tahun depan, Mas.”


Erza terkekeh renyah mendapat balasan dari Yara.


“Bunda,” panggil Dhiya. Anak perempuan itu sudah terlihat cantik saat menyapa Yara. Ia berjalan ber-iringan dengan Syafa yang juga sudah terlihat rapi.


“Hai, Sayang. Putri bunda sudah cantik!” Yara mencium pucuk kepala Dhiya dengan lembut.


“Iya, bunda. Kata Mamih Syafa aku harus udah rapi pagi-pagi. Hari ini ‘kan kembali ke rumah sakit buat kontrol,” ucap Dhiya sembari menatap Syafa.


Wanita yang sedang di tatap itu tersenyum kemudian mengusap pipi mulus Dhiya.


“Anak pintar, Dhiya berani dong ketemu sama dokter dan buka perban di tangan Dhiya?” tanya Yara.


“Berani, Nda. ‘kan udah gak berdarah. Ya kalau masih berdarah rada takut juga. Tapi sedikit!” cetus Dhiya.


Yara tertawa mendengarnya begitu juga dengan Erza dan Syafa.


“Wah, pagi-pagi sudah berkumpul ya? Kenapa tidak ada yang membangunkan papa?” ucap Pak Rio yang tiba-tiba datang dan langsung menghampiri semuanya. Bersamaan dengan Bi Tum yang kembali dengan membawa gunting dan sarung tangan karet untuk persiapan memanen bunga mawar putih.


Pak Rio tersenyum membalas ucapan Yara. Pak Rio ingat dini hari tadi dirinya terbangun karena sebuah mimpi. Mimpi yang sudah lama ia nantikan. Kedatangan seorang wanita cantik berpakaian syar’i. Wanita yang memanggil namanya sambil mengulurkan tangan kepadanya. Pak Rio yang satu itu memang sedang menantikan kedatangannya, menunggu dengan segenggam mawar putih di tangannya.


Hatinya bahagia saat uluran tangan disambutnya dengan hangat. Tangan yang sudah lama tak pernah ia sentuh. ‘Mir, jangan pernah melepaskan tangan ini lagi. Tunggu aku hingga kita bisa melangkah bersama menuju tempat bahagia.’ Kata itulah yang Pak Rio ucapkan pada wanita cantik itu. Kemudian anggukan pelan ia dapatkan.


“Papa malah senyum sendiri. Ngelamunin apa, sih?” tegur Syafa.


“Ah, tidak papa hanya ingat dengan mimpi papa semalam.”


“Mimpi apa, Pah?” Yara balik bertanya.


“Mimpi biasa,” jawab Pak Rio. Kemudian beralih pada Bi Tum yang datang dengan alat yang biasa ia gunakan untuk memangkas bunga mawar putih. “Kemarin kan gunting itu!” titah Pak Rio saat melihat Bi Tum meletakkan perkakas di lantai.


“Biar Mas Erza yang memotong bunga itu, Pah!” serobot Yara karena dia tahu apa yang akan dilakukan papa-nya.


“Berarti kali ini papa cukup jadi mandor saja,” ucap Pak Rio. Lagi-lagi pria tua itu mengedarkan pandangannya mencari seseorang. “Di mana Roni?” tanyanya sambil melirik ke arah Syafa. Hanya gelengan kepala yang Pak Rio dapatkan dari putri pertamanya itu.


“Pak Roni pamit pergi habis subuh tadi, Pak. Tapi beliau akan kembali siang nanti,” ujar Bi Tum yang masih berada di sana. Pak Rio hanya mengangguk pelan membalasnya.

__ADS_1


“Jadi kita panen bunga mawar?” tanya Erza. “Jarang sekali terjadi loh. Seorang CEO perusahaan terkenal di Swiss menjadi tukang kebun,” ucap Erza.


“Jadi ‘lah. Aku mau mengganti beberapa bunga yang ada di dalam rumah.” Yara terlihat bersemangat sekali.


“Oke, siap tuan putri. Wah bayarannya mahal loh, Sayang. Berani bayar Piro nih?” canda Erza.


Yara mendekat pada Erza. “Bayarannya nanti malam, Mas,” bisik Yara. Bisikannya itu berhasil membuat wajah Erza sumringah. Bagaimana tidak, sudah beberapa malam ini Erza harus kehilangan hangatnya memeluk Yara karena beberapa kejadian yang terjadi berurutan hampir satu Minggu ini.


“Let’ go. Ayo, Kak. Ikut sama papa!” ajak Erza pada Dhiya.


Dhiya menoleh pada Syafa yang akan mengajaknya untuk ke rumah sakit lagi itu.


Syafa mengangguk pelan. “Masih lama jadwal kontrolnya, Mamih tunggu ko!”


Mendengar ucapan Syafa Dhiya. “Yeay, ayo, Pa.” Sorak Dhiya. Anak perempuan itu juga begitu bersemangat.


Pak Rio tersenyum bahagia pagi itu. Bisa berkumpul dengan keluarganya pagi itu. Hal yang ia rindukan selama ini. Tidak ada yang diinginkannya lagi dalam hidup selain kebersamaan bersama anak dan cucunya seperti sekarang ini.


“Yang ini, Pah! Itu masih kuncup, yang panjang motong tangkainya jadi masuk sama vas,” titah Dhiya si bocah cantik yang beralih menjadi mandor cilik pagi itu.


Erza hanya bisa mengangguk memenuhi perintah putrinya yang seperti atasan itu. Sedangkan Yara mengumpulkan bunga mawar putih yang sudah terkumpul.


“Hati-hati, Ra! Durinya tajam. Serukan sama Erza juga. Jangan sampai Dhiya terkena duri!” Pak Rio memperingati. Yara hanya memberi kode dengan mengacungkan jarinya dan membentuk huruf O.


Syafa ikut membantu Yara. Wanita itu mengganti vas bunga di sudut ruangan yang tak jauh dari tempat duduk papa-nya sekarang.


“Fa, tambahkan beberapa helai tangkai lagi. Agar terlihat lebih mengumpul bunganya,” titah Pak Rio pada Syafa.


“Baik, Pah.” Syafa pun kembali mengambil beberapa tangkai bunga mawar putih untuk menambahkan pada vas bunga tadi.


Sepeninggal Syafa. Bayangan seorang wanita yang dini hari tadi menemuinya kembali muncul. Wajahnya cantik sambil tersenyum pada Pak Rio. Pria itu membalas dengan senyuman.


.


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2