Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Vitamin Enak-Enak Gurih


__ADS_3

Niat ingin berjalan kaki, nyatanya Syafa tidak tega melakukannya . Ia menelepon supir untuk menjemput mereka berdua. Pengajian hari ini pun awalnya Syafa dan Bi Tum tidak akan pergi karena sudah seminggu ini keadaan Bi Tum kurang fit. Tapi, wanita tua itu bersikeras untuk pergi dengan alasan ingin bertemu dengan jama’ah yang sering ia jumpai. Takut tidak bisa bertemu lagi. Begitulah menurut Bu Tum.


Sesampainya di rumah, Syafa memapah Bi Tum ke kamarnya. Dan membantu wanita tua itu berbaring di atas tempat tidurnya. “Bibi istirahat dulu! Biar aku ambilkan makanan setelah itu bibi harus minum obat,” ucap Syafa penuh penegasan. Baru saja ingin beranjak dari hadapan Bi Tum. Wanita tua itu mencegahnya. “Duduk di sini dulu!” titah Bi Tum seraya menggeser tubuhnya lalu menepuk pelan tempat kosong di sampingnya.


“Tapi bibi harus makan dan minum obat,” sanggah Syafa.


“Sebentar saja,” pinta Bi Tum. Syafa pun mengikuti keinginan wanita tua itu. Wanita yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri.


Syafa tersenyum hangat pada bi Tum. “Kenapa, Bik?” tanya Syafa seraya meraih tangan yang kulitnya mulai terasa keriput itu.


“Masa idah mu sudah selesai bahkan sudah lewat. Apa kamu masih ingin sendiri?” tanya Bi tum.


“Kenapa bibi bertanya seperti itu? Selama ini aku tidak sendiri, ada bibi bersamaku,” sanggah Syafa dengan senyum candanya. Ia paham dengan maksud dan ucapan wanita yang ada di hadapannya itu.


Bi tum ikut tersenyum menanggapinya. Wajahnya berubah sedih seketika. “Kalau bibi tidak bisa menemani Non Syafa lagi gimana?” ucap Bi Tum pelan.


“Memangnya bibi mau ke mana?” tanya Syafa. Ada rasa takut mendengar setiap ucapan yang terlontar dari bibir wanita tua itu. “Bibi sudah janji nggak akan ninggalin aku. Di sini hanya bibi yang aku punya, hanya bibi yang selalu ada buat aku. Jangan bicara apa pun saat ini, aku mau bibi beristirahat. Aku akan ambil makanan dan obat untuk bibi,” sela Syafa sebelum Bi Tum berbicara lebih jauh.


Syafa segera bangkit dari duduknya, ia segera keluar kamar untuk ,mengambil makanan dan obat untuk Bi Tum.


Baru beberapa langkah keluar dari kamar yang di tempati Bi Tum. Syafa menempelkan punggungnya ke tembok. Air mata tiba-tiba saja keluar dari sudut matanya. Syafa merasa ada perbedaan yang ia rasakan melihat keadaan Bi tum. Syafa tidak mau berpikiran negatif lebih dulu. Ia tetap berpikir positif.


Membuang perasaan mengganjal yang ia rasakan. Syafa kembali ke kamar Bi Tum dengan membawa makanan dan obat. Bi Tum yang sempat memejamkan mata sejenak saat Syafa keluar kamar kembali terjaga.


“Makan dulu, ya, Bi!” Syafa meletakkan makanan dan obat yang ia bawa. Kemudian mulai menyuapi Bi Tum dengan hati-hati. Baru dua kali suapan, wanita tua itu sudah menolak untuk disuapi.


“Satu suap lagi, Bik.”


Bi Tum menggelengkan kepala membalasnya. “Bibi sudah kenyang, Non.”


Syafa tidak mau memaksa. “Ya sudah kalau begitu. Tapi, bibi jangan tidur dulu, ya! Lima menit lagi baru minum obat,” ucap Syafa.


Bi Tum mengangguk pelan. “Iya.”


Lima menit pun telah berlalu. Syafa kembali membantu wanita tua itu untuk meminum obatnya.


“Terima kasih, Non. Maaf kalau bibi merepotkan,” ujar Bi Tum.

__ADS_1


“Sama sekali tidak merepotkan, Bi. Malah aku sering merepotkan bibi. Dan aku yang seharusnya berterima kasih sama bibi. Dari kecil sampai saat ini. Bi Tum selalu ada buat aku dan keluarga ini,” balas Syafa sambil tersenyum menatap Bi Tum.


“Karena Non Syafa dan Almarhum Tuan Rio begitu baik pada bibi. Dan bibi memang harus mengabdi pada keluarga ini,” sambung Bi Tum. “Non,” panggil Bi Tum lagi.


“Apa Bik?” Sahut Syafa.


“Bibi ingin Non Syafa mendapat pengganti Tuan Afkar segera. Supaya bisa menemani Non Syafa saat bibi tiada nanti,” lirih Bi Tum.


“Bi, tolong jangan bicara seperti itu lagi, Bik.”


“Non, tolong dengarkan bibi! Keinginan bibi dengan almarhum Tuan Rio sama. Ingin melihat Non Syafa bahagia. Kita sudah sama-sama tahu, Non Yara sudah bahagia dengan suaminya. Dan kali ini bibi berharap kebahagiaan bisa Non Syafa dapatkan juga. Mulailah membuka hati lagi, Non,” ucap Bi Tum dengan suara parau.


Syafa terdiam mendengarnya. Sempat ia berpikir untuk melakukan ta’aruf. Karena Syafa takut dekat dengan pria mana pun. Takut kembali salah memilih.


“Maaf, kalau aku beban pikiran bibi. Aku juga ingin membuka diri. Tapi sungguh aku takut, Bi.”


“Ini bukan beban, Non. Tapi rasa sayang bibi yang ingin melihat Non Syafa bahagia. Kalau bibi sarankan mibtalha bantuan pada Ustadjah Wati, Non. Beliau pasti bisa memberikan solusinya. Bibi hanya berpesan, tetap berpegang teguh pada keimanan yang Non Syafa miliki saat ini. Mintalah petunjuk Yang Maha Kuasa,” ujar Bi Tum.


Anggukkan pelan Syafa berikan. “InsyaAllah aku akan menemui Ustadjah Wati besok, Bik.”


****


Di tempat lain. Yara terlihat sibuk mengemasi pakaian yang akan di bawa suaminya. Meski pun perutnya semakin membesar. Hal itu sama sekali tidak menghalangi tugas Yara sebagai istri dari Erza Rahardian.


“Mas jangan lupa, langsung bersih-bersih setiap kali pulang dari luar. Biasakan dari sekarang! Jadi kalau anak kita sudah lahir, Mas Erza sudah terbiasa. Ingat itu!” Yara tak hentinya mengingatkan Erza. Sebab kebiasaan jelek suaminya adalah sering bermalas-malasan setiap kali pulang bekerja. Alasannya keringatnya belum kering. Padahal itu hanya alasan Erza saja.


Erza memeluk Yara dari belakang. “Iya, Sayang. Mas ingat ko, tiap hari kamu selalu mengingatkan,” bisik Erza di telinga Yara. Jarak keduanya begitu dekat bahkan sama sekali tidak berjarak.


“Baju yang akan dibawa sudah rapi. Mandi sana! Leon keburu datang. Jangan sampai dia menunggu lama,” ucap Yara.


“Mandiin,” bisik Erza manja.


Yara mengusap perutnya yang bucit. “Kamu belum lahir tapi bunda sudah punya bayi besar yang manja, Sayang. Bisa-bisa tidak mau kalah dia dengan kamu saat lahir nanti,” ucap Yara seakan tengah berbicara dengan bayi yang ada dalam kandungannya.


“Jangan meledekku! Ayo, mandiin!” Erza terus mencium gemas pundak Yara sesekali memberi gigitan kecil di sana.


“Mas Erza geli.”

__ADS_1


“Makanya. Ayo! Nanti malam pastinya aku tidak bisa tidur denganmu. Jadi aku minta jatahnya seakrang,” ucap Erza. Kalau sudah begitu Yara tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sudah jadi kewajibannya menuruti keinginan suaminya selagi dirinya masih mampu.


Senyum terukir di wajah Yara. “Main cepat ya,” titah Yara. Mendengar itu Erza semakin bersemangat. “Siap.” Erza berbalik badan dan berjalan menjauh dari Yara.


“Mas, mau ke mana?” tanya Yara saat Erza menjauh darinya.


“Mau ngunci pintu,” jawab Erza cepat. Kemudian kembali lagi menghampiri Yara sembari membuka kaos yang dipakainya. Erza pun tersenyum sambil menaik turunkan alisnya menggoda Yara. Wanita di hadapannya itu hanya bisa menggelengkan kepala dengan tingkah suaminya. Entah apa lagi yang diminta saat bertempur. Rasanya berbagai gaya telah mereka coba. Tapi semuanya membuat Yara ketagihan dan kadang minta untuk mengulanginya. Bagaimana tidak, Erza benar-benar memperlakukannya begitu manis dan lembut. Sehingga kenyamanan saat bercinta itu diutamakan oleh Erza agar istri dan bayi yang ada dalam kandungannya merasa nyaman.


“Akhirnya dapat vitamin lengkap sebelum pergi,” ucap Erza.


Yara yang mengerutkan alis. “Vitamin lengkap, apa itu Mas?” tanya Yara penasaran.


Erza yang sudah berada di depan Yara lekas mendekatkan wajahnya. “Vitamin B.” Erza mencium singkat bibir Yara, lalu beralih pada telinga Yara. Erza pun memberi lumayan serta gigitan kecil di sana. Membuat gelenyar-gelenyar memabukkan tiba-tiba menjalar di tubuh Yara. Bibir Erza terus menurun melewati leher putih dan berlabuh di pinggir gunung kembar yang ukurannya semakin besar.


Kedua tangan Erza bergerak naik membuka kancing baju Yara satu persatu sehingga dua gundukan menyembul dari balik baju yang dipakai istrinya. Lalu meraih gunung kembar itu. Sempurna, ukurannya begitu pas di telapak tangan Erza yang kekar dan berotot.


“Ini Vitamin D1 dan D2.” Erza mengecup dua gunung kembar Yara bergantian. Yara terkekeh pelan mendengar ucapan Erza.


Satu tangannya mengulur ke bawah saat melewati perut buncit istrinya. Erza mengusapnya pelan. “Dan terakhir adalah Vitamin E,” ucap Erza dengan suara seraknya. Pria itu masih menahan gelora yang sudah ia rasakan.


Yara sedikit memundurkan tubuhnya dari Erza. “Vitamin E, apa lagi itu, Mas?” tanya Yara. Ia tidak menyadari tangan Erza begitu lincah membuka kancing baju yang tersisa. Dan perlahan Erza melepas baju yang dikenakan Yara. Kedua sudut bibirnya tertarik melihat pemandangan indah di depannya. Putih seputih susu. Dua gunung kembar itu seakan memanggilnya.


“Mas, kenapa malah senyum? Dengar pertanyaan aku tidak?” Yara menutup gundukan miliknya dengan kedua tangannya.


Erza tersenyum menanggapi reaksi Yara.


“Vitamin E itu puncak dari semuanya. Vitamin enak-enak gurih karena vitamin ini membuat aku candu.” Erza menyelipkan tangannya ke dalam segitiga bermuda yang Yara pakai. Lalu kembali menyerang Vitamin B untuk memulai aksinya. Tangannya selalu lincah dalam pertempuran. Erza tidak mau melewati bekal dan asupan siang ini dari Yara sebab malam nanti dirinya akan berpisah dengan istri tercintanya itu.


Pertempuran itu pun sudah mulai memanas. Sesuai dengan keinginan Erza. Pria itu membopong Yara ke kamar mandi. Siang itu menjadi pertempuran bergelora yang dilakukan dengan tempo, sesingkat-singkatnya oleh Erza dan Yara seraya membersihkan tubuh mereka berdua.


Di tempat lain, Andrea tersenyum senang saat mendapati bahwa Erza bersedia datang dalam peresmian swalayan itu. Senyum mengembang di wajah cantiknya. "Malam nanti kamu tidak akan bisa menghindariku lagi Pak Erza. Kamu akan menjadi milikku selamanya. Tak apa harus menjadi yang kedua lebih dulu. Tapi aku yakin, istrimu perlahan akan tersingkir olehku," ucap Andrea dengan senyum liciknya.


.


.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2