Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Temani Aku Malam Ini


__ADS_3

Mendengar seruan dari suara yang ia kenal. Yara langsung beranjak dari hadapan Syafa dan beralih pada Mira. Wanita itu melangkah pelan pada mantan adik iparnya itu.


"Mira! Kamu sudah sembuh?" Tanya Yara. Ia tidak percaya kalau saat ini dirinya dihadapkan dengan wanita yang selama ini baik padanya. Apalagi saat Yara masih menjadi menantu di rumah Pak Setyo dulu.


"Mba Yara, apa kabar?" Sapa Mira.


Dhiya yang tadinya merasa takut sedikit merasa lega. Yara sadar kalau Dhiya, putrinya tengah merasa ketakutan.


"Dhiya ...." Panggil Yara. "Maafkan, Bunda! Pasti kamu takut melihat perdebatan barusan," ucapnya sambil berjongkok di hadapan Dhiya.


Dhiya langsung menghambur dalam pelukan Yara. "Jangan berantem sama Mamih! Dhiya sayang kalian. Dhiya sedih kalau lihat Mamih sama Bunda kayak tadi."


Yara mengerti ucapan dari Dhiya. Secara tidak langsung Dhiya mengungkapkan kalau anaknya itu menyayangi Syafa berarti benar. Kakaknya itu tulus memberikan kasih sayangnya pada Dhiya. Tapi tetap saja, bagi Yara sikap Syafa egois.


"Ya, lain kali bunda tidak akan seperti itu lagi, bunda janji." Yara dan Dhiya menautkan jari kelingking mereka.


Ada rasa canggung saat Yara harus berhadapan dengan Syafa. Hatinya kesal pada wanita itu. Tapi demi Mira dan Dhiya, Yara menahannya.


"Mba, aku minta maaf atas semua perbuatan ibu pada kamu!" Ucap Mira.


Yara tersenyum kecut mendengarnya.


"Kenapa kamu yang harus meminta maaf, Mir. Di sini kamu tidak bersalah. Dan meminta maaf itu tidak bisa di wakilkan. Ibu masih merasa dia paling benar, begitu 'kan?"


Mira menganggukkan kepalanya pelan. "Aku sering mengingatkan dia, Mba. Aku yakin ibu akan berubah. Mba tahu, masalah dan musibah yang menimpaku bisa saja buah dari perbuatan ibu di masa lalu," ujar Mira.


Yara tersenyum mendengarnya. "Semua perbuatan baik dan buruk pasti akan ada balasannya, Mir." Yara mengingatkan sambil mendelik ke arah Syafa.


Tak terasa waktu bergulir cukup lama. Yara menahan diri agar tidak kembali berdebat dengan Syafa. Sepasang mata tengah memperhatikan ke arah mereka.


Manik mata itu memancarkan rasa rindu pada salah seorang dari mereka.


Dua orang yang ia sayangi duduk berdampingan. Rasa tidak rela melepaskan kembali muncul dalam diri Afkar. Pria itu langsung berjalan mendekat.


"Yara," ucap Afkar sontak membuat terkejut.


Yara menoleh. "Mas Afkar," sahutnya dengan tenang dan santai.


"Mas ...." Syafa malah sangat terkejut dengan kedatangan suaminya. Syafa langsung mendekati Afkar. "Mas, Maaf aku bisa jelaskan ini. Mira minta bertemu dengan Yara. Aku tidak bisa meninggalkan Dhiya sendiri jadi aku membawanya." Syafa langsung memberikan penjelasan. Wanita itu terlihat begitu takut pada Afkar. Sebab wanita itu telah melanggar perintahnya.


"Kamu membuat aku kecewa. Aku sudah bilang jangan pernah membantah perintahku tapi kamu melanggarnya," sahut Afkar tegas. Hal itu membuat Syafa langsung tertunduk.


"Maaf, Mas!"


Afkar mengacuhkan Syafa kemudian berjalan mendekati Yara.


"Ra," panggil Afkar. Pria itu dengan terang menunjukan rasa rindunya pada Yara dihadapan Syafa.


"Kita bukan siapa-siapa lagi, tolong jangan mendekat!" ujar Yara. Mendengar itu hati Afkar merasa tersentil. Afkar menarik kedua sudut bibirnya. "Heh .. sombong sekali! Dhiya, kemari!" Titah Afkar mengalihkan perhatiannya dari Yara. Ia melambaikan tangannya pada Dhiya. Yara menarik Dhiya agar semakin dekat padanya.


"Aku mau sama bunda, Yah!" Sahut Dhiya sambil berlindung di belakang Yara.


"Jangan membantah perintah ayah!" Hardik Afkar.


"Jangan pernah berani membentak anakku, Mas!" Lawan Yara.


"Dia juga anakku!" Afkar tidak mau kalah.

__ADS_1


Yara tersenyum kecut sambil menatap Afkar. "Sifatmu tidak pernah berubah, Mas. Ingin menang sendiri. Dan tidak mau dibantah. Aku bersyukur telah lepas darimu."


Mendengar ucapan Yara. Afkar merasa tidak terima. Pria itu langsung menarik tangan Yara. Tapi sayang Yara berhasil menjauhkan tangannya dari pria itu.


"Jangan pernah berbuat kasar di depan Dhiya! Aku akan sangat membenci kamu, Mas." Yara berbicara dengan suara pelan sambil menatap tajam pada Afkar.


Syafa mendekati Yara dan menarik Dhiya darinya.


"Dhiya sama Mamih, ya!" Ajak Syafa.


Yara memilih mengalah. Wanita itu tidak mau perdebatan kembali terjadi di depan Dhiya. Yara tidak mau putrinya itu mengalami trauma.


"Aku hanya ingin bertemu Dhiya, Mas. Jangan pernah larang aku!"


"Kamu bisa bertemu Dhiya kapanpun. Bahkan bisa bersama dia selama yang kamu mau. Asal kamu mau kembali bersamaku, Ra!" Afkar dengan gampangnya berbicara seperti itu dihadapan Syafa.


Padahal Bu Nuri dan Syafa sudah menjelaskan kalau Afkar tidak bisa berpoligami dengan dua wanita yang sedarah. Afkar harus memilih salah satu diantara Syafa dan Yara.


Yara menyeringai. "Kamu sungguh keras kepala, Mas." Yara menggelengkan kepalanya begitu juga dengan Syafa.


Syafa sungguh tidak menyangka Afkar masih bersikeras ingin kembali bersama Yara.


Syafa bisa melihat rasa cinta yang begitu besar dari manik mata Afkar untuk Yara.


Syafa langsung melepas genggaman tangannya dari Dhiya. Hatinya merasa kecewa. Air matanya tiba-tiba saja turun dari sudut matanya. Mira mengambil alih Dhiya. Adik dari Afkar itu menjauhkan Dhiya dari perdebatan itu. Mira membawa Dhiya keluar dari Cafe tersebut. Tanpa banyak protes Dhiya mengikuti ajakan tante-nya.


Syafa diam tak percaya. Sekeras apapun bertahan, dia hanyalah orang baru di dalam kehidupan Afkar. Rasa cinta Afkar lebih besar pada adiknya daripada untuknya. Terlintas rasa menyerah dalam diri Syafa.


Yara tidak mau berada semakin lama di sana.


"Ambisi mu semakin besar, Mas. Aku semakin tidak mengenal dirimu. Kamu pria egois, keras kepala dan berambisi dengan keinginanmu sendiri. Ingat, semua yang kamu lakukan ini tidak akan berakhir bahagia. Kamu telah menyakiti banyak hati di sini. Kamu akan menyesal." Yara beralih menatap Syafa yang sedang menatapnya dengan penuh kesedihan. Kemudian badan berbalik meninggalkan Afkar dan Syafa.


Deg ...


Yara menoleh. "Ingatanmu telah kembali, Mas?" Tanya Yara.


"Mungkin hanya sebagai kecil. Tetapi aku ingat, kalau aku adalah satu-satunya pria yang kamu cintai. Benar 'kan?"


Yara menyeringai mendengarnya. "Itu dulu! Tapi kali ini tidak, Mas. Kamu yang sudah memulainya. Kamu yang membalikkan rasa cinta yang begitu besar dalam hati ini menjadi benci. Dan ingat aku akan mengajukan banding untuk mengambil alih hak asuh Dhiya. aku akan mengambilnya dari kamu." Yara menegaskan dengan tatapan yang tajam. Terpancar kebencian di manik mata Yara. Afkar pun bisa melihat itu.


Yara meninggalkan Afkar dan Syafa tanpa berkata apapun lagi.


"Aku tidak akan membiarkan kamu dan pria itu bersatu dan mengambil Dhiya dariku. Dengar itu!" Afkar berteriak.


Yara sama sekali tidak menoleh. dirinya sudah kenal dengan semua ancaman Afkar. Yara siap menghadapi mantan suaminya di persidangan bandingnya nanti.


Melewati pintu keluar. Yara melihat Dhiya bersama Mira. Yara kembali menghentikan langkahnya. Wanita itu berjongkok sambil meraih pundak Dhiya. Kemudian mendongak menatap Mira.


"Mir, aku titip Dhiya!" pintanya pada wanita itu. Lalu kembali beralih menatap Dhiya.


"Anak cantik, maaf jika kamu harus menyaksikan ini semua. Bunda janji akan memperjuangkan kamu. Sabar ya," ucap Yara pada Dhiya putrinya.


Anak kecil itu hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.


Yara langsung memeluk erat Dhiya. mengecup keningnya pelan.


"Bunda pergi dulu! Tunggu bunda! Kamu adalah penyemangat hidup bunda. Tidak perlu takut karena Dhiya bersama orang-orang baik!" lagi dan lagi Yara mengecup kening Dhiya.

__ADS_1


Dhiya hanya membalas dengan anggukan. Yara tersenyum melihatnya.


Setelah merasa puas Yara segera berdiri dan bergegas meninggalkan tempat itu.


Sebuah mobil mewah yang diperuntukkan untuk Yara. Sebab hari ini Erza tidak bisa mendampinginya. Kerja sama dengan salah satu perusahaan asing yang mengajaknya kerjasama dan membuka perusahan baru di luar negeri membuat pria itu sibuk. Ini adalah salah satu jalan Erza mengajak Yara menata kehidupan baru di negara lain.


Bersama dengan Yara, Erza siap go internasional. menjadi pebisnis yang mampu mengepakkan sayapnya di kancah dunia.


...🌱🌱🌱...


"Aku sudah bilang jangan pernah membawa Dhiya pergi sebelum ijin padaku!" Ucap Afkar dengan nada tinggi sesampainya mereka di rumah. Pria itu tengah marah pada Syafa. Sembari melempar asal jas yang ada di tangannya.


Saat ini Syafa dan Afkar berada di kamar. Sepanjang perjalanan Syafa tidak banyak bicara. Wanita itu menyimpan rasa kekecewaan pada Afkar yang tidak menghargai perasaanya.


Syafa tidak membalas kemarahan Afkar sama sekali.


"Dalam hatimu, siapa yang lebih penting saat ini, Mas. Aku apa Yara?" Tanya Syafa tiba-tiba saat Afkar baru akan memasuki kamar mandi.


"Jangan memulai perdebatan, kamu tahu aku sangat lelah hari ini. Banyak permasalahan yang ku lewati di kantor."


"Kamu terlihat sangat mencintai Yara, Mas. Aku bis melihat dari tatapan matamu!" Syafa masih terus saja mendesak Afkar.


Suasana di dalam kamar menjadi tidak nyaman. Afkar mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi. Pikirannya menjadi kacau saat itu.


"Mas, jawab pertanyaan ku!" Syafa berbicara dengan nada sedikit tinggi sambil terus memperhatikan gerakan suaminya yang sedang membuka kemeja dan langsung mengganti bajunya dengan kaos polo.


Afkar segera mendekati Syafa. "Tidurlah jangan terlalu banyak berpikir!" Afkar melewati Syafa dan hendak keluar dari kamar itu.


"Mau kemana kamu, Mas!" Tanya Syafa. Wanita itu lekas berdiri dan mencekal tangan Afkar. "Jangan menghindar! Aku sedang membahas kamu dan Yara, Mas," berang Syafa tidak terima dengan sikap Afkar yang akan menghindar darinya.


Afkar berbalik menghadap Syafa. Pria itu menyentuh dagu Syafa dengan tangannya. Membuat wanita itu sedikit mendongak menatap Afkar.


"Kamu dengar! Kamu, Yara dan Dhiya sama pentingnya buatku. Jangan berpikir apapun selain itu!"


"Aku rela melepasmu, jika memang kamu lebih berat pada Yara!" pancing Syafa.


Afkar lekas menoleh mendengar perkataan Syafa. "Jangan pernah berpikir ingin lepas dariku!" Ucap Afkar dengan kilat amarah. Pria itu kemudian pergi meninggalkan Syafa yang tergugu sendiri di kamar itu.


Hati dan pikiran Afkar sekarang ini sedang dipenuhi emosi. Ia berpikir lebih baik pergi dari rumah daripada perdebatan akan terus berlangsung.


"Arghhh ... Kenapa jadi seperti ini!" Afkar memukul stir mobilnya. Merasa pusing dengan masalahnya Afkar berniat untuk menyenangkan dirinya sendiri. Pria itu meraih ponsel miliknya Lalu menghubungi seseorang.


"Temani aku malam ini!" Ucap Afkar pada seseorang di seberang telepon.


.


.


.


To be continued


Selamat malam....


selamat beristirahat...


Jangan lupa tinggalkan komentar dan like ya....

__ADS_1


*Kalau ada typo besok aku perbaiki ya...


__ADS_2