
Di sudut kota Jakarta Pusat tepatnya daerah Pasar Tanah Abang. Pasar tekstil terbesar di Asia tenggara. Afkar mencoba keberuntungan di tempat itu.
Dengan bekal pengalaman yang ia miliki di perusahan tekstil yang pernah ia geluti Afkar bekerja dulu. Pria itu mencoba menjadi pelayan di salah satu toko terbesar di sana. Luka di kakinya sudah perlahan pulih kembali. Meskipun ada perbedaan dari gaya berjalan Afkar. jalannya sedikit cacat karena kecelakaan itu.
Sikap Afkar yang memang ramah dan tegas serta mempunyai skill yang cukup dalam bidangnya membuat Afkar dengan mudah mempromosikan bahan yang di jual di toko tersebut. Pemilik toko tidak perlu mengajarkan kepada Afkar, mana bahan yang berkualitas tinggi dan yang rendah. Semua sudah di kuasai oleh Afkar.
"Terima kasih, Mas. Saya puas belanja di sini karena Anda selalu memberitahu bahan yang terbaik untuk saya beli," ucap Salah seorang pembeli yang memborong bahan lumayan banyak untuk seragam para guru-guru di yayasannya.
"Sama-sama, Bu. Alhamdulillah kalau Anda merasa puas. Silahkan kembali belanjaan ke tempat ini. InsyaAllah saya akan bantu pilih bahan sesuai kualitas yang Anda inginkan," sahut Afkar pada pembeli itu.
Mendengar kepuasan pelanggan secara langsung membuat pemilik toko merasa bangga memiliki pegawai seperti Afkar. Toko yang ia miliki pun menjadi ramai karena pembeli banyak yang meminta bantuan Afkar untuk memulihkan bahan terbaik di toko itu.
"Kar," panggil Uda Malik, si pemilik toko.
"Saya, Pak!" Sahut Afkar sambil berjalan menghampiri si pemilik toko.
"Ini buat kamu." Uda Malik menyerahkan amplop pada Afkar.
"Apa ini, Pak!" Tanya Afkar sambil menerima amplop yang diserahkan padanya.
"Bonus buat kamu! Semenjak kamu ikut kerja denganku, omset penjualan di toko ini semakin meningkat," ujar Uda Malik.
"Alhamdulillah, kalau omset penjualannya bagus, Pak!"
" Itu karena semenjak kamu bekerja denganku! Kamu paham dengan bahan terbaik yang laku di pasaran. Kamu juga sudah memberitahuku pemasok terbaik dengan harga yang lumayan untuk diperjualbelikan. Jadi pemasukan dan omset di toko ku jadi meningkat." Uda Malik tersenyum senang. "Sepertinya kamu berpengalaman sekali dalam bidang ini. Sebelumnya kamu bekerja di mana?" Tanya Uda Malik.
"Saya pernah jadi buruh di pabrik tekstil, Pak. Kebetulan saya sering berhubungan langsung dengan pengiriman dan penyediaan bahan. Jadi saya paham soal ini," seru Afkar. Pria itu sedikit berbohong. Afkar menyembunyikan kisah masa lalunya pada Uda Malik. Masa lalu yang sudah ia kubur dalam-dalam.
Waktu tutup toko sudah tiba. Afkar pun hendak pulang ke rumahnya. Mengendarai kendaraan roda dua yang ia miliki, Afkar sampai ke rumah kontrakan yang ia sewa bersama adik dan ibunya. Sesampainya di rumah, Afkar lekas mendaratkan pantatnya di kursi depan rumah.
"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya sampai rumah juga!" Ucap Afkar sambil Menselonjorkan kakinya.
"Kamu sudah pulang, Nak!" Sapa Bu Nuri yang tiba-tiba saja keluar dari dalam rumah.
Wanita itu sudah terlihat renta. Beliau sudah tidak menjadi buruh cuci dan gosok lagi semenjak Afkar bekerja. Keadaan wanita itu sering sakit-sakitan.
"Sudah, Bu!" Jawab Afkar.
"Biar ibu ambilkan minum dulu!" Bu Nuri hendak masuk kembali ke dalam rumah. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Mira datang dengan satu gelas air putih ditangannya.
"Ibu duduk saja! Aku sudah bawakan air minum buat Mas Afkar," ujar Mira kemudian meletakkan secangkir air yang ia bawa di atas meja.
"Tumben sudah ada di rumah?" Tanya Afkar sambil meraih air yang Mira suguhkan untuknya. "Alhamdulillah," ucapnya saat air putih meluncur membasahi tenggorokan pria itu.
"Sudah, Mas. Aku pulang cepat hari ini. Ada yang ingin kah sampaikan sama kalian," ucap Mira seraya menatap Afkar dan Bu Nuri bergantian.
"Apa, Mir?" Tanya Afkar.
"Loh kamu tidak bilang sama ibu, padahal dari tadi kita sama-sama di dalam," sambung Bu Nuri.
"Aku nunggu Mas Afkar, Bu!"
"Ya sudah! Apa yang mau kamu bicarakan sama, Mas?" Tanya Afkar.
Mira terlihat menarik napas pelan saat akan mulai berbicara.
__ADS_1
"Nanti malam ada keluarga Dokter Renaldi datang ke sini?" Ucap Mira ragu sambil menundukkan kepalanya.
Bu Nuri mengerutkan alis mendengarnya. Wanita berumur itu tidak paham dengan maksud ucapan Mira. Tapi tidak dengan Afkar, ia malah tersenyum mendengarnya. Afkar sudah menduga kalau Renaldi akan melamar Mira. Sebab Renaldi pernah berbicara dua mata dengan Afkar kalau dia serius dengan Mira. Dan Afkar menantangnya jika memang serius lamar saja, tidak perlu berpacaran sebab mereka berdua sama-sama berpengalaman dalam berumah tangga. Hanya saja Renaldi membawa anak bawaan dari mendiang istri pertamanya.
"Jam berapa mereka ke sini?" Tanya Afkar santai. Ia tidak terkejut seperti Bu Nuri.
"Mas mengijinkan aku menikah dengannya?"
Afkar mengangguk pelan.
"Tapi kalian---,"
"Jangan khawatirkan aku dan ibu! Kamu berhak melanjutkan hidupmu, Dek! Aku dan ibu akan baik-baik saja."
Malam hari pun tiba. Acara lamaran oun berjalan lancar. Rencana pernikahan Mira dan Renaldi akan dilaksanakan dari minggu setelah lamaran. Tentunya dengan acara sederhana sesuai permintaan Mira.
Perjuangan Renaldi mendekati Mira akhirnya berujung pada pernikahan. Keduanya saling menerima keadaan. Renaldi menerima kondisi Mira yang memang divonis sulit mempunyai keturunan tapi tidak memungkiri suatu saat nanti jika ada keajaiban wanita itu bisa hamil. Sedangkan Renaldi akan membawa anak satu-satunya dalam rumah tangga mereka. Seorang putri yang selama ini memang dekat dengan Mira.
Afkar merasa lega melihat kebahagiaan dari Mira adiknya. Satu persatu kehidupan mereka menjadi lebih baik. Melihat senyum dari adiknya, Afkar teringat dengan Dhiya dan Syafa. Putrinya yang saat ini jauh di sebrang benua dan wanita yang entah di mana keberadaannya. Sampai sekarang Afkar belum bertemu dengannya. Rasa rindu pada dua wanita itu selalu ia pendam seorang diri.
'Kamu sedang apa, Nak! Ayah kangen sama Dhiya. Syafa ... Mas rindu sikap manjamu, Sayang! Kapan kita bisa bertemu?'
Batin Afkar.
Rasa rindu yang Afkar rasakan saat ini langsung terasa oleh Dhiya.
Gadis cantik yang saat ini duduk di bangku sekolah dasar itu juga merindukan sosok Afkar. Meskipun selama ini Dhiya dipenuhi kasih sayang dari Erza tak lantas membuat Dhiya lupa pada Afkar.
"Ayah, Dhiya kangen!" Batin Dhiya. Tak banyak yang bisa Dhiya lakukan. Ingin merengkek minta bertemu dengan Afkar tadi Dhiya paham mereka berada di mana saat ini. Dhiya juga lahan bagaimana kondisi bundanya dan Afkar. Belum ada pertemuan lagi usai pengesahan hak asuh yang berpindah pada Yara. Dan semenjak itu Dhiya belum bertemu dengan ayahnya.
Apalagi saat ini Dhiya tahu kondisi bundanya yang sedang hamil muda. Dhiya tidak mau menambah beban pikiran bundanya.
"Dhiy, kenapa bengong?" tegur Windi, tetangga baru yang satu negara asal dengannya. Anak gadis itu membawa boneka yang ia punya ke taman kecil yang menyatukan rumah mereka.
"Ah, iya, kenapa, Win?" Dhiya merasa terkejut dengan teguran dari teman barunya itu.
"Kamu kenapa diam? Aku sudah bawa boneka buat kita main rumah -rumahan!" seru Windi. "Yuk, main lagi!" Ajak Windi.
"Ayo deh!" Dhiya akhirnya melupakan rasa rindunya pada Afkar. gadis itu bertekad jika besar nanti ia ingin menjadi pekerja keras seperti ayah dan Papa Erza. Dia orang pria yang ia sayangi saat ini.
...🌱🌱🌱...
Di tempat lain, Syafa melihat kebersamaan Roni dengan seorang wanita di sebuah pusat perbelanjaan.
Wanita yang selama ini Syafa kenal sebagai teman baik dari Roni. Semenjak Syafa dengan tegas membentengi harinya untuk Roni. Pria itu mencoba membuka hati untuk wanita lain. Dan ternyata berhasil. Perasaan Roni perlahan berpaling pada Melani. Teman wanitanya yang selama ini selalu ada untuk Roni. Bahkan Syafa juga mengenal baik wanita itu.
Melihat kebersamaan Roni dengan Melani ada perasaan cemburu di hati Syafa. Tapi Syafa dengan cepat menepis rasa cemburunya itu. Syafa yakin itu hanya perasaan biasa saja karena mereka sering bersama.
Syafa memilih acuh dan pergi ke tempat lain untuk menghindari mereka.
Syafa memilih untuk mencari keperluannya yang lebih penting. Ia tidak mau berlama-lama di luar rumah mengingat keadaan Pak Rio yang butuh pengawasannya. Saat ini saja Pak Rio hanya ditinggal bersama satu asisten saja di rumah.
Puas mencari kebutuhan yang di cari Syafa kembali bertemu dengan Roni dan Melani. Sekarang ini Syafa tidak sengaja mendengar percakapan mereka berdua. Sebab posisi Syafa berada di belakang mereka.
Kening Syafa mengkerut saat mendengar namanya disebut oleh Melani.
__ADS_1
"Kamu tuh terlalu mementingkan Syafa, Mas. Hubungan kita sudah berjalan dua bulan ini. Tapi aku lihat kamu seakan tidak ada tanggapan serius soal permintaan papaku!" Ucap Melani pada Roni. "Kalau kamu masih berat pada Syafa lebih baik kita putus, Mas! Kamu bisa melanjutkan untuk melindungi wanita itu." Usai berbicara Melani hendak pergi dari meninggalkan Roni tapi pria itu menghentikannya.
"Tunggu, Mel!Tolong bertahan sebentar lagi. Kau tidak mungkin meninggalkan mereka dalam keadaan seperti ini. Aku minta pengertian kamu sekali lagi. Aku tidak bisa melepaskan mu begitu saja. Kamu yang selalu ada untukku! Apa kamu akan pergi saat perasaan ini telah berlabuh untukmu, Mel?" Roni berusaha mencegah Melani pergi.
"Tapi aku merasa tidak ada artinya buat kamu, Mas! Kita lebih baik berpisah. kamu bisa mempertimbangkan kelanjutan hubungan kita, Mas."
Syafa mendengar semua percakapan sepasang kekasih itu. Ia sungguh tidak menyangka kalau dirinya menjadi duri dalam hubungan mereka.
Syafa kembali merasa bersalah. Kesetiaan Roni dirasa cukup sampai di sini. Syafa tidak mau membebani pria itu terus menerus. Kini saatnya Syafa melihat orang yang sudah baik padanya selama ini bahagia dengan pasangannya termasuk Roni.
"Tunggu!" Seru Syafa saat Melani hendak meninggalkan Roni.
Langkah Melani terhenti saat melihat Syafa berjalan menghampirinya.
"Kalian tidak perlu berpisah hanya karena diriku," ucap Syafa.
Roni sedikit terkejut dengan penuturan Syafa.
"Fa, kamu tidak ada hubungannya dengan ini!" Roni berusaha menutupinya.
"Mas Roni, Syafa sudah mendengar semuanya. Syafa berterima kasih karena kamu sudah sangat setia bekerja sama papa selama ini. Tapi Mas Roni tidak bisa mengorbankan perasaan Mas sendiri untuk ku dan papa. Mas Roni berhak bahagia."
Syafa meraih tangan Melani dan tangan Roni.
"Jangan jadikan aku sebagai penghalang cinta kalian untuk bersatu," ucap Syafa sambil menatap pada Roni bergantian pada Melani.
Syafa melepas tangannya dari Roni. beralih pada Melani. "Mas Roni sudah banyak berkorban selama ini. Aku tidak mau dia mengorbankan kebahagiannya sendiri demi terus menjaga papa dan aku. Aku yakin Mba Melan adalah kebahagiaannya." Syafa menepuk pelan punggung tangan Melani. Ia beralih lagi menatap Roni. "Mulai saat ini aku bebaskan kamu dari segala tugas dan pekerjaannya pada keluarga Wirawan, Mas!"
Roni menggelengkan kepala mendengarnya.
"Kamu berhak bahagia, tidak perlu khawatirkan kami berdua. Aku dan papa akan baik-baik saja!" Syafa berusaha meyakinkan Roni.
"Tapi, Fa."
"Tidak ada tapi, Mas! Papa pasti setuju dengan apa yang aku bicarakan sekarang ini. Berbahagialah," Ucap Syafa kemudian ia berjalan meninggalkan Melani dan Roni yang masih menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
'Aku bisa hidup tanpa berpangku tangan dari kamu, Mas Roni. Terima kasih sudah manjadi sandaran hidupku selama ini.'
Batin Syafa. Ia berpikir akan mulai hidup tanpa campur tangan Roni. cukup selama ini hidupnya selalu berpangku tangan dari pria itu.
Syafa terus berjalan menjauh dari Melani dan Roni. Ia menghentikan langkah saat berada di luar gedung.
Syafa menyandarkan tubuhnya di dinding kokoh gedung itu. Seakan menyandarkan beban hidup yang ia tanggung sekarang ini. Kehidupan yang jauh dari hidupnya dulu.
Syafa memeluk tubuhnya sendiri. Ia memejamkan mata. Bayangan Afkar yang memeluk erat tubuh dan memanjakannya terlintas dalam benaknya.
'Mas Afkar, Aku rindu kamu, Mas!'
Batin Syafa. Rasanya perih mengingat mereka tidak lagi bersama.
.
.
.
__ADS_1
To be continued