
"Masa kalian tidak tahu dimana istri saya?" Bentak Afkar pada dua orang suster yang berjaga malam ini.
"Maaf, Pak! Kami memang tidak tahu dimana pasien yang ada di ruangan ini. Tadi pas kami gantian jaga dengan petugas sebelumnya di sini memang tidak ada pasien," salah seorang suster membela diri.
Afkar terlihat murka. Rahang pria itu mengeras dan mengepalkan tangannya.
"Kamu tega meninggalkan aku, Fa. Setelah semuanya pergi dariku. Kamu juga memilih pergi dariku," gumam Afkar. Emosinya menjadi tidak stabil dengan kenyataan yang ia dapat saat ini.
"Arghh ...." Afkar menarik sprei yang membungkus kasur yang ada di atas brankar. Afkar sungguh tidak menyangka Syafa tega melakukan ini padanya. Padahal, meski ingatannya telah kembali. Perasaan sayangnya pada Syafa tidak pernah berubah.
Afkar sangar mengingat bagaimana sikap dan perlakuan Syafa padanya. Tidak bisa dipungkiri perasaan cinta dalam hatinya pun terisi oleh wanita itu. Dua wanita yang mempunyai ikatan saudara. Afkar menyadari kesalahannya yang menikahi dua orang wanita adalah salah.
Makanya, pria itu berpikir Sang Pencipta mengambil buah hatinya dengan Syafa begitu cepat karena saat itu mereka masih dalam ikatan yang tidak sah. Afkar masih bersama Yara, adik kandung Syafa. Beda hal jika Afkar menjalin hubungan saat ia sudah bercerai dengan Yara.
Sesal, kini Afkar rasakan setelah semua meninggalkannya. Dhiya, Yara dan kini Syafa. Mereka tidak ada lagi di sisinya.
Meski saat ini Afkar bisa berjalan dengan satu kakinya. Perawakan pria itu manis terlihat gagah. Sayangnya hatinya hancur. Jiwanya terasa kosong.
"Afkar."
"Mas Afkar," panggil Bu Nuri dan Mira kompak. Kedua wanita itu terlihat sangat khawatir saat mengetahui Afkar tidak ada di ruangannya. Mereka langsung bergegas menuju di mana ruangan Syafa berada.
Dan benar saja, Afkar berada di sana, yang paling mengejutkan. Pria itu mengamuk di ruangan itu.
"Di mana Kaka ipar saya, suster?" Mira yang lebih bisa tenang bertanya pada petugas kesehatan yang berjaga tak jauh dari ruangan itu.
"Maaf, Bu. Laporan yang saya baca di file ini, menuliskan kalau pasien atas nama Syafa Aileen Wirawan telah dipindahkan oleh pihak keluarganya. Tapi mereka tidak menyebutkan akan dipindahkan ke rumah sakit mana pasien dibawa." Suster itu menjelaskan.
__ADS_1
Mendengar itu, Mira merasa kasihan pada kakaknya. Apalagi Mira tahu kalau ingatan kakak kandungnya itu telah kembali.
Perlahan Mira mendekati Afkar. "Mas Afkar," panggil Mira dengan lirih.
Pria yang sedang tertunduk di tepi brankar itu mendongak menatap Mira.
"Mir ...." Lirih Afkar. Pria itu hendak bangun dari tempatnya saat ini. Tapi adiknya itu lebih cepat mendekati Afkar.
"Mas ..." Saudara sekandung itu saling memeluk erat.
Mira ikut sedih dengan kejadian yang menimpa kakaknya saat ini. Sedangkan Afkar menumpahkan rasa sedihnya pada Mira. Jika ada Pak Setyo mungkin Afkar akan mencurahkan kesedihanya pada beliau. Sayangnya, Pak Setyo sudah pergi meninggalkan mereka semua.
"Syafa pergi, Mir! Dia juga pergi meninggalkan, Mas. Mas sendiri sekarang." Tumpah sudah tangis Afkar dalam pelukan Mira. Satu-satunya adik perempuan yang mengerti dirinya saat dulu.
"Ikhlaskan semuanya, Mas. Relakan apapun yang telah terjadi dan akan terjadi nantinya. berpasrah diri 'lah. Aku dan Ibu ada bersama kamu. Kami akan selalu bersama Mas Afkar, kami tidak akan meninggalkan Mas sampai kapanpun." Mira mengusap punggung kekar itu dengan lembut.
Mira merasakan kesedihan yang mendalam pada diri kakaknya. Getaran dari bahu yang naik turun menandakan bahwa Afkar sedang dilanda tangis dan penyesalan yang dalam.
Perlahan Afkar melepas pelukan itu.
Pria itu diam sejenak dengan pemikirannya.
"Mas sadar kalau Mas telah membuat Yara begitu sakit hati. Mas ingat apa yang sudah Mas lakukan padanya. Mungkin saat ini. Yara sangat membenci Mas, atau bahkan tak ingin bertemu lagi dengan Mas," ucap Afkar.
"Lalu?" Mira meminta Afkar untuk melanjutkannya.
"Bersama Syafa memang kesalahan bagi Mas. Karena Mas menikahi wanita yang bersaudara. Bagi agama kita, itu tidak diperbolehkan. Jika terjadi keduanya dinikahi, maka batallah pernikahan keduanya. Jika dinikah secara berurutan, maka batallah pernikahan yang kedua. Jadi saat itu secara tidak langsung pernikahan Mas sebenarnya sudah batal antara keduanya. Tapi saat itu Mas dalam keadaan tidak ingat. Mas ingin menanyakan pada yang lebih paham soal itu." Afkar berucap dari hatinya.
__ADS_1
Mira tersenyum saat mendengar penuturan Afkar. Mira meraih kedua tangan kakaknya.
"Aku senang kakak ku telah kembali," ucap Mira dengan wajah yang berbinar bahagia.
"Tapi Mas dan Mba Yara sudah resmi bercerai secara agama dan hukum. Sedangkan dengan Mba Syafa belum ada ucapan atau apapun. Berarti kalian masih bisa melanjutkan pernikahan," ujar Mira.
"Itu kalau Syafa masih ingin bersama dengan Mas. Buktinya dia juga pergi di saat Mas minta dia untuk bertahan. Mungkin, sikap Mas saat ingatan belum kembali membuat Syafa sakit hati. Mas terlalu tamak akan harta. Mas juga sudah mengkhianati pernikahan kami. Mas sudah menodainya dengan pengkhianatan. Mas mengakui semuanya. Mas sungguh menyesal, Mir!" ucap Afkar sungguh-sungguh dari hati.
"Kakak ku telah kembali. Aku yakin, Mas bisa memilih keputusan yang tepat. Mas Afkar memang egois dan keras kepala tapi dibalik sifat itu, Mas seorang pria yang bijaksana dan bertanggung jawab yang aku kenal. Renungkan dulu semuanya, Mas. Ingat aku dan Ibu ada selalu buatmu. Apapun keputusan yang Mas Afkar putuskan nanti kami akan selalu ada. Iya 'kan, Bu?" Mira menoleh pada Bu Nuri.
Wanita berumur itu lantas berjalan mendekati Mira dan Afkar.
"Ya, ibu akan selalu ada buat kamu. Ibu juga punya salah pada kamu dan Yara." Ucap Bu Nuri.
"Kita Harus meminta maaf pada Mba Yara, Bu."
"Apa dia mau memaafkan ibu, Mir?" Tanya Bu Nuri ragu. Sebab terlalu banyak kesalahan yang beliau lakukan.
"Menurut ibu, bagaimana?" Mira malah bertanya balik.
"Yara wanita baik, dia pasti akan memaafkan kita. Ibu sangat ingin bertemu dengannya," ujar Bu Nuri.
.
.
.
__ADS_1
To be continued
Menurut kalian bagaimana? Apakah Yara mau memaafkan semua kesalahan Bu Nuri dan Afkar?