Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Afkar Tidak Bisa Menghindarinya


__ADS_3

Pak Setyo tak bisa melarang. Karena ia tidak mau mengganggu kehidupan rumah tangga anaknya. Semua yang menjadi keputusan Afkar pastilah yang terbaik untuk mereka. Hanya Bu Nuri yang tak setuju. Ibu dari Afkar tidak bisa berbuat banyak karena Pak Setyo selalu menasihatinya.


“Bapak ini, orang ibu mau ngomong sama Afkar, kenapa dilarang? nyebelin?" Bu Nuri cemberut sambil mengomel pada Pak Setyo. "Anak itu juga, keras kepala sekali!Tidak mau mendengar omongan ibu. Lihat saja nanti kalau terjadi apa-apa, ibu tidak akan membantu,” Ucap Bu Nuri usai sambungan telepon Pak Setyo berakhir dengan Afkar.


“Bu!” Bentak Pak Setyo. “Astagfirullahaladzim, nyebut, Bu! Ingat ucapan itu doa, harusnya ibu doakan yang baik untuk Afkar dan Yara!”


Pak Setyo menggelengkan kepala dengan ucapan Bu Nuri sambil mengusap dadanya pelan. Bisa-bisanya istrinya berkata tidak baik pada putranya sendiri.


“Bapak tidak pernah ngerti perasaan ibu!” Bu Nuri pergi meninggalkan Pak Setyo dengan marah di ruang tamu.


🥭🥭🥭


Waktu sudah menunjukkan di mana para buruh pabrik berhenti bekerja. Bunyi bel yang menandakan waktu pulang bagi para pekerja pun nyaring terdengar.


Seorang Pria tampan, tinggi dengan rahang yang tegas bergegas keluar dari pabrik tekstil ternama di kota Jakarta.


Dengan langkah lebar Afkar ikut berbaris dengan karyawan lain hendak melaporkan absensi pulang untuk hari ini.


“Pak Afkar, bakalan kangen kita gak ada yang bantuin kerja seminggu ini!” ucap salah seorang gadis yang sedang mengantri bersamanya, namanya Yeni.


Afkar hanya tersenyum mendengar ocehan anak buahnya itu.


Meski jabatannya di pabrik itu sebagai kepala bagian tapi Afkar tetap bersahaja dengan karyawan yang lain. Ia ikut dengan aturan yang ada. Salah satunya, ikut mengantri saat melakukan absensi tidak seperti atasan yang lain. Yang tak mau bergabung dan membantu anak buahnya dalam bekerja. Itu sebabnya banyak orang yang menyukai Afkar. Tetapi ada saja yang tidak suka dengan sikap Afkar.


Usai melaporkan absensinya di mesin finger yang ada di pos security. Afkar bergegas ke area parkiran. Ia sudah tidak sabar ingin segera pulang ke kampung halaman. Rasanya ingin segera bertemu dengan Yara dan Dhiya.


Mengendarai motor matic miliknya, Afkar kembali ke kontrakan. Ada Kak Ima yang sedang santai duduk menikmati suasana sore hari.


“Tumben gak lembur?” tanya Kak Ima saat Afkar datang.


“Saya ambil cuti seminggu, Ka! Hari ini mau pulang buat jemput anak istri di kampung!” Sahut Afkar dengan semangat.


“Loh, ko baru bilang! Bang Boy tau?”


“Abang tau, Ka. Semalam saya bilang sama dia, mau menitipkan motor sama kontrakan selama saya di kampung.”


“Oh."


Afkar masuk ke dalam kontrakkan dan tak lama keluar dengan satu tas ransel dan satu kardus yang sudah terbungkus dilapisi lakban agar tidak gampang sobek. Semua itu adalah barang yang akan dibawanya pulang kampung halaman. Oleh-oleh buat orang di sana.


“Gak, mandi dulu, Kar? Istirahat dulu, baru berangkat.” Kak Ima merasa heran dengan sikap Afkar yang terburu-buru.

__ADS_1


“Gak sempet, Kak.”


Afkar langsung memasukkan motor matic-nya ke dalam kontrakan. Lalu memberikan kunci kontrakkan pada Kak Ima.


“Jam berapa mobik travel-nya datang?”


Tanya Kak Ima sedikit berteriak dari luar.


Baru saja selesai berbicara. Mobil travel yang disebut telah tiba.


“Tuh 'kan, kalau mandi dulu, malah ketinggalan travel," seru Afkar yang bergegas memakai tas ranselnya lalu pamit kepada Kak Ima. “Saya titip kontrakan ya, Kak! Tolong sekalian dikunci!" Pinta Afkar sambil menyengir. Sebab Afkar terlihat buru-buru sekali.


"Kamu ini, orang-orang di mobil sana bisa mabuk dengan bau keringatmu!" ejek Kak Ima. Afkar hanya tersenyum menanggapinya.


“Hati-hati ya, Kar! Kabari aku dan Bang Boy kalau kamu sudah sampai.” Kak Ima terlihat sedih melihat Afkar berjalan tergesa menuju mobil travel


yang sedang menunggunya di seberang jalan.


Hidup bertetangga dengan sesama perantau membuat Afkar dengan Kak Ima serta Bang Boy seperti saudara. Mereka tidak hanya berbagi cerita tetapi apapun yang mereka punya apalagi makanan sering mereka bagi.


“Ya, pasti. Saya pamit, Kak! Assalamu’alaikum."


Afkar berlari kecil menghampiri mobil travel yang berhenti di seberang jalan. Mobil tersebut sengaja datang untuk menjemputnya. Afkar mengetahui adanya travel itu dari Kak Ima dan Bang Boy. Sebab mereka sering menggunakan jasa itu kalau pulang ke kampung halaman. Lebih praktis tidak harus pindah-pindah kendaraan umum.


Afkar melambaikan tangan ke arah Kak Ima yang tengah menatap dirinya dalam sedih. Kebersamaan bersama Afkar hanya beberapa bulan saja sudah membuat mereka dekat layaknya saudara.


Mobil travel yang Afkar tumpangi pun melaju cepat, membelah jalanan ibu kota yang padat dengan kemacetan di sore hari.


Perjalanan Jakarta ke Mojokerto memakan waktu sekitar sepuluh jam jika perjalanan lancar. Perjalanan semakin lambat karena mobil travel harus banyak mengantarkan beberapa penumpang ke tempat tujuan yang berbeda-beda. Perjalanan Afkar akan sampai ke kampung halamannya, esok hari. Supir travel akan mengantar penumpang yang jaraknya dekat lebih dulu sesuai jalur perlintasan.


Selama perjalanan Afkar memejamkan mata. Tubuhnya terasa lelah karena baru pulang bekerja harus buru-buru mengejar waktu agar tidak tertinggal mobil carterannya. Afkar tidak lupa mengirimkan pesan kepada Yara bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang ke kampungnya. Tapi pesan yang ia kirimkan menunjukkan lingkaran kecil di sudut pesannya, tanda pulsa data yang Afkar miliki sudah habis.


Afkar berpikir akan mengisi pulsa datanya nanti, saat pak supir berhenti di pom bensin atau di rest area.


Mobil travel pun berhenti di pom bensin untuk mengisi bahan bakar. Afkar sudah berpesan kepada supir untuk membangunkannya kalau berhenti. Afkar bilang akan mengisi pulsa agar bisa memberitahu keluarganya bila jarak perjalanan sudah dekat. Supaya ada yang menjemputnya nanti.


“Mas, bangun, Udah di pom bensin,nih!” Pak Supir membangunkan Afkar.


“Oh, ya Pak. Terima kasih.”


“Jangan lama, ya, Mas. Perjalanan masih jauh.”

__ADS_1


“Iya, Pak”


Afkar segera turun dari mobil travel. Ia mencari tempat yang menjual pulsa. Kebetulan ada toko Birumart di seberang pom bensin. Setengah berlari Afkar menuju tempat itu.


“Mbak, ada pulsa kuota?” tanya Afkar kepada karyawan toko tersebut.


“Ada, Mas.”


“Alhamdulillah, saya isi yang unlimited 7GB, ada, Mbak?”


“Ada, nomernya?” balas petugas toko


Tak lama Afkar menyebutkan nomer teleponnya. Beruntung keadaan toko sepi hanya ada dia dan dua orang pembeli yang masih memilih belanjaan. Jadi Afkar tidak perlu mengantri lama.


“Berapa, Mbak?”


“Sembilan puluh ribu, Mas!"


Afkar hendak merogoh dompet di kantung celananya. Tapi setelah meraba, dompet yang ia cari tidak ada. Afkar mencoba meraba saku di depan kaos kerjanya, tak ada uang juga di sana. Afkar lupa kalau dompetnya dimasukkan ke dalam tas ranselnya.


“Mbak, maaf uang saya tertinggal di tas," ucap Afkar dengan perasaan tidak enak hati.


Petugas toko menatap curiga pada Afkar. Afkar mengerti situasinya jika petugas toko takut jika Afkar menipunya.


“Kalau si mbak tidak percaya, ponsel ini akan ditinggal di sini. Saya mau ambil uang dulu di mobil! Nanti saya balik lagi ke sini!”


Petugas toko itu mengangguk untuk menyetujuinya.


“Maaf, ya, Mas. Saya hanya menjaga jadi tidak mau nanti harus nombok kalau Mas, bohong.”


“Ya, saya mengerti!" Afkar memberikan ponsel miliknya ke penjaga toko. Ia keluar dari Birumarket dan berlari ke arah pom bensin hendak mengambil dompet.


Afkar juga tidak ingin supir dan yang lain menunggu terlalu lama. Pria itu tak memperhatikan dari arah kanan nya meluncur sebuah mobil hitam dengan kecepatan penuh. Afkar tidak bisa menghindarinya.


Braakkkkkkk....


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2