
Niat hati ingin berlama-lama di kontrakan Yara tapi apa mau dikata. Lagi-lagi ponselnya berdering. Kali ini ia mendapat telepon dari papanya.
Beliau mengabarkan jika orang yang akan membantunya di perusahaan sudah ada. Erza tinggal mengatur janji temu dengan orang tersebut.
"Besok aja deh ketemunya. Aku lagi sibuk, Pah!" Ujar Erza masih sambil berbisik menerima telepon itu.
"Besok tinggal siap kerja, Za! Papa tidak mau tahu, sekarang juga pulang ke rumah!" Tanpa banyak bicara Pak Rangga langsung menutup sambungan teleponnya secara sepihak.
"Katanya disuruh cepet bawa calon. Tapi dari tadi gangguin terus," kesal Erza. Dengan tidak rela Erza pamit pada Yara dan Kak Ima.
"Ra, aku pamit pulang dulu. Ada urusan mendadak!" Ujar Erza setelah meminum teh manis yang disuguhkan Yara padanya.
'Ah, semoga perjalanan mendekati Yara semanis teh buatannya.'
Batin Erza sambil menarik satu bibirnya.
"Terima kasih sudah menolongku, Za. Kalau tidak ada kamu aku tidak tahu bisa pulang ke sini atau tidak," balas Yara.
"Sama-sama, sudah seharusnya kita saling tolong menolong 'kan?"
"Tapi Kalau kamu tidak mengikuti Yara ke tempat itu. Saya juga tidak yakin kalau ada orang lain melewati jalan itu," sambung Kak Ima.
Yara beralih menatap Kak Ima. "Benarkah itu, Kak?" Tanya Yara.
Kak Ima mengangguk pelan membenarkannya.
"Ya, karena saya masih penasaran dengan Yara. Kemarin kita belum kenalan." Erza menggaruk lehernya yang tidak gatal merasa malu dengan pengakuannya sendiri.
Kak Ima mengulas senyum melihatnya tapi tidak bagi Yara.
Wanita itu malah merasa berat karena telah membuat seorang pria penasaran ingin berkenalan dengannya.
"Jika kamu ingin mendekatiku sebaiknya tidak perlu, Aku sudah---" ucapannya sengaja terpotong oleh Kak Ima.
"Ah, Dhiya sudah pulang!" Seru Kak Ima memotong ucapan Yara sambil beranjak berdiri dari duduknya. Untuk menyambut anak kecil itu.
Yara dan Erza pun ikut berdiri mengikuti Kak Ima.
"Ibu ...,"teriak Dhiya dari kejauhan. Bang Boy menurunkan gadis kecil itu dengan hati-hati dari motornya. Dhiya pun berlari kecil ke arah mereka.
"Hati-hati, Sayang! Jangan lari!" Seru Kak Ima.
Yara yang melihat interaksi anaknya dengan Kak Ima tersenyum hangat. Yara bersyukur bertemu orang baik seperti Kak Ima yang sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri, bahkan menganggap Yara sebagai anaknya.
"Loh, anak kecil itu 'kan yang tempo hari di depan Mall?" Celetuk Erza. Pria itu sangat hapal dengan Dhiya. Anak gadis manis yang memberi permen lollipop padanya.
"Kamu pria yang kehilangan motor itu?" Kak Ima menegaskan. Erza pun mengangguk, membenarkannya. "Kota ini ternyata sempit juga ya, dulu kamu kehilangan motor. Sekarang Yara yang kehilangan. Makin ngeri ya, kota ini. Banyak orang-orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Termasuk mencuri," lanjutnya.
Yara hanya tidak mengerti ucapan mereka berdua. Sebab Kak Ima tidak pernah menceritakan pertemuannya dengan Erza waktu itu.
__ADS_1
Kak Ima yang mengerti sikap Yara yang bingung sedikit menceritakan padanya soal pertemuannya dengan Erza. Yara pun mengangguk paham setelah dijelaskan.
"Ibu ... Dede di beliin ini, sama Apah!" Dhiya menunjukan mainan tablet mainan di tangannya. Anak kecil itu terlihat sangat senang sekali. Tak lupa ia menyalami Kak Ima dan Yara.
"Wah, bagus. Nanti belajar nulis sama baca lagi sama ibu, Ya?" Ucap Kak Ima.
Dhiya terdiam saat berhadapan dengan Erza. Anak kecil itu seperti sedang mengingat sesuatu.
"Saya yang kamu kasih permen lollipop saat di depan mall waktu itu, masih ingat?" Tanya Erza yang membungkukkan tubuhnya saat menyapa Dhiya.
"Oh, ya. Om yang motornya hilang ya?" Dhiya melirik motor yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Udah punya motor baru ya?" tanya Dhiya meminta jawaban lebih pada Erza.
Pertanyaan gadis kecil itu membuat Semuanya tersenyum. Dhiya tidak akan berhenti jika rasa penasarannya belum terjawab.
"Ini bukan motor, Om. Tapi boleh nyewa," balas Dhiya.
"Sabar, ya Om. Kata bunda, kalau orang sabar, Allah pasti ganti dengan yang lebih baik." Dhiya menepuk pelan bahu Erza yang sedikit berjongkok di hadapannya. Dan di balas senyuman oleh Erza.
Pria itu semakin suka dengan gadis kecil yang ada di hadapannya ini. Ia mengacak pelan rambut Dhiya. "Kamu pintar sekali," ucapnya kemudian menegakkan kembali tubuhnya.
Dhiya kemudian beralih mendekati Yara.
"Putri Kak Ima lucu sekali," ujar Erza pada Kak Ima.
Baru saja Yara membuka mulut ingin menjelaskan yang sebenarnya, Erza kembali mendapat telepon dari seseorang. Hal itu membuat Yara mengurungkan niatnya.
Erza pamit pada Kak Ima, Yara dan Bang Boy tanpa bersuara untuk menerima telepon sebentar. Tak alam Erza kembali setelah berbicara singkat dengan seseorang di sebrang telepon.
"Sama-sama, lain kali main ke sini agak lama. Biar nanti merasakan masakan Yara. Pasti ketagihan!" sahut Kak Ima.
"Kak," Yara menyenggol lengan Kak Ima.
Wanita itu hanya tersenyum mendapat respon dari Yara.
"Lain kali, saya akan mampir lebih lama."
"Ya,"
Erza pun pamit pada mereka semua.
Tak lupa Erza berpamitan dengan Dhiya. "Om, pulang dulu! Oh, ya. Tolong bilangin sama kakak kamu itu, sekali kali tersenyum," bisik Erza pada Dhiya sambil melirik Yara yang menatapnya seakan ingin menjelaskan sesuatu. Tapi Yara merasa tidak perlu. Sebab Yara berpikir pertemuannya dengan Erza ini pun untuk yang terakhir kalinya. Yara tidak mau dekat dengan pria lain selama ia jauh dari Afkar. Setelah itu Erza pamit dari sana.
Mendengar bisikan dari Erza membuat Dhiya bingung. Tidak mengerti maksud dari Erza. Dhiya hanya diam sambil melirik bundanya, Yara. Bundanya itu hanya membalas seulas senyum pada Dhiya. Kemudian menatap kepergian Erza, menyayangkan salah paham yang terjadi. Erza mengira Dhiya adalah adik dari Yara.
🌱🌱🌱🌱
Hari terus berlalu tidak terasa hampir dua minggu lebih Yara tidak bertemu dengan Afkar. Suaminya itupun sama sekali tidak mendatangi Yara di rumah kontrakannya. Yara merasa Afkar memang telah melupakannya.
Malam ini, Tubuh Yara begitu lelah karena beberapa hari ini harus menjual masakan matang di depan kontrakannya. Ia membaringkan tubuhnya di samping Dhiya yang sudah terlelap.
__ADS_1
"Ayah," gumam Dhiya saat anaknya itu tertidur di samping Yara.
Yara langsung bangkit dan duduk sambil menghadap Dhiya. "Apa kamu rindu sama ayah, Nak! Apa bunda terlalu egois tidak pernah mengajakmu ke rumah itu lagi?" gumam Yara sambil memejamkan matanya. Semenjak menjual masakan matang di depan kontrakannya, Yara memang merasa tidak sempat membagi waktunya untuk Dhiya. Anak gadisnya itu hanya diam tanpa banyak mengeluh.
"Besok kita ke rumah ayah, Nak. Sekalian bunda mau ke rumah Bu Haryani." Yara mengusap pelan kening Dhiya kemudian mencium keningnya.
Yara harus menahan egonya. Besok dirinya harus bersiap untuk menerima sindiran dan ocehan dari Bu nuri., mertuanya.
Saat sedang melamun mempersiapkan hati untuk esok hari, sekelebat bayangan Erza terlihat dalam benak Yara. Pria yang baru ia kenal dengan tingkah konyolnya mampu membuat Yara menarik sudut bibir saat mengingatnya. "Kemana pria itu, dia bilang mau mampir lagi ke sini?" Yara tidak sadar saat berbicara seperti itu ada sebuah harapan untuk bertemu kembali dengan Erza.
Di tempat lain, hampir beberapa hari ini Erza, uring - uringan karena pengganti Bi Ninis tidak datang beberapa hari ini. Erza kembali menghubungi Bi Ninis meminta wanita berumur itu untuk kembali ke rumahnya, memasak seperti biasa. Tapi sayang Bu Ninis masih belum sehat betul sehingga mau tidak mau Erza harus tinggal di rumah orang tuanya, dua minggu ini sampai Bu Ninis kembali bekerja.
"Mama sudah bilang cepat nikah, biar ada yang masakin kamu di rumah," gerutu Mama Anggi sambil menyiapkan masakan untuk Erza.
Beruntung Mama Anggi senang memasak sebab Pak Rangga, papa dari Erza sama seperti dirinya yang lebih suka dengan masakan rumah dari pada makanan luar.
"Salahkan papa, Mah! Kenapa tidak menyelesaikan pekerjaannya sebelum pengalihan jabatannya. Sekarang aku repot sendiri dengan sisa pekerjaan yang dia tinggalkan," balas Erza sambil melirik sebal pada Pak Rangga.
Pria berumur yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan santai di rumah setelah hengkang dari perusahaan itu hanya menanggapi kekesalan Erza dengan santai.
"Hubungannya apa dengan pekerjaan yang di tinggalkan, Papa?" Tanya Mama Anggi.
"Waktuku jadi semakin sedikit untuk pedekate sama Yara!" jawab Erza kesal tapi tidak menghentikan aktivitas makannya.
Mama Anggi mengerutkan alis mendengar nama wanita yang disebut Erza. "Nama pacarmu, Yara?"
"Bukan pacar, tapi calon istri!" Celetuk Erza.
"Dih, dekat aja belum udah ngaku calon istri. Kamu udah kenal latar belakang dan asal usul dia?" Mama Anggi kembali bertanya.
Erza mengelengkan kepalanya lemah. "Belum, Mah?"
"Hayo, bagaimana kalau dia adalah istri orang, atau simpanan om - om?" Mama Anggi merasa curiga.
"Tidak mungkin, Mah! Orang aku sudah bertemu sama Kakak dan keponakannya. Nanti aku kenalin sama mama deh." Erza selesai menghabiskan makan malamnya. "Habis makan, aku pulang ke rumahku, Mah!" Ucap Erza kemudian berpamitan pada Mama Anggi dan Pak Rangga.
Setelah itu Erza pamit pada mereka berdua. Besok, ia berencana menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Ia ingin segera bertemu dengan Yara. Rasanya beberapa hari ini perasaannya tidak karuan karena belum melihat wanita itu. Menjadi pengganti Pak Rangga di perusahaan itu membuat Erza sibuk. Tapi jangan sebut dia Erza kali tidak bisa menangani masalah dengan cepat. Meskipun terkesan santai tapi soal bekerja, Erza tidak perlu diragukan lagi.
.
.
.
Bagaimana nih jika setelah ini Erza mengetahui kenyataan kalau Yara sudah menikah?..
Maaf ya kalau ada typo. Nanti Author perbaiki.
.
__ADS_1
.