
Senyum mengembang di wajah Afkar saat melihat orang yang ia cari sedang tersenyum manis bersama Dhiya. Mereka berdua sedang bercanda di luar rumah kontrakan.
Ingin rasanya ikut bergabung dengan keseruan yang mereka lalui saat ini. Tapi Afkar menahan diri. Dia sudah berjanji untuk tidak bertemu dengan Yara dulu, selama dua minggu ini. Semua karena keinginan Syafa. Entah ngidam apa memang larangan wanita itu. Afkar tetap akan melakukannya.
Afkar membuang napas kasar. Pria itu hanya bisa memandangi mereka dari kejauhan. Melihat senyum Yara saja rasanya rasa rindu sudah terobati. Afkar akui kalau sampai saat ini ingatan kenangan dengan Yara belum teringat sama sekali olehnya. Tapi hati dan perasaan Afkar mulai merasakan kehangatan setiap kali Yara bercerita soal mereka berdua.
"Maafkan aku, aku harus memenuhi janjiku dulu kepada Syafa. Meskipun saat ini tidak ada dia di sini. Tapi aku harus menjaga amanah. Aku merasa lega kalian baik-baik saja," gumam Afkar. Pria itu segera melanjutkan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Tanpa Afkar ketahui. Yara menyadari keberadaannya dari tadi. Hanya saja wanita itu ingin melihat sampai di mana peduli Afkar pada mereka berdua.
Yara tersenyum masam melihat perginya mobil mewah yang terparkir jauh dari rumah kontrakannya.
'Kini aku tahu, Mas. Kamu lebih peduli dengan Mba Syafa. Kami tidak ada artinya bagimu.'
Batin Yara sedih tapi ia tidak mau menunjukkan kesedihannya di hadapan Dhiya. Sebab Yara sudah sangat bersyukur dengan anak gadisnya itu. Dhiya tidak pernah menuntut untuk kembali ke rumah mewah yang menyediakan semua kebutuhannya. Dhiya malah memilih ikut bersama dengan Yara yang hidup dalam kesederhanaan.
Di tempat lain, tepuk tangan yang meriah didapat dari para petinggi perusahaan dan beberapa rekan bisnis Pak Rangga. Saat Erza baru saja mempresentasikan hasil kerjanya selama ini. Semua menatap takjub dan bangga mempunyai salah satu pekerja yang berhasil membuat perusahan itu bernilai di mata para pesaing bisnis.
Pak Rangga tidak menyangka putranya yang kadang bersikap semaunya sendiri dan tidak mau dikekang menunjukan kinerja yang sangat bagus. Kali ini Pak Rangga bangga pada putra pertamanya itu.
Di saat yang bersamaan Pak Rangga tidak mau melewatkan kesempatan yang ada. Di hadapan semua yang hadir. Beliau mengumumkan berita penting di sana.
"Saya bangga dengan kinerja dan dedikasi yang ditunjukan oleh saudara Erza. Dalam kesempatan ini juga saya ingin memperkenalkan putra sulung saya yang pernah saya bicarakan akan menggantikan ku untuk memimpin perusahaan ini," ucap Pak Rangga sambil menatap semua orang yang hadir dalam ruang rapat itu.
Salah seorang pria paruh baya mengacungkan tangannya.
"Apa putra Pak Rangga bisa diandalkan nantinya. Secara kita tidak pernah bertemu dan kenal siapa dia. Bahkan cara kerja putra Pak Rangga saja belum kita ketahui. Itu hanya pendapat saya, Pak Rangga tidak tahu dengan yang lain." Pria paruh baya yang merupakan pemilik 20 % saham di perusahaan itu angkat bicara dan meminta pendapat yang lainnya.
Para pemilik saham dan anggota yang lain saling berbisik dan saling pandang mendengar ucapan pria itu.
"Ya, benar sekali itu! Maaf Pak Rangga bukannya kita tidak percaya tapi ini demi kelangsungan perusahaan ini. Kita perlu bukti untuk mempercayai pemimpin selanjutnya yang merupakan keturunan dari Anda." Pria lain menimpali.
Pak Rangga menyunggingkan senyum menanggapinya. Mereka tidak pernah tahu jika Erza adalah Putra sulung dari Pak Rangga. Kini, beliau baru tahu mengapa Erza memintanya untuk menyembunyikan jati diri Erza selama ini. Ternyata hal ini sudah ada di pikiran putranya, ada rasa bangga tersendiri dalam diri Pak Rangga dengan cara berpikir Erza.
"Saya rasa kalian tidak perlu ragu soal ini. Kalian semua sudah mengenal baik putra saya. Bahkan hampir 2 tahun lamanya," ucap Pak Rangga.
Beberapa orang saling pandang dan heran dengan ucapan Pak Rangga.
"Apa maksud Anda, Pak Rangga?" tanya salah satu dari mereka.
Pak Rangga kemudian mendekati Erza yang duduk di ujung meja. Sebab kursi di samping kiri dan kanan Pak Rangga terisi oleh orang-orang penting dalam perusahaan.
__ADS_1
Tatapan semuanya mengikuti arah langkah Pak Rangga. Dan tepat di belakang Erza, beliau menghentikan langkahnya.
Pak Rangga meminta Erza berdiri.
"Orang yang kalian ragukan dalam bekerja telah membuktikan dirinya sendiri bahwa dia berhasil dan pantas memimpin perusahaan ini. Bahkan kalian mengakui keberhasilannya tadi." Ucapan Pak Rangga kembali membuat para pemegang saham kebingungan.
"Saya perkenalkan putra sulung saya, Erza Rahardian Pratama. Orang yang kalian kenal selama 2 tahun ini menjabat sebagai Kepala Staff Marketing di perusahaan ini. Dia sudah membuktikan kepada kalian kinerja kerjanya selama ini. Kita juga merasakan perubahan dan peningkatan selama dia bekerja bukan?" Pak Rangga mengedarkan pandangannya pada sejumlah anggota rapat yang hadir di sana. Semua mengangguk setuju dengan ucapan Pak Rangga.
Beberapa detik kemudian satu persatu berdiri dan memberikan standing aplouse untuk Erza.
Satu persatu dari mereka memberikan selamat. Beberapa saat kemudian Erza pun memperkenalkan dirinya sebagai putra dari pemilik perusahaan tempat dia bekerja selama ini. Dan menjelaskan kepada mereka semua kenapa dia menutupi jati dirinya selama ini. Erza mau dipandang sebelah mata saat papa-nya tiba-tiba saja memperkenalkan dirinya sebagai pengganti dari Rangga Mahardika Pratama. Dia ingin mereka melihat dan menilai sendiri kinerjanya dalam memajukan perusahaan itu.
Hampir dua jam rapat itu berlangsung. Satu persatu dari mereka pamit dan memberikan selamat pada Erza. Mereka menanti gebrakan baru dari pemimpin muda itu. Pak Rangga merasa bangga dengan putranya sulungnya itu.
Semua anggota rapat telah pergi meninggalkan ruangan. Dan orang terakhir yang masih berada di san adalah Pak Budi. Kolega bisnis yang lama kenal baik dengan Pak Rangga.
"Selamat atas keberhasilan putra Pak Rangga." Pak Budi mengulurkan tangannya ke arah Pak Rangga kemudian beralih kepada Erza. "Saya kagum dengan kerja keras kamu, saya benar-benar tidak menyangka kalau kamu adalah putra dari teman baik saya, Rangga."
"Pak Budi terlalu berlebihan menilai. Saya masih belajar dalam hal ini. Masih banyak yang harus saya pelajari dalam berbisnis dari orang-orang seperti papa dan Anda, Pak Budi!" balas Erza dengan sopan.
Pak Budi tersenyum saat mendapat tanggapan baik dan sopan dari Erza.
"Saya rasa tidak ada salahnya jika kita melanjutkan silaturahmi kita dengan mendekatkan putra putri kita, Pak Rangga," ucap Pak Budi yang tersenyum penuh arti sambil menatap Erza.
"Bagaimana Pak Rangga, Naik Erza?" Tanya Pak Budi sambil menatap Erza.
"Bagaimana apanya, Pak?" Erza tidak mengerti maksud dari Pak Budi.
"Kita perkuat silaturahmi ini dengan menjodohkan kamu dengan Monica. Kamu kenal dengan dia 'kan?"
Erza mengangguk pelan. Tapi tidak menjawab setuju atau tidak dengan ucapan Pak Budi.
Pak Rangga paham dan mengerti arti diam dari Erza. Putranya itu ingin menolak tapi tidak berani berbicara.
"Mohon maaf, Pak Budi. Bukannya saya menolak niat baik Anda. Tapi saya tidak ingin memaksa Erza. Dia berhak memilih dengan siapa dia akan berumah tangga tanpa ada perjodohan. Dia bebas memilih wanita sesuai keinginannya sendiri," balas Pak Rangga.
"Kalau seperti itu, Anda tidak bisa melihat bibit, bebet dan bobotnya calon menantu Anda nantinya, Pak Rangga. Apa kata rekan bisnis Anda yang lain jika Nak Erza memilih wanita biasa saja atau ... yang tidak seimbang dengan keluarga Pratama," ujar Pak Budi.
Pak Rangga mengulas senyum mendengar penuturan kawan bisnisnya itu soal calon menantunya nanti.
"Saya tidak menerapkan hal itu dalam menentukan seorang menantu dalam keluarga saya, Pak. Jika memang Erza mendapat jodoh baik dan jelas dari keluarga terpandang seperti Anda. Saya bersyukur sekali. Tapi jika nanti calon menantu saya memang berasal dari kalangan biasa, saya pun tidak akan pernah menolak. Yang saya pastikan semuanya karena pilihan dari Erza sendiri. Saya tidak akan memaksa," ucap Pak Rangga tegas membuat Erza lega dan senang.
__ADS_1
Keluarganya memang tidak menekankan soal bibit, bebet dan bobot kepada calon istrinya nanti. Asalkan wanita itu baik. Dan Erza secepatnya bisa menikah.
"Bukan berarti kita tidak bisa jadi besan 'kan? Apa sekarang Erza sudah mempunyai calon?" Tanya Pak Budi.
"Jika memang putri Pak Budi ditakdirkan berjodoh dengan Erza. Saya tidak akan menolak, Pak!" Pak Rangga menimpali.
"Tapi aku sudah mempunyai calon istri sendiri, Pak! Mohon maaf sekali, Saya dengan tegas menolak ajakan Pak Budi untuk melanjutkan kerjasama dengan perjodohan. Sebab aku hanya ingin menikah dengan orang yang kucintai," Erza memotong obrolan kedua pria berumur di hadapannya itu.
Pak Rangga lekas menatap Erza. Ia seakan tidak percaya dengan ucapan putranya.
"Kalau memang sudah ada calon, bawa dia ke rumah segera! Papa dan mama menunggumu membawanya ke hadapan kami." Pak Rangga menyahutinya. Kemudian beralih pada Pak Budi.
"Saya rasa kita bisa menjalin kerjasama yang lain saja, Pak!" Kedua rekan bisnis itu tertawa bersama kemudian saling merangkul dan berjalan ke luar ruangan.
"Ya, benar sekali, Pak Rangga. Anak muda zaman sekarang pasti tidak mau dijodohkan, padahal aku sangat berharap jika putra-putri kita bisa bersama."
"Biarkan mereka memilih pasangan sendiri, Pak. Ini jaman modern bukan jaman Siti Nurbaya lagi."
Tawa renyah semakin terdengar menjauh. Erza merasa lega saat kedua orang tua itu pergi menjauh darinya. Berganti dengan pikiran bingung yang dirasakan oleh Erza.
"Gimana mau bawa cewek ke hadapan papa dan mama. Nama cewek itu aja belum tahu siapa. Arghh ... Masa gue harus kelayapan nyari tuh ojek cantik. Nyari di mana coba? Berikan petunjuk mu, Tuhan. Semoga bisa ketemu cewek itu lagi karena dia berhasil membawa pergi hatiku!" Erza menyisir rambut dengan jemarinya.
Tak lama seorang pria datang menghampirinya.
"Pak Erza, Maaf ini kotak makan yang tertinggal di mobil Anda dan ini kunci mobilnya," ucap seorang satpam lalu memberikan bekal makanan milik Erza yang tertinggal di mobilnya tadi pagi.
"Oh, ya terima kasih, Pak Jono."
"Sama-sama, Pak."
"Mending isi amunisi dulu deh, biar bisa mikir gimana caranya nyari di tukang ojek cantik itu." Gumam Erza sambil membuka kotak bekal miliknya.
Beruntung ia memerintahkan satpam untuk mengambil mobilnya yang ditinggalkan di jalanan. Kalau tidak Erza pasti memilih menahan lapar daripada harus mencari makanan ke luar kantor.
Erza segera makan bekal yang ia bawa. Ia harus mengisi perut agar bisa berpikir bagaimana cara mencari si ojek cantik yang berhasil mencuri hati Erza.
.
.
Jangan lupa like komen yang banyak biar semangat buat up
__ADS_1
jangan lupa bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 juga ya . Vote dan hadiahnya juga..