
“Ayah,” panggil Dhiya saat melihat Afkar keluar dari ruang UGD.
Afkar buru-buru menghapus air mata yang masih membasahi pipinya. “Princessnya ayah,” sahut Afkar sembari berjalan mendekati Dhiya.
“Bagaimana keadaan Mba Syafa, Mas?” tanya Yara pada Afkar saat mantan suaminya itu berada di dekatnya.
“Syafa baik-baik saja, mungkin dia lelah setelah berbincang dengan Roni. Jadi, pas aku ke dalam menemuinya. Syafa tengah tertidur. Benar ‘kan, Ron?” tegur Afkar pada Roni yang tengah duduk dan sibuk dengan ponselnya. Pria itu tidak menyadari kedatangan Yara waktu itu. Roni langsung berdiri dan menunduk sopan pada Yara. Kemudian beralih menatap Afkar.
“Ah, iya. Tadi pas aku meninggalkannya bersama Afkar, memang Syafa sedang beristirahat,” ujar Roni.
“Syukurlah kalau begitu.” Yara merasa lega mendengarnya. Kemudian tersenyum melihat Dhiya yang terlihat begitu senang saat bertemu dengan Afkar. Yara kembali beralih pada Roni, pria yang pernah menjadi asisten papa-nya. “Pak Roni, apa kabar?” sapa Yara sambil mengulurkan tangan pada pria itu.
“Kabarku baik, Nona,” balas Roni sambil membalas uluran tangan dari Yara.
“Pak Roni mau ke ruangan papa?” Yara lanjut bertanya.
“Sepertinya begitu, Nona.”
“Pak Roni tidak usah kaku seperti itu, panggil saya Yara saja! Seperti Anda memanggil Syafa,” titah Yara. Wanita itu merasa sungkan dengan panggilan Roni padanya.
“Baiklah kalau begitu. Tapi bisakah kamu panggil saya tanpa sebutan Pak?” pinta Roni.
Yara langsung tersenyum membalasnya. Kemudian mengangguk pelan. “Oke, oke, biar adil. Aku panggil Mas Roni saja.”
Roni pun mengangguk setuju.
Yara beralih pada Erza, suaminya. “Mas, Aku ke dalam dulu mau lihat perkembangan kondisi Mba Syafa,” pamit Yara pada Erza. Suaminya itu hanya mengangguk pelan membalasnya.
“Mas Roni, aku tinggal dulu!”
“Tunggu, Ra!” Panggil Afkar membuat Yara menghentikan langkahnya.
Yara pun menoleh ke arah Afkar. “Kenapa?”
“Ijinkan aku bersama dengan Dhiya,” pinta Afkar.
Yara menarik kedua sudut bibirnya saat mendengar permintaan Afkar. “Mas Afkar tidak perlu meminta ijin dariku. Kamu ayahnya Dhiya, Mas. Kalian bisa bersama kapan pun. Aku tidak akan pernah melarang dan membatasi waktu Mas Afkar dan Dhiya untuk bersama,” ujar Yara dengan senyum terbaiknya.
Yara meninggalkan Dhiya bersama Afkar yang merupakan ayah kandungnya dan juga Erza, papa sambungnya. Anak kecil itu terlihat bahagia dengan kedua pria yang sayang padanya. Membuat Yara merasa tenang meninggalkan anak itu. Yara pun melangkah memasuki ruangan di mana Syafa berada.
Yara begitu terkejut saat melihat Syafa tengah di bantu duduk oleh salah satu suster jaga. “Mbak Syafa, kenapa?” tanya Yara sembari berjalan cepat mendekati Syafa.
“Pasien tidak apa-apa. Bu Syafa meminta pindah posisi saja,” ujar suster yang barusan membantu Syafa. “Sudah ada yang menemani, kalau begitu saya bisa tinggalkan pasien bersama ibu ini ya?” Syafa mengangguk membalasnya. Suster itu pun kembali ke tempat kerjanya. Mendengar itu Yara merasa lega. Ia takut kakaknya kenapa-napa.
“Mbak habis nangis?” tanya Yara, ia dapat melihat wajah Syafa yang masih sembab.
“Mas Afkar sudah menjatuhkan talak untukku!” lirih Syafa sambil tertunduk sedih.
“Hah! Kapan? Tadi kata Mas Afkar, Mba lagi tidur saat dia di sini.”
“Aku tidak berani bertatap wajah sama dia, Ra.”
__ADS_1
Yara menangkup bahu Syafa dengan kedua tangannya. Mengarahkan pandangan Syafa kepadanya. “Kenapa kalian harus berkorban demi aku. Aku sudah pernah bilang aku ikhlas kalian bersama.”
Syafa menggelengkan kepalanya pelan. “Ini sudah jadi keputusan ku, Ra.”
Yara mendesah pelan. “Lalu mau Mba Syafa gimana?” tanya Yara.
Akhirnya Syafa mengungkapkan keinginannya pada Yara. Apa yang ia rasakan saat ini pun ia ceritakan. Hampir setengah jam kakak beradik itu berbicara berdua. Hingga akhirnya Yara mengambil keputusan yang terbaik untuk ke depannya. Yara juga tidak mau memaksa Syafa untuk merubah keputusannya. Jika memang wanita itu sudah yakin dengan apa yang ia putuskan.
Di luar ruangan, Afkar merasa enggan berpisah dengan Dhiya tapi mau bagaimana lagi. Pria itu harus segera pergi dari sana. Semakin lama Afkar di sana. Perasaannya semakin tak karuan. Beruntung Dhiya bisa dibujuk oleh Afkar karena ayahnya itu menjanjikan akan selalu menemui Dhiya selama putrinya itu berada di Jakarta.
“Tapi ayah janji ya, bakal nemuin aku lagi,” ucap Dhiya dengan wajah sedihnya.
“Ayah janji, Sayang.” Afkar berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan Dhiya. Karena anak kecil itu duduk di atas kursi rodanya. Dikecupnya kening anak kecil itu. Afkar lekas berdiri, pria itu juga pamit pada Erza. Tidak ada kehadiran Roni di sana. Pria itu sudah pamit lebih dulu ke ruangan Papa Rio.
Lambaian tangan jadi saksi perpisahan ayah dan anak itu.
Afkar berjalan dengan langkah yang berat. Pandangannya terus memandang ke depan. Hanya sesekali menatap ke belakang. Satu sudut bibir Afkar tersenyum saat pandangannya melihat ke arah Erza dan Dhiya.
Senyum manis Dhiya terlihat saat putrinya itu berbicara dengan Erza. Melihat itu, Afkar merasa tenang. Yara dan Dhiya bersama orang yang tepat.
‘Maafkan ayah! Maaf jika kedepannya nanti ayah tidak bisa menepati janji yang terucap, Sayang.’
Batin Afkar, wajahnya terlihat lesu tak bersemangat. Meskipun sulit tapi semua harus ia jalani.
****
Keesokan harinya, Erza memutuskan untuk menyatukan ruang perawatan Dhiya, Syafa dan Papa Rio dalam satu ruangan. Semua demi Yara juga tentunya. Afkar tidak mau pikiran istrinya terbagi karena ketiganya berbeda ruangan. Berada dalam satu ruangan, mempermudah Yara untuk merawat mereka bertiga. Tentunya di bantu oleh orang suruhan Erza. Karena pria itu tidak mau kalau Yara kelelahan.
“Ih, kakek kayak anak kecil makannya masih disuapi,” ledek Dhiya saat melihat Papa Rio disuapi oleh Yara.
Papa Rio menanggapi ledekan Dhiya dengan senyuman. Erza yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu langsung berjalan mendekat ke arah Dhiya. Pandangannya mengarah pada tempat tidur yang ditempati Syafa.
“Loh Syafa kemana?” tanya Erza saat pria itu memasuki kamar perawatan.
“Syafa sedang menjalani scan, Mas.”
“Sama siapa?”
“Sama Jiah.”
“Oo,” seru Yara singkat. “Semoga Mba Syafa bisa cepat pulang juga. Jadi kalian bisa pulang sama-sama denganku.”
“Pulang ke ruang Papa ‘kan?” sambung Pak Rio.
Yara terdiam kemudian beralih menatap suaminya. Ia merasa bingung untuk menanggapi ucapan papa-nya.
Pak Rio mengembangkan senyum mendengar ucapan dari menantunya itu.
“Ya, Pah. Kita akan tinggal di rumah papa.” Erza mewakili Yara menjawab pertanyaan papa mertuanya.
“Papa,” panggil Dhiya manja.
__ADS_1
“Apa, Sayang?” Erza lekas beralih menatap Dhiya lalu mencium dahi anak kecil itu. Dahi Erza mengerut saat melihat nampan berisi makanan milik Dhiya masih utuh. “Kakak belum makan?”
Dhiya menggelengkan kepalanya pelan. Anak itu tengah sibuk menggambar desain memakai tangan kanannya. Meskipun sedikit kesulitan karena tangan kirinya masih terluka tidak mengendurkan semangat Dhiya untuk berkreasi.
“Pantas saja gak mau makan ternyata sibuk dengan gambarnya. Sebelas dua belas sama bunda. Kalian belum beres pasti lupa sama makan.” Erza mendelik ke arah Yara yang masih sibuk menyuapi Pak Rio.
“Dhiya bilang mau nunggu kamu, Mas. Baru mau makan!” ujar Yara.
Erza tersenyum mendengarnya. “Dasar manja,” Pipi gembul itu dicubit olehnya.
“Papa, sakit,” keluh Dhiya.
Pria itu lekas menyiapkan sarapan yang ia beli di luar rumah sakit tadi. Bubur ayam kesukaan Yara.
“Kakak makan dulu, ya!” Erza meraih makanan milik Dhiya yang ada di atas nampan.
“Aku mau bubur ayam itu,” pilih Dhiya.
“Loh, kakak itu makanan luar!” Seru Yara, Wanita itu baru saja selesai menyuapi Pak Rio. Kali ini Yara terlihat sedang membantu Pak Rio untuk minum.
“Oke, papa suapi, ya,” ucap Erza.
“Yeay ... Papa Erza memang terbaik.”
Kehangatan keluarga di ruangan itu begitu kental terasa. Pak Rio sangat bersyukur keadaannya saat ini sudah berubah seperti sekarang ini. Ada rasa lega dan tenang yang ia rasakan.
.
.
.to be continued
__ADS_1