Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Kakak Ingin Sekali Bertemu Kamu, Faeqa


__ADS_3

Berjalan sendiri tanpa arah membaut Yara tidak sadar sudah berapa jauh di melangkah. Saat melihat bangku kayu di pinggir jalan. Yara segera mendekatinya. Rasa lelah mulai terasa, begitu juga lelah hati dan pikiran.


"Kenapa semua jadi seperti ini. Hati ini sakit sekali dengan perlakuan Mas Afkar," gumam Yara sambil menundukkan pandangannya. Ingin sekali menangis tapi rasanya malu. Yara diam beberapa saat dengan arah pandangannya yang kosong menatap jalanan.


Perlahan, sedikit demi sedikit Yara merasakan tetesan air yang jatuh dari langit. Yara mendongak, merasakan setiap tetes air hujan yang semakin deras membasahi bumi.


Semua orang yang sedang beraktifitas di luar sana saling berlari mencari tempat berteduh. Tapi tidak dengan Yara. Wanita itu masih dengan posisi yang sama dalam menatap langit.


Tangisnya pecah seiring dengan air hujan yang membasahi tubuh. Kali ini ia tidak malu untuk menangis.


"Kenapa harus seperti ini? Satu-satunya orang yang melindungi ku kini berubah. Bahkan dia tega menjatuhkan talak untukku," jerit Yara dalam tangisnya.


Yara tidak peduli beberapa orang yang sedang berteduhnya tengah memperhatikannya. Yara menumpahkan segala kesedihan bersama hujan.


Satu jam telah berlalu, Yara masih belum beranjak dari tempatnya saat ini.


Dingin dan menggigil itulah yang Yara rasakan.


Sebuah mobil mewah berhenti tak jauh dari tempat yang Yara duduki saat ini. Seorang wanita berumur dengan penampilan anggun dan cantik keluar dari mobil itu. "Ternyata benar ini kamu!" ucapnya.


Yara mendongak mendengar ucapan wanita itu.


...🌱🌱🌱🌱...


"Minumlah, hangatkan tubuhmu dengan teh jahe hangat ini!" Bu Haryani memberikan segelas minuman hangat untuk Yara. Wanita berumur yang sudah menolongnya tadi.


Tubuh tertutup selimut tebal sambil duduk di atas tempat tidur jadi posisi ternyaman untuk Yara saat ini. Tidak ada bantahan sama sekali darinya. Yara masih diam tidak bersuara sambil menerima minuman hangat itu. Perlahan ia meneguk minuman hangat yang ada di tangannya secara tidak langsung hangat itu tersalur pada tangannya yang membeku.


Bu Haryani setia menemani tanpa banyak bicara di sisi Yara. Belum ada yang ia tanyakan pada wanita muda itu.


Setelah merasa nyaman dan hangat pada tubuhnya, Yara mulai membuka selimut yang menyelimuti tubuhnya.


"Terima kasih telah menolongku, Bu!" Ucap Yara pelan.


"Sama-sama. Bagaiman keadaanmu sudah mendingan?" Tanya Bu Handayani.


Yara mengangguk sambil tersenyum simpul.


"Apa setelah menangis ditemani turunnya hujan membuat hatimu lega?" Bu Handayani kembali bertanya.


Yara lekas menatap Bu Handayani. Ia mengangguk pelan. Tidak menyangka wanita itu tahu yang Yara lakukan di sana.


"Aku melihat kamu di taman tadi. Memang setiap masalah akan lebih lega setelah mengeluarkan tangis. Bersama air hujan, kita bisa melepas rasa lelah, tangis yang bisa bersembunyi dan kesedihan. Tanpa ada yang tahu kalau kita sedang berurai air mata. Tapi terlalu lama juga tidak baik untuk kesehatanmu," Tutur Bu Handayani sambil meraih tangan Yara dengan lembut.


"Bu ...." Panggil Yara.


"Hem."


"Bolehkah aku meminta tolong lagi?"


"Apa?"


"Ijinkan aku tinggal di sini!" Ucap Yara sambil memohon kepada Bu Haryani. "Hanya sementara waktu, aku janji." Yara kembali tertunduk.


"Rumahku terbuka untukmu. Kamu bisa tinggal di sini bersamaku."


Yara langsung mendongak menatap Bu Haryani. "Benarkah, Bu?"


Anggukan dari Bu Haryani membuat Yara lega. Tanpa sadar Yara menghamburkan tubuhnya dalam pelukan wanita itu.

__ADS_1


Bu Haryani membalas dengan pelukan hangat bak seorang ibu pada anaknya.


Bu Haryani yang tidak bisa memiliki anak itu sangat senang sekali dengan kehadiran Yara.


"Sekarang istirahatlah! Kamu pasti lelah." Bu Haryani mengelus pelan pipi Yara. Sapuan halus dari tangan wanita itu membuat Yara merasa nyaman.


Bu Haryani berdiri dari tempat tidur itu. kemudian mengiring Yara agar berbaring. Tak lupa Bu Haryani menarik selimut untuk memberikan kehangatan pada tubuh Yara.


"Tidurlah, aku akan membangunkan mu, nanti."


"Terima kasih telah menolongku!" Ucap Yara.


Anggukan dari Bu Haryani mengantarkan Yara untuk beristirahat.


Tidak butuh waktu lama untuk Yara memejamkan mata. Sebab obat yang ia minum tadi mulai beraksi. Sehingga Yara dengan mudah untuk terlelap.


...🌱🌱🌱🌱...


Di tempat lain, Erza sengaja pulang kerja lebih cepat. Rasanya percuma berada di kantor jika pikirannya terus tertuju pada Yara.


Erza memilih pergi ke rumah kontrakan Yara sambil membawa boneka yang ia dapat dari pasar malam kemarin.


Kak Ima sangat terkejut mendengarnya penuturan yang Erza ucapkan.


"Ya ampun, kasihan sekali Yara. Kenapa Afkar jadi kasar begitu, Bang!" Ucap Kak Ima dengan nada khawatir.


"Ya, aku sungguh tidak menyangka Afkar bisa berubah seperti itu," sahut Bang Boy.


Selagi Erza berada di sana. Pria itu meminta Kak Ima menceritakan sedikit kisah tentang Yara. Sebab Erza masih penasaran pada wanita itu. Kenyataan yang membuat Erza tak percaya kalau Yara telah menikah berhasil membuat perasaan pria itu hancur seketika. Tapi melihat sendiri perlakuan suaminya pada Yara. Entah mengapa hari Erza merasa tertantang untuk merebut Yara dari sisi Afkar.


"Saya semakin yakin untuk terus memperjuangkan Yara, Kak," ujar Erza setelah mendengar cerita dari Kak Ima.


"Hati-hati, Za! Kabari aku jika ada apa-apa sama Yara." Ucap Kak Ima saat melepas kepergian Erza.


Satu jam perjalanan menuju kediaman Afkar di tempuh menjadi setengah jam oleh Erza. Mobil mewah itu melaju begitu cepat membelah jalanan ibu kota.


Erza menghentikan mobilnya tak jauh dari gerbang rumah Afkar dan Syafa. Ia tidak langsung turun dan menanyakan keberadaan Yara. Erza mengamati dulu keadaan sekitar rumah.


Beruntung bagi Erza satpam yang berjaga di rumah itu keluar untuk mengambil pesanan makanan yang di pesan oleh penghuni rumah itu. Erza tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.


"Pak, tunggu!" panggil Erza pada satpam itu.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya pak satpam. Satpam tersebut memanggil Erza dengan sebutan tuan karena melihat pria itu keluar dari mobil mewah.


"Apa ada penghuni rumah ini yang bernama Yara?" Tanya Erza basa basi.


Ia ingin memancing satpam tersebut, untuk berbicara.


"Maaf, ada keperluan apa ya, Tuan. Maaf saya tidak bisa berbicara pada sembarang orang soal identitas penghuni rumah ini," sahut Pak Satpam.


Mendengar itu Erza tidak mau bertele-tele. Ia mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan dan merarik tangan satpam itu agar menerima uang darinya.


"Katakan sekarang!" Titah Erza.


Pak Satpam mengedarkan pandangannya. ia mengelus dadanya sendiri karena posisi mereka tidak terjangkau oleh cctv di rumah itu.


Pak satpam juga celingak-celinguk melihat keadaan sekitar. Setalah dirasa aman. Ia menerima uang dari Erza dan memasukannya ke dalam kantong.


"Nyonya Yara tadi pagi pergi dari rumah ini," bisik Pak Satpam. Ia seperti ketakutan salah bicara.

__ADS_1


"Pergi? Kemana?" Tanya Afkar penasaran.


"Saya tidak tahu, Tuan. Yang pasti Nyonya pergi sendiri tanpa Non Dhiya, satu lagi." Pak satpam memberitakan Informasi soal Yara lebih lanjut pada Erza.


"Tuan Afkar menjatuhkan talak pada Nyonya Yara."


Erza menajamkan pendengarannya. "Apa saya tidak salah dengar, Pak?"


"Tidak. Bahkan terjadi perdebatan di sini tadi." lanjut pak satpam.


Erza mengeluarkan lagi tiga lembar uang dari dompetnya.


"Terima kasih informasinya," ucap Erza kemudian meninggalkan rumah itu dengan segera.


"Aku harus cari kemana kamu, Ra!" gumam Erza sebelum melajukan mobilnya. "Arghh ... Afkar pria bajingan. Beraninya bersikap tidak baik pada wanitaku." Erza memukul stir mobil nya sendiri. Merasa kesal saat ingat perlakuan Afkar pada Yara kemarin sore.


"Aku harus menemukan mu, harus!" Erza bersemangat mencari Yara. Meskipun sulit, Erza tetap akan berusaha.


...🌱🌱🌱🌱...


Di kediaman mewah Papa Rio.


seorang pria berumur sedang berbicara berdua dengan wanita yang dikenal sebagai sahabat baik Nyonya Puspa.


"Sudahlah, Jangan menyalahkan diri sendiri terus, Wira. Puspa sudah memaafkan mu dari dulu," ujar Gita.


Semenjak pulang dari panti asuhan tempat mending istirnya tinggal. Kesehatan Papa Rio semakin turun. Perasaan bersalah terus menghantuinya. Sampai saat ini, dia masih penasaran dengan putri keduanya dengan Puspa. Papa Wira belum bertemu Bu Lidia untuk menanyakan keberadaan putrinya saat ini.


"Aku tidak bisa tenang sebelum bertemu dengan putri keduaku, Ta! Bagaimana Bu Lidia apa sudah ada kabar dari dia? Kapan kita bisa bertemu dengan wanita itu? Aku tidak mau semakin berlarut. Setidaknya rasa bersalah ini bisa ku rebus dengan membahagiakan adik dari Syafa," Tutur Papa Wira.


"Aku akan menghubunginya, nanti," balas Gita sahabat dari Puspa.


"Segera, Ta!"


"Ya, secepatnya!"


Di kamar lain, masih di rumah yang sama. Syafa duduk di tepi tempat tidurnya. Semua pemberian mama-nya saat Syafa masih kecil ia taruh di atas tempat tidur itu. Syafa meraih kotak musik berwarna merah yang masih terjaga dengan rapi. Bahkan masih bisa berputar dan mengeluarkan suaranya meskipun umur barang itu sudah berpuluh tahun lamanya.


Syafa yakin akan bertemu dengan mama-nya. Sebab beberapa surat yang dikirim kepadanya selalu bermakna pertemuan. Wanita itu sangat berharap bisa bertemu dengan mama-nya, Puspa. Syafa juga semakin penasaran dengan foto gadis kecil yang pernah tersemat dalam surat dari mama-nya. Beliau mengatakan kalau dia adalah adik kandungnya. Namanya Faeqa, begitulah Mama Puspa memperkenalkan adiknya pada Syafa.


Kesedihan begitu pilu ia Syafa rasakan saat mengetahui kalau mama-nya telah tiada. Syafa mencoba menghubungi Afkar berkali-kali tapi tidak diangkat bahkan sampai pagi ini.


"Mas ... Kamu kemana? Kenapa sulit sekali dihubungi. Ibu juga sama kenapa kalian tidak mengangkat telepon dariku?" Ucap Syafa disertai tangis kesedihannya. "Faeqa ... Kakak ingin sekali bertemu kamu!" lirihnya.


.


.


.


.


To Be continued.


Kita beralih pada pada masa lalu Papa Wira. perlahan semuanya akan terungkap. siap siap bagaimana kisah selanjutnya...


like komen dan gift 😁😁😁


Kalau ada typo maaf ya. Nanti aku revisi. Tengku 🥰🥰😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2