
Afkar tidak bisa terus memaksa. Mungkin ini sudah keputusan mutlak dari Syafa.
'Jika memang keputusan mu tidak bisa berubah. Aku tidak bisa memaksa, Fa. Aku juga sadar kesalahanku pada Yara memang tak bisa dimaafkan. Kamu benar, seandainya kita kembali bersama luka yang ada di hati Yara akan selalu ada. Dan bisa jadi tersungkur kembali. Meskipun Yara berucap ikhlas jika melihat kita bersama. Mungkin ini sudah jadi takdirku. Aku ikhlas menerimanya. Aku harap kamu bahagia seperti Yara. Kalian berdua adalah wanita yang berarti buat hidupku.'
Batin Afkar, pria itu bersiap melangka keluar dari rumah sakit itu. Sesekali Afkar menoleh ke belakang, berharap Syafa kembali. Tapi nyatanya nihil.
Afkar pun pergi dari rumah sakit itu dengan perasaan kecewa. Perjalanan pulang dari rumah sakit menuju tempat tinggalnya tidak begitu lama. Afkar dengan sangat hati-hati membuka pintu rumah. Pria itu takut membangunkan ibunya, Bu Nuri.
Meksipun sudah sangat berhati-hati tapi nyatanya wanita tua itu bangun dan muncul dari dalam kamarnya.
"Kenapa malam sekali pulangnya, Kar?" tanya Bu Nuri.
"Papa Rio masuk rumah sakit, Bu," jawab Afkar.
"Ya Allah, lalu bagaimana keadaannya?" tanya Bu Nuri.
"Beliau masih berada di ruang UGD. Kalau kondisinya sudah stabil baru dipindahkan ke ruang perawatan," sahut Afkar.
"Kamu bertemu dengan Syafa?" Bu Nuri kembali bertanya.
Afkar mengangguk lemah.
"Apa kamu sudah bicara lagi dengan dia soal niatan mu kembali padanya?" Bu Nuri terlihat sangat penasaran dengan niatan Afkar pada Syafa.
"Dia masih bersikukuh dengan pendiriannya, Bu."
Mendengar itu Bu Nuri lantas menghela. napas berat. "Sabar, Nak! Kalau memang kamu berjodoh dengan Syafa pasti Allah memberi jalan untuk kebersamaan kalian. Jika jodoh kalian hanya sampai di sini. Ibu berharap kamu akan mendapatkan jodoh yang terbaik." Bu Nuri terlihat putus asa. Padahal wanita tua itu juga berharap Afkar bisa kembali pada Syafa. Tapi kali ini beliau tidak mau memaksakan. Bu Nuri lebih banyak berpasrah untuk saat ini.
Ting ...
Suara notif pesan dari ponsel Afkar terdengar jelas. Pria itu segera merogoh ponsel di kantong celananya. Lekas dibuka aplikasi pesan chat yang pada ponselnya. Bibir Afkar mengembang saat membaca pesan yang ia terima.
📩 [Besok, aku dan Yara akan ke rumah sakit di mana Pak Rio berada. Dhiya sudah sangat rindu pada ayahnya. Aku harap kamu bisa datang ke sana]
Begitulah isi pesan dari Erza.
Bu Nuri heran melihat sikap Afkar yang langsung berubah senang.
"Alhamdulillah," ucap Afkar.
"Kenapa, Kar? Apa yang terjadi lagi? Apa mertuamu sudah baikkan?" tanya Bu Nuri penasaran.
"Yara dan Dhiya sudah ada di Indonesia, Bu. Aku akan segera bertemu merkea," balas Afkar.
"Alhamdulillah, ibu juga bisa bertemu dengan mereka, Nak. Ibu ingin sekali minta maaf sama Yara."
"Besok kita bertemu dengan mereka. Sekarang ibu istirahat dulu sudah malam," titah Afkar.
Bu Nuri mengangguk pelan. "Jangan lupa beri tahu adikmu, Mira. Ada sesuatu yang ingin ia berikan pada Yara!" Bu Nuri mengingatkan. Usai berbicara dengan Afkar, Bu Nuri kembali ke kamarnya. Wanita tua itu sudah lama menanti pertemuannya dengan Yara. Rasa bersalahnya masih menjadi beban besar dalam diri wanita tuan itu. Sebelum bertemu dan meminta maaf langsung pada mantan menantunya itu.
...***...
Malam hening di rumah sakit itu begitu terasa. Syafa baru bisa tidur lelap setelah Gita datang dan menggantikannya menjaga Pak Rio. Sahabat dari almarhumah mama dan Pak Rio itu selalu setia menemani.
Setelah Pak Rio mendapatkan perawatan dan lebih tenang. Pria tua itu dipindahkan ke ruang perawatan.
Gita tersenyum melihat Syafa tertidur. Kemudian beralih pada Pak Rio yang ada di sisinya tengah memejamkan mata.
'Mir, aku janji pada diriku untuk selalu ada di samping mereka. Hanya saja aku belum bertemu dengan Yara, putrimu yang lain. Semoga saja mereka bisa berkumpul seperti keinginanmu, Mir. Aku akan di sini sampai mereka bisa berkumpul kembali.'
Batin Gita, ia hendak pergi dari sisi Rio.
"Terima kasih kamu selalu ada buat ku, Ta," ucap Rio pelan bahkan sangat pelan tapi Gita masih bisa mendengarnya.
Gita mengangguk pelan. "Sama-sama, sekarang istirahatlah, aku dengar Yara akan sudah landing di Indonesia. Kalian pasti akan berkumpul kembali. Jadi pulihkan kondisimu agar bisa bertemu dengan putrimu dalam keadaan sehat," titah Gita sambil mengusap pelan tangan Rio.
Anggukan kecil ia dapatkan dari pria yang sedang berbaring lemah itu.
Gita berjalan menuju sofa ia duduk di sana. Sampai tidak terasa wanita itu ikut memejamkan mata hingga menjelang pagi.
__ADS_1
...***...
Wangi beraroma karbol khas bau rumah sakit karena petugas kebersihan sedang mengepel ruangan tempat Pak Rio dirawat, mengusik indera penciuman Syafa.
Wanita itu langsung terperanjat bangun saat melihat petugas kebersihan di dalam ruangan itu.
"Maaf, saya mengejutkan ibu! Ini sudah selesai, ibu bisa meneruskan kembali istirahatnya," seru petugas kebersihan itu pada Syafa.
"Ah, tidak apa, Mas. Lagian sudah waktunya saya bangun." Syafa mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ia melihat papanya masih lelap tertidur. Tapi Syafa tidak melihat keberadaan Tante Gita di sana.
Petugas kebersihan itu hendak berlalu dari ruang perawatan.
"Mas, tunggu!" cegah Syafa pada petugas kebersihan itu. "Apa Mas lihat seorang wanita yang menemani saya di sini?" tanay Syafa
Petugas kesehatan itu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu!" jawabnya.
"Ya sudah, kalau begitu." Syafa pun berjalan mendekati Pak Rio yang masih memejamkan matanya. Petugas kebersihan itu pun keluar dari ruangan itu.
Syafa mengulas sedikit senyum kemudian meraih jemari pria itu.
"Pah, sebentar lagi kita bertemu sama Yara. Kita akan kembali berkumpul seperti yang kita impikan," ucap Syafa sambil menarik jemari Pak Rio agar menempel di pipinya. Tak mau menganggu kenyamanan beristirahat papanya. Syafa menjauhi Pak Rio.
Ceklek ...
Pintu ruangan pun terbuka. Syafa menoleh ke arah itu.
"Kamu sudah bangun," sapa Gita, ia berjalan menuju sofa dan meletakkan sesuatu yang dibawanya diatas meja.
"Tante tidak membangunkan ku?"
Gita tersenyum. "Kamu terlihat sangat lelah. Jadi Tante tidak tega membangunkan mu. Sekarang kan sudah bangun, sebaiknya sarapan dulu!" ajak Gita yang sudah menyiapkan sarapan nya di atas meja. Hanya dua bungkus ketoprak yang ia beli.
"Terima kasih, Tan."
"Sudah jangan banyak ngomong terima kasih. Kita makan dulu! Bukannya hari ini kamu akan pergi menemui orang yang akan membeli rumah lama mu?" tanya Gita.
Syafa mengangguk untuk membenarkannya."Apa tidak masalah kalau aku titip papa sama tante?" tanya Syafa.
Keduanya memulai sarapannya.
Sesekali Syafa menoleh ke arah Pak Rio, takut papanya itu terbangun.
"Aku belum dapat kabar dari Yara, Tan."
Gita hanya mengangguk pelan.
Tok ... tok ... tok ...
Pintu ruangan itu terdengar terketuk dari luar. Syafa dan Gita saling pandang. Mereka saling bertanya lewat tatapan.
"Permisi," sapa seseorang saat pintu ruangan itu sedikit terbuka.
Deg ...
Syafa langsung menghentikan gerakan makannya saat mendengar suara seorang pria. Dirinya pun segera berdiri kemudian menatap ke arah pintu.
"Yara," panggil Syafa saat pria yang ia kenal membuka lebat pintu ruangan itu.
Seorang wanita yang cantik dengan penampilan terbarunya menggandeng seorang gadis cantik masuk ke dalam ruangan.
Yara membalas tatapan itu dengan senyuman.
"Mbak Syafa," sahut Yara.
"Mamih," panggil Dhiya yang langsung berlari kecil menghampiri Syafa.
Syafa mengelengkan kepalanya sembari menutup mulutnya sendiri. Wanita itu tidak percaya bisa bertemu dengan Yara dan Dhiya sepagi ini.
"Dhiya." Syafa berjongkok menyambut Dhiya yang berlari ke arahnya.
__ADS_1
"Mamih kangen banget sama kamu, Dhiy!" ucap Syafa yang langsung memeluk tubuh anak kecil itu.
"Aku juga kangen sama mamih," balas Dhiya disela pelukannya.
Yara berjalan menghampiri Tante Gita kemudian menyalaminya. Begitu juga dengan Erza.
"Apa kabar, Ra?" sapa Gita.
"Kabarku baik," balas Yara.
"Kamu cantik sekali! Kandunganmu juga sudah mulai terlihat," lanjutnya sambil mengusap pelan perut Yara yang mulai terlihat buncit.
"Terima kasih, Tante."
Mendengar suara banyak orang. Pak Rio sedikit terusik.
"Fa," panggil Pak Rio pada Syafa dengan suara lemahnya. Beliau belum menyadari keberadaan Yara di sana.
Semuanya beralih menatap Pak Rio.
Begitu juga dengan Yara. Wanita cantik dengan perut yang membuncit itu menoleh pada Erza lebih dulu.
"Temui dia!" titah Erza dengan suara pelan sembari mengusap pelan bahu Ata seakan memberi dukungan pada wanita itu. Yara pun berjalan pelan menghampiri Pak Rio yang masih memejamkan matanya.
Syafa dan Dhiya memperhatikan dari jauh.
"Papa," ucap Yara pelan sesampainya wanita itu di dekat tempat tidur yang Pak Rio tempati.
Hati Yara terasa teriris melihat kondisi pria yang ada di hadapannya saat ini. Sosok pria ia kenal tinggi tegap dengan wajah yang dingin dan tegasnya, kini hanya bisa berbaring lemah.
Yara terus memperhatikan Pak Rio yang masih memejamkan matanya. Perlahan kelopak mata itu terbuka, tatapan mata itu mengarah pada Yara.
Senyuman manis Yara berikan pada Pak Rio yang tengah menatapnya heran.
"Yara," lirih Pak Rio dengan suara pelan.
Yara mengangguk pelan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ayara Faeqa, putriku?" Pak Rio nampak tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
Yara kembali menganggukkan kepalanya pelan, tangisnya pecah saat itu.
Pak Rio yang masih lemah berusaha bangun dari tidurnya. Dan pria tua itu hampir berhasil duduk dengan usahanya sendiri. Yara yang melihat itu langsung mendekat dan membantu Pak Rio.
Yara memeluk Pak Rio. "Papa ...," lirih Yara dengan tangis sedihnya, ia langsung memeluk tubuh kurus papanya. Rasa benci dan kecewa yang pernah ia rasakan terhadap Pak Rio luntur begitu saja. Ikatan batin antara ayah dan anak itu lebih kuat dibanding rasa benci yang pernah Yara rasakan.
"Yara, putriku!" lirih Pak Rio. Pria tua itupun ikut menangis sambil membalas pelukan dari Yara.
"Maafkan papa, maafkan papa, Nak!" Pak Rio terus saja mengucap kata maaf saat Yara berada dalam pelukannya.
Yara dan Pak Rio menumpahkan rasa rindu mereka dalam tangis rindu.
Erza ikut meneteskan air mata melihat pemandangan indah itu. Akhirnya istri tercintanya bisa memeluk tubuh sang papa. Suami dari Yara itu merasa senang melihat Yara bisa menghapus rasa benci di hatinya.
Syafa dan Gita ikut menangis haru melihat pertemuan Yara dan Pak Rio.
Dhiya juga ikut menangis melihatnya. anak perempuan itu beralih memeluk pinggang Syafa.
Pagi itu pun jadi pertemuaan yang membahagiakan untuk mereka.
.
.
.
To Be Continued.
Biarkan mereka melepas rindu dulu ya, tunggu kelanjutan ceritanya. Ada cerita haru lainnya yang akan terjadi.
__ADS_1
Hayo siapa yang bisa nebak bagaimana kelanjutannya.