
"Cincin," gumam Yara sambil menoleh ke arah Erza. Kemudian meraih tisu untuk membersihkannya. "Cincinnya bagus sekali! Coba kamu lihat, Za!"
Erza mengembangkan senyum saat mendengar ucapan Yara.
"Kamu suka?"
Yara mengangukkan kepalanya pelan tanpa menoleh ke arah Erza. "Suka sekali! Tapi ini punya siapa? Kenapa ada di dalam es krim milikku?" Yara terlihat bingung sembari terus memperhatikan cincin tersebut. "Ah, mungkin punya pelayan yang tadi. Aku harus mengembalikan cincin ini padanya, Za! Ini pasti barang mahal, bagus begini!" Celetuk Yara dengan polosnya.
Wanita itu langsung berdiri, hendak mengembalikan cincin itu pada pelayan yang mengantarkan es krim padanya.
Erza melongo dengan reaksi Yara yang begitu polos. Pria itu langsung tersadar dari rasa terkejutnya. "Ra, tunggu!" cegah Erza. "Itu cincin dariku!" Ucap Erza tapi tak di dengar oleh Yara.
"Sebentar, Za. Aku gak akan lama!" Yara berjalan cepat, menjauh dari Erza.
"Shittt ... Kenapa jadi begini!" Erza segera menyusul Yara ke stand es krim Mixcue.
"Ra," panggil Erza pada Yara yang sedang berbicara pada pelayan yang mengantarkan es krim pesanannya tadi.
Yara dan pelayan wanita itu menoleh ke arah Yara bersamaan.
"Nah, ini dia Kak yang meminta saya memasukan cincin berlian itu kedalam es krim punya mba!" Ucap pelayan itu sambil menunjuk Erza.
Yara melebarkan mata seakan tidak percaya. "Benar kamu yang menyuruhnya, Za?" Tanya Yara penuh selidik. "Kenapa kamu gak bilang?" lanjutnya.
"Aku tadi udah bilang tapi kamu gak denger, Yang!" sahut Erza dengan napas yang tersengal karena berjalan cepat menyusul Yara.
Kini Erza dan Yara saling berhadapan.
Keduanya saling bertatap muka. Senyuman bahagia Yara berikan. Erza pun mengambil alih cincin itu dari tangan Yara.
"Aku sengaja merencanakan semuanya untuk memberi kejutan. Tetapi kamu malah ngira cincin ini milik pelayan itu!"
Yara terkekeh kecil mendengarnya. "Maaf, Za. Aku tidak tahu!"
Tak lama seseorang datang sambil memainkan gitar ditangannya sambil menyanyikan lagu romantis di hadapan Erza dan Yara. Lagu dari Richard Mark yang berjudul Right Here Waiting jadi nyanyian romantis siang itu.
Semua orang yang ada di sana beralih menatap Erza dan Yara. Erza memasukkan cincin yang ia pegang tadi ke kantung depan kemejanya. Saat musik berhenti sejenak Erza mengambil alih gitar tersebut dan meneruskan nyanyian romantis.
Sorak Sorai dari beberapa orang yang terpukau dengan kejutan yang Yara berikan begitu nyaring terdengar. Ada juga yang bertepuk tangan melihatnya.
Yara benar-benar tidak menyangka Erza mampu melakukan itu.
"Za," ucap Yara. Wanita situ merasa terharu. Ternyata Erza bisa seromantis itu. Wajah Yara bersemu merah setiap kali Erza menunjuk Yara dengan lirik lagu yang ia nyanyikan.
Wherever you go, whatever you do
I will be right here waiting for you
Whatever it takes or how my heart breaks
I will be right here waiting for you
Waiting for you
Bait terakhir yang Erza nyanyikan semakin membuat suasana semakin meriah.
Setelah lagu berakhir. Erza menyerahkan gitar kepada pemiliknya. Erza berlutut dihadapan Yara. Dan mengeluarkan cincin yang tadi ia masukkan ke dalam kantung kemejanya.
"Ayara Faeqa Wirawan, will you marry me?" Erza menyodorkan cincin tadi kepada Yara.
Anggukan pelan Yara berikan dan sontak membuat para tamu undangan yang hadir di cara itu bertepuk tangan.
Erza pun meraih tangan dan memasukan cincin itu di jari manis Yara. Sebagian orang mengucapkan selamat pada Yara dan Erza.
Yara tak henti tersenyum pada Erza.
"Tanpa kamu melakukan ini pun, bukannya kita memang akan menikah, Za?" Tanya Yara.
Erza hanya bisa menyengir saat itu.
__ADS_1
"hehehe... iya juga sih!"
"Pulang yuk!" Ajak Erza.
Yara mengangguk. "Ayo! Tapi kita ke Bu Hari dulu!"
"Ya."
Saat Erza dan Yara berjalan beriringan. seseorang tidak sengaja menabrak Yara.
"Aww..."
Prangg ....
Tubuh Yara kena tumpahan minuman yang dibawa orang itu.
"Maaf, Mba saya tidak sengaja!" Seorang wanita yang menyenggol Yara sedikit membungkukkan badan meminta maaf pada Yara.
"Mba hati-hati kalau jalan. Baju pacar saya jadi basah," tegur Erza.
Yara terlihat mengibaskan pakaiannya yang terkena basahan air minum yang tumpah.
"Za, tidak pa-pa! Hanya basah sedikit, ko!" Ujar Yara. Kemudian beralih pada wanita itu.
"Tidak pa-pa, Mba. Hanya basah sedikit." Yara balik menatap wanita yang menyenggolnya.
"Benar tidak pa-pa." Orang itu memastikan.
Yara mengangguk pelan.
Masalah itupun selesai dan Yara meminta Erza untuk diam tidak memprotes lagi.
"Za, aku ke toilet sebentar ya!"
"Aku antar!"
"Pakaian dalam ku sedikit basah, sedikit tidak nyaman dibuatnya," gumam Yara saat ia memasuki toilet.
Tak lama Yara keluar dari tempat itu dan hendak kembali pada Erza. Yara berjalan sedikit cepat. Tapi saat ia hendak menuju ke arah tempat acara. Yara melihat seorang pria sedang tergopoh-gopoh berjalan menuju lift sambil memegangi dada.
Pria tua yang tidak terlihat wajahnya itu seperti orang yang sedang sesak napas. Yara sedikit berjalan cepat mendekatinya.
"Hati-hati, Pak!" Ucap Yara. Ia berhasil menopang tubuh pria yang hampir terjatuh itu.
Deg ...
Yara membelalakkan mata saat melihat siapa yang sudah ia tolong itu.
"Yara!" ucap Pak Rio dengan suara yang sangat pelan sambil memegangi dadanya.
"Anda!" sahut Yara tanpa memanggil Pak Rio dengan sebutan papa. Yara masih tidak bisa memaafkan pria itu.
Yara melihat Pak Rio kesulitan bernapas. Dengan cepat Yara membopong pria itu ke salah satu ruangan yang dia sediakan untuk sarana kesehatan di sana.
Tanpa banyak bicara Yara terus memapahnya berjalan. Sayang sekali satu itu tidak ada orang lain yang melintas selain dirinya. Sehingga Yara terpaksa membantu Pak Rio.
Saat Yara sampai di satu ruangan. Yara dengan pelan dan hati-hati mendudukkan Pak Rio. Pria tua itu masih terlihat sulit untuk bernapas.
Yara menjadi panik. Rasanya takut saat itu.
"Ra, maafkan papa!" Ucap Pak Rio lirih sambil terus memegangi dadanya.
mata Yara sudah berkaca-kaca saat itu. Tapi ia berusaha untuk menahannya. Yara mencoba pertolongan pertama yang ia tahu. Yara melonggarkan pakaian dan dasi yang dipakai Pak Rio agar mempermudahnya saat bernapas. Yara juga mengambil air putih gelasan yang ada di ruangan itu dan memberikannya pada Pak Rio.
"Minumlah!" Yara memberikan dengan sangat hati-hati takut Pak Rio tersedak.
Wajah Pak Rio terlihat sangat pucat sekali. Ada rasa takut yang Yara rasakan saat itu.
Yara takut kehilangan pria tua yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"Atur napas pelan-pelan. sedikit demi sedikit saja," Yara memberi instruksi pada Pak Rio. tidak adanya sekali tapi berkali-kali.
Pak Rio mengikuti apa yang Yara ucapakan. Yara kembali mencari sesuatu di ruangan itu dan berhasil Yara menemukan minyak angin di sana.
Meskipun membenci pria yang ada di hadapannya ini. Sebagai manusia Yara wajib menolongnya.
Yara mengolesi punggung dan dada pria itu dengan minyak angin yang ada di tangannya. Agar Pak Rio merasakan hangat di punggung.
"Anda akan merasakan hangat sehingga napas yang dihirup jadi lebih baik!" Ujar Yara saat mengolesi minyak angin di tubuh Pak Rio. Setalah selesai Yara duduk di hadapan Pak Rio yang tengah bersandar di sandaran sofa.
Yara bisa menyaksikan kesakitan yang dirasakan oleh Pak Rio.
Ada rasa kasihan melihatnya. Meski bagaimanapun dia adalah ayah kandung Yara. Pria yang menghadirkannya ke dunia ini.
Tak lama setelah Pak Rio sedikit membaik. Yara dan Pak Rio saling diam.
Setelah di rasa cukup lama. Yara ingat dengan rencana pernikahannya dengan Erza. Dalam hati Yara, wanita itu berharap wali nikahnya saat ini adalah ayah kandungnya tidak seperti pernikahan sebelumnya dengan Erza.
Yara harus dinikahkan oleh orang lain.
Tidak ada orang lain di ruangan itu selain mereka berdua. Yara mencoba sedikit mengalah kali ini.
"Lusa aku akan menikah!" Ucap Yara mengawali pembicaraan.
Pak Rio merubah posisi duduknya menjadi duduk tegak. Deru napasnya perlahan sudah berangsur membaik.
"Kalau Anda bersedia menjadi wali nikahku, datanglah. Tapi kalau Anda tidak berkenan, jangan salahkan aku jika orang lain yang menjadi wali nikahku. Aku akan menganggap Anda tidak ada karena memang selama ini aku merasa tidak mempunyai seorang ayah. Aku hidup sendiri, merasakan kepedihan hidup seorang diri. Saat mama pergi meninggalkanku, seseorang yang sangat aku harapkan tidak pernah datang menjemput. Dan saat itulah aku menganggapnya sudah tiada." Yara berbicara sambil menatap ke arah Pak Rio yang tertunduk mendengar ucapan Yara. Setiap kata yang Yara ucapkan masih menyimpan luka yang begitu dalam.
"Maafkan papa, Nak! Harus dengan cara apa lagi agar papa mendapat maaf darimu. Papa tahu semua adalah kesalahan dari pria bodoh ini. Tapi apa kamu tahu, penyesalan dan rasa bersalah ini bertahun-tahun papa tangung sendiri. Rasanya sangat menyiksa batin ini." Pak Rio berbicara dengan napas yang tersengal kemudian pria itu mendongak menatap Yara yang sudah berdiri di hadapannya.
Manik mata mereka bertemu. Pak Rio dapat melihat kesedihan yang mendalam dari Yara. Tapi kerinduan pun terpancar di sana. Ingin rasanya memeluk tubuh putrinya itu. Tapi apa daya, tangan tak sampai. Yara pun sedikit menjauh darinya.
"Mengucapkan kata maaf itu sangat mudah. Tapi luka yang terpatri di hati tidak gampang disembuhkan. Aku hanya manusia biasa yang mempunyai rasa kecewa dan marah." Yara hendak berjalan meninggalkan Pak Rio dengan seribu penyesalan yang ia rasakan. Yara tidak ingin terus merasa sakit jika berhadapan dengan pria itu.
"Aku hanya meminta untuk pertama dan terakhir padamu. Jadilah wali nikah di pernikahanku, setelah itu aku harap kita tidak bertemu lagi! Aku ingin menyembuhkan luka yang kurasakan atas semua perbuatanmu." Yara beranjak dari hadapan Pak Rio.
Pria itu segera meraih tangan Yara, mencegah putrinya untuk pergi.
"Apa dengan itu kamu bisa memaafkan semua kesalahan papa?" Tanya Pak Rio sedang dan penuh pengharapan.
"Waktu yang akan merubah segalanya. Mungkin waktu juga yang akan menyembuhkan luka ini. Tuhan saja bisa memaafkan hambanya yang berdosa. Apalah aku, yang hanya manusia biasa," balas Yara tegas. Wanita itu berusaha tegar dan kuat di hadapan Pak Rio.
"Apa artinya kamu memaafkan papa, Nak!"
Yara hanya mengangkat bahunya pelan kemudian melangkah pelan keluar dari ruang kesehatan itu.
"Papa akan datang di hari pernikahanmu, Nak! Papa sendiri yang akan menjadi wali mu!" Ucap Pak Rio lantang dengan suara yang sedikit keras agar Yara bisa mendengarnya.
Sesaat langkah Yara terhenti saat mendengar teriakan Pak Rio. Ada rasa senang saat pria itu akan menjadi walinya nanti. Yara berharap dengan diwalikan oleh ayah kandungnya sendiri, kehidupan rumah tangga yang kedua kalinya itu mendapat berkah dan kebahagiaan. Yara segera pergi dari tempat sana dengan langkah cepat, rasa sesak mulai menyeruak di dadanya.
Roni datang dari arah berlawanan dengan Yara. Pria yang menggantikan almarhum ayahnya menjadi asisten Pak Rio itu berjalan dengan langkah lebar. Saat mengetahui kalau bosnya mengalami sesak napas lagi.
"Pak Rio!" Rini segera merangkul tubuh pria yang hampir terjatuh jika Roni tidak segera meraih tubuhnya.
"Putriku, Ron!" Pak Rio mengulurkan satu tangannya seakan hendak menggapai Yara.
"Sabar, Pak! Pasrahkan semuanya pada Sang Pencipta. Hanya dia yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Begitu juga dengan hati Yara. Sudah cukup penyesalan dan beban rasa bersalah yang Anda rasakan selama ini," ucap Roni bijaksana menanggapi semua permasalah yang dihadapi Pak Rio.
Pria itu membantu Pak Rio berdiri dan mengajaknya kembali ke rumahnya.
.
.
.
.
To Be Continued.
__ADS_1