
...🌱🌱🌱...
Di tempat lain.
Syafa begitu terkejut saat Afkar menghubunginya. Tanpa banyak menunda Syafa langsung menerima sambungan telepon itu. Belum sempat Syafa menyapa suara benturan keras terdengar dari sebrang telepon.
"Mas Afkar!" teriak Syafa. Wanita itu langsung panik saat sambungan telepon masih tersambung. Wanita itu mendengar samar suara orang meminta tolong. Tak lama telepon pun terputus.
Syafa begitu panik. Ia berjalan mencari Roni. Asisten Papa Rio yang selalu ada bersama dia dan papa-nya.
"Mas Roni," panggil Syafa saat melihat Roni sedang berada di ruang kerja papa-nya.
Syafa lantas berjalan cepat mendekati Roni. Pria itu segera berdiri saat melihat Syafa berjalan ke arahnya.
"Ada apa, Non Syafa?" Tanya Roni sambil menundukkan kepalanya sopan pada Syafa.
"Mas, tolong aku! Ijinkan aku keluar dari sini! sebentar saja," pinta Syafa dengan menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.
"Minta tolong apa, Non?" Tanya Roni penasaran.
Syafa melirik ke kanan dan kirinya. Ia hendak bicara tapi takut ada orang lain di sana.
"Aku ingin bertemu Mas Afkar! Tolong!" pinta Syafa dengan wajah mengibanya.
Meskipun sudah di beritahu soal kelakuan Afkar yang sudah mengkhianatinya, masih saja Syafa ingin bertemu dengan pria itu.
"Tapi Pak Rio?" sanggah Roni.
"Hanya sebentar, Aku mohon setelah ini aku janji akan meninggalkannya sesuai keinginan papa. Meski bagaimanapun aku masih istrinya, Mas. Aku tidak mau Mas Afkar kenapa-napa." lirih Syafa.
Melihat itu Roni merasa tidak tega. Pria itu memang selalu kalah jika melihat Syafa bersedih.
"Papa tidak akan membiarkan kamu pergi dari sini, Fa!" Bariton suara Pak Rio menggema hingga ke dalam ruangan.
Syafa segera berbalik badan. Ia tidak menyangka papa-nya mendengar ucapannya.
"Pah, Syafa mohon ijinkan aku pergi, sebentar saja!" Pinta Naira dengan wajah memelasnya.
"Tetap tidak!. Apa kamu tidak sakit hati dengan perbuatan dia terhadapmu, Fa! Afkar sudah mengkhianatimu!" Bentak Pak Rio.
Syafa menggelengkan kepala mendengar ucapan papa-nya. Wanita itu memberanikan diri menatap Pak Rio.
"Mas Afkar juga manusia biasa yang punya salah dan khilaf. Sama seperti papa. Jangan selalu memandang orang lain penuh dosa, kalau papa tidak bisa berkaca pada diri sendiri!" Sarkas Syafa pada Pak Rio.
Wanita itu sangat kecewa dengan sikap papa-nya. Syafa menerima semua keputusan yang dibuat oleh Pak Rio kemarin malam saat pria itu memberikan bukti perselingkuhan Afkar.
Syafa setuju berpisah dari Afkar setelah mengetahui pengkhianatan yang dilakukan suaminya. Tapi nanti setelah anaknya lahir. Saat ini Syafa memilih berpisah sementara dengan suaminya. Pak Rio pun mengakui kesalahannya kalau semua kekacauan ini berasal darinya.
"Aku menyetujui semua keinginan papa meskipun bertentangan dengan hatiku. Tapi saat ini aku masih istrinya. Aku masih punya kewajiban untuk menemaninya disaat seperti ini."
"Afkar yang sekarang menjadi pria yang tamak kamu tahu itu!" Bentak Pak Rio. "Papa tidak mau kamu bersama pria seperti itu. Kamu tahu perusahaan sekarang beralih atas namanya. begitu juga dengan saham yang kamu miliki," ucap Pak Rio.
Syafa menggelengkan kepala mendengarnya.
"Afkar berubah jadi pria yang tamak harta, kamu tidak akan pernah bahagia dengan pria seperti itu, Fa."
"Ini hidupku, Pah! Aku yang telah memilih Mas Afkar. Aku yakin dia yang sebenarnya tidak seperti itu," sanggah Syafa.
__ADS_1
"Kamu keras kepala! Papa tetap tidak ingin kamu bersama dia. Setelah kamu bercerai dengan Afkar, papa akan menjodohkan kamu dengan Roni," ucap Pak Rio.
Roni yang sedang berdiri tak jauh darinya segera mendongak menatap pria tua itu. Ia sungguh tidak menyangka dengan ucapan majikannya.
Syafa menggelengkan kepala sambil melirik ke arah Roni yang ada di sisinya.
"Heh, tidak mungkin, Pah! Mas Roni sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Papa liat aku sedang hamil anak Mas Afkar. Papa jangan bicara yang tidak-tidak." Syafa sungguh tidak menyangka dengan jalan pikir papa-nya.
"Karena hanya Roni yang tulus sama kamu. Papa tahu kalau sebenarnya dia menyimpan perasaan untukmu selama ini. Dia rela melakukan apapun demi kamu." Pak Rio menatap Roni, pria itu segera tertunduk malu karena perasaannya yang selama ini ia sembunyikan tercium juga.
"Itu tidak mungkin, 'kan Mas? Semua yang papa katakan tidak benar!" Syafa meminta penjelasan pada Roni.
"Jujur, Ron! Saya lebih setuju Syafa bersama kamu daripada harus bersama Afkar!" Pak Rio menimpali. "Papa ingin kamu bersama orang yang tepat barulah papa merasa tenang. Seperti Yara, saat ini dia sudah bahagia bersama Erza."
"Papa egois, bukankah papa yang dulu meminta Mas Afkar untuk menikahiku?" Syafa menatap nanar pada papa-nya. "Aku merubah keputusanku, Pah! Setiap orang pasti punya kesalahan. Dan aku yakin Mas Afkar pasti bisa berubah." Syafa melirik pada Roni. "Aku kira sikapmu kepadaku selama ini murni karena kamu menganggap ku sebagai adik, Mas. Maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu." Syafa berbalik badan kalau meraih kunci mobil yang tergelatak di atas meja.
Wanita itu berjalan cepat meninggalkan Pak Rio yang diam mematung melihat kepergian putrinya.
"Non, saya bisa jelaskan!" Roni berusaha mencegah Syafa untuk pergi tapi Syafa sama sekali tidak menghiraukannya.
Suara benda terjatuh dari dalam ruangan membuat Roni menoleh ke belakang. Roni dalam kebimbangan antara harus mengikuti Syafa atau kembali ke dalam ruangan. Pria khawatir pada kedua orang itu.
"Beno," teriak Roni.
Tak lama seorang pria datang menghampirinya.
"Saya, Pak Roni!" sahut pria itu.
"Ikuti, Nona Syafa. Jangan sampai kamu kehilangan jejaknya!" titah Roni pada pria itu.
"Siap, Pak!"
"Pak Rio!" Roni terkejut melihat kondisi Pak Rio yang tersungkur di lantai sambil memegangi dadanya.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Pak!" Roni membantu Pak Rio berdiri.
"Tidak, Ron. Bawa aku ke kamar saja!" Pak Rio menolaknya.
"Anda yakin, Pak?" Tanya Roni.
Pak Rio menganggukkan kepala pelan menjawabnya.
Roni pun mengikuti perintah Pak Rio. Dengan sangat hati-hati Roni memapah Pak Rio menuju kamarnya.
Di dalam ruang UGD.
Seorang pria dengan perban di kepala dan kaki kirinya tengah termenung meratapi kejadian yang tengah ia alami saat ini.
Kakinya terjepit body mobil saat kecelakaan itu terjadi. Tulang kakinya mengalaminya keretakan yang cukup parah. Tapi dokter menjelaskan kakinya bisa sembuh kembali dengan terapi dan pengobatan. Beruntung tidak ada luka serius lain yang dialaminya.
"Jadi nama Anda Afkar Chairi?" Tanya dokter pada pria yang baru saja ia tangani.
Afkar hanya melirik pada dokter itu tanpa menjawab pertanyaannya.
Benturan keras di kepala membuat Afkar terdiam. Penjelasan dan pertanyaan yang dokter tanyakan padanya pun tidak ditanggapi sama sekali.
Dokter itu hanya bisa menggelengkan kepala menanggapinya. Dokter itu berasumsi kalau Afkar mengalami trauma pasca kecelakaan.
__ADS_1
"Sepertinya dia mengalami trauma setelah kecelakaan itu, Suster!" Sang dokter menyerahkan data pasien pada suster yang ada di sampingnya.
"Lalu tindakan apa lagi yang harus diberikan pada pasien, Dok?" tanya suster itu.
"Kita tunggu reaksinya berbicara setelah ini. Sekarang biarkan dia beristirahat. Beri saja obat pereda nyeri padanya." Dokter itu meninggalkan Afkar diam tak banyak bicara. Ia seperti sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Apa keluarganya sudah ada yang datang?" lanjutnya.
"Ada di depan ruangan, Dok!" sahut suster yang mengekor di belakangnya.
"Baguslah kalau begitu, sebenernya tidak ada yang perlu dikhawatirkan hanya saja korban masih belum bisa dimintai penjelasan soal kecelakaan yang terjadi padanya.
Sedangkan di luar ruangan. Seorang wanita paruh baya terlihat mondar mandir di depan ruangan UGD. Beliau begitu cemas menunggu tindakan yang dilakukan pada anaknya, Afkar.
Bagaimana tidak cemas saat sedang membagikan santunan untuk anak yatim-piatu di acara 7 hari kematian suaminya. Bu Nuri mendapat telepon dari orang yang tidak ia kenal.
Orang itu mengabarkan kalau pemilik mobil mewah hitam dengan plat nomer AF 412 R mengalami kecelakaan tunggal. Korban kecelakaan mengalami luka di bagian kepala dan kakinya.
"Semoga anakku baik-baik saja, Ya Allah," lirih Bu Nuri dengan sabar menunggu penjelasan dari dokter jaga soal kondisi Afkar saat ini.
Wanita itu belum melihat keadaan Afkar sebelum dan setelah kecelakaan terjadi.
Bu Nuri duduk sendiri menunggu di sana. Tangisnya pecah begitu saja. memorinya kembali memutar semua kenangan yang telah lalu. Saat melihat senyum dan tawa selalu ia lihat pada wajah Afkar saat bersama dengan Yara. Meskipun hidup kekurangan tapi senyum selalu menyertai hari-harinya.
"Maafkan ibu, Nak. Maafkan ibu! Andai saja ibu tidak egois semua tidak akan seperti ini." Bu Nuri menangis tersedu-sedu seorang diri.
Beberapa kali Wanita itu menghubungi Syafa dan Mira. Tapi tidak ada jawaban sama sekali dari keduanya.
Ingin menghubungi Yara tapi Bu Nuri tidak punya nomer ponselnya.
Akhirnya Bu Nuri sendiri berteman sepi di tempat itu.
Tak lama pintu ruangan terbuka. Bu Nuri segera berdiri dan menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" Tanya Bu Nuri.
Dokter yang baru saja memberi pertolongan pertama pada Afkar menoleh pada Bu Nuri.
"Anda orang tuanya?" Tanya sang dokter.
"Iya, saya ibunya," jawab Bu Nuri.
"Kalau begitu kita bicara di ruangan saya sebentar. Mari ikut dengan saya, Bu!" Ajak dokter itu dan Bu Nuri pun mengikuti di belakang.
'Sebenarnya apa yang terjadi pada Afkar?'
Batin Bu Nuri saat mengekori dokter ke dalam ruangannya.
.
.
.
To be continued
Maafkan kemarin 2 hari tidak up.
__ADS_1
Kondisi tubuhku kurang fit ditambah harus menjadi ibu yang baik saat anak-anak ku sedang belajar puasa.
Buat kalian para pembaca. Jaga kesehatan ya.