Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Hobi Yang Terpendam


__ADS_3

Berulang kali Afkar menelpon Yara tapi tidak ada balasan dari wanita itu. Rasa khawatir mulai menguasai Afkar. Meskipun di hadapan Syafa ia bersikap seolah belum menerima Yara.Tapi hatinya nyaman berada di sisi wanita itu.


"Apa Yara benar ke sini? Tapi kenapa dia tidak masuk ke dalam ruangan?" gumam Afkar. Saat pria itu hendak kembali ke dalam ruangan. Ponsel miliknya berdering. Akbar segera mengangkatnya.


"Selamat siang, Pak Afkar!" Sapa seseorang dari seberang telepon.


"Selamat siang juga, ada apa, Mik?"Tanya Afkar pada sekretarisnya di perusahaan tempat nya bekerja.


"Maaf, Pak Afkar apa hari ini Anda akan datang ke kantor. Ada beberapa klien yang akan menjadi pabrik secara langsung. Mereka ingin Anda juga ikut turun langsung ke cabang pabrik!" Ucap Miko menjelaskan.


"Jam berapa mereka akan datang ke pabrik?" Tanya Afkar.


"Sekitar dua jam lagi, Pak!" jawab Miko.


Akbar melihat waktu di pergelangan tangannya. Pria itu sedikit berpikir, mumpung ada ibunya di sini Afkar bisa. pergi sebentar. Meskipun Papa Rio sudah melarangnya untuk tidak pergi ke kantor tapi Afkar merasa itu sudah menjadi tanggung jawabnya. Ia tidak mau semena-mena dalam bekerja. Apalagi memanfaatkan posisinya. Meskipun jabatan pemimpin perusahaan telah beralih kepadanya tetap saja jiwa Afkar yang selalu tegas dan bertanggung jawab masih melekat erat dalam dirinya meskipun tidak ada ingatan yang tersiksa.


"Baiklah aku akan segera ke sana." Akbar memberi keputusan. Bukan untuk menentang perintah papa mertuanya talo Afkar ingin bersikap tegas.


Pria itu segera masuk ke dalam ruangan. Ia berjalan mendekati Syafa, memberi pengertian pada wanita itu untuk pergi. Entah kenapa sikap Syafa terlihat tidak mau berpisah dan jauh dari Afkar ketakutan kehilangan pria itu begitu jelas terlihat.


"Tapi Mas harus janji setelah dari perusahaan. Mas langsung balik lagi ke sini," pinta Syafa. Wanita itu tidak ingin Afkar bertemu dengan Yara.


"Aku janji," ucap Afkar kemudian mencium kening Syafa dan pamit kepada ibunya. Ia langsung bergegas pergi ke kantor. Afkar berpikir tidak ada salahnya setelah pulang dari kantor Afkar bertemu dengan Yara meskipun hanya sebentar. Pria itu hanya ingin memberitahu kalau dirinya tidak bisa bersama Yara untuk sementara waktu. Sebab Afkar pernah berjanji untuk adil padanya. Afkar tidak tahu saat ini Yara sudah pergi dari rumahnya. Bahkan bersama dengan putri mereka.


---


Dikontrakkan 10x3 meter yang terbagi menjadi 3 ruang itu. Yara berada saat ini. Belum ada kenangan indah yang terukir di tempat itu. Tapi mulai hari ini tempat itu akan menjadi tempat berlindung untuk Yara dan Dhiya. Mereka berdua akan mengawali hidup berdua. Ya hanya berdua tanpa Afkar.


"Ya ampun, Ra. Aku salut kamu sudah bisa bertahan sampai di titik ini, loh!" Ucap Kak Ima.


Yara hanya bisa tersenyum kecil menanggapinya.


Mereka berdua berada di ruang tengah. tepatnya berada di atas tempat tidur busa yang Afkar siapkan dulu untuk mereka sebel kecelakaan itu terjadi. Yara masih menemani Dhiya dengan mengipas-ngipas tubuh anak kecil itu dengan selembar karton sebab cuaca sore ini begitu panas.


"Kita pindah ke depan, yuk, Kak!" Ajak Yara pada Kak Ima.


Yara menarik kedua sudut bibirnya saat melihat perut Kak Ima yang terlihat berbeda dari sebelumnya.


Perutnya sudah terlihat sedikit membesar.


"Sudah berapa bulan, Kak?" Tanya Yara.


"Jalan lima bulan, Ra," jawab Kak Ima.


Yara dan Kak Ima duduk lesehan di ruang depan.


Kak Ima memperhatikan wajah Yara yang terlihat bingung.


"Ada apa, Ra?"


Yara membuang napas berat sembari memejamkan mata.


"Aku bingung ka, kalau dulu saat datang ke sini tidak bersama Dhiya aku bisa pergi narik. Tapi kalau sekarang Dhiya ada di sini! Aku bingung dan khawatir kalau Dhiya sendiri saat aku narik orderan nanti," ungkap Yara.

__ADS_1


"Kamu yakin mau meneruskan jadi tukang ojek online?" Kak Ima meyakinkan.


Yara mengangguk pelan. "Untuk saat ini, hanya itu jalan satu-satunya untukmu mencari uang. Daripada aku harus. bekerja dan meninggalkan Dhiya lebih lama. Kamu butuh biaya untuk kedepannya, Kak!"


"Afkar pasti akan menyusul mu ke sini, Ra. Kakak yakin itu." Kak Ima mengusap pelan bahu Yara untuk menguatkannya.


"Datang atau tidak aku tidak peduli, Kak. Aku harus melanjutkan hidup tanpa jadi benalu bagi mereka."


"Apa istri muda Afkar berbicara seperti itu, padamu?"


"Bukan Mba Syafa tadi mertuaku, Kak!" Ujar Yara.


"Ada ya mertua macam gitu. Sabar Ra, kehidupan pasti akan berganti tidak selamanya kamu seperti ini. Yakin kehidupan kamu pasti akan berubah. Soal Dhiya, kamu tidak perlu khawatir. Dia bisa bersamaku saat kamu kerja. Tenang saja, aman ko." Kak Ima menyemangati Yara.


"Tapi Bang Boy gimana?"


"Ah, suamiku itu pasti setuju saja. Orang dia senang dengan anak kecil lihat saja nanti, anakmu pasti betah tinggal di sini."


Yara tersenyum bahagia mendengarnya dia bersyukur bisa berjumpa dengan Kak Ima di sini.


"Terima kasih, Kak!"


----


Awalnya ingin pergi ke kantor terlebih dulu. Tapi kenyataanya Afkar tidak bisa menahan perasaannya. Afkar terus berpikir tentang Yara. Ada perasaan takut yang pria itu rasakan. Jika memang benar Yara ke rumah sakit. Afkar takut kalau ternyata Yara mendengar semuanya. Bahwa Afkar akan memintanya tinggal di tempat lain.


Setibanya di depan rumah mewahnya. Afkar bergegas keluar dari mobil dan melangkah cepat memasuki rumahnya.


"Di mana kalian?" Afkar mulai terlihat panik. Ada ketakutan dalam dirinya saat tidak menemukan keberadaan Yara.


"Bi ... Bibi," panggil Afkar pada pembantu wanita di rumah itu.


"Ya, Tuan! Ada apa?"


"Lihat Yara?" Tanya Afkar cepat.


"Kaya pak satpam Non Yara pergi sama Dhiya ke rumah temannya, Tuan!" jawab pembantu itu.


Afkar menggelengkan kepalanya pelan. Ia merasa tidak percaya. Yara bercerita kalau dia tidak mempunyai teman selain wanita yang tinggal di samping rumah kontrakannya tidak ada yang lain. Tanpa berbicara lagi, Afkar kembali ke kamar Yara ia butuh memastikan sesuatu.


Dengan kasar Afkar membuka lemari pakaian yang ada di dalam kamar itu.


Matanya membulat saat melihat tidak ada pakaian milik Yara di sana. Afkar juga ingin memastikan isi lemari di kamar Dhiya putrinya. Afkar berpikir Yara pasti membawa Dhiya. Saat akan keluar kamar. Pandangan matanya tertuju pada kertas putih yang ada di lantai. Mungkin tertiup angin sampai kertas itu berada di sana.


Afkar meraihnya dan melihat ada goresan tinta di dalamnya.


'Untuk Mas Afkar, Tidak usaha meminta aku untuk pergi dari rumah ini, Mas. Tanpa kamu berucap pun aku akan pergi. Kehadiran ku memang tidak ada artinya di sini! Aku memilih pergi daripada harus jadi benalu dalam hidupmu, Mas. Maafkan aku yang tidak bisa sabar berada di sampingmu sampai ingatan itu kembali, Aku tidak mau kehadiranku hanya jadi beban pikiran Mba Syafa.


Aku ikhlas melepasmu, Mas! Aku juga akan berusaha mengikhlaskan kenangan kita hilang dalam ingatanmu. Maaf selama ini belum bisa menjadi istri yang bisa membuat bangga kamu dan ibu. Dhiya ikut denganku, kapan pun kamu bebas jika ingin bertemu dengannya, aku tidak akan pernah melarangnya. Mungkin jodoh kita hanya sampai di sini, Mas! Aku hanya tempat singgah sementara untukmu, karena pelabuhan bahtera mu berada di samping Syafa. Aku tunggu surat cerai darimu, Mas. Aku tidak mau karena masih ada ikatan denganku, akan menjadi beban untukmu. Jika nanti ingatan itu kembali setelah kita berpisah. Aku harap Mas bisa menguburnya dalam -dalam. Jaga perasaan wanita terakhir yang ada di sisimu nanti. Aku yang mencintaimu, ' Ayara Faeqa W.'


Setelah membaca surat itu tubuh Afkar terasa lemas. Ada rasa nyeri di hatinya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Afkar mengacak rambutnya sendiri. kemudian duduk di tepi kasur. Ada sesuatu yang hilang dalam dirinya setelah kepergian Yara.


"Aku yakin kamu pergi ke tempat itu, Maafkan aku, Ra. Saat ini kondisi Syafa lebih membutuhkanku. Aku janji akan menyusul mu ke sana!" Afkar kembali berdiri dan hendak melangkahkan kaki. Lagi-lagi harus terhenti saat melihat satu benda milik Yara yang selalu ia rawat dari dulu. Benda peninggalan ibunya yang selalu Yara bawa. Sebab musik yang keluar dari kotak musik kecil itu, mampu menenangkan hati Yara saat bersedih.

__ADS_1


Afkar meraih benda itu dan menyentuhnya sekilas kemudian kembali meletakkan benda itu. Afkar yakin Yara akan kembali.


Panggilan telepon dari Miko lagi-lagi membuat Afkar haru segera pergi dari rumah itu. Afkar harus mengenyampingkan dulu masalah pribadinya. Ada satu tanggung jawab yang harus dikerjakannya.


Di salah satu pabrik yang akan di tinjau saat ini. Kehadiran Afkar sudah sangat ditunggu beberapa kliennya untuk meninjau langsung pabrik tekstil terbesar di kota besar itu.


Beberapa karyawan dan atasan salah satu gedung di sana sangat terkejut dengan kehadiran Afkar di sana.


"Itu bukannya Afkar ya?" Bisik salah satu karyawan yang sedang bekerja. Ia melihat sosok pemimpin itu begitu mirip dengan kawan seperjuangan mereka.


"Ah, mana?" Karyawan lain melihat bersamaan ke arah Afkar juga ikut terkejut saat itu juga.


"Apa Akfar hanya bersandiwara saat kerja bareng sama kita," cetus karyawan yang pertama berbicara.


"Nah loh, siapa yang bakalan kena? Mungkin saja waktu itu Afkar hanya ingin melihat kinerja kerja kalian.


"Ah ... Mana mungkin!"


Mereka saling berbisik saat bekerja. tapi teguran dari seseorang membuat mereka langsung terdiam.


"Kerja yang benar, jangan jadikan tempat mencari nafkah ini sebagai tempat untuk berbagi gosip. Kalian dengar omongan saya!" Tegur Afkar dengan suara yang sedikit tinggi dan tegas.


Mereka yang tadi membicarakan Afkar langsung diam tak bersuara mereka kembali bekerja dengan baik.


"Pak Afkar kita ke sebelah sana!" Ajak Miko sekretarisnya. Sebab Afkar sudah tertinggal cukup jauh oleh beberapa rekan bisnisnya.


Afkar langsung beranjak dari hadapan mereka. Diikuti oleh Miko di belakangnya.


"Gile ... Afkar ternyata pemimpin perusahaan tempat kerja ini," ucap salah seorang karyawan yang baru saja datang menghampiri mereka.


"Iya, gue gak nyangka ternyata itu Afkar. Sikapnya beda banget sama Afkar yang sopan dan ramah. Pria itu terlihat Angkuh dan sombong. Atau mungkin mereka orang yang berbeda tapi sama wajah?" salah satu karyawan itu.


Mereka adalah karyawan yang dulu bekerja bersama Afkar.


Di tempat lain.


Setelah obrolannya bersama Kak Ima berakhir usai merencanakan pekerjaan apa yang akan Yara lakukan. Wanita itu bersantai sejenak untuk beristirahat. Tapi melihat ada pensil dan buku gambar di bufet kaca. Yara mencoba bangun dan meraih benda tersebut.


Yara tersenyum senang saat mendapati benda tersebut.


Perlahan Yara membentangkan buku gambar itu. Meraih pensil, lalu mulai berkreasi di atas kertas putih itu.


Salah satu hobi Yara yang harus tenggelam saat menikah dengan Afkar. Menggambar model baju pengantin dan model pakaian lain. Itulah hobi terpendam Yara. Meskipun sudah lama tidak menggerakkan jemarinya. Tapi keahlian Yara cukuplah bagus. Terlintas keinginan untuk meneruskan cita-citanya. Cita-cita menjadi seorang desainer terkenal.


Mampukah Yara melakukannya?


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2