Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Sampai Jasad Ini Terkubur


__ADS_3

Usai memangkas bunga mawar putih yang mekar sempurna. Mereka berkumpul di meja yang sama. Menikmati sarapan sederhana seperti roti bakar dan minuman hangat untuk mengganjal perut pagi itu. Kehangatan keluarga yang begitu membahagiakan. Rasanya tidak ingin waktu cepat berlalu saat itu.


“Papa ingin sekali menaburkan kelopak bunga mawar putih ini di atas pusara mama kalian,” Celetuk Pak Rio membuat semua menoleh padanya.


“Kita akan nyekar ke sana setelah kondisi kalian sehat,” ujar Yara yang mengerti perasaan papa-nya saat ini. Sedari tadi papa-nya itu terlihat sedih saat melihat bunga mawar putih. Tapi sesekali tersenyum untuk menutupi kesedihannya. Papa Rio menganggukkan kepala pelan.


Suasana sedih itu seketika berubah saat Erza memberikan kejutan untuk Yara. Erza bernyanyi ala India sambil membawa setangkai bunga untuk Yara. Menggoda dan merayu wanita hamil itu di hadapan Pak Rio, Dhiya dan juga Syafa. Tak ada kecanggungan dari Erza saat menunjukkan sisi humorisnya di depan papa mertuanya itu. Semua tertawa melihat tingkah Erza.


Pak Rio dapat melihat keceriaan Yara bersama Erza. Di susul Dhiya, si bocah perempuan yang pendiam saat itu berubah mengikuti Erza. Pak Rio bersyukur putrinya yang lama tak lama bersamanya itu mendapat kebahagiaan bersama Erza.


Raut wajah ceria itu menular pada Syafa. Seketika kesedihan yang tadi sempat Pak Rio lihat dari wajah putri pertamanya hilang begitu saja. Hanya satu harapan beliau. Dengan keputusan Syafa yang tetap dengan pendiriannya berpisah dengan Afkar. Syafa mendapatkan jodoh terbaik yang benar-benar tulus padanya.


Tawa, canda dan kehangatan keluarga begitu terasa saat itu. Pak Rio itu ikut tertawa melihat aksi humoris menantunya. Sungguh satu sikap yang tidak pernah Pak Rio lihat sebelumnya. Erza menjadi pria tegas dan bijaksana saat berada dalam lingkungan luar dan dunia bisnis. Tapi saat bernama keluarga, pria itu menjadi penghibur yang selalu membuat keluarganya tersenyum. Pak Rio bangga memiliki menantu Seperti Erza.


Napas Pak Rio sampai tersengal-sengal karena terlalu puas tertawa. “Sudah cukup, Za. Kamu ini ternyata pandai melawak,” ucap Pak Rio saat Erza selesai dengan nyanyian India dan tariannya. Yara menyodorkan air minum untuk papa-nya itu.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Pak Rio pada Yara.


“Sama-sama, Pah.”


“Papa memang seperti itu, Kek. Tapi kalau di luar beda banget. Temanku sampai takut kalau ada Papa Erza,” timpal Dhiya yang juga ikut mengambil minuman miliknya.


“Mas Erza itu dingin di luar hangat di dalam,” sambung Yara dengan senyum malunya.


“Lebih baik seperti itu, daripada papa manis di luar dingin di dalam. Hayo mah mau yang mana?” goda Erza lagi.


Yara lekas mencubit pinggang Erza. Suaminya itu terdengar meringis kesakitan.


Papa Rio menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat candaan Erza pada Yara. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Bi Tum kembali ke teras belakang rumah itu.


“Permisi, Tuan. Sarapan sudah siap,” ucap Bi Tum pada Pak Rio.


“Nanti saja, Bik. Aku sih masih kenyang. Tapi tidak tahu yang lain,” sahut Syafa. “Papa mau makan?” Syafa menawarkannya pada Pak Rio. Gelengan kepala pun jadi jawabannya.


“Papa tidak lapar. Papa ingin istirahat saja habis ini,” sahut Pak Rio.


“Loh, papa belum makan loh. Semalam saja hanya sedikit banget makannya. Mau Yara masakkan sesuatu?” tanya Yara. Pak Rio kembali menggelengkan kepala membalas ucapan Yara.


Erza melihat ada yang berbeda dari mimik wajah mertuanya. Sedikit pucat, itulah yang Erza lihat. Tapi Erza tetap berpikir positif. Ia berpikir kalau Pak Rio masih dalam keadaan kurang sehat. Dan membutuhkan banyak istirahat untuk memulihkan kondisinya.


“Sebaiknya kita makan dulu, Dhiya juga. Kamu mau pergi ke ruang sakit ‘kan? Jangan biarkan perutmu kosong!” Erza akhirnya buka suara. Perintahnya mendapat anggukan dari anak kecil yang usianya masuk 6 tahun bulan besok.


“Mas, mau aku masakin dulu!” Yara lanjut bertanya. Sebab biasanya Erza selalu makan masakan yang buatan Yara.

__ADS_1


“Tidak perlu, Sayang. Kita makan yang ada saja!” jawab Erza. Kemudian beralih pada Pak Rio. “Papa juga harus makan meskipun sedikit. Baru setelah itu beristirahat.”


Akhirnya Pak Rio menuruti ucapan Erza. Mereka melangkah bersama menuju ruang makan. Syafa yang tadinya enggan untuk sarapan akhirnya ikut makan juga saat itu. Lagi-lagi kehangatan tercipta di sana. Sesekali canda dan tawa terselip dalam kegiatan makan itu.


Erza bertanya pada Syafa apa yang akan ia ambil untuk kehidupannya ke depan. Kakak iparnya itu hanya menjawab masih belum berencana apa pun. Syafa meminta maaf pada semua kalau tidak bisa mempertahankan rumah tangganya. Alasan kuat sudah diberitahu. Pak Rio pun menyerahkan semuanya pada Syafa. Erza dan Yara juga tidak mau memaksakan.


“Apapun jika menurut Mba Syafa baik dan tanpa penyesalan nantinya, aku mendoakan saja. Kalau pun suatu saat nanti kalian kembali bersatu, silakan. Aku tidak masalah,” ucap Yara saat kegiatan makan itu sedang berlangsung.


Dhiya, si gadis kecil yang sudah mulai mengerti obrolan para orang dewasa itu hanya bisa terdiam. Kali ini, Dhiya tahu lagi akan sesuatu. Kalau ayah dan mamih-nya tidak bisa bersama seperti ayah dan bundanya.


‘Berarti saat ini ayah sendiri? Tidak seperti bunda dan Mamih di sini. Bagaimana keadaan ayah sekarang?’


Batin Dhiya, anak itu memilih melanjutkan menghabiskan makanannya. Dhiya juga berniat untuk mengunjungi ayahnya nanti, setelah mendapat ijin dari bundanya.


Semua tatapan beralih pada Pak Rio. Saat pria tua itu menjatuhkan sendok yang ada di tangannya.


“Papa, kenapa?” tanya Yara yang langsung berdiri dari duduknya melihat Pak Rio seakan tidak ada tenaga bahkan untuk memegangi sendok saja sampai terjatuh.


Melihat reaksi Yara yang begitu terkejut tiba-tiba. Erza juga ikut berdiri, begitu juga dengan Syafa. Semua ikut terkejut.


Pak Rio mengangkat satu tangannya. “Papa baik-biak saja! Hanya lemas saja,” ujar Pak Rio.


“Papa yakin?” Yara menegaskan.


Pria tua itu menganggukkan kepalanya pelan. “Papa hanya ingin beristirahat saja. Tolong bawa papa ke kamar,” pinta Pak Rio.


Semua terlihat khawatir dengan keadaan Pak Rio. Syafa dan Yara sambil mengikuti dari belakang hingga mereka sampai di kamar Pak Rio.


Merasa dikhawatirkan, Pak Rio berusaha menguatkan diri. “Kalian tidak perlu khawatir. Papa baik-baik saja, Ra, Fa,” ujar Pak Rio sambil melirik pada kedua putrinya.


“Kakek, sakit lagi?” tanya Dhiya polos. Pak Rio menggelengkan kepala membalasnya. “Tidak, Sayang. Kakek hanya ingin beristirahat saja.” Lanjutnya.


Tak lama Bi Tum datang dengan membawa air dan obat diatas nampan. Obat yang harus di minum oleh tuannya.


“Letakkan di meja saja, Bik? Nanti di minum ko,” ujar Pak Rio pelan saat melihat Bi Tum berjalan menempatinya. Wanita paruh baya itu seakan ragu dengan ucapan Pak Rio. Begitu juga dengan Syafa.


"Minum sekarang saja, Pah. sebelum papa beristirahat," usul Syafa.


"Aku yang akan membantu papa minum obat. Mba Syafa tenang saja, aku akan paksa jika papa tidak mau!" ancam Yara dengan nada bercanda.


Seulas senyum terukir di wajah Pak Rio mendengar ucapan Yara. begitu juga Yara memandangi Pak Rio dengan senyum manisnya.


"Sebaiknya kalian segera bersiap," titah Yara pada Syafa dan Dhiya. Kemudian menatap Dhiya. "Kakak pergi sama Mamih ya? Tidak apa 'kan?" tanya Yara kemudian.

__ADS_1


"Iya, Bunda."


"Biar aku yang antar mereka," ucap Erza. "Ayo!"


Akhirnya Syafa, Dhiya dan Erza pamit pada Pak Rio. Tinggal Yara di sana. sama seperti ucapannya tadi, Yara membantu Pak Rio meminum obatnya. Mereka berbincang sesaat. Sesekali Yara membuat Pak Rio tertawa.


"Terima kasih sudah memaafkan semua kesalahan papa, Ra."


"Yang lalu biar berlalu, Pah. sekarang kita mulai hidup yang baru. Papa harus semangat, demi aku dan Mba Syafa. aku juga ingin Mba Syafa kembali bersemangat."


Pak Rio mengangguk kepala membenarkan ucapan Yara. "Ra, tolong ganti bunga yang ada di sana, ya!" titah Pak Rio pada Yara. "Papa mengantuk sekali, seperti obat yang baru minum tadi sudah bereaksi," ucap Pak Rio karena beberapa kali pria tua itu membuka mulutnya lebar.


"Ya sudah kalau begitu, papa tidur saja."


Pak Rio menganggukkan kepalanya. "Bangunkan papa saat adzan Dzuhur berkumandang!" titah pria tua itu.


"Iya, Pah." Yara pun menyelimuti tubuh Pak Rio. Kemudian berbalik badan hendak meninggalkan kamar itu.


"Ra, tunggu!" cegah Pak Rio.


"Apa, Pah?"


"Papa senang sekali kita kumpul seperti ini. Kamu tahu papa merasa mama kalian juga berada di sini bersama kita. Dia melihat kebahagiaan kita. Andai saja mama kalian masih hidup," Pak Rio melirik ke arah figura foto yang terpajang di kamarnya. foto dari Mama Mira. "Papa ingin selalu bersama dia, sampai jasad ini terkubur pun papa berharap bisa bersama dia, berdampingan dengannya."


"Papa akan sehat, Papa akan menyaksikan cucu papa ini lahir, nanti. papa tahu jenis kelamin anakku dan Mas Erza laki-laki. Papa akan mengajak dia bermain bola, nanti."


"Ya, papa ingin terus berkumpul bersama kalian."


"Ya sudah jangan banyak bicara lagi, sekarang papa istirahat, ya. Yara sayang sama papa. Jadi papa harus sembuh." Yara mencium kening Pak Rio.


Sebelum keluar dari kamar itu, tak lupa mengganti bunga mawar putih yang ada di pojok ruangannya.


Saat hendak menutup pintu kamar. Yara memastikan papa-nya terlelap. Ada perasaan gundah di hatinya. Entah perasaan apa itu.


'Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini?'


Batin Yara, ia teringat kalau Erza, Syafa dan Dhiya sedang berada di luar.


"Semoga tidak terjadi sesuatu pada mereka," gumam Yara sambil berdoa untuk keselamatan orang terkasihnya.


.


.

__ADS_1


.


To be continued


__ADS_2