Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Suara Lembut Mengundang Adrenalin


__ADS_3

Sejauh apapun kamu mencari kalau sudah jodoh pasti akan kembali dan bertemu. Begitu juga dengan Erza dan Yara. Pria itu sempat ingin menghapus perasaannya pada Yara waktu itu. Sebab Erza baru mengetahui kalau Yara sudah menikah. Mundur menjadi pilihan. Sikap bisa merubahnya tapi tidak dengan perasaanya. Nyatanya meskipun sudah mengetahui status Yara, perasaan Erza terhadap wanita itu tidak berubah. Malah semakin bertambah saat Erza tahu peliknya rumah tangga sang pujaan hati.


Lika liku perjalanan kisah cinta Erza ternyata berakhir bahagia.


Saat ini Yara sudah resmi menjadi istrinya. Merasa sangat bahagia Erza menarik Yara dalam pelukannya.


"Aku tidak menyangka kita akhirnya bisa bersama, Sayang! Aku sangat bahagia karena kamulah yang menjadi istriku saat ini!" Erza memeluk erat tubuh Yara. Menghirup aroma wangi tubuh istrinya itu.


Merasakan kebahagiaan yang Erza rasakan Yara pun membalas pelukan hangat suaminya.


Erza melepas pelukannya. Kedua tangannya menangkup wajah Yara. "Bakal betah di rumah aku kalau yang masak setiap hari adalah kamu. Ternyata masakan kamu sudah mengikat hatiku!" gombal Erza.


Yara tersenyum. "Kamu ada ada saja, Mas!" Yara tersipu malu. Wajahnya merah merona saat itu, Erza semakin gemas melihatnya. Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya. Kedua tangan Erza meraih tangan Yara dan menuntunnya agar melingkar di leher pria itu. Tatapan mereka saling bertemu dan menatap dalam. Rasa cinta begitu jelas terlihat dalam manik mata Erza.


"Aku sangat mencintaimu, Sayang!" Bisik Erza di telinganya. Sapuan hangat dari deru napas Erza begitu terasa.


Cup ...


Erza memberikan kecupan lembut di kening yang menjulur ke leher membuat gelenyar aneh yang Yara rasakan.


"Ssshh ... Mas!" Suara indah itu lolos begitu saja dari bibir Yara. Sesaat Yara ikut terbuai oleh sentuhan Erza. Wanita itu lupa saat ini berada di mana.


"Kamu membuatku candu, Sayang!" Erza kembali mengecup lembut leher putih itu. Saat Yara melirik ke arah depan. Ia melihat pak satpam di depan gerbang rumah itu tengah menatap ke arah mereka. Dengan cepat Yara melepaskan diri dari Erza.


"Mas, lepas! Lihat! Pak satpam memperhatikan kita," Yara menunjuk satpam yang berdiri di depan mobil sambil menatap ke arah mobil.


Yara pun menoleh ke arah bangku belakang. Ia takut kalau Dhiya sudah terbangun tapi tidak bersuara.


"Alhamdulillah," gumam Yara sambil mengelus dada saat melihat Dhiya masih lelap tertidur. Erza tersenyum melihat ketakutan Yara. Melihat sikap Erza yang biasa saja, Yara mencubit pinggang suaminya. "Mas jangan seperti itu lagi, aku malu! Bagiamana kalau Dhiya melihatnya? Aku juga malu, satpam itu pasti melihatnya tadi!" Yara menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Merasa malu jika berhadapan dengan satpam itu.


Erza tanpa merasa bersalah dan malu langsung melajukan mobil ke dalam rumahnya. melewati apak satpam yang siap siaga langsung menutup pintu gerbangnya.


"Satpam itu tidak bisa melihat ke dalam mobil, Sayang!" ucap Erza sambil mencium singkat pipi Yara. Wajah istrinya itu masih dalam mode cemberut.


Yara mengerutkan alis. "Ko Bisa?" Tanyanya heran.


"Kaca mobil ini sama seperti Kaca riben hitam bias. Kaca yang biasa disebut dengan privacy glass. Artinya meminimalisir pengguna jalan atau orang di luar untuk dapat melihat di dalam mobil." Erza menjelaskan.


"Beneran? Jadi satpam itu tidak bisa lihat ke dalam mobil 'kan. Aku malu kalau sampai dia lihat, Mas!"


Erza mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Yara pelan.


"Aku juga tidak rela ada yang melihat kegiatan indah kita, Sayang!" Erza menekankan.


Yara membalasnya dengan senyuman.


"Sekarang kita masuk! Biar Dhiya aku yang gendong."


Yara mengangguk pelan kemudian melepas seltbelt dari tubuhnya.


Mereka pun turun dari mobil. Dhiya benar-benar tidak terusik sama sekali saat Erza mengangkat tubuhnya.


"Mamih!" Dhiya mengigau saat Erza dan Yara melangkah masuk ke dalam rumah. Anak kecil itu terlelap kembali setelah mengigau.

__ADS_1


Pasangan suami-isteri itu saling pandang mendengar ucapan Dhiya. "Wajar kalau Syafa disebut Dhiya. Selama beberapa bulan ini 'kan anak ini lebih sering bersama Syafa. Sampai terbawa mimpi begini!" Tutur Erza sembari menepuk pelan pundak Dhiya.


Yara mengedarkan pandangan ke sekeliling dalam rumah Erza. Nuansa rumah yang sangat Yara sukai. Banyak ornamen klasik di dalamnya. Membuat Yara merasa nyaman di sana.


"Mas, apa kamu tahu saat pertama kali masuk ke rumah ini, apa yang ada di pikiranku?" Ucap Yara menghentikan langkah Erza.


"Apa?" Tanya Erza.


Yara melirik ke arah Erza. Wanita itu melihat Erza masih menggendong Dhiya.


"Sebaiknya baringkan Dhuya dulu, Mas!"


"Oh, ya." Erza melangkah menuju kamar tamu. "Dhiya benar-benar lelah sepertinya sampai tidak terusik sama sekali," Ujar Erza.


Mereka berdua masuk ke dalam kamar tamu. Yara menyiapkan bantal untuk menyanggah kepala Dhiya. Anak kecil itu hanya terusik sesaat. Yara mengelus punggung putrinya itu. Tak lama Dhiya kembali tertidur. "Dhiya benar-benar lelah!" Yara menoleh kepada Erza yang ikut duduk di tepi tempat tidur. "Biarkan Dhiya tidur dan beristirahat," titah Erza dan mendapat anggukan dari Yara. Sebelum pergi, Yara mengusap pucuk kepala Dhiya lalu mengecupnya pelan.


Erza mengajak Yara untuk duduk santai di gazebo yang letaknya berhadapan ke kolam renang..



"Akhirnya aku merasakan berada di sini, Mas!" Ujar Yara yang terlihat senang saat wanita itu sampai di gazebo santai.


Yara merasakan ketenangan saat berada di tempat itu. Erza langsung merebahkan tubuhnya di kasur yang ada di gazebo itu. Sedangkan Yara menggantungkan kakinya di tepi gazebo yang terhubung langsung dengan kolam renang.


Erza bangkit dari pembaringannya. Pria itu ikut duduk bersama Yara. Tapi Erza duduk menempel di belakang Yara. posisinya seperti memeluk wanita itu dari belakang.


"Memang apa yang kamu pikirkan saat pertama kali ke rumah ini?" Tanya Erza sambil menaruh dagunya di pundak Yara.


Yara menoleh kemudian tersenyum pada suaminya. "Aku pernah berucap gini. Suatu saat nanti kalau aku sukses. Aku ingin sekali punya tempat santai seperti ini!" Yara terkekeh dengan ucapannya sendiri. "Dulu waktu menggantikan Bi Ninis memasak di sini. Aku sering curi-curi pandang ke sekitar rumah ini. Aku suka sekali dengan semua hiasannya. Klasik dan menenangkan," ujar Yara.


"Kenapa, Mas?" Tanya Yara.


"Surat ijin tinggal Dhiya belum keluar jika dia masih ikut hak asuh afkar. Besok aku akan segera menyuruh Riko agar segera menyelesaikan semuanya. Aku tidak mau terlalu lama permasalah ini terkatung-katung."


Ada perasaan lega yang Yara rasakan mendengar setiap ucapan dari Erza yang selalu mewujudkan keinginannya.


"Mas,"Panggil Yara.


"Terima kasih atas semuanya." Yara berbicara dengan suara manja. Satu persatu tangannya melingkar di leher Erza.


Erza terkesima melihat sikap Yara yang sedikit berani kepadanya.


Kedua manik mata mereka saling beradu. Senyum saling terpancar dari keduanya. Mendapati sikap agresif Yara, Erza melingkarkan tangan di pinggang wanita itu. Menarik tubuhnya ke depan agar semakin mendekat.


Yara berada di atas tubuh Erza dengan posisi saling duduk berhadapan. Posisi Yara seperti anak koala pada Erza.


"Mas ...." Yara memanggil Erza untuk keduanya kalinya. Kini suaranya lebih terdengar manja. Yara dengan berani mencium Erza lebih dulu, singkat membuat Erza membelalakkan mata.


"Kenapa Yang!" Tanya Erza karena ciuman yang belum berlangsung itu sudah berhenti tiba-tiba.


"Aku mencintaimu, Mas Erza," bisik Yara dengan suara lembut mengundang adrenalin gairhah pada tubu Erza.


Tanpa basa basi Erza tanpa ijin menyambar bibir Yara. Menariknya dalam pelukan.

__ADS_1


Peraduan yang cukup menguras tenaga. Permainan bibir yang cukup lama membuat Erza meminta lebih dari itu. Perlahan tangannya bergerak melepas satu persatu kancing baju istrinya.


"Mas, jangan di sini!" Yara mencegah Erza. wanita itu masih dikuasai kesadaran. Sebab saat ini mereka berada di tempat terbuka.


Erza meraih remote yang ada di sisinya. Menekan satu tombol merah di remote itu. perlahan tirai penutup gazebo berjalan merapat di keempat sisi.


Yara dibuat takjub melihatnya. Hingga saat ini gazebo selebar 3x4 meter itu tertutup sempurna oleh tirai yang menutupinya.


"Mereka tidak akan melihat kegiatan kita sekarang, Sayang!" Erza dengan cepat menarik tengkuk leher Yara dan kembali menyambar bibir istrinya. "Dhiya, Mas!"


"Aku bermain cepat." Erza langsung melancarkan aksinya.


Yara menjadi candu baru untuknya. Meskipun tidak merasakan barang segelan tapi Erza merasa senang. Sebab kali ini mereka melakukan dengan pernyataan cinta yang selama ini Erza ingin dengar sendiri dari bibir Yara.


Sore itu pun menjadi penuh gelora karena kegiatan panas mereka. Pengantin baru itu tidak hentinya meraup manis madu pernikahan mereka.


...🌱🌱🌱...


Satu Minggu telah berlalu. Sesuai janji dan ucapannya, Erza mempersiapkan semuanya dengan baik demi wanita tercintanya.


Gugatan sidang banding berjalan lancar. ketidakhadiran Afkar di 2 kali panggilan sidang membuat Yara memenangkan hak asuh Dhiya.


Yara merasa lega mendapati hasil keputusan hakim ketua pada gugatan hak asuh itu.


Saat pulang dari pengadilan. Yara melihat saksikan berkas yang dipakai saat gugatan hak asuh. Melihat Dhiya sedang asik bermain di ponselnya.


"Mas, aku boleh lihat berkas itu!" Pinta Yara pada Erza, suaminya.


"Boleh." Erza menyerahkan salinan berkas yang tadi digunakan.


Yara membuka salinan itu satu persatu dengan perlahan. Bola mata Yara membulat saat melihat beberapa bukti ketidakpantasan Afkar menjadi seorang ayah untuk Dhiya.


"Apa benar ini kelakuan Mas Afkar, Ko?" Tanya Yara pada asisten Erza.


"Betul sekali Nyonya. Saya mendapat berita dari orang yang bisa dipercaya. dan itu adalah hasil nyatanya.


Yara mengelengkan kepala melihat bukti-bukti foto yang terpampang jelas di matanya.


'Mba Syafa apa kamu tahu kelakuan Afkar di belakangmu, Mba?'


Batin Yara yang tidak percaya dengan bukti yang ada.


.


.


To Be continued


selamat malam


selamat beristirahat buat pembaca ku.


Maaf kemarin author tidak karena sedikit sakit.

__ADS_1


Jaga-jaga kesehatan buat kalian semua


__ADS_2