Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Mengajak Yara Tinggal Di Kota


__ADS_3

"Kar," panggil seseorang sambil mengetuk pintu.


Afkar menoleh. Dari nada suaranya jelas itu suara seorang wanita. Dan Afkar mengenalinya.


"Siapa Mas?" tanya Yara.


"Kayaknya Kak Ima, Ay. Sebentar ya, Mas lihat dulu ke depan!"


Yara mengangguk pelan masih dengan sambungan video call-nya.


"Ada apa, Kak?" tanya Afkar di saat pintu kontrakan terbuka.


"Motormu masih di luar, ini sudah malam! Kamu tidak takut motormu dicuri? Mana sekarang lagi musim curanmor. Sayang sekali 'kan kalau motor ini hilang," ujar Kak Ima membuat Afkar langsung keluar untuk segera memasukkan motornya ke dalam kontrakan.


"Iya, kak. Maaf aku sedang teleponan sama bini di kampung," elak Afkar sambil mendorong motornya.


"Nah, kalau gini 'kan aku tenang. Kamu yang punya motor jadi aku yang gelisah dari tadi." Kak Ima hendak masuk ke dalam rumah kontrakannya lagi. "Sudah sana, sambung lagi kangen-kangenannya. Makanya punya bini tuh ajak ke sini, jangan ditinggal di kampung! Bingung nyari lubang 'kan lu," oceh Kak Ima tanpa filter saat bicara.


"Terima kasih, Kak!"


"Tak usahlah kamu berterima kasih, seperti sama orang lain saja!" ujarnya kemudian.


Afkar segera masuk. Dia tidak mau Yara terlalu lama menunggu.


Kak Ima adalah salah satu tetangga yang baik. Dia selalu menyarankan Afkar agar membawa anak istrinya ke kota. Seperti dirinya yang ikut dengan suami. Padahal kampung halamannya dari Sumatera.


"Maaf, Ay. Lama ya?"


Yara menggelengkan kepala. "Aku bersyukur kamu berada bersama orang-orang baik seperti Kak Ima, Mas!"


Afkar tersenyum menanggapinya. "Alhamdulillah, Ay."


Yara mengenal Kak Ima. Sebab Afkar sering bercerita kepadanya. Merkea bahkan sempat melakukan video call bersama agar Yara kenal dengan tetangganya itu. Yara pun menyimpan nomer ponsel Kak Ima, agar sewaktu-waktu nomer ponsel suaminya tidak aktif. Yara biasa mencari tahu lewat Kak Ima.


Obrolan mereka pun masih berlanjut panjang. Selanjutnya Yara meminta ijin kepada Afkar agar diijinkan berjualan masakan matang dan kue kering. Yara merasa bosan jika tidak melakukan kegiatan apa pun. Apalagi Dhiya sudah mulai mandiri, umurnya yang akan memasuki 4 tahun sudah mulai lancar berbicara meski ada kata-kata cadel yang gadis itu ucapkan.


Afkar mengerti kebiasaan Yara yang senang memasak dan membuat kue kering. Rasanya enak bahkan Afkar pun lebih sering makan dan membawa bekal makanan dari rumah. Bahkan Afkar sering membagi masakan buatan istrinya kepada teman pabriknya dahulu kala istirahat tiba. Teman Afkar pun ikut memuji masakan Yara.

__ADS_1


"Boleh, ya, Mas!" Yara terus merayu.


Akhirnya Afkar mengizinkannya. Asalkan tetap ada yang membantu. Afkar tidak mau Yara lelah karena kegiatannya.


"Kamu mau ikut Mas ke kota gak?" tanya Afkar. Hampir dua jam sudah mereka mengobrol di telepon. Tak ada kata bosan meskipun setiap hari kegiatan itu mereka lakukan.


"Mau, Mas. Mau sekali! Kapan Mas mau jemput kami?" Yara terdengar sangat bersemangat.


"Mas akan siapkan segala sesuatunya dulu, ya?"


"Segera ya, Mas!"


"Iya, Ay."


Afkar dan Yara sudah bersepakat kalau Yara dan Dhiya akan menyusul ke kota. Tapi setelah Afkar mempersiapkan semuanya. Di tempat kontrakannya saat ini, belum ada perlengkapan rumah tangga yang bisa digunakan. Hanya ada kasur untuk satu orang tidur, televisi, serta alat penanak nasi dan beberapa peralatan makan saja.


Bulan depan Afkar berjanji akan pulang untuk menjemput Yara dan bertemu orang tuanya yang sudah ia rindukan. Afkar juga harus membicarakan ini pada mereka.


Yara merasa senang karena mereka akan kembali berkumpul. Kemanapun suaminya berada, Yara ingin selalu bersamanya, dalam keadaan apapun.


Sepi, tak ada lagi kata-kata yang terdengar dari mulut Yara. Tak terasa Yara memejamkan mata karena kelelahan.


Dilihatnya wajah yang selama ini ia rindukan. Ingin memeluk dan memanjakannya seperti saat mereka bersama. Bercanda dan mengajari putri kesayangan mereka.


'Kita akan bersama lagi, Ay! Mas harap kamu bersabar, Mas akan persiapkan semuanya terlebih dahulu. Biar kita berjuang bersama di sini. Kalian adalah hidup Mas, semangat Mas untuk selalu bekerja keras.'


Batinnya Afkar seraya memandangi orang yang disayang. Afkar mencium benda pipih yang digenggamnya kemudian menciumnua sekilas. Seakan Afkar sedang menciumi keduanya.


Afkar ikut tertidur dalam kesendirian dengan hati yang bahagia.


****


Sore ini sepulangnya Afkar dari tempat kerja. Afkar berbelanja keperluan rumah tangga, menyiapkan semuanya secepat mungkin. Akhir bulan ini Afkar menginginkan Yara dan Dhiya ikut pindah ke kota.


"Wah, banyak banget perabot rumah tangganya, Kar?" tanya Kak Ima saat Afkar tiba di kontrakan berbarengan dengan satu mobil pick up yang mengikutinya dari belakang. Jelas terlihat barang bawaan yang dibawa mobil tersebut.


Kak Ima yang kebetulan sedang duduk santai di depan kontrakan sampai melongo melihatnya.

__ADS_1


"Iya, kak. Persiapan buat menyambut bini," sahut Afkar kemudian membantu menurunkan satu persatu barang dari mobil pick up itu.


"Maaf ya, aku gak ikut bantu. Dedek dalam perut baru jadi. Kalau ngangkat yang berat-berat. Gak kuat!"


"Gak pa-pa, Bu. ini kerjaan lelaki, perempuan tuh hanya tunjuk sna dan sini aja. Mau diletakkan dimana barang-barangnya, gitu!" sahut pak supir yang ikut membantu.


"Jangan ibu 'lah, Bang! Aku ini masih muda. anak juga belum lahir," protes Kak Ima membuat suasana jadi lebih santai.


Afkar tertawa kecil mendengar ocehan Kak Ima. Dia dan suaminya adalah perantau dari Pulau Sumatera. Awalnya kaka Ima bekerja sebagai ojek online. Sedangkan Suaminya bekerja sebagai montir di bengkel mobil di kota besar itu.


Kak Ima memilih mendaftar sebagai ojek online karena waktu yang tidak terikat. Kapan pun ia bisa pulang dan pergi mencari tarikan. Kak Ima hanya sekedar mengisi waktu, selagi mereka belum mendapatkan amanah seorang anak. Tapi ketika ia tahu bahwa dirinya tengah hamil, Kak Ima pun stop mengaktifkan apliaksi hijau penyedia jasa itu. Ia ingin fokus dengan kehamilannya.


"Sepertinya ada yang mau menyusul ke sini ya, Kar?” tanya Kak Ima.


"Iya, Kak. Anak dan istriku akan ikut tinggal di sini!” Sahut Afkar. Pria itu masih membantu tukang perabot menurunkan barang-barang.


" Wah, Asik dong, punya temen deh aku,” seru Kak Ima girang.


"Iya Kak. Mudah-mudahan istriku betah ya, tinggal di sini.”


"Pasti betahlah, orang tinggal sama suami. lebih tenang kalau bersama," sahut Kak Ima.


Afkar hanya bisa tersenyum kemudian melanjutkan merapikan barang-barang yang ia beli. Afkar merasa bersyukur, sedikit demi keadaannya berubah lebih baik.


Meski mereka harus meninggalkan rumah kontrakannya di kampung. Tapi Afkar bertekad akan membeli rumah tersebut dari pemiliknya karena sang pemilik rumah hanya akan menjualnya kepada Afkar, selain Afkar sang pemilik rumah tak akan melepaskan rumah tersebut. Kebetulan pemilik rumah tersebut adalah teman baik Pak Setyo.


Afkar tersenyum sendiri saat melihat barang yang ia beli. Termasuk mainan dan sesuatu untuk istrinya. Lingerie warna merah, Afkar ingin Yara memakainya nanti saat Afkar pulang ke kampung nanti. Ia tersenyum sendiri membayangkan lekukan tubuh Yara yang molek dan aduhai saat istrinya itu membantu Afkar memuaskan hasrat melalui video call yang mereka lakukan akhir-akhir ini.


.


.


.


Like dan Komen kalian di tunggu.....


Besok senin ceria waktunya jatah Vote turun.

__ADS_1


Daripada hangus kirim ke sini ya.. Vote nya....


__ADS_2