
"HANTU ... !" Teriak Erza dengan langkah mundur sembari meraih tangan Yara kemudian membalikkan tubuhnya agar keduanya membelakangi sosok tinggi besar itu.
"Apaan sih, Mas? Mana hantunya?" Yara hendak membalikkan tubuhnya.
"Di sana! Masih jauh, Yang! Jangan di lihat takut mukanya rata," ujar Erza.
"Ih, kamu ini bagaimana sih? Masa takut sama begituan?" cerocos Yara.
"Aku lebih baik berhadapan sama empat preman sekaligus daripada harus melihat hantu!" Erza malah memeluk Yara dari belakang.
"Mas lepas, Ih! Mana hantunya?" Yara malah merasa penasaran dengan ucapan Erza.
"Di mana hantunya?" Tanya seseorang yang baru saja datang dari arah depan membuat Erza tersentak hingga terdiam.
"Yang, di sini hantunya bisa ngomong ya?" bisik Erza.
"Ih, Mas Erza. Itu bukan hantu, itu suara manusia!" Coba lihat!" titah Yara.
"Aku parno, Sayang!" celetuk Erza.
"Penakut! Minggir!" seru Yara. Erza pun menurut dan sedikit mengejar tubuhnya agar Yara bisa melihat siapa yang ada di belakang mereka.
Yara tersenyum kemudian menunduk setelah melihat sosok pria paruh baya yang menutup kepala dengan sarung berwarna putih. Di tangan pria paruh baya itu membawa lampu petromax kecil untuk penerang jalan.
"Maaf kalau bapak mengangetkan kalian." Pria paruh baya yang bernama Pak Tomo itu menurunkan sarung dari kepalanya.
"Ah, tidak apa, Pak! Itu suami saya saja yang penakut," balas Yara.
Erza segera membalikkan tubuhnya setelah mendengar percakapan Yara dan seseorang di belakangnya.
"Ah, ternyata manusia! Saya minta maaf karena telah berburuk sangka pada Anda, Pak!" ujar Erza dengan senyum kikuknya.
Erza langsung menundukkan kepala pada pria paruh baya itu. Ia merasa tidak enak hati dengan apa yang dilakukannya tadi.
"Tidak apa, Nak! Bapak memaklumi. Ngomong-ngomong kalian sedang apa malam-malam ada di sini?" Tanya Pak Tomo.
"Kami habis dari danau sana. Eh, motornya mogok di sini," ujar Erza.
Pak Tomo mengangukkan kepala pelan. "Coba, bapak lihat kenapa dengan motornya! Tolong pegang lampunya sebentar." Pak Tomo menyerahkan lampu petromax pada Erza.
Erza seperti mendapat mainan baru. Bos EZHA Group itu seperti baru melihat benda yang ia pegang saat ini.
"Kenapa tidak pakai senter saja?" Erza menggelangkan kepalanya.
"Dekatkan petromax nya ke sini?" Titah Pak Tomo lagi. Erza pun mengikutinya.
"Pantas saja motornya tidak mau menyala. Bahan bakarnya habis!" Ucap Pak Tomo.
"Lalu ada yang jual bensin tidak pak disekitar sini?" Tanya Yara.
pertanyaan itu membuat Pak Tomo tertawa. "Pastinya tidak ada, Ndo. sudah malam! Mungkin kalau besok pagi ada, tukang bensin eceran," ujar Pak Tomo.
"Besok pagi?" Erza begitu terkejut mendengarnya. Kemudian beralih pada Yara. "Yang, jalan ke panti masih jauh tidak?" Tanya Erza.
"Masih jauh, Mas!" balas Yara.
__ADS_1
"Apa ada hotel sekitar sini, Pak?" Tanya Erza tiba-tiba.
"Mana ada hotel di sini, Mas!" serobot Yara.
"Ada cottage di dekat sini!" Pak Tomo menimpali.
Erza dan Yara saling pandang. "Di mana, Pak?" Tanya Erza.
"Tak jauh dari sini. Kita hanya perlu berjalan sejauh 300 meter saja. Kalian tidak usah takut. Ada beberapa cottage di sana. Dan tinggal satu yang masih kosong," ujar Pak Tomo.
"Di isi wisatawan, Pak?" tanya Yara.
"Ya, benar sekali. Danau dan beberapa tempat di sekitarnya telah beralih jadi tempat wisata yang sudah ramai dikunjungi para wisatawan. Sehingga para warga di sini. Menggunakan cottage yang tidak terpakai menjadi penginapan. Bagaimana? Kalia berminat?" Pak Tomo menegaskan.
"Saya berminat!" Erza langsung membalasnya.
Erza dan Yara mengikuti langkah Pak Tomo. Motor Pak Barjo yang kehabisan bensin dititipkan di rumah warga yang jaraknya tidak jauh dari tempat mogoknya motor tersebut.
"Mas, kita belum mengabari Mama Anggi," bisik Yara.
"Nanti setelah sampai di Cottage kita kirk kabar sama mama," balas Erza.
Seperempat jam waktu yang ditempuh menuju tempat tersebut.
"Ternyata dekat ya jaraknya,Pa! Saya kira jauh," ujar Yara dan Erza yang tidak terasa berjalan sembari mengobrol santai dengan Pak Tomo.
"Iya betul, Kalau saja kalian berjalan di siang hari di jalan tadi." Celetuk Pak Tomo.
"Kenapa memangnya, Pak?"
"Pemandangan padi yang menguning terlihat jelas. Dan besok pagi -pagi sekali akan di panen," lanjut Pak Tomo.
"Bisa, pengunjung yang lain juga menginginkan seperti itu. Melihat bagaimana memanen padi." Pak Tomo mengentikan langkahnya di sebuah cottage yang ada di ujung. "Ini tempat istirahat kalian. Sebentar bapak ambilkan kuncinya di pos." Pak Tomo berlalu dari hadapan Erza dan Yara.
"Yang, berada di sini berasa bulan madu!" celetuk Erza sembari menarik turunkan amisnya.
"Masa sih, Mas!" Yara berusaha menghindar dari godaan Erza
Tak lama Pak Tomo datang membawa kunci pintu cottage yang akan Erza dan Yara tempati.
"Jadi bapak pengelola tempat ini?" Tanya Yara saat Pak Tomo memberikan kunci cottage kepadanya.
"Benar sekali! Bapak yang mengurusi semuanya, tadi kebetulan bapak mau pulang dulu ke rumah. Mau ada perlu sebentar. Eh, malah ketemu kalian dijalan. Jadi sekalian saja bapak tawarkan cottage yang masih kosong."
Erza mengangguk mendengarkan penuturan Pak Tomo.
"Kalian pasti lelah. Silahkan beristirahat! Kalau ada keperluan apapun bisa menghubungi bapak di pos. Ada telepon yang terhubung di dalam kamar nanti," ujar Pak Tomo.
"Kami bersyukur sekali bisa bertemu bapak tadi. Sekali lagi terima kasih ya, Pak! Saya dan suami istirahat dulu!" Pamit Yara.
Pak Tomo pun berlalu dari sana.
Yara dan Erza masuk ke dalam kamar cottage. Lumayan tidak terlaku kecil tidak juga besar tapi tempatnya nyaman dan bersih.
Erza langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Mas bersihkan badannya dulu!" titah Yara. Wanita itu memperhatikan ke sekeliling kamar memantau ada apa saja perlengkapan menginap di kamar itu.
"Ternyata lengkap, ada perlengkapan mandi juga. Semuanya masih baru," gumam Yara. Ia langsung teringat kalau mereka belum mengabarkan keberadaan keduanya sekarang. "Mas, tolong hubungi mama, beritahu dia kalau kita tidak bisa pulang. Aku khawatir kalau Dhiya mencari ku!" Teriak Yara dari kamar mandi.
"Iya," Sahut Erza. Pria itu pun langsung Menghubungi Mama Anggi. Beruntung sekali beliau sedang online. Dengan cepat Erza mengirimkan pesan pada mamanya.
[ Malam mama cantik! Ma, aku dan Yara tidak bisa pulang. Kami terjebak di suatu tempat. Tapi Mama jangan khawatir. Tempatnya pas banget buat bercocok tanam. Ada anugerah di balik musibah. Yara bilang titip Dhiya. takutnya dia mencari bundanya. ]
Erza mengirimkan pesan singkat itu pada Mama Anggi. Begitu cepatnya pesan itu terbaca. Tak lama Mama Anggi membalasnya.
[ Ah, memang itu sudah akal bulus kamu saja. Hati-hati kalian berdua. Cepat sana mulai pembibitannya biar mama cepat dapat cucu ]
Balas Mama Anggi singkat.
Usai mengirimkan pesan. Erza beranjak dari tempat tidurnya. Ia hendak mengikuti perintah Yara, istrinya. Membersihkan diri dulu sebelum tidur.
Bersamaan dengan itu. Yara baru saja selesai membersihkan diri.
Wangi dari aroma sabun begitu menyegarkan tubuh Yara.
"Kamu mandi, Sayang?" Tanya Erza.
Yara menggeleng menangapinya. "Hanya membersihkan tangan dan kaki saja. Airnya dingin banget!" ujar Yara.Wanita itu berjalan ke tempat tidur.
"Mas sana! bersih-bersih dulu!" titah Yara.
"Iya, Sayang!"
Lumayan lama Erza di kamar mandi. Saat keluar kamar mandi. Pria itu melihat Yara sudah terlelap di atas tempat tidur. Erza pun menyusulnya. Pria itu menyelinap masuk ke dalam selimut yang sama. Memeluk tubuh Yara dengan erat. Hangat yang Erza rasakan dari pelukannya terhadap Yara membuat tubuh pria itu menghangat begitu juga dengan Yara.
Wanita itu pun semakin menyusup pada tubuh Erza mencari kehangatan yang lebih menimbulkan gesekan di bagian bawah tubu suaminya.
"Yang, si otong bangun!" bisik Erza. "Bantuin tidurin, yuk!"
"Aku ngantuk, Mas!"
"Sebentar saja."
"Tapi aku diam ya, kamu yang bergerak."
Mendapat persetujuan Yara. Erza sangat bersemangat. Pria itu bergerak cepat.
Perlahan tapi pasti sentuhan nikmat ia berikan pada Yara. Sesuai keinginan istrinya. Erza lah yang bekerja malam ini. Erza menahan Keuda tangan Yara di atas kepalanya. Malam ini Erza akan membagikan sentuhan yang akan membuat Yara mabuk kepayang.
Suasana dingin berubah menjadi panas di dalam cottage. Keringat membasahi dahi dan tubuh Erza. Suara indah milik Yara semakin membuat Erza bersemangat untuk berpacu.
Yuk semangat Za, pake bibit unggul biar cepet jadi. 😁😁😁
.
.
.
To Be Continued
__ADS_1
Met Sahur...
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR NYA. HADIAH DAN VOTE JUGA YA..