Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Semakin Penasaran Dengan Asal Usulku


__ADS_3

Afkar masih kurang percaya dengan ucapan Yara. Pandangannya sedikit bingung dengan setiap ucapan wanita itu. Padahal Yara sudah berusaha menceritakan dengan pelan dan hati-hati.


“Kamu masih tidak percaya dengan ucapanku, Mas?” Tanya Yara sembari memandangi Afkar yang tampak ragu dengan semua penjelasannya. Berbeda dengan Syafa, wanita cantik dan anggun itu diam sambil mencerna semua penjelasan dari Yara.


“Aku percaya, tapi tolong hentikan untuk terus memaksa suamiku agar mengingat semuanya. Kondisinya belum benar-benar pulih.” Syafa membalas ucapan Yara sambil mendekat ke arah Afkar yang berdiri


sambil menatap bingung pada foto keluarga di ruangan depan.


Afkar memijat kepalanya pelan, ia merasa sedikit pusing karena telah berpikir keras usai mendengar penjelasan Yara.


“Sudahlah, Mas. Jangan terlalu banyak berpikir! Aku tidak mau kamu kenapa-napa,” cegah Syafa pada


Afkar. “Sebaiknya kita, pulang!” Ajak Syafa.


Yara menggelengkan kepala saat mendengar ajakan Syafa pada Afkar. “Tunggu, aku mohon... Aku janji tidak


akan banyak bicara. Tapi aku hanya ingin memberitahu keluarganya di kampung bahwa Mas Afkar sudah ketemu. Aku mohon! Aku juga istrinya di sini, kamu tidak bisa membawanya pergi begitu saja,” ucap Yara sambil menatap tajam pada Syafa.


Yara merasa Syafa seakan menghalangi dirinya mengungkapkan kebenaran soal Afkar. Syafa takut jika Afkar akan mendapati ingatannya dengan cepat, pria itu akan melupakannya.


Syafa merangkul erat tangan Afkar, seakan takut jika Afkar akan mengikuti semua ucapan Yara.


“Mas sebaiknya kita pulang! Kamu harus istirahat,” ajak syafa. “Besok kamu akan ikut papa datang ke salah


satu cabang pabrik. Papa juga akan menyerahkan beberapa pekerjaan untuk kamu pelajari, Mas. Jadi jangan terlalu banyak berpikir soal hal lain. Ini buat masa depan kita.” Syafa langsung berubah pikiran saat mendengar penjelasan Yara soal kehidupan rumah tangga wanita itu dan Afkar dulu. Ditambah Kak Ima yang ikut


menimpali sikap romantis Afkar pada istinya, Yara. Membuat Syafa semakin takut kehilangan Afkar.


“Tunggu, Sayang! Aku ingin mengetahui lebih jauh soal keluargaku,” ucap Afkar membuat Syafa terkejut.


“Tapi, Mas ....” Syafa tampak ragu kali ini. “Bukankah kamu mau mengenal keluargaku? Kamu Ingin bertemu dengan ibu mertuamu 'kan, Sayang?” Afkar merangkul tubuh ramping Syafa di hadapan Yara lagi.


Syafa membalas dengan anggukan pelan.

__ADS_1


“Ehm... Maaf, apa aku boleh protes dengan tingkah kalian berdua?” Ucap Yara membuat Afkar melepaskan


rangkulannya pada Syafa.


“Memangnya kenapa?” ketus Afkar pada Yara. Pria itu tidak terima dengan ucapan Yara. Selama dekat dan menjadi suami dari Syafa tidak ada yang protes padanya.


“Aku masih istrimu, Mas! Apa kalian tidak memikirkan perasaanku. Dari tadi kalian selalu mempertunjukan kemesraan kalian di hadapanku. Aku mengerti jika pertama bertemu tadi kalian masih tidak percaya padaku. Tapi aku mohon ... Mengertilah sedikit perasaanku.” Yara mulai berani menunjukan protesnya pada Syafa dan menatap wanita itu tajam. Yara merasakan jika Syafa berusaha memisahkannya dengan Afkar. “Kamu seorang wanita seharusnya kamu mengerti perasaanku. Bagaiman jika kamu berada di posisiku saat ini!” tegas Yara pada Syafa.


“ Jangan pernah berbicara dengan suara tinggi pada wanitaku!” Afkar membalas ucapan Yara. Pria itu seakan tidak terima Syafa disudutkan oleh Yara.


“Mas ... Cukup.” Syafa menghentikan Afkar saat melihat suaminya berbicara sedikit meninggi pada Yara.


Yara membulatkan matanya saat Afkar sedikit berbicara dengan suara kasar padanya. Pria di hadapannya ini benar-benar sudah berubah. Tak ada sikap lembut padanya seperti dulu. Semua sikap manis dan kata-kata lembut yang dulu pria itu ucapakan seakan beralih semua pada Syafa.


‘Mas ... kamu benar-benar lupa padaku, bahkan semua sikapmu juga berubah.’


Batin Yara yang langsung terdiam dengan balasan Afkar padanya.


saat melihat pria yang ia cintai bersama wanita lain. Bahkan memergokinya berdua dalam satu kamar.


“Sayang, kamu kenapa diam. Aku tidak peduli jika memang benar wanita itu istriku dan sikapku terhadapnya dulu. Sebab yang aku ingat hanya masa kini masa saat aku bersamamu.” Ucapan Afkar benar-benar menyakiti hati Yara.


Yara memejamkan matanya saat mendengar ucapan Afkar. Hatinya benar-benar perih, sakit.


“Mas, jangan seperti itu. Aku pernah merasakan apa yang dia rasakan. Kami sama –sama wanita, jadi aku tidak mau kedepannya merasakan hal seperti dulu lagi. Dia memang masih punya hak atas dirimu, Mas. Kalian masi suami istri. Aku terima jika posisiku hanya sebagai istri kedua.” Syafa berbicara pelan. Pada dasarnya Syafa memang wanita baik dan berperasaan lembut sama seperti Yara. Hanya saja di mata dan pikiran Afkar saat ini hanya ada Syafa, wanita yang selama ini selalu ada bersamanya dan melayaninya dengan begitu baik.


“Inilah yang aku suka dari sikapmu, Sayang. Kamu selalu baik pada orang lain. Meskipun kamu baru mengenalnya.” Afkar menarik Syafa dalam pelukannya, memberikan kecupan singkat pada wanita itu.


Yara memilih masuk ke dalam ruang tengah daripada harus kembali melihat kemesraan mereka berdua. Kamar mandi adalah tujuannya kali ini. Yara ingin menyegarkan wajahnya dengan basuhan air.


Yara menarik napas panjang. Ia harus menahan sakit hatinya kali ini. Jika memang suaminya betul-betul


kehilangan semua ingatannya. Yara harus bersabar dan dengan perlahan membantu suaminya agar mengingat kembali ingatannya.

__ADS_1


Syafa yang melihat Yara menghindar dari hadapan mereka berdua berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya itu. “Mas, tolong hargai dia. Kamu harus membuka diri pada orang lain. Mungkin selama ini hanya ada aku. Tapi kali ini kamu harus belajar menerima kehadiran wanita lain. Wanita yang kamu lupa di masa lalu mu, dia istrimu, Mas!"


“Kamu mengijinkan aku berpaling darimu, Sayang!” protes Afkar.


“Sama sekali tidak, Mas. Kamu tahu, saat ini perasaanku begitu takut. Aku sangat takut kehilangan dirimu. Aku takut saat kamu mendapatkan kembali ingatanmu, kamu akan pergi meninggalkan aku, Mas.” Syafa menunduk, wanita itu amat sedih dengan pemikirannya.


“Tidak akan pernah, Sayang! Dengar, kamu akan selalu aku utamakan. Kalau bukan karena dirimu aku tidak mungkin masih sehat dan bisa berdiri di hadapanmu saat ini. Kamu harus ingat itu.”Syafa mengangguk lemah. Perasaannya sedikit lega mendengar ucapan Afkar. Semoga saja apa yang ada dalam pikiran Syafa tidak semuanya terjadi.


Di samping kontrakan Yara. Kak Ima begitu cemas memikirkan perasaan wanita yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu.“ Mas, apa aku balik lagi ke kontrakannya Yara ya? ko perasaan aku gak tenang begini ya?” Ucap Kak Ima pada Bang Boy, suaminya. “Kenapa Afkar jadi berubah seperti itu, ya? Pantas saja, kita sulit menemukan keberadaan dia di sini. Ternyata Afkar berada di luar negeri untuk pengobatannya selama ini,” celetuk Kak Ima.


“Tidak perlu, beri mereka ruang untuk berbicara bertiga. Biarkan mereka menyelesaikan apa yang harus dilakukan. Jika Afkar yang hilang ingatan itu, tidak mau menerima dan keras kepala tidak mengakui penjelasan Yara, Kita baru ikut campur. Abang juga merasa kasihan sama Yara, dia sampai menafkahi dirinya sendiri saat ini sambil mencari keberadaan Afkar.  Tapi kayaknya Yara harus banyak bersabar kedepannya. Akan banyak ujian untuk rumah tangganya, nanti. Yara harus dihadapkan dengan suami yang sama sekali tidak mengenalinya. Yara harus berjuang agar Afkar kembali mengingatnya.


“Iya, betul sekali, Bang! Semoga saja Yara sabar menjalani semua ini,” sahut Kak Ima.


----


Merasa sudah segar usai membasuh muka, Yara merasa terkejut saat Afkar berada di ruang tengah. Ruangan yang biasa Yara pakai untuk tidur. Afkar tengah melihat sebuah foto yang terpajang di dinding ruangan itu.


Foto Dhiya yang sedang tertawa saat Afkar mencium pipi Yara. Jelas terlihat keharmonisan dalam foto tersebut.


‘Melihat foto ini perasaan ku menghangat. Apa hubungan aku dengan wanita itu harmonis seperti dalam foto ini. Kenapa aku semakin penasaran dengan asal usul dan masa laluku. Aku ingin bertemu keluargaku!’


Batin Afkar yang sontak terkejut karena dua tangan tiba-tiba melingkar di tubuhnya. Pria itu merasakan kehangatan saat seseorang memeluknya dari belakang.


.


.


.


.


Like komen dan bintang 5 ya.....

__ADS_1


__ADS_2