
“Bunda ... Dia siapa?” tanya Dhiya sembari menatap foto wanita yang terpajang di tembok itu. Yara belum sempat menjawab pertanyaan Dhiya. Anak kecil itu malah berjalan pelan mendekati figura foto di depannya.
Dhiya berhenti tak jauh dari pajangan foto itu. Manik matanya bergantian menatap foto kemudian beralih pada Pak Rio.
“Pria yang ada di foto itu mirip sekali dengan kakek,” Celetuk Dhiya, ia terus memperhatikan foto itu.
“Itu memang kakek, Sayang.” Pak Rio menjawab rasa penasaran Dhiya. “Dan wanita yang ada di samping kakek adalah nenek Puspa.” Pak Rio menjelaskan.
Dhiya mengerutkan alisnya. Anak gadis itu sedikit kebingungan dengan ucapan Pak Rio. Dhiya kembali berjalan mendekati Yara.
“Bunda, kalau Kakek Rio adalah papa dari bunda terus istrinya nenek Puspa. Terus Nenek Mira suaminya siapa dong? Apa bunda punya dua mama?” tanya Dhiya polos. Semua tersenyum mendengar penuturan Dhiya. Begitu juga dengan Yara. Wanita itu harus segera memberi penjelasan pada Dhiya kali ini. Sebab Dhiya tidak akan berhenti bertanya kalau belum mendapatkan penjelasan.
“Kak, dengar bunda!” Yara memegangi kedua bahu Dhiya. "Nenek Puspa dan Nenek Mira adalah orang yang sama. Hanya panggilan saja yang berbeda.
Dhiya diam sesaat. Sepertinya anak kecil itu sedang berpikir. “Oh, ya. Nama almarhumah nenek itu, Puspa Almira Rajak ‘kan, Bunda? jadi bisa dipanggil menggunakan dua nama."
Yara menganggukkan kepala membenarkan ucapan Dhiya.
“Anak pintar," ucap Erza sembari mengacak pelan rambut anak kecil itu.
“Ayo lebih baik kita melanjutkan obrolan di ruang keluarga,” ajak Pak Rio. Pria tua itu berjalan dibantu oleh Roni. Diikuti oleh yang lain di belakangnya.
Sambil berjalan menuju ruang keluarga. Manik mata Yara mengedar ke seluruh ruangan. Bibirnya terangkat mengingat sebuah perkataan yang ia dengar di dalam mimpinya.
‘Mama tunggu kamu di rumah, Ra. Kita akan berkumpul bersama. Kamu tidak akan sendiri lagi ada kak Alieen dan papa yang akan menemani kamu.’
Bisikan itu selalu Yara dengar dari kecil saat Yara merasa sendiri. Dan kali ini Yara telah berada di sini. Di rumahnya yang sesungguhnya.
'Mah, aku sudah datang. Aku sudah menyusul mama di sini.'
Batin Yara sembari melamun mengingat bisikan itu.
“Sayang, kenapa melamun?” tegur Erza saat melihat istri tercintanya terdiam.
Yara pun lekas menoleh padma suaminya. “Aku bahagia sekali, Mas,” sahut Yara.
Erza tersenyum membalasnya. “Syukurlah kalau kamu merasa bahagia. Itu yang aku inginkan.” Erza merangkul tubuh istrinya. “Ibu hamil memang harus bahagia, agar bayi yang ada di dalam kandunganmu ini ikut bahagia juga.” Erza mengecup pucuk kepala Yara. Tangannya tak luput mengusap pelan perut buncit Yara.
“Bunda, sini!” Dhiya kembali memanggil Yara untuk ikut duduk bergabung berkumpul di ruang keluarga.
Erza dan Yara pun ikut bergabung dengan semuanya.
Di saat bersamaan seorang wanita paruh baya berjalan menghampiri mereka. Dia adalah, Bu Tum. Wanita yang masih setia bekerja dengan Pak Rio hingga saat ini. Wanita itulah yang dengan rajin merawat dan membersihkan rumah yang penuh kenangan itu. Sebab Pak Rio sudah jarang menempatinya semenjak Syafa memilih untuk tinggal di rumahnya sendiri.
“Non Syafa akhirnya pulang juga,” sapa Bi Tum pada Syafa.
__ADS_1
“Bibi,” sahut Syafa yang langsung meraih tangan wanita tua itu untuk menyalaminya. “Bagaimana kabar bibi?” tanya Syafa
“Kabar bibi baik, Non,” jawab Bi Tum kemudian beralih menatap Yara. Wanita yang belum pernah Bi Tum temui sebelumnya.
“Bik, ini Yara! Ayara Faeqa. Adikku” Syafa memperkenalkan Yara pada wanita paruh baya itu.
“Adik, Non? Anak dari Nyonya Puspa?” Bi Tum kembali menegaskan. Syafa mengangguk mengiyakan pertanyaan Bi Tum. Wanita itu beralih menatap Pak Rio. Saat tuannya itu ikut mengangguk Bi Tum langsung merangkul Yara dan menariknya dalam pelukan.
“Ya Allah, Kamu sudah sebesar ini. Dulu saat Nyonya Mira pergi, kamu masih dalam kandungan. Bibi sangat sedih sekali waktu itu,” ucap Bi Tum dengan tangis yang mulai pecah. Perlahan Bi Tum melepaskan pelukannya. Tangannya terulur mengusap wajah Yara. “Kamu sangat mirip dengan Nyonya Mira waktu muda,” lanjutnya.
Pak Rio mendekat ke arah Yara. Anak keduanya itu terlihat bingung. “Bi Tum ini adalah orang yang selalu ada buat almarhum mama-mu saat tinggal di sini. Mereka sudah seperti ibu dan anak,” ucap Pak Rio menjelaskan pada Yara. Dan anggukan di dapat dari putrinya itu.
Yara kembali beralih pada Bi Tum. Ia mengusap air mata yang masih berlinang di pipi wanita paruh baya itu. “Jangan menangis, Bi!”
“Bibi ingin sekali ke pusara Mira. Bibi benar-benar rindu padanya. Karena dia sudah seperti anak ku sendiri,” ucap Bi Tum sambil menatap Yara.
Yara menganggukkan kepalanya pelan. “Nanti setelah Papa, Dhiya dan Mba Syafa sudah lebih baik kita ke sana, Sekarang bibi jangan menangisi lagi. Aku minta do’a kan saja mamaku,” sahut Yara.
“Bibi tak pernah melewati untuk mendoakannya. Mira wanita yang baik. Sayangnya, dulu nyonya besar tidak percaya padanya.” Bi Tum menunduk mengingat kejadian puluhan tahun lalu. Kejadian yang menimpa Mama Mira.
“Semua sudah berlalu. Bibi tahu bagaimana kacaunya aku selama ini. Hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan,” Pak Rio menimpali. Rasanya ia tidak mau lagi mendengar kesalahan dari mama kandungnya. Wanita yang pernah memfitnah Mira sehingga istrinya itu meninggalkan dirinya. Dan bodohnya Pak Rio percaya ucapan mamanya itu. Satu kesalahan yang tak akan pernah dilakukan olehnya.
Bi Tum menganggukkan kepalanya. Tangannya terulur mengusap lengan Pak Rio. “Sekarang penyesalan itu harusnya sudah berakhir. Den Rio sudah berkumpul kembali dengan dua putri, Aden. Nyonya Mira pasti senang melihat kalian dari Syurga.”
“Benar kata Bi Tum. Mira pasti sangat bahagia saat ini melihat kalian bisa berkumpul seperti ini. Sekarang lebih baik sebelum beristirahat, kita makan dulu. Udahan sedihnya, kalian tinggal meraih bahagia bersama. Benar ‘kan Za,” timpal Tante Gita sembari menatap suami dari Yara.
“Sekarang kita makan dulu!” Tante Gita mendekati Yara. “Ibu hamil harus banyak makan yang bergizi agar bayinya juga sehat. Perasaan ibu hamil juga harus rileks dan bahagia, oke.” Tante Gita mengusap pelan perut buncit Yara.
“Iya, Tante. Terima kasih.”
“Terima kasih, Git. Kamu selalu ada untuk keluargaku,” ucap Pak Rio.
Tante Gita hanya membalas dengan senyuman. “Ya sudah, sekarang kita makan dulu.”
“Benar, kita langsung ke ruang makan saja! Bibi sudah siapkan banyak makanan untuk kalian.” Bi Tum mempersilahkan semuanya untuk menikmati hidangan yang ada.
“Sayang, Yuk!” ajak Syafa pada Dhiya yang terlihat sedikit bingung. Anak kecil itu belum paham kejadian yang terjadi di masa lalu.
“Aku bingung, Mih. Banyak orang baru yang aku kenal,” sahut Dhiya.
“Nanti Mamih cerita kan singkat nya sama kamu. Dhiya tidur sama Mamih ya selama tinggal di sini?” ucap Syafa.
Dhiya mengangguk membalasnya. “Iya, Mih.”
Di ruangan makan 'lah, akhirnya semua berkumpul. Menikmati makanan yang sudah disiapkan Bi Tum sebelumnya. Dan semua atas perintah Tante Gita yang memang selalu membantu dan ada untuk Pak Rio. Di sana Tante Gita sudah seperti nyonya. Tapi wanita itu masih tahu batasan dirinya. Ia melakukan itu tulus tanpa mengharapkan apapun. Kesetiaannya sebagai sahabat Mira dan Pak Rio tak pernah luntur.
__ADS_1
Pak Rio tersenyum senang saat melihat kebersamaan yang ada di meja makan itu. Bersama dengan kedua anaknya, cucu dan menantunya. Serta Gita dan Roni yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri.
Usai acara makan bersama selesai. Syafa mengajak Dhiya beristirahat bersamanya. Dan anak kecil itu pun menyetujuinya seperti rencana mereka tadi. Sedangkan Yara beristirahat di kamar bawah bersama Erza. Suaminya itu tidak ingin Yara kelelahan setelah seharian ini terlalu sibuk.
Erza tersenyum saat melihat Yara yang begitu cepat memejamkan mata. Ternyata benar istrinya itu kelelahan hari ini. Dikecupnya kening Yara dengan lembut. Saat Erza melepas kecupannya. Yara sedikit terusik. “Mas, maaf aku ngantuk sekali,” ucap Yara.
“Tidurlah! Kamu harus beristirahat,” sahut Erza. “Aku keluar dulu, masih ada Roni di luar.”
Yara menganggukkan kepala pelan. Kemudian kembali memejamkan matanya. Melihat Yara yang kembali memejamkan mata. Erza menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.
“Selamat tidur, Sayang. Love u,” bisik Erza, kali ini ciuman beralih ke pipi Yara. Ciuman sayang yang mengantarkan Yara ke dalam mimpi indah. Tak ada lagi balasan dari Yara karena memang wanita itu tidak kuat menahan rasa kantuknya.
Di luar kamar, Tante Gita dan Pak Rio masih asik berbicara berdua di depan aquarium besar di dalam rumah mewah itu.
“Ta,” panggil Pak Rio.
“Hem,” jawab Tante Gita setelah menyeruput kopi di tangannya. Wanita itu beralih menatap Pak Rio. Pria yang ada di sampingnya ini malah terdiam. Seakan sedang berpikir sesuatu. Sambil menunggu Pak Rio angkat bicara. Tante Gita meraih ponsel yang tergeletak di atas meja yang ada di sisinya. Ponsel itu bergetar menandakan ada pesan masuk ke ponsel itu. Tante Gita tersenyum saat menatap benda pipih di tangannya. Pak Rio pun memperhatikan itu.
“Sepertinya kamu sedang bahagia?” tanya Rio penuh selidik.
Tante Gita segera meletakkan ponselnya kembali di atas meja usai membaca chat yang ia terima.
“Hidup itu memang harus dibawa bahagia, Yo,” ujar wanita itu.
“Kamu memang pintar sekali berkelit, Ta.”
“Aku tidak berkelit, memang benar hidup harus dibawa bahagia. Apa kamu pernah melihat aku menangis atau bersedih soal hidup ku?” Tante Gita balik bertanya.
Pak Rio menggelengkan kepalanya pelan. Ia membenarkan ucapan Tante Gita.
“Kamu benar. Aku bahkan hampir tidak pernah melihat kesedihan hadir dalam hidupmu. Kamu selalu tersenyum dalam menjalani hari. Kamu tahu senyuman mu itu perlahan menular padaku,” ujar Pak Rio dengan tawa di wajahnya.
Dan baru kali ini Tante Gita melihat lagi tawa itu. Tawa yang hampir dua puluh tahun lebih tak pernah ia lihat.
‘Karena aku tidak mau orang lain tahu kesedihan ku, Yo. Sedih saat hati ini selalu setia padamu dengan cinta yang tak pernah berbalas ini untukku. Tapi cinta ini hanya mengharap kamu bahagia. Karena aku sadar nama Mira tidak bisa tergantikan oleh siapapun. Karena itulah aku berusaha membuka diri kali ini. Dan malam ini adalah malam terakhir aku bisa bersama kalian. Janjiku telah terpenuhi pada Mira. Menemani kamu sampai berkumpul kembali dengan keluarga mu, Yo. Cinta ini akan terus ku simpan. Aku yakinkan, kita akan terus bersahabat sampai usai yang menutup hidupku.’
Batin Tante Gita, ia ikut tertawa menimpali kekehan renyah dari bibir sahabatnya itu.
‘Kamu sahabat terbaikku, Ta. Namamu ikut tinggal di hati ini. Tapi sebagai sahabat yang aku sayang. Meskipun kebersamaan kita lebih dulu dari aku mengenal Mira tapi cinta ini pada istriku itu tak pernah tergantikan. Aku sayang kalian berdua. Kamu dan Mira adalah dua wanita yang sama berartinya dalam hidupku. Aku doakan semoga kamu mendapatkan pria yang betul-betul mengerti dan memahami dirimu, Ta. Aku akan tenang jika melihatmu bersama pria yang tepat.’
Batin Pak Rio yang menatap Tante Gita dengan senyum di bibirnya.
.
.
__ADS_1
.
To Be Continued