Ikhlasku Melepasmu, Mas!

Ikhlasku Melepasmu, Mas!
Kilas Kejadian Yang Sudah Lalu


__ADS_3

Hari ini, Syafa sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Afkar dengan pelan dan hati-hati mendorong kursi roda yang sedang diduduki oleh istrinya itu menuju mobil mereka. Mobil mewah yang sudah menunggu di depan rumah sakit.


Terdengar nada dering dari ponsel milik Syafa. "Papa telepon, Mas!" Syafa memberitahu Afkar.


"Angkat saja dulu," balasnya Afkar sambil menghentikan kursi roda yang sedang ia dorong.


Syafa mengangguk pelan kemudian segera menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Halo, Pah!" sapa Syafa kepada Pak Rio di seberang telepon.


"Halo juga, Sayang. Bagaimana hari ini? Kamu jadi pulang ke rumah?"


"Jadi, Pah! Ini baru saja keluar dari kamar perawatan. Mau menuju mobil," ungkap Syafa.


"Maaf, sepertinya papa tidak bisa menyambut kepulanganmu, Nak! Papa ada kepentingan lain. Ada sesuatu yang harus papa cari!" Ujar Pak Rio membuat Syafa penasaran.


"Apa soal mama dan adik?" serobot Syafa yang langsung menduga-duga.


"Kenapa kamu menduga seperti itu?" Tanya Pak Rio.


"Ah, itu hanya perkiraan ku saja, Pah. Kapan kita bisa bertemu mereka," ujar Syafa dengan raut wajah yang berubah sedih.


"Papa janji akan menemukan mereka. Papa akan menebus semua kesalahan papa di masa lalu pada mama-mu," ujar Pak Rio. "Sudahlah jangan terlalu banyak berpikir. Sekarang yang harus kamu pikirkan adalah kesehatan kamu dan cucu papa, ok! Papa akan pergi selama dua hari, kamu harus bisa jaga diri baik-baik. Bilang pada suamimu, kamu lebih penting daripada perusahaan."


Afkar mendengar ucapan papa mertuanya. Sebab Syafa mengubah mode speaker pada ponselnya.


"Kamu dengar, Mas!"


Afkar menganggukkan kepala pelan. "Iya, Sayang!" sahut Afkar.


Syafa kembali tersenyum saat Afkar mendaratkan ciuman di pucuk kepalanya.


"Ya sudah. Papa hati-hati, ya."


"Kamu juga, Sayang!"


Usai mengucapakan salam penutup dan perpisahan Syafa lekas memasukan ponsel miliknya ke dalam tas.


"Sudah?" Tanya Afkar.


"Sudah, Mas."


"Apa kamu mau pergi ke suatu tempat dulu, sebelum pulang ke rumah?" bisik Afkar sambil menaruh kepalanya di pundak Syafa.

__ADS_1


"Kemana, Mas?" Syafa sedikit menoleh ke sisi sehingga pipinya beradu dengan bibir Afkar.


Afkar langsung mencium sekilas pipinya. Wajah Syafa merona setelah itu.


"Ke suatu tempat! Apa kamu tidak suntuk selama ini tinggal di rumah sakit?"


"Suntuk sih."


"Jadi mau kemana dulu, kita?" Afkar kembali bertanya.


"Kemana saja asalkan sama kamu, Mas!" jawab Syafa sambil tersenyum malu.


Keduanya saling melempar senyuman. Afkar membantu Syafa masuk ke dalam mobil. Pria itu juga berbicara dengan pengawal agar membiarkan dirinya yang mengemudikan mobil itu.


"Biar aku yang bawa mobil. Kalian ikuti kami di belakang. kita akan ke Villa Flowers Puncak- Bogor," ucap Afkar pada pengawal mereka.


"Siap, Tuan!"


Afkar masuk ke dalam mobilnya. Begitu juga dengan para pengawal.


Di dalam mobil, Syafa tak hentinya memancarkan senyum kebahagiaan.


"Aku senang kalau kamu ceria seperti ini, percayalah jika kita berada dalam hati bahagia dan tenang. Kondisi bayi yang ada dalam kandunganmu pasti akan merasakan hal yang sama dengan mamih nya," ujar Afkar kemudian meraih jemari Syafa dan menciumnya dengan lembut dan penuh cinta.


"Iya, Sayang!"


"Mas, jangan lupa beritahu ibu kalau kita tidak pulang ke rumah," Syafa mengingatkan.


Mobil yang Afkar kendarai pun melesat meninggalkan rumah sakit menuju Puncak - Bogor.


Berbeda dengan Syafa, Pak Rio sedang merasakan perasaan gelisah saat ini. Pria berumur itu sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat. Di mana ia mendapat kabar dari orang kepercayaannya soal keberadaan istri dan anaknya selama ini.


Memang sangat terlambat, tapi Pak Rio tetap ingin menyampaikan maafnya pada Puspa, istri yang telah ia fitnah bermain sering dengan seorang pria hingga hamil besar. Pak Rio sudah termakan omongan seseorang wanita yang memang berencana menghancurkan rumah tangganya.


Sayangnya saat kebenaran itu mencuat, Pek Rio sudah kehilangan Puspa. Wanita yang amat dicintainya itu pergi membawa luka bersama bayi yang sedang ia kandung. Pak Rio mengetahui jenis kelamin anak keduanya dari Syafa. Sebab anak sulungnya itu selalu mendapatkan hadiah dan foto bayi perempuan cantik yang dikirim oleh Puspa. Sampai umurnya menginjak 7 tahun. Pak Rio baru mengetahui hal itu setelah Syafa merengkek tidak mendapat kado lagi. Dari situlah semuanya terungkap.


"Tenanglah, kita akan bertemu dengan Puspa sebentar lagi," ujar seorang wanita yang ikut bersama dengan Pak Rio ke desa itu. Desa terpencil sangat jauh dari ibu kota. Gita namanya, Dia adalah sahabat dari Puspa. Gita lah yang membantu Puspa mengirimkan hadiah diam-diam pada Syafa.


"Bagaimana aku bisa tenang, ternyata istriku hidup di tempat seperti ini dari dulu. Bagaimana keadaan mereka, Ta?" Pak Rio terlihat sangat menyesal dengan kejadian puluhan tahun lalu.


"Maafkan aku juga yang baru berbicara ini padamu,Yo! Mungkin kalau suamiku tidak meninggal aku tidak akan kembali ke Indonesia. Tapi aku merasa harus mengungkapkannya. Aku melihat sifatmu sangat berbeda dengan Rio yang dulu."


Pak Rio hanya bisa tersenyum miris. "Aku menjadi orang asing dan jahat setelah kehilangan Puspa. Aku tidak mudah percaya pada orang lain. Aku juga tidak membiarkan orang lain menyakiti Syafa. Hanya dia yang aku miliki. Dan yang sangat aku sesalkan, Orang dibalik fitnah itu adalah mama ku sendiri. Hanya karena Puspa berasal dari keluarga kurang berada. Beliau tega bekerja sama dengan Winda. Bagai pagar makan tanaman, Winda lah yang menyebabkan ibuku meninggal. Begitu rumit kehidupanku di masa lalu, Ta!" ungkap Pak Rio. Pria itu memijat kepalanya saat menceritakan secara singkat kejadian masa lalunya. "Puspa, kenapa dia tidak membela diri dan saat semua tuduhan dan saksi memberatkannya. Arghh ..." Pak Rio menyisir rambutnya dengan kasar.

__ADS_1


"Kamu seharusnya lebih mengerti sifat istrimu, dia pendiam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Selama ini, dia hanya bergantung padamu, Yo. Saat melihat kamu marah dan murka ketika melihat bukti yang direkayasa ole Winda untuk Puspa. Dia tidak bisa mengelak. Sebab saat itu memang dia yang menolong pria itu dan mereka di jebak. Kamu bahkan menuduh bayi yang dia kandung hasil dari perselingkuhannya. Bagaimana tidak hancur perasaan Puspa saat itu. Dia hampir mengakhiri hidup. Beruntung ada seorang wanita yang membantu dan mengajaknya untuk hidup jauh dari kota yang telah memberikannya banyak luka."


Pak Rio tertunduk, pria itu menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangan yang bertumpu di atas lutut. Tetesan air mata lolos begitu saja dari sudut matanya.


Pria yang terkenal dingin dan kejam itu sedang dalam keadaan sedih. hatinya hancur mengingat penyesalan masa lalunya.


"Yang sudah terjadi jangan disesali. Kamu harus memperbaikinya. Aku yakin Puspa sudah memaafkan mu!" ucapan Gita terucap begitu meyakinkan.


"Apa benar dia sudah memaafkan ku?"


Gita mengangguk pelan. "Terakhir kami bertemu, dia sudah memaafkan mu saat dia melihat dari kejauhan betapa hancurnya dirimu saat ibumu tiada."


Pak Rio langsung mendongak menatap Gita. "Dia ada saat ibuku meninggal?" Tanyanya tidak percaya.


Gita kembali menganggukkan kepala pelan.


"Puspa ... Apa begitu besar rasa benci mu padaku? Sampai kamu tidak mau bertemu denganku."


"Dia hanya tidak mempunyai keberanian berhadapan denganmu, Yo!"


"Tapi aku sangat merindukannya kala itu. Aku tidak tahu bagaimana cara mendidik Syafa yang butuh kasih sayang seorang ibu. Aku tidak sanggup mencari pendamping lain selain Puspa!" Rio betul-betul terlihat berantakan saat itu.


"Andai Puspa melihat suaminya seperti ini pasti dia ikut tertawa. Suami idaman yang menurutnya baik, tampan dan tegas jadi cengeng dan rapuh seperti ini," ejek Gita. "Rapihkan penampilanmu, sebentar lagi kita sampai di Panti Asuhan Karya Asih. Kamu pasti tidak sabar 'kan ingin bertemu dengan istri dan anakmu," lanjutnya.


"Ya, aku sungguh tidak sabar ingin melihat wajahnya. Aku yakin dia masih cantik seperti dulu."


"Bahkan lebih cantik, aku yakin kamu menyesal telah memfitnahnya!" Gita menyodorkan foto Puspa yang telah berubah menjadi wanita muslimah. Puspa yang dulu selalu tampil dengan rambut terurai dalam foto itu begitu teduh dan cantik menggunakan hijab. Tanpa polesan make up. Wajahnya terlihat natural.


"Dia memang selalu terlihat cantik," ujar Pak Rio saat menerima foto itu dari Gita.


"Maaf aku baru memberitahu mu sekarang."


"Lebih baik daripada tidak sama sekali." Kemudian Rio menarik sedikit sudut bibirnya melihat wajah wanita cantik berhijab di dalam foto itu. Harapannya untuk bertemu istri dan anak perempuannya yang lain semakin besar. rasanya Pak Rio sudah tidak sabar ingin bertemu mereka.


.


.


.


Hai.. readers kita masuk pada cerita Pak Rio dulu ya gak banyak ko, setelah itu kita lanjut dengan petualangan Yara.


Semangat akhir bulan ... Buat yang gajian yang enggak kayak Author mah gigit jari 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2